Buhul ghaib

Buhul ghaib
Terdampar-6



Perahu berisikan 4 orang penumpang itu terus melaju membelah lautan, menjauhi pulau yang sangat mengerikan.


Keempatnya masih terdiam, bingung mau bicara apa. Michle masih tak percaya jika mereka bisa selamat dari orang yang mengerikan tersebut. Namun Ia juga tak percaya saat melihat Asih yang dengan mudahnya menggendong Edy bertubuh kekar dan melompat menaiki perahu tanpa rasa beban sedikitpun.


Sesekali Ia melirik pedang yang saat ini masih tergantung dipinggang gadis itu. Ia tidak mengenali siapa Asih dan juga Edy, namun yang Ia tahu, jika keduanya telah menyamatkan nyawanya dan juga Lorenza.


"Terima kasih.. Sudah membantu Kami" ucap Michle dengan nada lirih. Edy menatap pemuda dengan tatapan sendu, lalu tersenyum.


"Kita sama-sama terdampar, jadi ada baiknya saling membantu" jawab Edy dengan santai.


Michle tersenyum ramah "Suatu saat saya akan membalas kebaikan kalian"ucap Michle bersungguh.


Edy hanya tersemyum datar, sedangkan Asih memoerhatikan Lorenza yang kini masih terbalut darah bintang, aromanya sangat membuat mual.


Lorenza hanya menggunakan underware saja, pasti gadis itu kedinginan dan akan masuk angin jika dibiarkan terlalu lama. Namun Ia juga bingung harus menggunakn apa menutupi gadis itu supaya tidak masuk angin, sedangkan mereka berada ditengah lautan lepas.


Asih berbisik ditelinga Edy, meminta Edy menggantikan pemuda Asing itu untuk membawa perahu motor.


Lalu Edy menganggukkan kepalanya. Saat ini Edy juga tidak menggunakan pakaian, namun hanya celana pendek saja.


Edy merasakan jika Ia tidak dapat membantah apapun yang diucapkan oleh Asih, setiap perkataan Asih bagaiakan maghnet yang harus diikutinya dan dipatuhinya.


Edy menghampiri pemuda itu, lalu memintanya untuk menghangatkan Lorenza yang tampak mulai menggigil kedinginan.


Michle menganggukkan kepalanya, lalu beranjak menghampiri Lorenza. Ia memeluk gadis itu, memberikan rasa hangat, agar kekasihnya tidak mengalami tulang kaku akibat udara dingin yang teramat sangat.


Sedangkan Edy masih belum merasakan udara dingin itu, sebab Ia pernah memakan empedu ular saat dihutan yang dimasukkan Asih kemulutnya dengan sengaja.


Bahkan Edy merasakan sebuah kekuatan yang sedikit berbeda, saat Ia tanpa sengaja menelan serpihan batu mirah delima milik Ratu siluman ular saat di culik ke alam ghaib.


Asih memperhatikan kedua sepasang kekasih yang hanya menggunakan underware tersebut dengan lumuran darah binatang yang sudah mengering.


Ia menyentuh lengan Michle, lalu memejamkan kedua matanya, dan menhalirkan sebuah energi yang memberi rasa hangat kepada kedua, hingga membuat sepasang kekasih itu tidak lagi merasakan kedinginan.


Lagi-lagi Michle merasa takjub kepada Asih. Seirang gadis misterius yang penuh dengan berbagai kejutan.


Sesaat mereka melihat sebuah cahaya dikejauhan "sepertinya ada sebuah speedboat uang mengarah ke Kita. Mungkin Kita bisa meminta bantuan mereka" ucap Edy sumringah, lalu merasakan hal yang sangat senang.


Setelah speedboat itu mendekat, lalu merapatkan ke perahu motor milik mereka. Tampak seorang pria bertubuh kekar, sedang memeperhatikan mereka menggunakan cahaya senter. Ia masuk lagi kedalam speed, dan berbisik kepada rekannya yang berjumlah 4 orang.


Entah apa yang mereka diskusikan, namun dari tatapannya, mereka memiliki niat yang tidak baik.


Asih menyembunyikan pedangnya, dan itu terlihat oleh Michle. Lalu Pemuda Asing itu melirik kearah speedboat yang terus merapat keperahu mereka.


"Perlu bantuan?" tanya Seorang pria kekar tersebut kepada Asih. Tampaknya pria itu begitu terpesona oleh kecantikan sang gadis.


Asih memutar otaknya, bagaimanapun Ia membutuhkan speedboat itu, dimana memiliki ruangan tertutup dibanding perahu motor yang sangat terbuka.


"Ya, Kami membutuhkannya, bisa Kalian membantu Kami?" jawab Asih mencoba ramah.


Lalu mereka mengangguk senang. Maka mereka membuka pintu untuk jalan masuk para tamunya.


