Buhul ghaib

Buhul ghaib
Pertemuan Satu Darah



Chakra berhasil menangkap seekor kancil sebagai hewan buruan. Setelah menyembelihnya, Ia membersihkannya. Lalu menunggu kedatangan Asih yang baru saja mengantarkan kakek dan nenek mereka didesa dikaki bukit.


tampak dikejauhan Asih memacu kudanya dengan sangat kencang, lalu Chakra menyiulkan mulutnya, untuk pertanda jika Chakra sedang memanggilnya.


Asih menarik kekang tali kudanya, seketika kuda Bara Sembrani berhenti dan meringkik. Chakra menghampiri Asih, lalu menyerahkan sebagian daging kancil itu untuk dibawa pulang. Ia juga memetik jamur yang didapatnya dari pelapukan pohon kelapa sawit yang tumbuh liar disekitar hutan.


Asih menerimanya, lalu kembali memacu kudanya untuk kembali pulang ke goa.


 


Edy berserta 3 orang rekannya, berjalan menyusuri hutan. Ia teramat penasaran dengan gadis yang telah mencuri hatinya itu.


"Tuan Muda, sebaiknya kita hentikan saja pencarian tentang gadis itu. Bagaimana jika Ia ternyata jelmaan siluman?" seorang bodyguard itu menyarankan.


Namun Edy tak mengindahkan saran dari bodyguard tersebut. Ia sepertinya telah terobsesi dengan gadis itu.


"aku yakin jika diatas bukit itu penduduk." ucap Edy dengan penuh keyakinan.


"lihatlah, ini jalanan setapak, yang menandakan jika ini sering dilalui oleh manusia." Edy meyakinkan ketiga bodyguard itu.


Mereka membawa senjata api yang terselip dipinggang mereka.


sedari malam belum juga mendapatkan asupan makanan, membuat mereka kelelahan dan hampir dehidrasi.


Dari kejauhan, Edy mencium aroma daging bakar. Aroma itu membuat perut ke 4 orang itu kerocongan. "siapa yang membakar daging ditengah hutan ini? Berarti dugaanku benar, jika ada penduduk desa diatas bukit. Ayo kita periksa, setidaknya kita mendapatkan makanan untuk siang ini." usul Edy kepada para bodyguardnya.


Salah seorang bodyguard sibuk dengan ponselnya. Ia berharap, jika diatas bukit nanti akan menemukan signal dan pesannya terkirim.


Edy melihat seseorang sedang menghadap perapian, seorang pemuda yang sedang membakar sepotong paha daging kancil. Ia menghentikan langkah ke 3 bodyguard tersebut, dengan cara merentangkan kedua tangannya.


Ketiga bodyguard itu lalu berhenti, dan saling pandang satu sama lain. Edy meletakkan jari telunjuk dibibirnya, memberi isyarat agar para bodyguard itu tidak berisik.


Lalu mereka mengendap-endap mendekati Chakra yang sedang membakar sepotong paha daging kancil.


Chakra merasakan kehadiran seirang pengintai. Ia mengambil sebatang ranting yang terbakar. lalu..


Wuuuusshhh


Chakra melemparkan ranting tersebut dan mengenai salah seorang bodyguard.


"aaaakkh.." pekik seorang bodyguard yang terkena lemparan ranting yang masih dengan api menyala.


laku mereka keluar dari persembunyian mereka. Edy menodongkan senjatanya kepada Chakra.


"aku hanya menginginkan daging bakarmu, kami belum makan seharian." ucap Edy jujur.


Tanpa menoleh kearah Edy, Ia menyerahkan daging paha bakar tersebut kepada para penodongnya.


Edy menurunkan senjatanya, lalu meraih potongan paha daging bakar tersebut.


Lalu mereka berempat menyantapnya dengan sangat lahab. Kini tenaga mereka sedikit pulih.


Setelah makan, mereka meminta air minum kepada Chakra.


"ada air minum tidak?" ucap Edy dengan sopan.


Chakra memberikan sebuah tabung bambu yang berisikan air sungai untuk minum. Mereka menerimanya dengan sangat senang.


Chakra merasakan, salah satu tamu yang tak diundang itu memiliki niat buruk.


Namun Ia masih menyimpannya dalam hati dan berjaga-jaga jika kemungkinan terjadi.


"terimakasih atas kebaikanmu." ucap Edy dengan tulus.


Saat Chakra memandang Edy, sebuah perasaan desiran aneh merasuk kejantungnya. Hal yang sama dirasakan oleh Edy, sebuah perasaan seperti pernah mengenal.


