
Lee bingung dengan perasaannnya . Mungkinkah Ia harus menjadi pria simpanan atau juga pria selingkuhan dari seorang gadis yang membuatnya terjerat dalam panah asmara yang memabukkan.
Bukannya Ia tidak dapat mencari wanita pengganti yang juga cantik, namun entah mengapa Ia tak dapat lepas dari gadis itu.
Cintanya terlalu dalam, sehingga Ia menjadi buta dan tidak mampu berfikir dengan jernih.
Ia duduk luar markas, merenungi nasib cintanya yang ternyata telah dibagi oleh gadis itu. Namun anehnya Ia merasa tak keberatan jika memang harus berbagi. Hal sangat konyol Ia lakukan.
Ia melihat Chakra sedang berjalan membawa seekor kelinci yang tampak begitu jinak didekapannya.
Lee merasa jika Chakra sangat menyayangi hewan peliharaannya itu, dan anehnya hewan itu tidak begitu nakal ketika dibawa kemanapun.
"Apa yang sedang Kau lakukan?" tanya Lee kepada Chakra.
Chakra menoleh kepada Lee, lalu menghampirinya.
"Kelinci ini mau makan rumput, jadi aku bawakan kemari sekejab, mungkin Dia menyukainya. Sebab seharian didalam tas dan tidak keluar karena menangkap para pengedar uang palsu siang tadi dipasar." ucap Chakra menjelaskan.
Lee menganggukkan kepalanya. Sebenarnya Chakra bukanlah anggota kesatuan mereka, namun selama ini Chakra sering membantu kegiatan mereka dengan keahlian beladirinya, mmebuat Lee selalu mengikut sertakan pemuda itu saat adegan berbahaya.
"Terimakasih sudah membantu Kami dalam sehala hal" ucap Lee tulus.
Chakra tersenyum dengan manis.
"Saya yang harusnya berterima kasih kepada Kamu. Karfna diberi tempat tinngal yang merupankan hal sangat saya syukuri." jawab Chakra dengan polosnya.
Lee hanya tersenyum mendengar jawaban pemuda itu. Setelah lama bersama, Ia dapat melihat jika pemuda itu adalah orang baik-baik.
"Oh, Ya. Bagaiamana dengan pencairanmu selama berada dikota ini? Apakah sudah menemukan titik terang tentang keberadaan adikmu." tanya Lee dengan penasaran.
Chakra menggelengkan kepalanya. Karena Ia gak dapat juga menemukan keberadaan Adiknya.
"Kalau begitu Kita masuk dulu kedalam, ada yang ingin Aku tanyakan padamu" ucap Lee dengan tenang, sembari beranjak menuju keruangan markas.
Chakra mengikuti Lee, lalu tampak Lee sedang mengambil secarik kertas beserta pena.
Lee duduk dikursinya dan meletakkan kertas itu diatas meja.
Coba katakan padaku seperti apa rupa wajah adikmu? Mungkin hal ini akan membantu untuk Kita menemukannya.." ucap Lee mencoba membantu Chakra. Sebab pemuda itu juga sudah banyak membantunya.
Chakra kemudian memejamkan matanya, mencoba membayangkan wajah Asih dalam ingatannya.
"Ia memiliki bola mata yang indah dengan bulu mata yang lentik" ucap Chkara dengan memulai penggambaran wajah adiknya dengan ingatannya.
"Hidung mancung, wajah bagaikan bujur telur, dagu lancip, dengan bibir yang tipis"ucap Chkara,mencoba sedetail mungkin.
"Lalu rambutnya panjang lurus" ucap Chakra kembali.
Seketika Lee menyelesaikan sketsa wajah tersebut.
Alangkah kagetnya Ia melihat sketsa wajah tersebut yang mana menggambarkan wajah Asih.
Lee terdiam dan menatapi wajah dalam sketsa itu. "Siaal.. Segitukah cintanya Aku terhadap gadis itu? Sehingga wajah adik Chakra sampai Aku gambarkan sebagai Asih.
Kemudian Lee meremas kertas tersebut, dan menyimpannya dilaci meja.
Ia menganggap dirinua terlalu halusinasi terhadap bayangan gadis itu, sehingga tidak begitu fokus terhadap apa yang dikerjakannya.
