
"Sayang.. Sepertinya kemanapun kita pergi akan selalu saja dapat ditemukan Wei.. Bagaiamana caranya agar Kita dapat menghindarinya?" ucap Edy yang kini sudah berpakaian baru dan duduk didahan pohon sembari mendekap Asih yang duduk dipangkuannya. Topi hitam juga lengkap dengan kaca mata hitam tak lupa menjadi penunjang penampilan Edy.
Asih menghela nafasnya "Bukankah tujuan kita kemari untuk membinasakannya? Mengapa harus dihindari? ya lebih baik kita hadapi" jawab Asih.
Edy terdiam mendengar jawaban sang istri. Dan kini perut keduanya terasa lapar.
"Aku lapar, Yank" bisik Edy.
"Aku juga.. Kemana kita harus mencari makanan? Kamu punya uang, Gak?" tanya Asih.
"Ada.. Tetapi tertinggal di gedung terbengkalai waktu itu"
Asih terdiam, baiklah.. Aku akan mengambilnya, dan kamu tunggu saja, disini" titah Asih.
Edy mengeratkan dekapannya "Gak mau, ikut"
Asih mendenguskan nafasnya "Mau gendong depan apa gendong belakang?" tanya Asih.
"Yang mana saja" jawab Edy.
"Hemm.. Baiklah, pegangan yang erat" titah Asih.
Lalu Edy menganggukkan kepalanya dan mendekap Asih dari belakng dengan erat, lalu wanita itu melesat bagaikan angin, secepat kerjapan manusia saja.
Keduanya telah tiba digedung terbengkalai tempat dimana Edy meninggalkan dompet dan peralatan lainnya berupa laptop dan juga phonsel.
Edy mulai memunguti semua barangnya dan bersyukur tidak ada yang hilang, sebab gedung itu tidak pernah didatangi oleh siapapun.
Setelah memasukkannya dalam tas ransel, Edy menghampiri sang Istri.
"Sayang sudah. Ayo cari makanan.. Cacing diPerutku sudah bernyanyi" rengek Edy.
Asih menganggukkan kepalanya, lalu ingin menggendong Edy "Tidak..tidak.. Jangan digendong lagi, genggaman tangan saja" Edy kemudian menggenggam jemari Asih, dan..
Wuuuussh...
Asih melesat dengan cepat dan kini muncul disebuah halte yang sepi.
"Kita berjalan saja atau naik kendaraan?" tanya Asih.
"Berjalan saja, sembari melihat keindahan kota" jawab Edy, yang tetap menggengam jemari tangan Asih dengan begitu hangat lalu berjalan beriringin.
Edy yang belum sempat membuka phonsel, tidak menyadari jika mereka saat ini sedang dicari beberap kolektor dan juga orang yang memiliki kepentingan yang berbeda karena peristiwa di Mall pagi tadi, karena pembayaran memggunakan berlian mahal.
Kini keduanya memasuki sebuah jalanan kota yang begitu indah. Banyak orang berlalu lalang dengan berbagai aktifitasnya.
Saat memasuki sebuah gerai penjual pizza. Keduanya masuk dan menuju meja makan. Keduanya memilih menu sphagetty dan juga satu porsi pizza dengan taburan topping keju mozarella dan juga irisan daging.
Sekelompok preman jalanan tampak memperhatikan mereka dan berbisik satu sama lainnya.
Sepertinya mereka sedang memastikan jika apa yang dilihat mereka itu adalah orang sangat viral saat ini.
Lalu pesanan datang dan keduanya menyantabmya dengan sangat lahab.
Saat asyik menyantab makanannya, gadis berambut pirang dan juga seorang pemuda tampak masuk kedalam gerai pizza tersebut.
Mereka memilih duduk dikursi dibelakang meja Asih dan juga Edy.
Pemuda itu duduk tepat dibelakang Asih yang sedang asyik menyantab makanannya.
Pramusaji datang dan melayani pesanan keduanya. Mereka memilih menu yang sama, dua porsi spaghetty dengan saus boughlones.
Sejauh apapun Ia melupakannya, namun tetap saja tak jua dapat hilang dari ingatannya. Memory tentang Asih tak mampu untuk Ia delete begitu saja, tersimpan rapi dalam sebuah draft kenangan yang Ia beri nama 'Keindahan'.
Pesanan datang, dan keduanya juga menyantab spaghettynya. Meskipun pagi tadi Rebbecca telah memberikan sebuah pengalaman bercinta, namun itu tak mampu menghilangkan semua tentang Asih.
Terlalu dalam mencintai, hingga terjebak dalam palung hati yang tak mampu dapat untuk keluar darinya.
