
Edy beranjak bangkit dari duduknya. Ia memandang balkon rumah itu, namun tak terlihat Asih disana. "Apakah Ia semarah itu denganku?" ucap Edy dengan gelisah. Setelah cukup lama berdiri didepan pagar, Edy memilih untuk pulang.
Sesampainya dirumah, Ia terkejut melihat Delia, Mamanya sudah berada dirumah dan membawa kakek dan serta dari kampung.
Edy menyalim kakeknya yang tampak lumpuh dan juga neneknya yang sudah sangat senja.
Edy memeluk mamanya dengan penuh kehangatan. Ia juga merindukan Mamanya yang yang selalu mengalah dan cukup sabar atas sikap Papanya yang selalu acuh tak acuh dan terkadang yak menganggap ada.
"Papamu mana, Sayang?" tanya Delia dengan lembut. Wanita tersabar yang pernah dimiliki oleh Edy dalam menghadapi semua tingkah laku Papanya.
"Biasa, Ma" bisik Edy dengan sangat pelan ditelinga Delia, Mamanya.
Delia hanya menggelengkan keplanya. Delia melihat ada beberapa barang yang tampak hancur berantakan.
Delia berniat akan membawa Ayah dan Ibunya berobat dikota ini, dirumah sakit terkenal, berharap akan kesembuhannya.
Sementara itu. Lee semalaman tak tidur, Ia begitu sangat memikirkan peristiwa semalam yang sangat mengejutkannya.
Bagaimana mungkin gadis yang selama ini begitu sangat dicintainya ternyata seorang siluman. Bahkan Ia tak memiliki cinta lain selain gadis itu, namun Ia harus syok dengan kenyataan yang ada.
Berulang kali Rere menyapanya, dan mencoba bertanya, namun tak jua mendapatkan jawaban.
Hingga akhirnya Rere menepuk pundak Lee dengan keras hingga membuat pemuda itu tersentak karena terkejut.
"Apa..?" tanya Lee bingung dengan pertanyaannya yang sedikit konyol.
"Apa yang Kau fikirkan, Bos?" tanya Rere dengan penuh pensaran.
Lee tercenung, Ia diam seribu bahasa. Apakah Ia juga harus mengatakan jika Chakra bersaudara dengan Asih, kemungkinan juga Chakea keturunan siluman buaya. Maka hal ini pastinya akan mengagetkan Rere.
"Tidak ada. Maaf, Aku belum bisa menemukan pemuda itu untukmu" ucap Lee dengan lirih.
Seketika Rere terlihat murung. Lee dapat merasakan perasaan gadis tomboy tersebut. Gadis itu menyukai pemuda tersebut, itu sangat tampak sekali dari gelagatnya.
Lee merasa bersalah karena menyembunyikan keberadaan Chakra. Namun Lee tak ingin jika nantinya Rere akan syok dengan kenyataan yang ada.
Lee keuar dari kamar markasnya. Ia berjalan diluar sana mencari udara segar.
Ia duduk ditepian kali yang tak jauh dari tempat markasnya. Saat Ia menatap air kali tersebut, Ia melihat bayangan wajah Asih.
Semua kisah yang Ia lalui begitu sangat mengusiknya. Wajah cantik itu tak dapat lepas dari ingatannya.
Jujur Ia tak semudah itu untuk melupakan gadis tersebut. Namun Ia masih harus memerlukan waktu untuk dapat menerimanya.
Semakin lama, perasaannya kepada gadis itu tak dapat juga Ia hindari.
Berulang kali Ia mencoba untuk melupakannya, namun semakin dalam dan merasakan sebuah keterikatan.
Lee semakin bingung dan tak tahu harus melakukan apa. Semakin Ia mencoba untuk melupakannya, semakin kuat rasa itu mengikatnya.
"Aku jatuh cinta padamu" ucapnya lirih. Lalu beranjak bangkit dari duduknya, mengambil kunci mobil dari markas, lalu menuju tempat dimana Asih tinggal.
Sementara itu, Edy membawa Kakek dan Neneknya kerumah sakit. Ia mencoba memberikan perobatan yang terbaik untuk kedua kakek dan neneknya itu.
Namun saat melintasi rumah Asih, mesin mobilnya tiba-tiba mogok tak dapat dihidupkan.
