Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 213



Lee menatap kepergian Asih dengan hati yang lara dan nelangsa. Beginikah rasanya sakit tak berdarah, tergores sayatan sembilu begitu sangat menyakitkan.


Rebecca menatap pandangan mata Lee yang tampak begitu dalam mencintai sang wanita. Ia kini memahami, jika saat itu Lee begitu gencar menanyakan tentang gadis yang menyelamatkannya, ternyata gadis itu benar yang telah membuat Lee terbelenggu cinta dan perasaan.


Semua tentangnya, semua yang pernah mereka lewati bersama, bagaimana mungkin dengan mudahnya dapat begitu saja menghilang.


Ia sudah mencoba sejauh mungkin melangkah meninggalkan negaranya, demi untuk mengahapus memory semua tentangnya, namun kenyataannya, sang wanita terus saja hadir kemanapun Ia berlari.


Rebecca menghampiri Lee, menyentuh pundak pemuda yang saat ini sedang patah hati.


Lee masih menatap kepergian sang wanita yang menghilang dikeramain manusia lainnya.


Sesaat terdengar suara sirene mobil polisi yang memasuki gerai makanan tersebut.


Pihak kepolisian mendapat laporan adanya keributan didalam gera tersebut, dan mereka segera datang kelokasi kejadian untuk mengamankan pertarungan tersebut.


Namun polisi datang terkambat saat semuanya sudah usai dan para preman jalanan itu terkapar tak berdaya dengan betis mereka yang tertembus timah panas.


Rebecca mengajak Lee untuk segera keluar dari gerai dan kembali ke kos.


Pemuda itu menatap sang gadis dengan sayu. Lalu melangkah keluar dan membiarkan para polisi mengamankan para preman tersebut.


Setelah sampai diluar gerai tersebut, Lee mengantarkan Rebecca ke kos, sedangkan Ia kembali keluar dan tampaknya Ia ingin menyendiri dalam kesendiriannya.


Sementara itu, Asih berjalan dalam perasaan yang gudah. Namun Ia tidak mungkin mengkhianati suaminya, Edy telah menjadi takdir hidupnya dan Ia juga mencintai suaminya, namun ada sisa rasa didalam hatinya untuk pria tersebut.


Edy menyadari jika diamnya Asih saat ini adalah sebab karena pertemuannya barusan bersama Lee, tetapi Esy tidak mengetahui jika Asih sudah berulang kali bertemu dengan pria itu.


Edy mengeratkan gengagamannya dijemari sang wanita, lalu membawanya kesebuah taman kota dan duduk disebuah kursi santai.


Edy meraih kepala Asih dan meletakkannya dipundaknya, tangan kirinya merangkul sang wanita.


Ia tidak ingin marah atas apa yang terjadi pada istrinya, sebab Ia tahu jika Asih masih belum memahami tentang sebuah perasaan.


Disisi lain, Lee mengemudikan motornya menuju pantai yang tak jauh dari rumah kosnya. Seaampainya ditempat tersebut, Ia duduk dibebatuan yang berukuran besar. Menatap lau lepas dengan langit kelam dan taburan juta bintang yang berkelap kelip dengan begitu indah.


Ia mendenguskan nafasnya. Ia mengingat kejadian saat dipelabuhan, dikantor polisi, dan Ia meyakini jika itu adalah Asih.


"Apakah kedatangannya ke negara ini ada misi tertentu atau hanya untuk berbulan madu?" Guman Lee lirih.


Pria itu mencoba menerka-nerka apa yang menjadi tujuan Asih datang ketempat ini.


Edy melepaskan rangkulannya. Ia menurunkan tas ranselnya dari punggungnya, dan meminta Asih untuk bergeser sejenak dan setelah kembali meletakkan kepala Asih dipundaknya.


Edy membuka layar laptonya, lalu berseluncur didunia maya. Ia masih merasa bingung dan juga penasaran karena preman jalanan tadi mengenali mereka dengan menyebutkan berlian putih di toko Mall tersebut.


Edy mengetik kata kunci berlian putih, dan tanpa diduga, berbagai halaman berita, artikel, dan beberapa aplikasi media menyebarkan rekaman vedeo mereka saat berada di gerai pakaian Mall yang menjadi tempat mereka membeli pakaiannya tersebut.


