
Chakra terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ia menutup mulutnya. namun sepertinya Asih belum mengetahui apa yang sedang terjadi.
"kakak liat apaan kak..? koq sepertinya takut sekali." ucap Asih saat memandang Chakra yang terlihat ketakutan.
Chakra hanya menggelengkan kepalanya. namun terlihat sangat jelas jika Chakra ketakutan dan wajahnya pucat pasi.
sedangkan Dina seperti keringat dingin mengalir deras dari pori-pori kulitnya yang mulus.
Asih mengernyitkan keningnya. "mengapa mereka memandangku seperti aneh.?" ucap Asih dengan rasa penasaran.
"sepertinya kak Chakra dan ibu menyembujyikan sesuatu" Asih berguman dalam hatinya dan sedikit kesal.
Asihpun beranjak dari tepian ranjang, saat ia berdiri dan hendak melangkah, tanpa sengaja ekornya menyenggol gelas air minum yang terletak diatas ranjang, bekas minum Chakra.
[pruuuaaaaaaank..]
gelas kaca berhamburan diatas lantai goa. Asih merasakan sepertinnya ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. "mengapa aku merasakan sesuatu yang lain.?" Asih mencoba mencari tau..
Ia berjalan menuju ceruk, berniat hendak membersihkan wajahnya setelah habis perperangan tadi.
saat berada di ceruk, matanya terbelalak saat melihat bayangannya di ceruk. "aaaaaaaaagggh.." teriaknya menggema diseluruh ruangan goa. Ia melihat jika wujud tubuhnya setengan tubuh buaya setengah tubuh manusia.
"a..apa..yang terjadi padaku..? mengapa bisa seperti ini..?" teriak Asih dengan wajah pucat..
"aku tidak mau jika wujudku seperti ini.. siapa aku..?" teriak Asih dengan wajah ketakutan.
Asih menatap Dina yang masih merunduk, tanpa berbicara sepatah katapun.
begitu juga dengan Chakra yang lebih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Asih berjalan mendekati tepian ranjang, Ia ingin meminta jawaban dari Dina, sang ibunda.
setelah jaraknya begitu dekat, Ia duduk bersimpuh dihadapan Ibundanya "ibu.. katakanlah.. apa sebenarnya yang terjadi..? mengapa wujudku seperti ini..?"ucap Asih lirih, dan mulai terisak.
Ia belum dapat menerima perubahan fisiknya yang seperti ini.
Dina masih terus terdiam, lalu tanpa sadar Ia menitikkan air matanya. Ia juga tak pernah menyangka, jika Asih mengikuti jejak ayahnya yang dapat berubah wujud menjadi setengah siluman buaya putih.
"ibu..katakan padaku.. ku mohon, apa yang sebenarnya terjadi..?" ucap Asih lirih, sembari menghiba.
Dina menarik nafasnya dengan sangat dalam, lalu menghelanya dengan kasar.
"tanyakan pada Romomu. hanya dia yang dapat memberikan jawabannya.
"tapi aku mau ibu yang menjelaskannya.." Asih sedikit terluka. Ia ingin segera mendapatkan jawaban itu. air matanya mengalir deras. bagaimana mungkin Ia dapat menjalani hidup dengan kondisi tubuh seperti itu.
Asih bangkit dan berdiri, "baiklh..jika Ibu tidak ingin memberikanku jawaban, maka aku akan mencari jawabannya sendiri." ucap Asih sembari berlalu.
Asih berlari keluar goa, dengan hati yang luka.
"Asih..jangan pergi sayang..ini sudah malam Asih." teriak Dina dengan perasaan khawatir.
Asih berjalan membelah kesunyian. dengan perasaan kalut.
"Chakra.. kejar adikmu..!" perintah Dina kepada anak lelakinya.
Chakra yang sebenarnya juga merasa penasaran, dengan sigap melompat dari ranjang, lalu meraih busur beserta anak panah, dan berlari mengejar Asih.
sepeninggalan kedua anaknya, Dina semakin gemetar.."Kanda.. datanglah..aku butuh bantuamu.." ucap Dina dengan lirih dan penuh pengharapan.
dalam hitungan detik, Bromo sudah hadir dihadapannya. Dina menghambur kepelukan suaminya.
"ada apa Dindaku sayang.. ucap Bromo lembut, meskipun sebenarnya Ia sudah mengetahuinya.
"Kanda.. Asih.. mengapa Ia berubah wujud seperti itu..? kasihan dia, sepertinya sangat terpukul dan tidak dapt menerima wujudnya." ucap Dina lirih sembari menangis tersedu.
