Buhul ghaib

Buhul ghaib
Salah Faham-2



Lee, Rere dan juga Chakra melakukan pergerakan untuk menangkap orang-orang suruhan Andre yang akan melakukan pengedaran uang palsu.


Chakra yang selalu mengekori kemanapun Rere pergi, sudah seperti kepala dengan ekor yang tidak dapat dipisahkan sedikitpun.


Kemanapun Rere pergi, Chakra akan selalu mengekorinya kemanapun Ia pergi.


Namun Rere merasa jika Chakra cukup membantunya dalam mengatasi para penjahat-penjahat nantinya.


Lee telah membuat peta kemana arah para mafia itu akan mengedarkan uang-uang palsu tersebut. Hal yang menjadi sasaran utama adalah pasar-pasar tradisional yang mana penjualnya adalah lansia dan pedagang lain yang pembelinya sangat ramai, sehingga tidak begitu memperhatikan kondisi uang itu asli apa palsu.


Sesaat Rere dan Chakra melakukan penyamaran. Rere menggunakan pakaian compang camping dan seperti orang gila yang terlihat sangat gembel.


Sedangkan chakra didandan dengan tampilan gelandangan dengan menggunakan rambut palsu atau wig.


Bahkan Rere memakaikan kumis dan juga jambang diwajah Chakra. Sehingga sulit dikenali.


Keduanya berpisah dan berjanji akan bertemu ditempat yang sudah dijanjikan.


Sedangkan Lee memilih pasar yang berbeda dari Chakra dan Rere.


Lee memilih pasar tradisional yang berada ditepi kota, dan Ia juga berdandan sama seperti Rere dan juga Chakra. Ia berdandan ala pemulung barang bekas, dengan pakaian compang camping.


Lee membawa karung goni yang berukuran memuat barang 50 kg.


Ia menyusuri pasar tersebut, sembari mengumpulkan botol-botol bekas berjalan memasuki pasar yang terlihat sangat ramai


Sementara itu, Asih dan Edy berjalan menyusuri pasar. Mereka berniat mencari makanan yang ada dijual di pasar tersebut.


Edy menggunakan topi dan kacamata hitam, serta masker. Ia tidak ingin dilihat oleh para anak buah papanya, karena untuk saat ini Ia masih ingin bersama gadis itu.


"Tempat apa ini? Mengapa sangat ramai?" tanya Asih penasaran.


"Ini namanya pasar, disini orang melakukan jual beli" jawab Edy dengan santai.


"Lalu mengapa kita kemari?" tanya Asih yang semakin meronta-ronta jiwa penasarannya.


"Aku ingin membeli makanan tradisional, disini banyak dijual" jawab Edy dengan santainya.


"Emang kamu punya uang?" tanya Asih kepada Edy yang berlagak ingin menbeli seauatu, namun uang sepeserpun tak ada disakunya.


Edy tersenyum menyeringai "Kan Kamu banyak uang" jawab Edy nyengir.


Asih menatap pemuda disisinya, yang ternyata tak ubah seperti bocah yang merengek meminta untuk dibelikan jajan oleh Ibunya.


Asih mendenguskan nafasnya dengan kesal, lalu berjalan menyusuri pasar. Sementara itu, Lee sedang memperhatikan seseorang yang mencurigakan sedang membeli sesuatu ditempat penjual ikan yang terlihat sangat ramai.


Tampak pria itu membeli ikan dengan harga yang paling murah, lalu membayarnya dengan uang lembaran seratus ribu rupiah.


Lee menghampirinya, dan berpura-pura berdiri disisi pria tersebut.


Sementara itu, Asih dan Edy menuju lapak penjual makanan tradisional yang bejejer ditepi pasar tersebut.


Edy memilih camilan dari bahan singkong yang berwarna-warni, dengan parutan kelapa dan disiram dengan saus gula aren.


"Ini enak banget, kamu pasti suka" ucap Edy, sembari menyuapkan sesendok camilan tersebut.


Rasa kenyal dan juga manis membuat Asih menganggukkan kepalanya.


Saat ini pembeli sedikit sepi, penjual makanan itu adalah seorang wanita berusia sekitar 70 tahun, sudah terlihat sepuh.


lalu seseorang datang untuk membeli makanan tersebut, dan tampak pria itu bertubuh kekar.


Setelah pesanannya selesai, Ia membayar dengan uang selembar uang 100 ribu rupiah.


"Wah.. Uangnya besar sekali, Mas. Apa tidak ada uang kecil atau uang pas saja? Sebab Nenek belum buka dasar sedari tadi.." jawab Nenek itu polos.


"Siaaal..!!" maki Edy dalam hatinya, lalu Ia mencengkram pergelangan tangan pria itu, dan mengambil uang yang dipegang oleh pria tersebut.


