
Asih dan juga Edy menaiki sebuah pesawat menuju negara bagian barat.
Meskipun tidak pernah menaiki pesawat, bukan berarti Asih takut saat pesawat melakukan take of.
Semua penumpang tampak tenang saat para pramugari mengingat sabu pengaman dan semua penumpang mematuhinya.
"Kamu takut tidak?" tanya Edy yang meraih jemari tangan sang istri saat pesawat mulai kepas landas dari bandara.
Asih menggelengkan kepalanya "Cuma beginian saja apa ngerinya? Lebih dari ini juga sudah pernah Ku rasakan" ucap Asih dengan santainya yang membuat Edy terpaksa menelan salivanya, karena memiliki istri yang terlalu bar bar itu sangat sulit ditebak.
Seorang pramugari tersenyum kepada Edy, dan Pria itu mencoba membalasnya, berniat membuat Asih cemburu, namun bukannya cemburu, Asih bahkan tak menggubrisnya.
Akhirnya Edy kesal sendiri dibuat ulah Asih.
Saat semua penumpang sedang dalam suasana tenang, tiba-tiba saja saja diantara penumpang lainnya, terdapat 6 orang pria bertubuh kekar dengan menggunakan kaos berwarna hitam dengan gerak gerik yang mencurigakan.
Namun diantara mereka yang duduk berseberangan dengan kursi Asih tampak tak lepas pandangannya dari wanita itu.
Ternyata kecantikan Asih mengusiknya. Bahkan Ia tak perduli jika Edy adalah suaminya.
Salah satu orang dari mereka berjalan menuju ke arah awak pesawat. Ia menuju keruangan pilot, yang mana tidak boleh seorangpun penumpang yang boleh memasukinya.
Kabin tempat pilot sedang bekerja menerbangkan pesawat sesuai jalurnya, namun Pria tersebut meminta pesawat menerbangkannya ke arah Yang Ia inginkan dengan menodongkan senjata api ke kepalanya.
Lalu ke lima rekannya beranjak dari duduknya, dan berdiri dengan memperlihatkan senjata api ke pada semua penumpang.
"Peringatan, penumpang ini sedang kami bajak, dan semua harus mematuhi apa yang kami katakan jika tidak ingin nyawa kalian melayang" ucap Seorang diantranya.
Mendapati jika pesawat yang ditumpanginya sedang dalam kondisi dibajak, maka seorang pria protes dan mencoba melawan.
Namun naas, seorang diantara pembajak itu menembakkan senjata apinya kepada pria yang melakukan protes dan mengenai pundak kanannya.
Seketika suasana menjadi riuh dan gaduh, bahkan seorang gadis berteriak dan menangis karena ketakutan.
"Diaaam..!! Sudah saya katakan ikuti saja apa yang kami perintahkan jika tidak ingin nyawa kalian melayang!!" hardik pria tersebut.
Seketika gadis itu tersentak dan terdiam ditempat duduknya.
Asih yang masih belum mengerti dengan apa yang terjadi, nakun merasakan jika ini adalah sebuah tindak kejahatan.
Asih berbisik kepada Edy "Mereka lagi apa?" tanya Asih kepada Edy.
Edy yang masih kesal terhadap Asih karena tadi terlihat mengacuhkannya menatap sang istri "Lagi makan" jawab Edy kesal.
Asih memanyunkan bibirnya karena mendengar jawaban Edy yang entah apa sebabnya tampak kesal terhadapnya.
Melihat Asih dan Edy saling berbisik, seorang diantara mereka yang sedari tadi memperhatikan Asih dan terpesona dengan kecantikannya menghampiri Asih, membuka sabuk pengaman, lalu menarik Asih sebagai sandera.
Edy yang melakukan protes dan ingin mencegah pembajak itu langsung mendapatkan todongan senjata api.
"Keluarkan semua barang berharga kalian, jika tidak saya akan menembak wanita ini dan juga kalian yang membantah atau sengaja menyembunyikan barang berharga kalian, maka akan saya tembak" ancam pria yang menyandera Asih.
Pramugari mengumumkan kepada penumpang agar tidak panik, sebab pesawat akan berputar ke arah yang berbeda dari tujuan.
Namun awak pesawat sudah mencoba menghubungi pihak maskapai jika mereka sedang dalam masalah dan pesawat mengalami pembajakan dan agar segera mengirimkan bamtuan.
Suasana dikabin pesawat dalam ketegangan. Para penumpang tampak ketakutan. Mereka.mengeluarkan barang-barang berharga mereka dan menyerakan kepada para pembajak yang mendatangi mereka dari satu kursi ke kursi satunya.
