
Mobil taksi yang membawa Asih dan juga Edy membelah kota New York yang begitu megah dan tampak penuh dengan kegemerlapannya.
Asih melihat berbagai manusia yang berlalu lalang hanya menggunakan pakaian seadanya dan para wanita memperlihatkan anggota tubuhnya yang mana jika di negara Asia terutama Indonesia sangat tabu.
Namun negara itu menganut kebebasan yang tidak melarang dan memberikan kebebasan kepada para warganya.
Bahkan beberapa dari mereka melakukan kecupan dipinggir jalan juga hal yang biasa.
Asih memandangi aktifitas warga tersebut yang menurutnya sangat tak biasa, sebab selama Ia masih tinggal dinegaranya tidak pernah melihat penampakan seperti itu.
"Hei.. Mengapa mereka melakukan hal itu dipinggir jalan?" tanya Asih kepada Edy.
"Bagi mereka itu hal yang wajar" ucap Edy sekenanya, lalu Asih menganggukkan kepalanya, sebba waktu itu Edy mengajarkan kepadanya tidak boleh sembarangan disentuh pria manapun, hingga Ia pernah menghajar 4 orang pria didalam angkot karena berusaha menyentuhnya.
Sesampainya didepan hotel yang telah dipesan oleh Edy secara online, keduanya memasuki kamar hotel. Namun perut Asih merasa lapar, dan Ia merengek kngin meminta dibelikan makanan.
Akhirnya mereka kembali turun ke bawah dan keluar dari hotel dengan berjalan kaki mencari makanan disekitar hotel.
Sebuah gerai makanan membuka menu siap saji. Edy memesan roti burger dan dua porsi ayam goreng crispy.
Mereka memesan pesanannya dan menunggu pesanan dengan duduk di meja yang telah disediakan.
"Sayang, Aku ingin buang air, kamu tunggu disini saja dan jangan coba kemana-mana" Edy memperingatkan Asih, dan hanya dijawab dengan anggukan.
Edy pergi ke toilet, namun sialnya ternyata penuh semua dan Ia harus mengantri. Perutnya sudah mulas karena merasa diare.
Sementara itu Asih menunggu pesananya dan duduk sembari memperhatikan semua pelanggan yang sedang berada didalam gerai tersebut.
Beberpa pasangan tampak sedang memagut bibir satu sama lain dengan santainya tanpa menghiraukan pengunjung lainnya, dan ada sepasang kekasih melakukan percintaan dengan begitu santai tanpa rasa malu didepan umum.
Asih semakin bingung dengan tingkah laku para warga yang menurutnya sangat aneh.
Sementara Ia dan Edy melakukan hal seperti itu didalam kamar dan tertutup tanpa ada yang melihatnya.
Tiga orang pria berbadan kekar dan bertato memandangi Asih yang sedari tadi sendirian dan sedang menunggu pesanannya.
Tak berselang lama, pesanannya datang, karena menunggu Edy terlalu lama, Asih menyantab ayam goreng crispynya dan mencoba saos sambal yang lumayan pedas.
Sedangkan Edy masih nongkrong di toilet dengan perutnya yang sangat mulas.
Ketiga pria itu tampak saling pandang dan mengedipkan matanya kepada sesama rekannya.
Lalu mereka menghampiri Asih yang sedang makan dengan lahabnya karena kelaparan.
Ketiga pria itu menarik kursi kosong yang ada dimeja Asih, lalu duduk dengan santainya tanpa permisi sedikitpun.
Kehadiran ke tiga pria itu mengusik Asih yang sedang makan, dan tatapan ketiganya menyiratkan suatu makna yang tidak baik.
Seorang pelayan wanita melintas didepan mereka yang mana baru saja selesai mengantarkan pesanan pelanggannya.
Dengan cepat seirang diantara mereka menarik pekayan wanita tersebut dan membawanya kepangkuannya, lalu dengan santai menyesap bibir sang pelayan dan memainkan tonjolan didada wanita tersebut, bukannya marah, tetapi pelayan wanita itu tampak seperti kegirangan dan membalasnya.
Asih merasa semakin risih dengan orang-irang tersebut, namun masih tetap mengunyah makanannya.
Bahkan seorang diantaranya menyingkap rok pendek sang pelayan dan berbuat tak lazim disana. Semakin lama Asih semakin gerah dan ingin rasanya menghajar para pria itu.
Namun melihat pelayan itu tertawa, membuat Asih masih menahan emosinya.
