
Asih berjalan keluar dari rumah sakit. Ia mencari bangunan yang bertuliskan 'TOKO MAS'
Setelah beberapa lam berjalan, Ia menemuka deretan toko yang bertulis toko mas, seperti yang disebutkan bu Rumini kepadanya.
"itu tokonya. Mungkin aku harus kesana untuk menjual emasnya.
Asih mempercepat langkahnya. Tampak toko masaih baru saja buka. tampak seorang karyawan masih menyusun berbagai bentuk perhiasan didalam lemari kaca yang berundak-undak.
Asih menghampiri kayawan itu. Seorang karyawati mencoba tersenyum ramah menyambut Asih. Karena Asih ada pelanggan pertamanya hari ini.
"Mau beli apa mbak..? Silahkan dipilih.." ucap karyawan itu dengan ramah dan sopan.
"saya mau jual emas, apa bisa..?" tanya Asih.
"ooh..boleh mbak, bentar saya panggil bos saya dulu ya..?" ucapnya sopan.
Asih menganggukkan kepalanya.
Tak lama kemudian, seorang pria berkulit putih keluar dari sebuah pintu penghubung. diperkirakan berusia 50 tahun.
"ada yang bisa saya bantu mbak..?" tanya pria dengan kharismatik.
Asih mencoba tersenyum ramah. "ini pak, saya mau menjual emas milik saya." ucap Asih, sembari mengambil kantong yang terbuat dari kain dengan dua buah tali saling yang saling berlawanan arah sebagai pengikatnya, atau biasanya disebut uncang.
Asih mengeluarkan sebuah koin emas kepada pemilik tokoh itu. Sebagai orang yang sudah lama berbisnis di bidang perhiasan. Tentu Ia sangat kaget mendapatkan emas dengan kadar yang sangat tinggi. apalagi emas itu diperkiran berusia ribuan tahun.
Pemilik toko dengan gemetar memeriksa emas milik Asih. Ia meletakkannya pada sebuah alat detektor yang dapat mendeteksi kadar emas tersebut.
Ia memandangi Asih dengan seksama "apa dia salah seorang anggota kelompok begal atau rampok..? Mengapa Ia dapat memiliki emas semahal ini..?" pemilik toko mencoba menelisik penampilan Asih.
Pemilik toko sangat gemetar, Ia takut jika saja Asih tiba-tiba merampoknya dengan memanggil gengnya, maka Ia akan menjadi korban, atau juga sedang dalam pengejaran polisi, bisa jadi Ia tertuduh sebagai penadah.
"Maaf mbak, saya tidak sanggup membelinya, emas ini terlalu mahal harganya." ucap Pemilik toko itu sembari mengembalikan emas milik Asih.
"berapa bapak sanggup membayarnya?" Tanya Asih.
"maaf, cari saja toko lain, saya tidak sanggup membayarnya." tolak pemilik toko tersebut.
oh..ya sudah.. Saya akan cari toko yang lain saja." jawab Asih, sembari mengambil kembali emas koin miliknya.
Asih berjalan keluar masuk toko mas. namun, tidak ada satupun yang sanggup membayarnya. Bahkan salah seorang pemilik sebuah toko mas tersebut mengatakan, jika Ia menjual toko dan isinya belum cukup untuk membayar emas milik Asih.
Asih semakin down. Ia bingung harus kemana lagi untuk menjual emasnya.
Saat berada dikeputus asaan, Asih melihat toko terakhir. Ia mencoba untuk menawarkan emasnya, meskipun nantinya Ia akan harus menelan kekecewaan karena ditolak lagi.
Ia bergegas memasuki toko tersebut. Seorang pria bermata sipit, dipastikan Ia ras Thionghoa.
"ada yang bisa saya bantu mbak..? Atau mau pilih-pilih perhiadan ditoko saya.? " ucapnya ramah.
"saya mau menjual emas pak.." ucap Asih..
Pria yang masih berusia 30-an tahun itu tersenyum miris. "wah..panggil saja saya koko mbak, saya masih muda dan juga single lho.." ucapnya sembari tersenyum ramah.
Asih membalas dengan senyum datar.
"boleh saya lihat emasnya mbak piao liang..?" ucap Si koko yang mengagumi kecantikan Asih.
Asih mengeluarkan koin emasnya, dari saku yang terbuat dari kain tersebut.