Pria yang berada di kabin operator pilot meminta pilot menghubungi pihak maskapai untuk mengirimkan sejumlah uang yang mereka inginkan dan mentransfernya segera jika tidak ingin seluruh penumpang mereka habisi.
Salah satu yang menyandera Asih membuka camera dan memvedeokan mereka yang menahan Asih dan menembak salah satu penumpang pria yang mencoba protes barusan.
Asih yang saat itu sedang di vedeokan memberikan senyum termanisnya yang membuat salah seorang pembajak merasa kesal. Sebab senyuman Asih memberikan isyarat jika Ia tidak takut sama sekali dan bisa saja anggapan pihak maskapai jika itu hanya pembajakan yang bersifat bercanda.
Seorang diantara mendatangi Asih dan ingin memberikan pukulan kepada wanita itu karena telah membuat harga diri mereka sebagai perampok tidak dihargai.
Pria itu melayangkan tangannya dan ingin memukul Asih, namun siapa sangka Asih justru memberikan tendangan telak di bagian lato-lato pria itu hingga membuat pria itu tersebtak kaget dan membolakan matanya sembari memegangi lato-latonya yang terasa ngilu.
Melihat hal tersebut, pria yang sedang menyandera Asih mengarahkan pistolnya ke kepala Asih.
Dengan cepat Asih menangkap pergelangan tangan pri itu lalu menekuknya dan memukul punggung tangan pria itu hingga membuat senjata apinya terlepas dan terjatuh kelantai kabin.
Asih menendang senjata itu mengarah kebawah kaki Edy, lalu mengedipkan sebelah matanua kepada Sang suami.
Edy mengerti isyrat yang dilakukan Asih, Ia lalu memijak senjata api tersebut dan membawanya kebawah kolong kursinya dan perlahan membuka sabuk pengamannya.
Seketika suasana menjadi gaduh. Seoarang diantara pembajak tersebut menembak Asih menggunakan senjata Apinya, lalu Asih menghindarinya dengan mengorbankan si penyandera, hingga pria itu tertembak oleh sahabat sendiri tepat dibagian dadanya, dan pria itu tewas seketika.
Melihat temannya tewas, keempat pria itu menyerang Asih, lalu masih menggunakan tubuh pria yang sudah tewas tersebut, Asih menjadikan tubuh pria itu sebagai tameng dari serbuan tembakan senjata api para pembajak tersebut.
Dari arah belakang seorang diantaranya melayangkan pukulan kearah Asih, namun sebuah tembakan mengenai lengannya, ternyata Edy sudah membantu Asih.
Para penumpang ada yang berteriak karena suara letusan dari senjata api tersebut.
Lalu 3 sisa pria lainnya menyerang Asih dengan melayangkan pukulan, Asih menangkapnya lalu memutar lengan pria itu hingga membuat pria itu meringis menanahan sakit.
Melihat temannya di pelintir dengan begitu sadis, seorang diantaranya melayangkan tendangan ke pada Asih, namun dengan cepat Asih melompat diudara dengan gerakan memutar dan berbalik menedang leher lawannya hingga terjerembab dilantai koridor kursi penumpang.
Salah seorang penumpang pria diam-diam membuka sabuk pengamannya, lalu membuka ikat pinnggangnya dan beranjak dari duduknya lalu menghampiri pria yang terjerambab dilantai tersebut, lalu menarik tangan pria itu kebelakang dan mengikat dengan ikat pinggangnya.
pria yang tertembak pundaknya oleh Edy kembali bangkit dan ingin menyerang Asih, namun Edy melayangkan tembakannya ke lutut pria itu hingga membuat sang pria ambruk bersimbah darah.
Lalu dua sisanya lagi berusaha menyandera seorang penumpang lain yang merupakan seorang pria lansia.
Asih mentap masih memegang pria yang pergelangan tangannya terpelintir. Seorang pemuda yang tadi sudah mengikat pria yang dilumpuhkan Asih, kini dengan menggunakan tali tas selempangnya mengait leher pria itu dari arah belakang si pria dan menarik leher si pria kebelakang dengan cepat hingga membuat pria kesulitan bernafas dan terpaksa melepaskan sanderanya.
Senjata api yang dipegangnya terjatuh dilantak kabin, dan pria senja itu memungutnya, lalu melemparkannya pada Edy yang berada kursi depan.
Edy menangkapnya, dan segera membidik paha pria itu.