
Edy memasuki rumah yang dibeli oleh Asih waktu itu. Rumah itu satu-satunya yang menjadi tempat tinggalnya, sebab rumah papanya telah dipasangi garis polisi.
Edy masih memiliki sisa tabungannya untuk bertahan hidup. Namun Ia harus mencari usaha untuk terus dapat mempertahankan uangnya yang perlahan pastinya menipis.
Edy membaringkan tubuhnya ditepi ranjang, Ia memikirkan apa kiranya usaha yang cocok untuk ditekuninya, sebab Ia juga tidak memiliki ahli dalam menjalankan bisnis yang tepat untuknya.
Sementara itu, Jauh di seberang sana, seorang pria bertubuh kekar dengan mata sipit sebagai ciir khasnya. Tubuh itu penuh luka dengan hantaman sebuah ajian waringin sungsang yang dilancarkan oleh seorang wanita cantik, namun berbahaya.
Tubuh pria tergeletak diatas tumpukan sampah yang menggunung. Entah bagaimana Ia bisa sampai diatas tumpukan sampah tersebut.
Sementara itu, Ia melihat tiga orang pria bertubuh kekar lainnya yang tak lain adalah para bodyguardnya sedang terkapar tak bernyawa, karena tak mampu menahan kuatnya ajian yang dikerahkan oleh sang wanita, sehingga membuat luka dalam yang sangat parah dibagian dada para bodyguardnya, sehingga tak mampu bertahan hidup.
Pria yang tak lain adalah Wei, berusaha bangkit dari tumpukan sampah yang menjadi tempat tidurnya.
Ia menggerutu dan sangat marah, karena telah dipermainkan oleh seorang wanita, dan itu membuat harga dirinya terinjak-injak.
Dengan merangkak, Ia bergerak dengan perlahan dan juga sangat lemah.
Diatas tumpukan sampah itu Ia melihat sisa-sisa makanan yang terbuang dan sudah sangat kotor, namun Ia membutuhkan asupan energi, sehingga Ia menungut roti yang tersisa didalam sebungkus plastik.
Wei berusaha meraihnya dan mencoba memakannya. pria itu tampak begitu sangat lemah, namun terus berusaha agar seseorang menolongnya.
Tak berselang lama, Ia sampai ditepian kaki tumpukan sampah yang menggunung.
"Hauus.. Hauuus..." ucap Wei dengan nada lirih dan tak sanggup lagi menahan rasa hausnya, Ia tampak begitu sangat mengenaskan.
Sesaat ada satu sosok pria yang memiliki wajah sedikit kasar, lalu memberikan sebotol air minuman kepada Wei, lalu dengan segeea Wei meraihnya dan menenggaknya hingga habis.
Setelah meminum air tersebut, tiba-tiba tubuhnya merasakan hawa panas yang sangat luar biasa, dan Ia membeliakkan matanya dengan menengadahkan wajahnya keatas.
Sesaat keluar asap dari lukanya yang membiru akibat terkena serangan ajian waringin sungsang milik Wanita cantik bernama Dina.
Sesaat luka itu mulai memudar, lalu perlahan dengan samar menghilang.
Sesaat Wei merasakan tubuhnya perlahan mulai membaik, lalu Ia mencoba untuk bangkit dan membenarkan posisi berdirinya.
Setelah beberapa saat, Ia menggeliatkan tubuhnya, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
Setelah merasakan tubuhnya mulai membaik, Wei menatap pada pria itu dan mulai mencari tau siap pria yang sudah menolongnya.
"Siapa, Kamu?" tanya Wei dengan nada penasaran.
"Ucapkanlah terima kasih pada orang yang sudah menolongmu" ucap Sosok berwajah seram itu dengan suara parau.
Wei tersenyum sinis. Baginya yang seorang mafia tidka pernah ada kata terimaksih dalam kamusnya.
"Baiklah, terimakasih" ucap Wei dengan nada terpaksa.
Pria itu tersenyum mencibir.. "Bergabung denganku, Aku akannmengajarkanmu beberapa ilmu yang tidak pernah Kau ketahui. Dimana ilmu itu akan membuatmu kuat dan dapat merebut batu mustika yang Kau inginkan.." ucap pria itu memberikan janji manis.
Sesaat Wei menatap pria didepannha. Bagaimana mungkin jika Pria yang tidak dikenalnya itu dapat mengetahui tentang apapun yang terjadi padanya.