"Emm.. Chakra.. Sebaiknya lain kali saja, Ya.. Malam ini Aku sepertinya tidak fokus, sebab ada masalah tentang pekerjaan.
Namun kenyataanya sekarang Ialah, jika Jack yang sedang mereka cari, kini sedang terbujur kaku dalam kondisi mengenaskan.
Chakra hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Lee yang tampaknya sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Chakra memilih untuk beristirahat, dan memeluk kelincinya, yang sudah tampak tertidur dalam dekapannya.
Chakra tampak begitu sangat lelah dan tertidur pulas didekat Rere yang sedari tadi sudah mendengkur.
Sementara itu, Andre memerintahkan untuk segera melenyapkan jasad Jack bagaimanapun caranya. Sebab jika ketahuan polisi maka akan berdampak semakin parah.
Lalu para bodyguard itu menanam tubuh Jack dibelakang rumah mewah milik Andre, lalu membuat cor diatasnya dengan manipulasi sebagai taman tempat meletakkan berbagai pot tanaman untuk mengelabui siapapun.
Beberapa orang mencari keberadaan Ristih yang diduga telah melenyapkan Jack setelah bercinta. Namun yang membuat mereka merasa ngeri Ialah jika Wanita itu menyesap darah Jack hingga kering bagaiakan orang yang terkena sengatan listrik.
Setelah membereskan jasad Jack, kini mereka membantu mencari keberadaan Ristih yang menghilang tanpa jejak.
Ternyata wanita iblis itu sedang menuju rumah Dini. Ia ingin mebgambil kembali sepertiga batu mirah delima yang disembunyikan oleh Dina.
Ristih menginginkan kekuatannya kembali. Maka Ia berniat untuk mendatangi rumah Dina.
Dengan bergegas Ia menghampiri rumah mewah milik Dina. Ia mengetahui jika Dina pasti sudah tertidur. Maka Ia mengendap-endap untuk menyelinap masuk.
Rumah mewah yang hanya dihuni oleh Dina seorang diri menjadi sasaran empuk bagi siapapun.
Ristih mencoba masuk melalui pintu belakang rumah. Ia menggunakan cara maling untuk membuka pintunya.
Setelah berhasil masuk kedalam rumah, Ia mencoba menuju kamar Dina yang terletak di lantai dua.
Ristih menapaki anak tangga tersebut dan mencoba membuka pintu kamar Dina.
Kreeeek...
Dengan perlahan Ristih masuk kedalamnya. Lalu meringankan langkahnya untuk menghampiri Dina yang sedang tertidur.
Ia dapat melihat cahaya kilauan permata mirah Delima yang tersimpan didalam kening wanita itu. Ia ingin mengambilnya kembali.
Ristih sudah membawa sebilah pisau dapur yang akan dijadikannya untuk menyayat kening Dina.
Setelah dekat, tampak Ristih mengeluarkan pisau itu, dan bersiap untuk menyayat kening Dina.
Belum sempat Ia melakukan aksinya, Dina mengerjapkan kedua matanya, lalu menangkap pergelanagan tangan Ristih. Ia dapat mencium aroma amis tubuh Ristih, dan Ia memastikan jika Ristih sedang ingin mengambil kembali batu permatanya.
Lalu terjadi pergulatan diantara kedua wanita itu.
Ristih yang sudah kehilangan kekuatannya, tentu dengan sangat mudah dihajar oleh Dina.
Hingga akhirnya Dina melemparkan tubuh ristih keudara, lalu menendangnya hingga keluar melalui pintu balkon, dan jatuh dijalanan, tepat dihadapan para bodyguard Andre yang sedang mencarinya.
Para bodyguard itu tercenagang melihat tubuh Ristih yang seolah jatuh dari langit.
Lalu tanpa banyak bicara, mereka menyeret tubuh Ristih yang kini berlumuran darah karena dilemparkan Dina begitu saja hingga terjerembab di lantai trotoar.
Para bodyguard itu terus menyeret tubuh Ristih hingga sampai keruangan tempat Andre menunggu.
Lalu mereka melemparkan tubuh wanita itu dihadapan Andre.
"Ini dia bos, kami menemukannya ditrotoar dan terjatuh dari langit" jawab Jodi sembari menelentangkan wajah Ristih yang tampak hancur karena terlempar begitu saja.