Hingga saatnya seorang diantara mereka mulai menyentuh lengan Asih, lalu menjalar kepangkal kakinya, dan seketika Asih menghentikan makannya. Lalu meraih saos pedas yang berada didalam cup kecil berbahan plastik dan menekannkanya kewajah pria itu tepat dikedua mata sang pria.
Suara erangan kesakitan dari sang pria yang sembari memegangi kedua matanya.
Asih menyerput es sodanya, dan mendadak kedua teman pria tersebut menyingkirkan pelayan perempuan yang pakaiannya sudah berantakan dan mereka beranjak dari kursinya dan inginemberi pelajaran kepada Asih.
Mendadak para pengunjung memperhatikan apa yang terjadi di meja Asih. Seorang diantaranya melayangkan tinjunya kepada Asih, sedangkan seorangnya lagi memberikan bantuan dengan meraih air mineral yang ada di meja pelanggan lain dan membantu menyiramkan kewajah temannya.
Sedangkan Asih menangkap tinju pria kekar itu dengan cepat dan sembari menyomot ayam gorengnya dan menggigitnya, Ia menguyahnya sembari satu tangannya memutar lengan sang pria kearah punggung pria itu, lalu menendang kedua kaki pria itu hingga terjerambab dilantai, dan Asih kembali sisa ayam goreng crispynya, lalu melemparkan tulangnya ketubuh pria yang kini sedang terjerambab dilantai gerai tersebut.
Orang-orang mulai berkerumun melihat pertarungan itu. Bagaimana seorang wanita ramping dengan mudahnya mengalahkan pria yang selama ini ditakuti oleh orang-orang.
Melihat temannya dilumpuhkan dengan mudahnya, pria yang masih memgang botol air mineral tersebut melemparkan botol tersebut dengan srmbarang.
Lalu Ia mengambil senjata apinya dan tanpa basa-basi menembakkannya kepada Asih.
Doooor...
Wuuussssh...sssst..
Suara tembakan disertai timah panas meluncur menuju Asih.
Semua pelanggan berteriak histeris dan yang berada dibelakang Asih berhamburan menghindar takut terkena peluru yang bisa menyasar.
Asih dengan cepat menangkap peluru tersebut dengan menggunakan jari tengah dan jari telunjuknya, dan membuat semua orang terperangah dan dengan cepat Asih mengembalikan peluru itu dengan kepada si pria yang menembaknya, dan....
Wuuuuusssh..ssstt..
Peluru itu bersarang di pundak kiri sang pria.
Aaaarrggh...
Suara erangan kesakitan terdengar sangat nyaring saat peluruh itu mendarat sempurnah.
Pria itu mundur 3 langkah dan terhuyung kebelakang sembari memegangi pundaknya yang kini mengeluarkan darah segar.
"Fu-ck...!! Maki pria itu dengan kesal, dan Asih masih bersikap santai dengan menyeruput es sodanya.
Sementara itu, pria yang tadi terkena saos sambal sudah mulai dapat menguasai dirinya, melihat rekannya terluka, Ia menyerang Asih dengan melayangkan pukulannya dan Asih merundukkan kepalanya menghindari serangan lawannya, lalu melayangkan tinjunya diperut sang pria tersebut.
Lalu melompat dengan memutar tubuhnya setengah meter dari atas lantai dan melayangkan tendangnya kembali ke dada lawannya.
Aaarrrgh..
Darah segar menyembur dari mulut lawannya, dan Ia terhuyung kebelakang dan menabrak meja pelanggan lain hingga membuat meja dan pesanann yang diatasnya berhamburan dilantai.
Tak berselang lama, polisi datang karena laporan dari pemilik gerai.
Lalu mereka menangkap ke tiga pria itu dan menggiringnya ke mobil polisi dan membawa ketiganya dengan kedua tangan diborgol.
Edy merasakan sangat lemah karena harus menahan rasa mulas diperutnya. Setelah selesai, Ia kembali dari toilet dan menuju meja pesanan mereka.
Tampak Asih masih duduk dimeja tersebut dan menyantab roti burgernya.
"Sayang.. Kita kembali ke hotel saja, dan pesanan dibungkus saja" ucap Edy yang masih meringis menahan sakit perutnya.
Asih hanya menggukkan kepalanya dan memanggil pelayan untuk membungkuskan pesanan milik Edy.
Dan setelahnya mereka kembali pulang ke hotel tanpa Edy sadari jika gerai itu telah berantakan dan sebab pandangannya kabur karena perutnya yang mulas.