Buhul ghaib

Buhul ghaib
Perjalanan



Mentari pagi tampak bersinar terang. Penderan cahayanya menyapa seluruh makhluk dibumi, menghangatkan siapa saja.


Seorang pria berbadan kekar, berwajah dan tampan dengan pakaian yang sudah tampak lusuh karena berhari-hari tak pernah berganti, mengedarkan pandangannya.


Ia melihat keseluruh para bawahannya yang masih tertidur dengan nyenyaknya.


Ia memperhatikan seorang diantaranya yang masih tampak menggigil, yaitu Rocky yang meracau tak jelas.


Seketika Rocky berdiri tegak, lalu memandang nanar kedepan.


Sang pria menjadi Bos mereka menatap bingung dengan prilaku yang tak biasa yang dilakukan oleh bawahannya itu.


Tubuhnya tampak semakin kurus, Ia berjalan perlahan dengan bersedekap kedua tangannya diatas dada.


Sang Bos membangunkan Dori dan Sani yang masih tampak meringkuk seperti udang karena mengusir hawa dingin perbukitan.


"Heeii... Bangunlah!" ucap Si Bos dengan mengguncang tubuh Sani dan Dori secara bergantian.


Namun keduanya masih tampak sangat malas untuk bangkit dari tidurnya.


Seketika Si Bos mencubit pipi mereka dengan sangat keras, sehingga keduanya mengerang kesakitan sembari mengusap bekas cubitannya.


Sesaat keduanya mengerjapkan kedua matanya, lalu berusaha bangkit dari tidurnya dengan malas-malasan.


Melihat kelakuan bawahannya, Si Bos langsung mengambil sisa air minum dan memercikkannya kewajah mereka berdua.


"Hei... Sadarlah! Coba lihat apa yang dilakukan oleh teman kalian itu" ucap Si Bos sembari mengarahkan jemari teluluknya kearah Rocky, dengan nada sedikit tinggi, sehingga membangunkan yang lainnya.


Keduanya membolakan matanya, melihat rekan mereka sedang berjalan sempoyongan tak tentu arah.


Kedua segera bangkit dan berusaha mengejar rekan mereka yang tampak seperti tak biasanya.


Rocky meracau tak jelas. Pandangannya tampak begitu kosong. Ia seperti mengucapkan sesuatu, namun tidak terdengar begitu jelas.


Rocky terus berjalan dan semakin mempercepat langkahnya. Sementara itu, Sani dan Dori mulai mengejar Rocky yang tampak sempoyongan namun langkahnya begitu cepat.


"Rocky! berhenti... Jangan kesana, berbahaya!" teriak Dori mengingatkan.


Namun apapaun yang diucapkan oleh Dori tidak terdengar diteinganya dengan jelas.


Disisi lain, Rocky merasakan jika dirinya seolah sedang dibawah oleh seorang gadis cantik yang ayu rupawan.


Rocky merasakan gadis cantik itu begitu sangat mempesonanya dan terus berlari mengajaknya menajuhi kawanananya.


Rocky terus mempercepat langkahnya yang meski tampak sempoyongan, hingga akhinya Dia tiba di tepi jurang yang lumayan terjal.


Sani dan Dori sudah hampir dekat dengan jaraknya. Dori ingin meraih lengan pakaian Rocky yang saat itu sudah menapakkan kakinya ditepi jurang, dan...


Tubuh Rocky terjatuh dan melayang diudara dengan begitu ringannya.


Dori dan sani hanya bisa melongo dan terpaku memadang tubuh rekannya yang sudah mendarat sempurnah didasar jurang.


Buuuuuuuugh.... Baaaaam...


Tubuh Rocky terjatuh dan tampak mengejang beberapa saat, lalu diam tak berkutik.


Dori dan Sani tampak saling pandang satu sama lain. Keduanya lalu djam terpaku tanpa berkata sepatah katapun.


Sudah berulang kali mereka menyaksikan rekan mereka meegang nyawa dengan cara yang sangat mengerikan dan tak mampu dicerna oleh akal sehat mereka.


Dori menarik Lengan Sani agar segera menjauhi tepi jurang, karena hal ini sangat berbahaya jika saja ada angin kencang dapat membuat mereka terlempar kebawah sana.


Keduanya kembali ke tempat mereka berkumpul, namun masih berdiam dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun.


Sementara si Bos hanya menatap mereka dengan tatapan yang dapat menebak apa sebenarnya yang terjadi.