Sebenatnya Edy tidak menyetujui usul Asih, sebab Ia merasa jika keempat pria itu tampak seperti seorang perompak yang sengaja melakukan kejahatan pada para pelaut dan kapal yang melintas.


Namun, lagi-lagi Ia tak mampu menolak apa yang menjadi keinginan Asih. Mereka akhirnya naik keatas speedboat.


Sesampainya diatas, mereka meminta Michle dan Lorenza untuk membersihkan diri ditoilet dan memberikan pakaian ganti meskipun pakaian laki-laki, namun setidaknya Lorenza dapat menutupi auratnya.


Pria bertubuh kekar itu tampak tak berkedip memandangi Asih. Matanya begitu sangat ****** menelusuri setiap lekuk dari tubuh Asih yang tampak terpahat sempurnah.


Edy yang sedari tadi melihatnya sangat begitu cemburu. Rasanya Ia ingin mencongkel kedua mata pria, agar tak lagi jelalatan melihat gadis yang dicintainya.


Sementara itu, Lorenza sudah selesai membersihkan diri. Ia menggunakan kemeja panjang milik salah seorang pria itu, meski tampak kedodoran, tetapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali.


Melihat Lorenza yang sudah bersih, tentu kecantikan gadis Asing itu kian terpancar dan membuat keempat pria itu semakin senang, karena ada gadis cantik yang menemani perjalanan mereka.


Lorenza merasakan perutnya sangat lapar. Sedari tadi Ia menahannya, dan tak mampu lagi untuk menahan perih dilambungnya.


Bahkan saat dihutan Ia pingsan karena kelaparan. Dengan memberanikan dirinya, Ia menghampiri Asih membisikkan kepada gadis itu jika Ia sangat lapar. Asih menatapnya iba, lalu menganggukkan kepalanya.


"Maaf, Pak.. Apakah ada sedikit makanan, teman saya ini sangat lapar" ucap Asih dengan sopan.


"Ada, carilah didapur" jawab Pria yang sedari tadi memperhatikan Asih.


Lalu Asih tersenyum ramah. Ia menatap Edy, meminta Pemuda itu menggantikan posisinya menjaga Lorenza, karena Ia akan kedapur mencari makanan.


Edy mengmggukkan kepalanya, lalu menghampiri Lorenza, dan duduk disisi sang gadis.


Asih beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju dapur.


Tak berselang lama, pria itu mengikuti Asih, hal itu membuat Edy merasa geram. Namun Ia percaya Asih dapat mengatasinya, dan Ia harus menajga Lorenza sesuai titah Asih.


Asih membuka panci yang ada diatas kompor sepertinya mereka baru saja memasak mie instan, dan terdapat banyak sisa di dalam panci.


Tiba-tiba pria itu menyergap Asih dari arah belakang, dan memeluk erat sang gadis dengan begitu liarnya.


"Mengapa Kau begitu cantik, Aku tak mampu menahannya sedari tadi" bisik pria itu ditelinga Asih.


Dengan cepat Asih menginjak punggung kaki pria itu dengan menggunakan tumitnya. Lalu menyiku perutnya, dan Asih memutar tubuhnya, lalu membereskan pria itu dengan sekejap.


Setelah berhasil melumpuhkan pria itu, Asih memasukkan tubuh pria itu kedalam sebuah tong kosong berwarna biru yang terbuat dari bahan plastik.


Setelah selesai, Asih mengambil dua porsi mie goreng instan dengan porsi jumbo, lalu membawanya kedepan.


Sesampainya disana, Ia melihat Michle juga sudah selesai membersihkan diri, dan duduk mengapit Lorenza. Setelah membersihkan diri, Ia kini tampak tampan.


Asih memnerikan seporsi mie goreng insgan kepada Lorenza, lalu Ia membawa seporsinya lagi dan duduk disisi Edy. Mereka memakannya dengan sepiring berdua, menyantabnya dengan lahab.


Pria yang sedari tadi duduk memandangi mereka, merasakan sesuatu yang tidak beres. Ia tidak melihat rekannya semenjak pergi kedapur bersama gadis itu.


dimana Asih sudah kembali keruangan depan, namun rekannya itu tak juga keluar dari dapur.


Rasa penasaran membuatnya untuk pergi kedapur dan memeriksa kondisi rekannya.


Asih melirik kepergian pria itu sembari menghabiskan suapan terakhirnya.


"Kau apakan rekannya" bisik Edy kepada gadis disisinya kanannya.


Asih tak menjawab, hanya tersenyum geli. Edy sudah dapat menebak apa yang dilakukan oleh Asih.


Dan benar saja, suara teriakan membahana dari arah dapur, suara teriakan antara terkejut dan juga marah.