Buhul ghaib

Buhul ghaib
pengejaran



Asih memacu laju mesin speednya dengan kecepatan tinggi. Ia mencoba mengingati apa yang diucapkan oleh Lee. Sebuah pelabuhan jalur tikus yang harus menjadi Ia jadikan tempat berlabuh.


Asih menepikan speedboatnya dipelabuhan itu. Hari sudah berganti malam saat Asih sampai di pelabuhan itu. Ia memunguti semua barang miliknya, dengan gerakan ringan, Ia melompat ke tepian hanya dengan satu lompatan saja.


Sesaat akan melangkah, Ia mendengar suara deru mesin speedboat menuju kearahnya. Asih merasa ada jika speedboat itu mengikutinya.


Asih bersembunyi dibalik sesemakan. suasana gelapnya malam, memberikan keuntungan padanya yang berpakaian hitam untuk tidak terlihat.


Asih bersiaga memegang sarung pedangnya, bersiap untuk nenghadapi kemungkinan yang terjadi.


Tampak 5 orang pria berpakaian hitam.dan bertubuh kekar berada didalam speedboad. Mereka menepikannya tepat dibelakang speedboad milik Asih.


Kelima orang itu bergantian melompat ketepian, dan saling berpandangan. " kemana gadis itu..? Kita harus menemukannya.!! Kita tidak bisa kembali sebelum menemukannya.!" ucap seorang diantara mereka.


"Sepertinya Ia belum terlalu jauh.. Ayo kita bergerak.!!" seru seorang lagi.


Asih mencoba berdiam diri, namun sial. Sebuah serangga malam masuk kedalm rongga hidungnya, sehingga memaksanya untuk bersin.


"haaaaaachiiim.."


Tanpa sadar Asih bersin dan membuat ke 5 orang itu berhenti malangkah.


Asih terhenyak dan membulatkan matanya. Lalu Ia mencoba melangkah mundur, dan menginjak sebatang ranting kering..


Krrrrreeeeek..


Asih terhenyak.. Ia menarik nafasnya dengan berat, lalu menhelanya dengan kasar. Tampak olehnya ke lima orang itu sudah tidak terlihat. Asih mengedarkan pandangannya menelisik kesegala arah.


Sesaat Ia mencium aroma tubuh manusia, dan..


"kena kau..!!"..teriak seorang dari mereka yang kini tengah menyergap tubuh Asih. Ia mengunci tubuh Asih dengan sanga kuat dengan arah dari belakang.


Suara teriakan sipenyergap Asih, mengalihkan perhatian rekan mereka yang lainnya. Asih segera mengambil tindakan dengan menginjak keras punggung telapak kaki pria itu.


Seketika pria itu menegendurkan dekapannya, dan meringis menahan sakit.


lalu Asih mengambil kesempatan menyikut tulang iga pria itu dengan keras. Sehingga pria itu berteriak..


"aaaaargh.."


Asih menangkap pergelangan tangan pria itu, lalu membuat gerakan orang bersansa, Asih lebih mendominasi dan saat berada tepat dibelakang punggung pria Ita, Ia melakukan tendangan yang sangat keras tepat dipinggang pria itu.


Pria itu mengerang kesakitan dan tersungkur diatas tanah.


Lalu ke 4 pria lainnya datang menyerang secara brutal. Asih mencabut pedang beserta sarungnya dan mencoba memberikan perlawanan kepada ke empat orang tersebut.


Sesaat Asih dapat melumpuhkan 4 orang tersebut mudah. Lalu berniat meninggalkan sesemak dan menuju perkampungan yang masih sangat jauh. Ia harus menempuh perjalanan 1 km untuk mendapatkan perkampungan.


Asih menyimpan pedangnya, namun.. Sesaat akan melangkah, sebuah letusan senjata api terdengar membahana dimalam itu.


"aaaaggrh." Asih meringis menahan sakit, ternyata peluru dari senjata Api yang ditujukan padanya menembus lengan kanan gadis itu.


Asih memegangi lengannya yang terkena peluru tersebut. Ia berusaha untuk berlari meninggalkan tempat itu.


Darah segar terus mengucur dari lengannya yang terluka. Asih sekuat tenaga terus berlari menghindari kejaran para kelima bodyguard tersebut.


Ke dua orang yang pria yang masih memiliki sisa tenaga yang banyak, berlari dengan cepat mengejar Asih yang kini mulai tidak seimbang karena luka dilengannya semakin terasa berdenyut dan nyeri.