Saat melihatnya dengan menggunakan kaca pembesar, Ia terperangah.
"waw.. Mbak piao liang dapat dari manalah ini punya emas..? Ini emas bukan sembarangan orang bisa punya, hanya kolektor yang belduit yang bisa memilikinya." Si koko menjelaskan kepada Asih.
"itu pemberian Romoku.." jawab Asih jujur.
"apa itu Lomo lah..?" tanya Si koko..
"itu.. Orangtua laki-laki saya..?" jawab Asih singkat.
Asih bingung harus kemana lagi untuk menjual emas tersebut. Ia sudah berjanji akan melunasai biaya operasi Kaila.
"begini sajalah Mbak, saya tidak sanggup membeli perhiasan milik mbak, tapi saya punya kenalan yang sanggup membelinya, nika mbaknya mau, maka saya akan menghubunginya." ucap sikoko
Asih mengangguk tanda setuju. Lalu Ia mengambil kembali emas miliknya dan memasukkannya kedalam uncang.
Sesaat si koko menelefon seseorang, si koko berbicara dengan menggunakan bahasa negaranya. Asih juga merasa bingung dengan alat yang digunakan oleh si koko.
Dimana Asih melihat pria itu berbicara seorang diri. dan kata yang terakhir Ia tangkap adalah, Ia mengatakan kata 'piao Liang'.
"mbak.. Teman saya itu maulah membeli perhiasan milik Mbak, jika mbak setuju, saya akan mengantalkan mbak ke tempatnya." ucap Si koko.
Asih mengangguk lagi, menyetujui ucapan Si koko.
Si koko bergegas menutup rukonya, lalu menuju mobil miliknya yang terparkir didepan ruko. "mbak.. Ayo sini, kita pelgi kesana." ucapnya dengan melambaikan tangan kepada Asih.
Asih mematung disamping mobil itu, Ia tidak tahu harus berbuat apa. Saat matanya melirik si koko membuka pintu mobil, maka ia mengikutinya.
Ia melihat apa saja yang dilakukan oleh si koko.
Asih dengan cepat belajar dari apa yang dilihatnya
Mbak Piao Liang dali manalah..?" tanya si Koko penasaran.
"dari Desa.." jawabnya singkat.
"desanya dimanalah mbak..?"
Asih tidak menjawab, karena Bromo mengingatkannya untuk tidak terlalu percaya kepada orang asing.
Si koko mengerti, jika Asih tidak ingin terlalu membuka hal pribadinya.
si Koko menunjukkan kartu identitasnya, serya mengatakan jika Asih bersamanya.
Mereka disambut oleh seseorang yang sudah lama menunggunya.
Mereka dibawa kesebuah lorong yang menuju ruangan bawah tanah.
Mereka melihat penampilan Asih yang seperti orang kampung sedikit berkasak kusuk. Namun semua ditepis oleh wajahnya yang ayu rupawan.
mereka tiba disebuah pintu yang banyak dijaga oleh pengawal.
Disana mereka memasuki pintu tersebut dengan menempelkan ID card pada sebuah fitur canggih yang berada di pintu tersebut.
Asih terus mempelajari apa yang dilihatnya, dan mengingatnya.
Setelah pintu ruangan itu terbuka, tampak banyak sekali pria berbadan kekar yang berdiri mengawal seorang pria tampan berusia sekitar 25-an tahun.
"Hai bos, ini wanita saya bilang itu punya koleksi emas yang diperkirakan berusia ribuan tahun." ucap Si Koko kepada pria itu.
Asih merasa bergidik, dimana Ia hanya perempuan seorang diri didalam ruangan itu.
"mendekatlah. Aku ingin melihat seperti apa emas yang kau bawa.?" ucapnya dengan tatapan menyusuri setiap lekuk tubuh Asih.
Asih berjalan mendekati meja pria itu dengan cepat. Ia dapat melihat bagaimana semua mata pria itu seperti singa lapar yang siap menerkam mangsanya.
"perlihatkan.." perintah pria tampan itu.
Saat Asih akan mengeluarkan uncangnya, seorang pria masuk dengan tergesa-gesa.
"Tuan Wei.. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan." ucap Pria itu dengan cepat.
Namun Pria yang dipanggil Wei tersebut mengangkat tangannya, lalu meminta pria si penyampai pesan itu segera pergi..dengan heran, pria itu terpaksa pergi.