Bromo membelai lembut rambut istrinya. "tenanglah Dindaku sayang.. Kanda akan menyelesaikannya.." Bromo berujar, sembari mengecup ujung kepala istrinya.
"bagaimana jika Ia mengetahui, kalau Ia anak siluman..?" ucap Dina dengan cemas.
"Dinda takut.." ucap Dina, sembari membenamkan wajahnya didada kekar suaminya.
Asih terus berjalan menyusuri kegelapan malam, hingga akhirnya Ia berada di tepian jurang. Ia menghentikan langkahnya. Ia sangat kecewa dengan ibunya. karena selama ini menyimpan rahasia yang begitu besar darinya.
tinggal dihutan selama bertahun-tahun mungkin Ia dapat menerimanya, namun dengan wujudnya yang seperti ini? Ia masih belum dapat menerimanya. " apa yang ibu sembunyikan dariku bu..? mengapa harus Romo yang memberikan jawabannya..?
"tunggu.. ibu mengatakan Romo..? apa jangan..jangan.." Asih menggantung ucapannya.
"Asih...dimana kamu..? Asih.." suara Chakra terdengar menggema dari kejauahan.
"kak Chakra..? tetapi mengapa kak Chakra sepertinya berbeda denganku..? mengapa ada banyak rahasia yang disimpan ibu..?" Asih mulai menerka-menerka.
Seekor ular sebesar batang kayu berada tak jauh dari Asih berdiri. Ia berjalan merayap dengan cepat. lalu mendesis.
[ssssssshhhht..]
Asih tersentak kaget, dalam temaram cahaya rembulan, Ia dapat melihat seekor ular raksasa
ular itu menabawa sebuah senjata seperti garpu, Ia merayap mendekati Asih. terdapat sisik tajam disetiap sisinya. sesekali Ia menyemburkan api. wajahnya terlihat amat menyeramkan.
Asih berjalan mundur. "siapa kau..? aku tidak memiliki urusan denganmu." ucap Asih.
"mendekatlah gadis cantik. kehadiranmu telah mengusik ketenanganku.." suara siluman ular itu parau dan berat.
"Pergilah.. atau aku akan me..." Asih tercekat, suaranya tersangkut ditenggorokannya. siluman ular itu telah membelitnya dalam hitungan detik.
"mengapa wajahmu begitu sangat cantik..? aku menginginkanmu.." siluman ular itu terus memandangi Asih dengan perasaan yang mendamba.
Asih berdecak kesal. Ia berusaha melepaskan tubuhnya dari belitan siluman ular tersebut.
"heeeiiii... lepaskan adikku..!" teriak Chakra dari jarak sejauh lima meter.
siluman ular itu menoleh kearah Chakra yang sedang berteriak. "heei anak manusia.. jangan ikut campur dengn urusanku." ucap Siluman ular itu dengan berang.
"itu akan menjadi urusanku, jika kau menganggu adikku." sergah Chakra.
Chakra mengambil busur panahnya lalu meletakkan anak panah tersebut pada tali dawainya, serta bersiap membidik.
Ular siluman itu menatap tajam sembari terkekeh. "punya nyali juga kau rupanya..?" ucap siluman Ular dengan meremehkan.
Asih yang merasakan belitan ular tersebut mengendur, lalu melibaskan ekornya dengan sangat kuat. seketika ular itu mengerang kesakitan, lalu melepaskan belitannya, bersamaan dengan itu, Chakra melepaskan anak panahnya.
[wuuuush...ssssttth..]
anak panah itu mengenai lengannya. "aaaaahhhkk" suara lengkingan kesakitan berasal dari siluman ular.
"awas kau..!! tunggu pembalasanku.." teriak siluman ular dengan nada ancaman, sembari memegangi lengannya yang terluka parah. lalu menghilang.
Chakra berlari menghampiri Asih. "ayo dik..kita pulang, diluar banyak bahaya tak terduga." ucap Chakra dengan lembut.
Asih diam tak bergeming. Chakra meraih tubuh Asih, memeluknya dengan lembut cinta kasih seorang kakak.
"mengapa kakak berbeda denganku..?" ucap Asih saat dalam pelukan Chakra.
"kau dan aku sama.. satu ibu yang sama.." ucap Chakra mencoba menenangkan hati Asih.
"lalu..apakah kita juga memiliki ayah yang sama..?" ucap Asih meluncur begitu saja.
[deeeegh..] jantung Chakra seolah berhenti berdetak. Ia melepaskan pelukannya terhadap Asih. "mengapa kau mengatakan itu..?" ucap Chakra dengan tatapan heran.
"hanya menebaknya saja..!" jawab Asih dengan datar.
kedua anak itu terjebak dalam pertanyaan yang sangat sulit.