Pria itu menatap tajam, lalu menyerang Edy dan terjadi pertarungan.


Asih merasa bingung dengan apa yang terjadi. Sesaat Asih melihat Edy merogoh saku celana pria itu dan merebut sisa uang yang tersisa didalam saku celananya. Perebutan uang itu menjadi perhatian pembeli lain disekitar pasar.


"Brengsek..!! Ini uang palsu!" maki Edy lalu merobek uang-uang tersebut. Seketika hal tersebut menjadi perhatian semua pengunjung pasar.


Disisi lain, Lee juga sedang mengikuti pengedar uang palsu tersebut.


Saat mengikuti pengedar uang palsu itu, samar Ia mendengar beberapa orang sedang membincangkan seorang pemuda dan seorang gadis sedang menangkap pengedar uang palsu yang sedang tertangkap basah.


Lee mengerutkan keningnya "Mengapa Chakra dan Rere beroperasi disin? Bukankah Aku memintanya dipasar yang berbeda? Sepertinya ada kesalahan informasi pada keduanya" guman Lee yang masih mengintai pengedar itu sembari membawa karung bekasny.


Sementara itu, Edy yang sedang baku hantam dengan pria pengedar tersebut, ada seseorang yang mencoba datang menyerang dari arah belakang.


Melihat hal tersebut, Asih datang membantu. Melihat Edy tak sendirian, pria yang merupakan rekan pengedar tersebut mencoba melawan Asih.


Namun Ia terlalu menganggap remeh Asih, hingga akhirnya pria itu kewalahan dan memilih melarikan diri.


Melihat lawannya melarikan diri, Asih memilih mengejarnya dan terjadi kejar-kejaran antara Asih dan pria tersebut, hingga akhirnya mereka sampai ditempat yang sedikit sepi.


Saat itu Lee sedang mengikuti pria yang menjadi targetnya.


Namun tanpa sengaja, Lee bertabrakan dengan pria yang sedang dikejar Asih, dan..


Buuuuuugh..


Pria itu tersungkur, lalu Asih menangkapnya hingga babak belur. Disisi lain, pria yang sedang diincar Lee melihat rekannya tertangkap dan babak belur, Ia memilih kabur dan melarikan diri sebelum Lee menyadarinya.


"Heeei.. Apa yang Kau lakukan?!" tanya Lee kepada gadis yang sedang menghajar pria tersebut.


"Apakah Ia mencuri perhisan atau uangmu?" tanya Lee kepada gadis itu, saat melihatnya begitu sangat bersemangat menghajar pria tersebut hingga babak belur.


"Teman ku mengatakan Ia menggunakan uang palsu untuk membeli makanan ditempat nenek tua itu" sebut Asih tanpa menoleh kepada orang yang bertanya kepadanya, karena masih asyik menghajar pria tersebut.


Seketika Lee terperangah, Ia mengenali suara itu. Lalu Ia beranjak bangkit, dan menghampiri sang gadis, lalu menarik lengannya.


Asih terdiam saat pria itu menariknya, dan membiarkan pria yang dihajarnya tak sadarkan diri.


Lee membolakan matanya karena benar-benar tak percaya melihat gadis yang dirindukannya berada tepat didepan matannya.


"Asih.." gumannya dengan begitu senang, dan mendorong Asih kedinding pasar yang sepi.


Ia membuka Wig nya dan memperlihatkan wajahnya. Kemudian Ia memakai kembali wignya.


"Lee" ucap Asih lirih, tak percaya mereka akan bertemu ditempat ini.


Lee mendekap tubuh ramping Asih dengan erat, melupakan sejenak tentang buronannya yang sudah kabur melarikan diri.


Rasa kerinduan pemuda itu terhadap gadisnya membuat Ia lupa diri.


Ia menyesap bibir sang gadis dengan sangat rakus dan begitu dalam. Pelukannya begitu erat dan seakan tak ingin lepas.


"Aku merindukanmu" ucapnya dengan nafas tersengal dan tak ingin melepaskan gadisnya.


Sementara itu, Edy mencari keberadaan Asih. Ia mengitari pasar, dan tak jauh dari sudut Ia berdiri, Ia melihat pria yang tadi dikejar oleh Asih telah tergelatak tak sadarkan diri dilantai pasar yang tidak terpakai.


Namun Ia tak menemukan sosok gadis tersebut. Sesaat Ia mendengar suara rintihan manja seorang gadis dibalik dinding pasar, Dan Edy melihat seorang pria dengan pakaian pemulung sedang mencumbu wanitanya.


Melihat hal itu, Edy melayangkan tinjunya kepada pria itu hingga tersungkur dilantai. lalu denga cepat membawa Asih menjauh dengan perasaan marah dan kesal.