Kedua orang pria yang berlari kencang hampir saja menyamai gerakan langkah Asih yang terhuyung. Sesaat tangan seorang dari mereka ingin menggapai pundak Asih, dan menarik Asih dengan kasar.


Asih mencoba melawan dengan sisa tenaganya. Ia menangkap pergelangan tangan pria itu, lalu memberikan tendangan tepat pada adik kecil pria tersebut. Pria itu mengerang kesakitan, sembari memegangi benda kesayangannya seperti hendak pecah.


Lalu rekan yang satunya juga menyerang Asih. Ia membidikkan senjata apinya tepat di kepala Asih.


Pria itu melongo. Ia seperti bingung bingung dengan apa yang baru saja dilihatnya.


Ketiga rekan mereka yang tertinggal dibelakang merasa heran melihatnya yang terbengong.


Merek menepuk wajahnya, lalu Ia tersadar. "hei.. Apa yang sedang kau fikirkan.?! Kemana gadis itu.?" cecar temannya yang lain.


Pria itu masih berdiri dengan memucat. "siluman.. Siluman buaya putih." ucapnya meracau.


"hei.. Sadarlah.. Apa yang kau ucapkan.?" tanya seorang rekannya yang seperti memimpin kelompok mereka.


Namun, rekannya tak dapat melihat bagaimana pucat wajahnya yang terhalang keremangan malam. Ia sekilas melihat sesosok tubuh buaya setengah buaya. Sosok itu menyelamatkan dan membawa tubuh Asih.


"bagaimana ini..? Apakah kita lanjutkan pencarian atau kita berhenti dan beristirahat?" tanya yang lainnya.


" sebaiknya kita bergerak malam ini. Kita telusuri perkampungan ini hingga mencapai kota. Kita berpencar saja, agar tidak tampak mencolok.


"Kita bagi menjadi 3 kelompok. Dan saya akan bergerak sendiri. Jangan lupa untuk saling menghubungi, jika menemukan tanda-tanda keneradaan wanita itu." perintah seorang ketua mereka.


"baiklah.. Kita akan mencari penginapan terpisah, untuk memperluas wilayah pencarian kita."


"sekarang kita bergerak..!" perintahnya.


--------♡♡♡♡♡---------


luka Asih terlihat parah, peluru tersebut telah bersarang dilengannya. Terlalu banyak darah yang di keluarkannya, sehingga membuatnya hilang kesadaran.


Sosok itu mengeluarkan peluru yang bersarang dari lengan Asih. Lalu menutup lukanya, seperti tanpa ada luka sedikitpun.


Setelah pengobatan untuk Asih selesai. Sosok itu menghilang, hanya dengan sekrlingan mata saja.


Asih mengigau dan meracau tak jelas. Ia tengah bermimpi.. "ibu... Ibu... " . Lalu seaat Ia kembali tertidur pulas.


-----------♡♡♡♡--------


Asih menggeliatkan tubuhnya, sembari membuka matanya dan meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Ia terperangah melihat dirinya berada disebuah padang rumput ilalang nan luas.


"Siapa yang membawaku sampai kemari.?" Asih merasa bingung. Ia hanya ingat terakhir kali Ia sempat mengalahkan kedua orang berbadan kekar itu, dan terbangun sudah berada dipadang ilalang.


Asih merasakan perutnya sangat lapar, seharian Ia belum makan. Ia bingung akan memakan apa ditengah padang ilalang tersebut.


Seketika tampak olehnya seekor anak rusa sedang merumput. Ia harus makan untuk menambah energi dalam tubuhnya.


Seketika Ia mengambil busur panah dan anak panah.



Asih bersiap untuk membidikkan anak panahnya, dan melepaskannya.


Wuuuuush...sssst..


Anak rusa itu roboh dan tersungkur ditanah. Asih menghampirinya, lalu mengambil pedang dan menyembelihnya.


Setelah membersihkannya, Asih mencari sumber mata air. Ia berjalan menyusuri padang ilalang.


Setelah menemukan anak sungai, Akhirnya Ia membersihkan daging rusa itu, lalu mengumpulkan ranting kayu, lalu menghidupkan perapian dan membakarnya.


Asih menikmati daging rusa itu dengan sangat lahab. Ia menyisakan untuk makan sjang dan makan malamnya Ia mengambil air sungai untuk sebagai air minumnya.


Melihat air yang sangat jernih. Asih memutuskan untuk mandi, karena sudah hampir 2 hari Ia tidak mandi, dimulai penyekapan oleh tuan Wei hinngga saat ini.