Bodyguard itu terus mengetik pesan, yang ditujukan kepada Bos mereka. pesan-pesan itu masih tertahan, karena terhalang oleh signal yang belum juga ditemukan.


"apakah kau melihat seorang gadis berkuda melintasi jalan ini?" tanya Edy membuka pembicaraan.


Deeeeegh


"mengapa mereka mencari Asih? Apa yang mereka inginkan." Chakra mulai mencurigai tamunya. Sepertinya Ia harus bersikap waspada.


Chakra diam tak bergeming. Ia melihat jika mereka akan membuat masalah bagi Ia dan keluargamya.


Seorang bodyguard menodongkan senjata api kekepala Chakra. "apakah kau tidak punya mulut untuk berbicara? Tidak mungkin kau tidak melihat gadis itu melintasi dari sini.? Karena ini jalan satu-satunya yang dapat dilalui." Bodyguard itu mulai mengancam.


Chakra berusaha tenang menghadapi ke 4 orang tersebut. Edy mengerjapkan matanya, meminta bodyguard itu menurunkan senjatanya. "tetapi Tuan Muda?" Ia mencoba membantah.


Namun tatapan tajam Edy menciutkan nyalinya. Dengan terpaksa Ia menurunkan senjata apinya.


"katakanlah, dimana tempat tinggal gadis itu..?" tanya Edy berusaha untuk membuka mulut Chakra yang masih juga membisu.


"Aku tidak tahu, dan jangan coba untuk mencari tahu.!" ucap Chakra sembari beranjak dari duduknya, lalu berniat hendak pergi.


Seorang bodyguard itu menghalangi langkah Chakra. "apakah kau akan dapat pergi begitu saja? Sebelum menjawab pertanyaan Tuan Muda?" ucap Bodyguard itu dengan geram.


Bodyguard terlihat sangat kesal dengan sikap Chakra yang bertele-tele.


Edy menahan tangan Bodyguard itu, lalu membiarkan Chakra pergi.


Setelah kepergian Chakra, Bodyguard itu menggerutu. "mengapa Tuan Muda membiarkan dia lolos begitu saja." ucap Bodyguard itu dengan perasaan heran.


Edy tersenyum licik. "kita lihat saja kemana arahnya pergi, maka kita akan menemukan jejaknya." jawab Edy dengan berapi-api.


-----------


Asih sampai di depan Goa, Ia melompat ringan sembari menenteng daging pemberian Kakaknya, Chakra.


Ia juga membawa jamur yang akan diosengnya bersama jagung muda. Tadi Ia sempat singgah kekebun untuk memetik beberapa sayuran dan cabai.


Ia memasuki goa. Ia melihat ibu dan Romonya sedang bercengkrama mesra. melihat kehadiran Asih, Dina menghentikan obrannya. Lalu menyambut barang bawaan Asib. Ia akan mulai memasak.


"apakah kakek dan nenek sudah kamu antarkan dengan selamat sayang." ucap Dina dengan lembut.


"sudah bu, tetapi hanya sampai diujung desa saja, Asih tidak ingin warga desa melihat kehadiran Asih. Takutnya akan banyak pertanyaan." jawab Asih menjelaskan.


"syukurlah jika Mereka telah sampai dengan selamat." ucap Dina, sembari membersihkan bahan yang akan dimasaknya.


"Dimana kakakmu Chakra? Mengapa Ia tidak pulang bersamamu?" cecar Dina kepada Asih.


"mungkin Ia masih ingin berkuda dan bermain dihutan." jawab Asih singkat.


seketika Romo tersentak, Ia melihat tanda bahaya sedang mengintai. Ia merasakan jika mereka akan kehadiran orang yang akan membuat kekacauan di tempat tinggal mereka.


Ia melihat 4 orang sedang menyusuri jalanan setapak itu untuk menemukan Goa ini.


"berhati-hatilah, akan ada bahaya yang sedang mengincar." ucap Bromo dengan pandangan lurus kedepan.


"maksud Kanda apa..?" ucap Dina dengan perasaan was-was.


"persiapkan saja hati Dina untuk kemungkinan yang akan terjadi." ucap Bromo, sembari beranjak dari duduknya. Ia menuju pintu goa. Tampak burung gagak berputar-putar di sekitar goa dengan suara yang memekakkan telinga.


Kwaaak...kwaaak..


Suara burung itu begitu memekakkan telinga. Bromo melihat jika ada firasat buruk yang disampaikan oleh burung gagak berwarna hitam itu.


~jangan lupa kasi bintang 5 di pojok kiri atas ya🙏🙏🙏~