Asih dan juga Edy sudah selesai dengan makannya, bahkan Asih hampir menghabiskan sepiring pizza dan menyisakan sepotongnya saja untuk Edy.
Tiba-tiba seorang preman jalanan dengan tatto yang hampir memenuhi seluruh tubuhnya datang menghampiri Asih dan Edy yang baru saja selesai makan dan menyeruput es sodanya.
Dengan sepucuk senjata api Ia menodongkannya di pelepis kiri Asih "Serahkan berlian yang kau miliki, Aku yakin kau memilikinya banyak dan tampaknya Kau sangat kaya..!! Ucap Preman tersebut dengan nafa penuh penekanan.
Lalu Asih tampak diam tak bergeming. Ia paling benci jika sedang makan atau habis makan ada yang mengusiknya.
Berbeda dengan Edy. Ia bingung mengapa preman itu mengetahui jika Asih memiliki berlian, dan ini sangat membuat tanya besar baginnya.
Namun Asih tak perduli bagaimana orang tersebut mengetahui jika Ia memiliki berlian.
Melihat Asih tak menggubris ancamannya dan bersikap tenang, maka preman itu menarik pelatuk senjata apinya dan siap untuk melepaskan pelurunya.
Tanpa disadari oleh sang preman. Lee yang sedari tadi melihat seorang wanita dibelakangnya diancam menggunakan pistol membuatnya ingin menangkap preman tersebut.
Namun Lee tidak menyadari siapa wanita dibelakangnya.
Saat sang preman ingin melepaskan peluru dari senjata api tersebut, Lee meraih serbet yang berada diatas meja makan, lalu mengibaskannya ke tangan sang preman, dan menariknya ketas hingga membuat tembakan ke langit-langit gerai tersebut.
Seketika suara letusan peluru tersebut membahana didalam ruangan dan menimbulkan kepanikan yang luar biasa dan membuat pengunjung lain berhamburan keluar.
Sementara itu kini hanya tinggal Asih, Edy, Lee, Rebecca dan komplotan preman tersebut.
Lee menghajar preman tersebut dan berusaha merampas senjata api yang dipegang oleh sang preman.
Rebecca tampak menggelaar dan ketakutan. Sementara rekan preman itu beranjak dari duduknya dan akan menyerang Lee yang masih bertatung dan berjuang melepaskan pucuk senjata api tersebut.
Belum sempat kelompok preman itu mendekati Lee, Asih meraih dua sendok garpu dan tanpa melihat musuhnya Ia melemparkan sendok garpu tersebut kepada kelmpok preman tersebut dan mengenai 2 orang diantaranya yang tertancap di bola mata masing-masing preman yang mendapat bonus tersebut.
Keduanya berteriak kesakitan, dan darah mengucur dari bola mata sang preman. Mereka yang tadinya ingin menyerang Lee berubah fikiran dan menuju kepada Asih.
namun siapa sangka Asih dengan cepat melompat dari tempat duduknya dan dengan sigap menghampiri Lee yang kesulitan meringkus preman tersebut.
Edy hanya menonton saja, sebab Ia merasa jika preman-preman itu hanyalah bagaikan sebuah remahan yang dengan mudah dapat dikalahkan oleh Asih.
Asih memukul keras pundak sang preman, hingga membuat preman itu meringis kesakitan, lalu melepaskan senjata apinya ,dan Asih memungutnya, tanpa memberi ampun menembakkan sejata api ke betis preman yang sedang dibekuk Lee, dan juga menembak secara beruntun ke setiap betis para preman igu, bingga membuat komplotan tersebut mengerang kesakitan dan ambruk dilantai.
Lalu membuang senjata api itu begitu saja dilantai karena pemurunya sudah habis.
Lee membolakan matanya saat melihat siapa wanita didepannya.
Saat Asih akan beranjak pergi, Ia mencoba memyebut nama wanita itu "Asiiih.." panggilnya lirih.
Wanita itu menghentikan langkahnya, sedangkan Edy tersentak melihat Lee juga berada disini. Ia memutar tubuhnya dan menatap pemuda yang memanggil namanya.
Pandangan keduanya beradu, Rebecca mengingat wajah Asih saat diculim Robert malam itu dan Asih juga yang menyelamatkannya.
Asih memandang dengan seksama, lalu menoleh kearah Edy yang menatapnya diam.
Asih menghela nafasnya, lalu beranjak pergi menghampiri Edy, dan keduanya keluar dari gerai tersebut setelah meletakkan lembaran uang diatas meja untuk membayar makanan mereka.
Lee menatap kepergian Asih dengan hati yang lara dan juga nelangsa.