
Edy memacu Kuda Bara Sembrani dengan kecepatan tinggi. Kini kuda itu telah sedikit patuh padanya.
Kiiiiìiiik...
Suara ringikan kuda bara Sembrani yang tampak gelisah dan tiba-tiba saja mendadak berhenti. Bara meringik dan menaikkan kakinya ke atas berulang kali. Edy merasa bingung dengan sikap kuda tersebut yang tiba-tiba saja berubah.
tak ingin mengambil resiko, akhirnya Edy memilih untuk turun. Saat Edy turun dari punggung Kuda tersebut, Ia melihat jika kuda itu sedang merasakan sesuatu.
Kuda itu tampak gelisah dan cemas. Edy membawanya kekandang dan mengikatnya disana. Bara merasakan naluri kika keberadaan Asih semakin dekat. Rasa kerinduan membuatnnya tak sabar untuk segera bertemu.
-----------♡♡♡♡---------
"apa yang sekarang harus saya lakukan sekarang kak.? Aku tidak ingin terlibat dan berurusan dengan Tuan Wei.. Aku datang ke kota dengan sebuah tujuan. Namun mengapa menjadi seperti ini..?" ucap Asih lirih. Ia menyandarkan tubuhnya di sabdaran jok mobil. Matanya terpejam dan mengingat akan Bara. Selama ini kehidupannya dihutan selalu merasakan kebahagiaan, berkumpul bersama kekuarganya, bermain dengan Bara menyusuri hutan.
"Bara.. Dimana kamu..? Apakah kau juga merasakan tentang kerinduanku.? Setelah kita bertemu nanti, aku akan segera membawamu kembali pulang." asih berguman lirih dalam hatinya.
"Asih.." panggil Lee dengan lirih.
Asih tersadar dari lamunannya. Lalu menoleh kepada Lee. "Iya kak..?" jawab Asih membenahi duduknya.
"dengarkan aku, aku tidak bisa mengikutimu lagi, karena masih memiliki urusan lain. Namun jika kau membutuhkanku, hubungi saja nomor phonselku."
" pegang kartu ATM dan Credit Card ini, nanti aku akan ajari cara penggunaannya melalaui online saja. Dan kamu masih bisa berkomunikasi padaku kapanpun yang kau mau."
Asih masih mendengarkn ucapan Lee dengan seksama.
"jika kau ingin mencari pacuan kuda, maka pergilah ke utara, ikutin aliran laut ini, saat kau menemukan sebuah pelabuhan kecil, maka menepilah disana. Aku akan menuntunmu hingga sampai kepacuan tersebut."
"aku harus naik apa kak untuk sampai kesana?" tanya Asih bingung.
"aku sudah menyiapkan sebuat speedboat lengkap dengan bahan bakarnya."
Asih mengangguk-anggukan kepalanya.
" dan ingatlah, jangan terlalu mudah untuk percaya kepada siapapun, apalagi orang yang baru kamu kenal, terutama Pria." Lee memberikan nasehatnya.
"pergunakan uangmu sebaik mungkin, jangan menghamburkannya, bawa sedikit uang cash untuk sebagai peganganmu, karena gak semua tempat memiliki layanan Credit Card dan ATM. "
"dan.. Sembunyikan identitasmu dengan ini." Lee menjeda ucapannya dan mengeluarkan sesuatu dari tas kecil miliknya.
Sebuah topeng yang dapat merubah wajahnya hingga tak mampu dikenali oleh siapapun, kecuali Lee.
Biar gak penasaran kita kasih visualnya. Tetapi tidak untuk ditiru.!!
"apa ini kak? TanyanAsih penasaran, Ia melihat benda kenyal dan lentur mirip dengan warna kulit.
"ini namanya topeng silikon, mungkin kamu sedikit tidak nyaman menggunakannya, tetapi semua demi keamananmu.!" Lee menjelaskan.
"bukalah cadarmu, aku akan mengajari cara memakainya, kita tidak memiliki banyak waktu, karena para anak buah Wei akan dengan mudah menemukanmu " titah Lee.
Asih mematuhinya, lalu perlahan membuka cadarnya. Wajah Ayunya yang tersembunyi kini tampak lagi terpampang jelas. Lee tak sanggup melihat bola mata indah milik Asih. Ia berusaha menahan debaran-debaran dihatinya.