"Haah, Gila.. !! Ini bisa membahayakan kami kapanpun jika berkeliaran dijalananan" guman Esy dengan mata terbeliak.


Asih tersentak mendengar gumanan Edy, lalu menegakkan kepalanya dan memandang apa yang sedang dilihat oleh Edy di layar laptonya.


"Ada ada emangnya?" tanya Asih penasaran.


"Kita tiba-tiba viral, Sayang.. Karena saat pembayaran pakaian ini menggunakan sebutir batu berlian putih waktu itu" ungkap Edy menjelaskan.


"Menjadi perbincangan didunia maya dan kata kunci yang dicari di internet" jawab Edy menjelaskan.


Asih hanya mengangkat kedua pundaknya dengan mengerucutkan bibirnya.


Edy mebmndenguskan nafasnya, Ia juga bingung menjelaskannya pada Asih, sebab sang istri juga tidak mengenal media sosial.


Edy memperlihatkan beberpa ulasan dan juga aplikasi media yang memasang foto mereka dan juga vedeo yang tersebar dengan wajah mereka.


Asih mengerutkan keningnya "Mengapa kita ada disinin?" tanya Asih penasaran.


"Nah.. Itu yang tadi ku bilang viral, wajah kita telah tersebar dan sangat dicari, ini sangat berbahaya bagi kita, sebab mereka mengira kita ini adalah pemilik koleksi batu berlian dari jaman kuno dan banyak yang menginginkan berlian yang kamu miliki.." Edy menjelaskan dengan sangat jelas.


Asih menganggukkan kepalanya dan memahami apa yang dijelaskan oleh Edy.


Ditempat lain. Robert yang mendapatkan laporan tentang berita viral yang menampilkan wajah Asih tersenyum menyeringai.


"Ternyata selain liar, Ia juga kaya raya dan pemilik koleksi berlian kuno.. Ini sangat menarik. Oh baby, siapa kau sebenarnya? Semakin membuatku begitu penasaran. Aku ingin kalian temukan dia hidup-hidup" titah Robert kepada bodyguardnya.


Sang bodyguard mengerutkan keningnya "Bos.. Lato-lato Bos saja belum sembuh total karena dihajarnya waktu itu, masa iya mau menangkap wanita itu lagi? Apakah Bos tidak takut terkena tendengannya lagi?" sindir sang bodyguard.


Robert menatap sarkas pada sang bodyguard.


"Itu bukan urusanmu, jika tak dapat menangkapnya, maka tangkap orang terdekatnya, maka kucing liar itu akan datang sendiri kemari untuk mendapatkan umpannya" jawab Robert dengan nada penuh penekanan.


Sang bodyguard menganggukkan kepalanya dan beranjak pergi dari kamar tersebut.


Edy membelai rambut Asih "Kita harus segera pergi dari tempat ini, sebelum orang-orang mengenali kita dan akan menghambat apa yang sudah kita rencanakan" ucap Edy menyarankan.


Lalu keduanya bangkit dari kursi taman, dan..


"Tidak semudah itu..!!" ucap seseorang yang membawa senjata api dengan peluru suntik bius, yang sudah menembakkannya terlebih dahulu kepada keduanya.


Dan...


Ssssttt...


Suntik itu mengenai punggung Asih dan Edy, lalu membuat keduanya tak sadarkan diri.


Seketika datang beberapa orang menarik jarum suntik itu dan membuangnya, lalu membawa tubuh Asih dan juga Edy masuk kedalam mobil hitam dan membawanya ke sebuah tempat yang sangat asing.


Mobil meluncur membelah jalanan menuju keluar kota dan tampaknya ke sebuah Villa yang sangat jauh dari keramaian.


Asih dan Edy masih dalam pengaruh obat bius yang membuat keduanya tak sadarkan diri.


"Bos, kami mendapatkan keduanya sekaligus, sekarang menuju Villa di kaki bukit" ucap Seorang pria berseragam hitam dalam panggilan telefonnya.


"Baiklah.. Kerja bagus" jawab orang tersebut kepada bawahannya, lalu menutup panggilannya.


"Siapakan hellikopter menuju villa dikaki bukit" titah pria tersebut dengan cepat.


Lalu para bodyguard itu menganggukkan kepalanya dan segera menyiapkan apa yang diperjntahkan oleh majikannya.


.