"Perlihatkan.." perintahnya, dengan tatapan mengunci.
Asih mengeluarkan koin emas miliknya. Lalu meletakkannya diatas meja.
Pria bernama Wei itu mengambilnya, lalu memeriksanya. Ia menarik nafasnya dengan dalam. "dari mana kau mendapatkannya?" tanya Wei dengan selidik.
"dari Ayahnya bos. Jawab Si koko menyela.
Wei memandang marah kepada Si koko yang menjawab pertanyaannya untuk Asih.
"aku akan membelinya dengan harga mahal, senilai 5 milyar. Namun ada syaratnya." ucap Wei dengan tatapan liar.
Asih mengernyitkan keningnya. "apa syaratnya..?" tanya Asih..?"
"kau harus melayaniku?" ucapnya menyeringai.
"maksud anda saya harus melayani anda makan gitu..? Maaf, saya bukan budakmu." jawabnya menolak.
Wei terkekeh.. "siapa kau berani memolakku..?" ucapnya dengan nada sedikit naik 1 oktaf.
"aku manusia bebas, yang tidak bisa diperbudak. Jika kau ingin membelinya, silahkan bayar, namun jika tidak, kembalikan emas milikku, karena aku akan menjualnya pada orang lain." jawab Asih dengan tegas.
Wei menepukkan tangannya sebanyak 3 kali.
"Woow.. Aku suka gadis sepertimu, sangat menantang dan perlu waktu untuk ditaklukkan." ucapnya dengan sinis.
Semua orang memandang heran kepada Asih, yang sudah berani menantang Bos mereka.
"aku tidak punya banyak waktu untuk melayanimu berdebat, kembalikan emas milikku, dan aku akan segera pergi." ucap Asih dengan tatapan marah.
Ia merasa jika orang bernama Wei itu sengaja ingin menjebaknya.
Asih ingin meraih emas miliknya yang dipegang oleh Wei. Namun Wei dengan cepat mencengkram pergelangan tangan milik Asih.
Namun Asih dengan cepat menyikut dada Wei dengan menggunakan siku kirinya. Sehingga membuat Wei melepaskan cengkramannya.
Asih dengan gerakan cepat melayang naik keatas mejanya.
Wei terkejut, begitu juga dengan Semua orang yang berada disana terperangah melihatnya. Mereka tidak menyangka jika Asih bukanlah wanita lemah. Namun sebaliknya
Setelah ia berhasil merebut emasnya kembali, Ia mengeluarkan pedang dari balutan kain pakaiannya. Lalu mengunci Wei dari arah belakang dengan meletakkan pedangnya dileher Wei.
"berikan aku sejumlah uang, maka akan kuberikan emas ini padamu, jangan coba melawanku, jika tidak ingin kepalamu terpisah..!" Ucap Asih dengan nada ancaman.
Para bodyguard sudah bersiap dengan senjata apinya, ingin menembak Asih. Namun Wei menahannya.
Wei memberikan kode kepada seorang bodyguardnya, untuk mengeluarkan uang dari dalam brankasnya. Wei memberikan Uang itu kepada Asih. "turunkan senjatamu, berikan emasmu, dan ini sebagai pembayarannya. Nilainya 5 milyar." ucapnya sembari membuka koper tersebut dan memperlihatkan isinya.
Setelah itu, Ia menutup koper dan meletakkan koper berisi uang itu dilantai.
Saat Asih merunduk mengambil koper itu, kalung berlian pemberian Bromo mencuat keluar dari leher bajunya.
Seketika Wei membulatkan matanya. " Pink Diamond". Ia lebih terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Asih memungut kopernya, lalu membawa si koko sebagai sandera untuk membuka pintu dan mengantarkannya kerumah sakit.
Para bodyguard itu bingung, mengapa Tuan Wei melepaskan Asih begitu saja.
"mengapa Tuan melepaskan gadis gila itu begitu saja.?" ucap seorang pengawal pribadinya.
"dia sangat menarik. Dan aku menginginkannya. Cari informasi dari klan mana Ia berasal. Serta temukan cara untuk mendapatkan Pink Diamond yang berada dilehernya." titah Wei kepada para Body guardnya.
"baik Tuan.." ucap mereka serempak.
"tapi ingat.. Jangan sampai membuat kulitnya terluka." ucap wei, sembari membenahi letak dasinya yang berantakan.