
Asih dan Edy melanjutkan taksi online tersebut menuju kediaman Edy.
Edy menggelengkan kepalanya atas ulah gadis tersebut. Edy mencoba mengingat jika Asih pernah terlibat pertarungan dengan Papanya saat berusaha mengambil kuda Bara sembrani yang berada dipacuan kuda yang berjarak 1 km dari rumahnya. Bahkan Asih juga pernah memasuki rumahnya dengan menyandera Papanya.
Bahkan di goa, keduanya juga terlibat pertarungan, hingga Asih melemparkan batu permata kemata papanya hingga mengalami kebutaan sebelahnya. Namun karena uangnya sangat banyak, dengan mudah Ia melakukan operasi matanya.
Edy tidak dapat membayangkan jika sampai keduanya bertatap muka lagi, maka entah hal apa yang akan terjadi.
Nantinya Edy akan merasa bingung jika keduanya terlibat pertarungan kembali. Harus memilih siapa kelaknya.
Sementara itu, Rere, Chakra, dan Lee kini sedang menghadapi para bodyguard Andre yang jumlahnya cukup banyak, Sedangkan mereka hanya bertiga saja.
Sesaat terjadi baku tembak antara kubu Andre dan kubu Lee.
Mereka saling ingin melukai satu sama lainnya. Beberapa orang telah berhasil dilumpuhkan oleh kubu Lee.
Hingga akhirnya mereka saling kehabisan perluru. Lalu kedua kubu saling serang menggunakan tangan kosong.
Saat Rere sedang meringkus seorang bodyguard, dari arah belakang seorang rekan bodyguard memberikan tendangan kepada Rere..
Aaaaarrrrrgh...
Suara erangan kesakitan dari Rere dan gadis itu tersungkur dilantai. Saat bodyguard itu ingin menghampiri Rere dan ingin memberikan pukulan berikutnya, maka Cahkra dengan gerakan yang sangat cepat melumpuhkan lawannya, lalu menghajar bodyguard lain yang ingin melukain Rere.
Lalu, ...
Buuuugh..
Terdengar suara baku hantam dan pukulan telak ditubuh bodyguard yang ingin melukai Rere, dan..
Aaaaargh..
Bodyguard itu tersungkur dan darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Chakra membantu Rere agar segera bangkit.
Lalu, keduanya saling berdiri berhadapan punggung dengan menempel satu sama lain, berusaha untuk saling melindungi.
Bodyguard yang tersisa lalu menyerang Chakra dan juga Rere. Chakra meraih pinggang Rere, lalu mengangkat tubuh ramping Rere dan dengan instingnya, Rere menendang lawannya hingga tersungkur dilantai.
Dua orang bodyguard datang menyerang, lalu dengan cepat Chkara memberikan tendangannya kepada kedua bodyguard itu hingga terkapar tak berdaya.
Begitu juga dengan Lee, Ia berhasil merobohkan para bodyguard tersebut.
Lalu Lee dan Rere bertugas untuk memeriksa penyimpanan uang palsu yang mana disimpan dimarkas oleh Andre..
Rere dan Lee akan membawa uang-unah palsu itu untuk disita sebagai barang bukti dari tindak kejahatan Andre.
Sedangkan Chakra diberi tugas untu mebereskan Andre.
Kini Andre dan Chakra saling berhadapan. Andre menarik sebilah pedang tak jauh diatas meja. Lalu Chakra menarik pedangnya yang sedari tadi bersarang dipinggangganya.
Keduanya saling tatap, namun belum juga ada menyerang.
Hingga akhrinya Andre yang memulai terlebih dahulu. Lalu kedua ujung pedang saling beradu, dan dentingan demi dentingan terdengar begitu sangat nyaring.
Lee dan Rere terus meringsek masuk kedalam sebuah gudang yang dijadikan untuk mencetak uang palsu.
tampak para pekerja yang sedang bertugas mencetak dan memotong uang yang sudah dicetak dengan cepat.
Melihat kehadiran Rere dan Chakra, para pekerja itu menghentikan pekerjaannya, lalu masing-masing mengambil senjata untuk bersiap menyerang Lee dan Rere.
Lalu pertarungan tak dapat lagi dihindari. serangan-serangan demi serangan dan juga suara letusan senjata api ikut mengiringi pergarungan itu.
Rere dan Lee mencoba menghindari tembakan yang dilancarkan oleh para pekerja itu. Keduanya bersembunyi di balik kotak besar yang terbuat dari baja sebagai tempat brankas penyimpanan uang palsu tersebut.