"mendekatlah, aku akan memakaikannya." Titah Lee
Asih menggeser duduknya, sedikit merapat pada Lee. Lee membuka lebar lubang topeng silikon tersebut, lalu memakaikan topeng itu kepada Asih. Jarak mereka yang terlalu dekat, dan membuat Asih merasakan sensasi yang berbeda.
Selama ini Ia tidak pernah mengenal pria manapun sedekat ini, kecuali Bromo sang ayah, dan Chakra sang kakak. Namun bersama Lee, Ia sedikit merasakan perasaan nyaman saat berdekatan dengan lawan jenisnya. Sudah beberapa hari ini mereka melewati hari secara bersama, ada getaran indah saat Asih bersamanya.
Hembusan hangat nafas Lee yang menyapu kulit wajahnya, membuatnya merasakn sebuah rasa yang Ia sendiri tidak memahaminya. Lamanya hidup dihutan belantara, membuat Ia tidak pernah tau apa sebenarnya rasa suka pada seseorang yang bukan lawan jenisnya.
Mata Asih terpejam, saat Lee memakaikan topeng tersebut, saat topeng itu sudah berada dipangkal hidungnya, Lee menghentikannya, ternyata Ia juga merasakan hal yang sama. Lamanya menjadi seorang pemuda jomblo, membuatnya merasakan gairahnya terbakar saat melihat Asih terpejam tadi.
Kesadarannya mulai oleng, Ia meraih dagu Asih dan mengangkatnya sedikt, lalu Ia memagut bibir ranum Asih yang belum pernah tersentuh oleh pria manapun. Asih membulatkan matanya yang masih tertutup oleh topeng itu, mulutnya tebuka karena terkejut oleh perlakuan Lee padanya. tiba-tiba saja tubuhnya bagaikan tersengat aliran listrik dan terasa panas. Ia tidak mengerti itu apa.
Rasa gelenyar aneh memenuhi setiap rongga dialiran darahnya, sentuhan pertama yang dikaukan Lee mebuatnya merasa bingunng. Tak ada respon apapun darinya, karena Ia juga tak mengerti apa arti sebuah kecupan.
Lee menyudahinya perbuatan gilanya, lalu segera memakaikan topeng itu, Ia membenahinya dengan benar, lalu meminta Asih kembali memakai Cadar dengan warna yang berbeda.
Aksi Lee yang menghentikan kecupannya membuat Asih seperti merasakan kecewa, namun tidak mungkin Ia memintanya, karena Ia juga faham dengan perbuatan yang baru saja dilakukan oleh padanya. Ia berpura-pura tidak perduli, dan menyembunyikan wajahnya yang memerah dibalik topeng itu.
Lee merasa bersalah atas perbuatannya. Karena Ia melihat jika Asih terlihat sangat polos. "bodohnya aku, mengapa aku melakukan itu padanya? Bagaimana jika itu membuatnya ketagihan dan akan sangat berbahaya baginya jika ada orang yang memanfaatkannya. segitu polosnyakah Ia dalam hal urusan pria? Berbeda dengan sikap agresifnya saat melumpuhkan musuhnya dalam satu tendangan saja." Lee berguman lirih dalam hatinya.
Lee menatap Asih yang masih membenahi cadarnya. Ternyata ketangguhannya dalam melumpuhkan musuhnya tak setangguh hatinya terhadap melawan perasaannya.
Setelah Asih selesai dengan penampilannya, kini Ia telah mengubah warna cadarnya menjadi berwarna blue Navi dan wajah yang berbeda pula.
"Asih.." panggil Lee lirih.
Asih menoleh padanya, lalu menatap Lee dibalik topengnya. Ia mengagumi ketampanan pria itu, tetapi terburu-buru menepisnya.
"Asih, katakanlah, dimana asalmu sesungguhnya.?" tanya Lee penuh selidik.
"dipuncak bukit.." jawab Asih keceplosan. Ia tidak menyadari jika sudah membuka asal usulnya.
"Bukit yang jauh disana, dimana ada sebuah air terjun yang indah itu? " tanya Lee menyelidik.
Asih menganggukkan kepalanya.
"dengan siapa.?" tanya Lee kembali dengan penasaran.
"ibu, Romo, dan kak Chakra." jawabnya jujur.
Lee terperangah mendengarnya. Ia mengetahui hanya ada satu bukit tertinggi yang meliliki air terjun tertinggi dan terindah yang berjarak hampir setengah hari perjalanan jika melalui daratan, dan sekitar 5 jam melalaui jalur air.