Pria itu tahu jika para bawahannya sedang dalam trauma, maka Ia tidak ingin menanyakan apapun.


Sementara itu tatapan si Bos beralih kepada Jack dan Black yang kini sudah mulai tampak membaik. Keduanya sudah dapat duduk dengan benar dan mulai dapat berbicara.


Si Bos memutuskan untuk melanjutkan perjalanan siang nanti, Ia tidak ingin kehilangan jejak gadis itu.


******


Dina melompat keatas punggung Kudanya. Ia memperkirakan jika petang nanti Ia akan tiba di goa, jika tak ada halangan yang menghalangi perjalanannya.


Ia kemudian memacu kudanya dengan cepat, agar segera sampai di puncak bukit.


"Aku merasakan aroma tubuh Asih dihutan ini, apakah Ia sudah kembali?" Dina berguman dengan lirih.


Lalu terus memacu laju kudanya agar berlari dengan kencang.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, Mentari sudah berada ditengah bayangan makhluk, pertanda waktu sudah tengah hari. Perutnya terasa sangat lapar.


Saat melihat seekor kelinci berlari didepannya, Dina mencoba membidikkan anak panahnya untuk melepaskan segera dari busurnya.


Namun tiba-tiba Ia mengurungkannya, Ia teringat akan Mumu yang menghilang, dan Ia merasakan jika kelinci itu bersama Chakra.


Dina mendenguskan nafasnya, Ia harus mencari sumber makanan lain.


Saat Ia masih sedang berfikir, tiba-tiba saja seseorang sudah berada dibelakangnya, memluknya dengan hangat.


"Kanda..." sapanya dengan lirih, Ia dapat mengenali pria dibelakangnya meski tanpa melihatnya.


"Kau sangat nakal, Sayang. Mengapa Kau menbambil jalur ini, ada banyak bahaya disini" ucap pria itu sembari membenamkan wajahnya diceruk pundak sang wanita.


"Mengapa Kanda tidak menjawab panggilanku?" ucap Dina dengan nada kesalnya.


"Maafkan Kanda, Sayang. Ada hal penting yang sedang Kanda hadapi bersama Sulira" jawab pria itu, sembari menyusuri leher jenjang milik sang wanitanya.


"Apakah hal itu lebih penting dari Aku" cecar Dina semakin kesal.


Pria yang tak lain adalah Bromo tidak menjawab pertanyaan wanitanya yang sedang merasa kesal itu. Ia terus menysuri lekuk tubuh wanitanya, sehingga membuat wanitanya merintih lirih dan menggelinjangkan tubuhnya.


"Kanda tahu Kamu dapat membereskannya" jawab Bromo dengan suara paraunya, lalu membawa wanitanya menghilang pergi entah kemana. Sementara kuda milik Chakra berlari sendirian pulang menuju Goa.


Seketika Bromo sudah sampai diistananya. tepatnya di kamarnya yang penuh batu permata dengan harga yang sangat fantastis.


Ia membaringkan tubuh kekasihnya. "Akan kupatahkan tangan mereka yang sudah berani menyentuh kulitmu" ucap Bromo dengan nada ancaman.


Lalu Ia melucuti seluruh pakaian Dina, membawanya ke kolam pemandian berisi air hangat.


Aku ingin membersihkanmu. Aku tak suka aroma tangan mereka menempel dikulitmu" ucap Bromo, lalu membopong tubuh Dina, dan membawanya masuk kedalam kolam pemandian.


Dikolam itu, ada banyak kelopak bunga mawar merah dan putih, serta kuntum bunga melati.


Bromo mulai membersihkan tubuh Dina menggunakan kelopak bunga-bunga tersebut dengan lembut.


"Aku mencintaimu, Sayang. Tak kan Ku biarkan tangan lain menyentuhmu, dan mereka yang sudah lancang menyentuhmu, akan kupatahkan pergelangan tangannya" ucap Bromo dengan nada ancaman.


Setelah membersihkan tubuh kekasih hatinya, Bromo mulai melancarkan aksinya, melakukan percintaannya didalam kolam itu, melepaskan segala hasrat dan kerinduan yang sangat dalam dan tak begitu manis.


Bagaimana mungkin Dina dapat lepas dari sang suami silumannya, jika suaminya itu selalu memberikan kepuasan yang sangat berbeda. Bahkan saat Andre dulu menodainya, Ia tak begitu merasakan kepuasan dari pria itu. Namun bersama suami silumannya, ia dapat merasakan kepuasan yang begitu teramat dahsyat yang terus membuatnya candu.