Rere mengambil pisau lempar yang disimpannya dibalik pinggangnya, lalu melemparkan kepada salah seorang pekerja, dan...
Wuuuuuusshhh... Sssstt..
Pisau itu melesat cepat diudara dan menuju sasarannya. Lalu...
Aaaaaaerrggh...
Pisau itu mengenai seorang pekerja tepat didada kirinya, pria itu ambruk dan terkapar dilantai.
Sementara itu, Chakra dan Andre masih terlibat pertarungan yang masih dalam suasana menegangkan. Andre terdesak hingga ke balkon kamar, dan pedang Chakra sudah siap merobek dada pria itu, namun lagi-lagi Ia tak mampu melakukannya.
Dibawah sana, Asih dan Edy baru saja sampai. Edy dannAsih turun dari taksi online dan membayar jasanya. Lalu taksi itu pergi.
Saat utu, Edy melihat keatas balkon, yang mana Papanya sedang diserang oleh seseorang.
"Papa" seru Edy saat melihat Papanya yang tampak dalam posisi terdesak.
Nalurinya sebagai anak, tentulah tak tega melihat papanya diserang oleh seseorang.
Asih menoleh kearah ujung mata Edy yang mengarah ke atas balkon.
Seketika Asih terperangah, jika Ia melihat seseorang yang berada diatas sana "Kak Chakra" guman Asih lirih, dan memastikan jika yang dilihatnya itu tidaklah salah.
Edy tanpa berfikir panjang langsung berlari masuk kedalam rumah dan menuju balkon.
Sedangkan Asih ikut berlari, namun Ia memanjat balkon dari dinding luar.
Edy dan Asih bersamaan sampai diatas balkon, dan mereka saling terperangah.
Cahkra terhenyak melihat Asih yang tiba-tiba berada dihadapannya.
"Asih.." teriak Cahkra tak percaya.
"Kak, Chakra" jawab Asih. Lalu keduanya berpelukan.
Sementara Edy melongo melihat kenyataan yang ada. Edy merasa bingung mengapa pria yang dipanggil kakak oleh Asih menyerang Papanya.
disisi lain, Andre terperanjat melihat kehadiran Asih. Namun Ia menyadari, siapa lagi yang membawanya kerumah ini nika bukan Edy.
Melihat kelenhahan Asih dan Chakra, Andre menusukkan ujung pedangnya dipunggung Chakra, dan...
Aaaarrgh..
Erangan Chakra yang sangat menyayat hati.
Mendapati kakaknya terluka, Asih melepaskan pelukannya, dan..
Buuuugh...
Sebuah tendangan telak diperut Andre dan membuat pria itu tersungkur.
"Papa... Teriak Edy, lalu berlari menghampiri papanya.
Hal ini yang selalu membuat Edy dilema, dan Ia akan merasa bingung untuk membela yang mana.
Sementara itu, Asih memanggul tubuh Chakra yang berlumuran datah.
Asih melompat dari balkon kamar, lalu menatap Edy dengan tatapan yang sulit diartikan, keduanya sama-sama terluka.
Ditengah gelapnya malam, Asih berlari dengan sangat cepat sembari membawa tubuh Chakra diatas pundaknya.
Tak berselang lama, Asih tiba dikediaman Ibunya. Ia melihat pintu rumah yang tampak terkunci.
Ia menggunakan keahlian parkurnya, lalu memanjat dinding dan naik keatas balkon dengan tubuh Chakra diatas pundaknya.
Ia berjalan dengan sangat cepat, lalu mengetuk pintu kamar Dina, Ibunya.
Ibu.. Buka pintunya.. Aku membutuhkan bantuanmu.
Terdengar suara pintu kamar dibuka dan alangkah terkejutnya Dina melihat Asih memanggul tubuh seorang pria.
Asih menerobos masuk, lalu meletakkan tubuh Chakra diatas ranjang Ibunya dalam posisi telungkup.
"Ibu, ini Kak Chakra. Ia terluka parah, tolong obati" ucap Asih dengan nada cemas.
"Apaa.. Chakra?!" seketika Dina merasa syok mendengarnya, sebab ini kedua kalinya Chakra terluka parah.
Saat pertama Ia terkena tembakan oleh orang yang mencuri kuda Asih, kedua Ia masih beljm dapat menerawangnya.
Dina menghampiri tubuh Chakra, dan membuka pakaian anak lelakinya, untuk melihat luka yang dialami anaknya.