"Maaf, apakah pernah ada pria lain yang mengecup bibirmu selain aku." selidik Lee, sembari meletakkan jari telunjuknya di bibir Asih.
Asih menggelengkan kepalanya. Lee menarik Jarinya menjauh dari wajah Asih. Ia menyalahkan dirinya yang terlalu ceroboh.
"ingat kata-kataku, jika ada pria yang mencoba menyentuh bagian-bagian tubuhmu yang ini, dan ini.." Lee menunjukkan bagian-bagian yang tubuh Asih hanya dengan menujuknya saja, tanpa berani menyentunya. Ia takut akan membawa dampak buruk pada Asih, karena Ia mengetahui, sepertinya usia Asih masih terlalu muda dan tidak pernah mendaptkan pembelajaran tentang hal tersebut.
"jika mereka berani menyentuhnya, maka kau harus berani menolaknya, dan beri mereka satu pukulan agar tidak berani melecehkanmu.! apakah kau mengerti?" tanya Lee dengan mimimk yang serius.
"kau beleh memberikannya jika kau sudah menikah nanti kepada suamimu, seperti hubungan ayah dan ibumu.." Lee kembali mengingatkan.
"lalu apakah perbuatan kakak tadj juga harus aku balas dengan sebuah tendangan..?" ucapnya dengan penasaran.
Lee terkekeh mendengar ucapan Asih. " boleh.. Lakukanlah, jika kau mau." ucap Lee semabri menatap Asih. Namun Asih membuang pandangannya.
Ingin rasanya Lee menemani perjalanan Asih, namun Ia memiliki sebuah urusan yang juga tidak dapat ditinggalkannya.
Lalu Ia mengajak Asih segera keluar dari mobil dan menuju sebuah pelabuhan. Asih membawa sedikit barang, tas jorannya Ia letakkan diatas punggungnya, lalu menyelipkan pedang dipingganya dibalik pakain hijabnya yang lebar dan panjang.
"ini Speedboat milikku, bawalah, dan jika kau sudah sampai dipelabuhan tikus tersebut. Maka jangan lupa menghubungiku." titahnya.
Asih mengangguk dan ingin melangkah pergi, lalu Ia menghentikan langkahnya, dan berbalik, Ia menatap Lee yang masih terpaku menatapnya, dan Ia menghampiri Lee " terimakasih.. Untuk segalanya.." ucap Asih kepada Lee, tulus.
Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sebagai perpisahan mereka. Ada perasaan tak rela dari keduanya, namun mereka memiliki misi yang berbeda.
Asih melepaskan jabatan tangannya dan menuruni anak tangga menuju speadboat. Ia menghidupkan mesin tersebut. Lalu meluncur membelah lautan menuju suatu tempat untuk menjemput Bara yang kini juga tengah menantikannya.
Lee menatap kepergian Asih dengan perasaan hampa. Ingin rasanya Ia mencegah Asih, namun nyawa Asih dalam bahaya jika terus bersamnya. Dimana Wei akan terus mencarinya hingga menemukan batu permata Pink diamond milik Asih, yang ditaksir hingga mencapai harga 1 triliun. Disamping itu, Asih juga memiliki beberap koin emas dan blue diamond yang diperkirakan harganya mencapai 700 milyar. Wei beranggapan jika ada tempat yang disembunyikan sebagai tempat penghasil batu permata itu.
"setelah aku menyelesaikan urusanku, aku akan menjemputmu..!" Lee berguman dalam hatinya.
Sesaat Ia mendengar suara derit ban mobil yang menghampirinya. beberapa orang berpakaian preman menghampirinya. "bos.. Semuanya sudah kita siapkan, kita harus segera pergi, sebelum Wei menyusul kemari." Lee tersenyum datar, lalu Ia menarik sesuatu dari lehernya, sebuah topeng silikon yang menutupi wajahnya, Ia buang begitu saja kedalam lautan. Topeng itu mengambang mengikuti gelombang lautan.
Ia melangkah menuju sebuah mobil yang sudah menunggunya.
Saat mobilnya melaju meninggalkan pelabuhan, dipertengahan jalan Ia berselisih dengan mobil Wei yang sedang melakukan pengejaran kepada Asih dan dirinya.
Ia melihat Wei yang menyetir sendiri mobilnya. Untuk memperlambat pekerjann Wei, maka Lee menghubungi seseorang. Seaat terdengar suara letusan dan decit ban mobil yang meletus karena sebuah tembakan.