Edy memasang topi jacket hoodynya dan beranjak keluar dari dalam mobil lalu memeriksa kondisi mesin mobilnya.
Sesekali Ia melirik balkon rumah tersebut, namun tak terlihat Asih disana. Hatinya begitu hampa.
Edy merasa sangat malu dan sungkan. Ia merundukkan kepalanya dan berpura-pura memeriksa mesin mobil tersebut.
Dina berhenti sejenak, merasakan mencium aroma darah milik Andre ditubuh pemuda itu. Serta Ia merasakan energi batu mustika mirah delima didalam tubuh sang pemuda.
Dina memperhatikan pemuda itu, lalu melirik orang didalamnya.
Tampak Delia membuka pintu kaca mobil dan menyapa ramah Dina "Maaf, Mbak.. Mobil kami mengalami mati mesin tepat didepan rumah Mbak" ucap Delia dengan sopan dan ramah.
Dina membalas dengan senyum ramah dan menganggukkan kepalanya.
"Oh.. Ternyata Dia istri Andre, namun ini juga bukan salahnya, sebab Andrelah yang brengsek" guman Dina dalam hatinya.
Dina melongok kedalam mobil, melihat seorang pria renta yang tampak begitu sangat kesakitan dan dan mengalami kelumpuhan.
"Ini ayah Saya, sudah lama sakit dan belum sembuh juga" ucap Delia dengan lirih.
"Boleh saya lihat" tanya Dina dengan sopan.
Delia mengangguk dan beranjak turun dari mobilnya.
Edy merasa dag dig dug melihat apa yang akan dilakukan oleh calon ibu mertuanya itu.
Dina memejamkan kedua matanya, Lalu memegang kaki pria senja itu dan mengucapkan doa.
Sesaat pria itu merasakan hawa panas mengalir didalam aliran darahnya, lalu Ia dapat menggerakkan kakinya dengan perlahan.
Pria senja itu menatap Dina dengan tatapan sendu "terimakasih, Nak" ucap Pria itu dengan tulus dan Dina menjawab dengan anggukan.
Dina keluar dari dalam mobil dan berpamitan masuk kedalam rumahnya.
Delia tercengang melihat keajaiban tersebut. Ia mengejar Dina. Saat Ia mendapatkan Dina, Ia mengucapkan ribuan terimakasih, karena telah menyembuhkan Ayahnya.
"Terimakasih, Mbak.. Kamu sudah memyembuhkan Ayah saya" ucap Delia dengan tulus.
Dina tersenyum dengan ramah, lalu berpamitan kepada Delia.
Delia memandang wanita itu dengan sangat kagum. Wanita muda yang memiliki keahlian alternatif yang sangat luar biasa.
Edy tercengang melihat Mamanya yang tampak begitu ramah terhadap Ibunya Asih. Andai saja hubungan mereka dapat disatukan, alangkah bahagianya hati Edy.
Delia berjalan dengan cepat.."Lihatlah, Sayang. Wanita itu sungguh hebat, kakekmu yang sakit bebrbulan-bulan dapat disembuhkannya dengan sekejab mata. Mama harus memberitahu Papamu, agar memberikan hadiah yang besar untuk ungkapan terimakasih" ucap Delia tak sabar.
"Ayo Kita pulang" ucap Delia dengan semangat.
"Tapi mesin mobilnya mogok, Ma" jawab Edy mengingatkan.
"Coba saja dulu, mana tahu ada keajaiban bisa hidup" titah Delia dengan yakin.
Edy menuruti perintah Mamanya, mencoba menghidupkan mesinnya, dan benar saja, mesin itu menyala, dan hidup kembali.
"Oh.. Calon Mama mertua.. Kau dan anakmu sama saja.. Sama-sama ajaib" guman Edy dalam hatinya. Lalu Ia mengemudikan mobilnya dan memutar arah untuk pulang.
Sedangkan Delia tak sabar untuk bertemu Andre dan menceritakan semuanya dengan rasa takjub yang luar biasa.
Sesampainya dirumah, Delia meminta ayahnya untuk berjalan sendiri. Dan pria senja itu mengikuti titah puterinya, Ia berjalan dengan mudahnya.
Sesaat Delia menuju sebuah ruangan rahasia yang ada dibalik kitcenset dapur. Ia menekan tombol rahasia tersebut, lalu terbukalah pintu tersebut menuju ruang bawa tanah.