"Siapa Kau? Mengapa Kau mengetahui semuanya?" tanya Wei penasaran.
Wei berbalik menatap pria musterius itu "Keuntungan apa yang akan Aku dapatkan jkka bergabung denganmu?" tanya Wei dengan cepat. Karena baginya sesuatu itu atas dasar untung dan ruginya.
"Banyak keuntungan yang akan Kau dapatkan" jawab pria misterius itu dengan tatapan serius.
"Baiklah.. Saya akan bergabung" jawab Wei cepat. Sebab saat ini Ia tidka punya pilihan apapun, karena Ia juga tidak tahu sedang terdampar dimana.
Pria misterius itu tersenyum puas dan tertawa karena merasa Wei sudah masuk perangkapnya.
Sementara itu, Asih berbaring diranjangnya. Ia masih memikirkan ucapan Lee kepadanya. Namun Ia masih terluka saat Lee berlari meninggalkannya disaat Ia sedang menunjukkan jati dirinya.
Namun Ia juga perlu memahami, jika Lee mungkin saja Syok melihat kebenaran yang ada.
Asih teringat aka Edy yang saat ini sedang berada di rumah yang pernah Ia beli.
Asih melihat jika ini masih pukul delapan malam. Asih keluar rumah mengendap-endap, lalu melompat dari atas balkon rumah dan menuju pagar depan halaman rumah.
Asih memejamkan matanya, lalu mencoba mengingat jalan mana yang harus diambilnya dan menuju kerumah itu.
Mengandalkan ingatannya, Asih memandang rumah-rumah dan juga gedung tinggi menjulang yang mana jika Ia melakukan parkur akan dilihat oleh orang.
Asih memutar otaknya, lalu teringat akan phonsel canggih yang dibeli Edy waktu itu. Ia masih mengingat caranya bagaimana Edy memesan taksi online dengan menggunakan sebuah aplikasi yang sudah terpasang dilayar phonselnya.
Asih memesan taksi online, tak berselang lama, taksi itupun datang. Asih masuk kedalam taksi, lalu menyebutkan alamat yang ditujunya.
Sopir itupun menganggukkan kepalanya, lalu membawa Asih kealamat yang dituju.
Ditengah perjalanan. Sopir taksi itu tiba-tiba saja berubah niatnya. Sebab alamat yang dipinta Asih sangatlah jauh dari keramaian dan tergolong sepi.
Melihat kecantikan Asih, tentulah Ia begitu sangat tergoda, apalagi Asih sangat berbeda dari gadis lainnya.
Sopir itu menghentikan taksinya saat saja hampir sampai ketempat yang dituju Asih.
Tempat yang sepi membuatnya merasa ini sangat menguntungkan. lalu Ia menoleh kearah Asih yang masih tampak tenang.
Sopir itu berpindah tempat dari kemudi ke jok tengah.
Menyadari jika ada sesuatu yang tidak beres, Asih tersenyum sinis, lalu bersiap menghadapi kemungkinan yang ada.
Benar saja, sopir itu berusaha untuk menyergap Asih, namun sepertinya sipir itu salah sasaran. gadis yang Ia kira lemah itu, ternyata dengan mudah melumpuhkannya.
Asih menghajar sopir itu dengan begitu mudahnya, lalu meninggalkan sopir itu begitu saja yang sudah lebam-lebam karena dihajar olehnya.
Asih lalu keluar dari mobil, berjalan dengan gerakan yang sangat cepat, karena Ia mengetahui jika tempat yang Ia tuju hanya tinggal beberpa puluh meter saja.
Setelah berada didepan rumah sederhana itu, Asih melihat mobil yang pernah Ia beli waktu itu terparkir didepan rumah. Sepertinya Edy sudah mengambilnya dari bengkel karena sebab kerusakan saat berkejaran dengan para bodyguard Lee.
Asih merasakan jika Edy sudah tertidur. Ia mnggunakan seutas kawat untuk membuka pintu , dan berhasil masuk kedalam rumah tersebut.
Seaampainya didalam rumah, Ia menuju kamar dimana tempat pemuda itu tertidur.
Ia memandang pada pemuda itu, sepertinya tampak lelah, lalu Ia menghampirinya, dan mencoba duduk ditepian ranjang.