Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 243



Edy mencoba mengambil nafasnya yang sedari Ia tahan. Rasanya Iabtak sempat bernafas karena serangan Rebecca yang begitu menggebu dan juga sangat beruntun.


Ia berjalan menghampiri tubuh Rebecca yang tampak tak lagi bergerak. Tak ada noda darah sedikitpun yang keluar dari luka tusukan pedang yang bersarang dijantungnya.


Edy mencabut pedang tersebut, lalu membawanya menjauh dari jasad yang terbujur dengan dua bola mata terbuka dan menghitam.


Ia terduduk diatas tanah berdebu tersebut, lalu menselunjurkan kedua kakinya kedepan.


Ia mencoba mencabut shuriken yang menancap dipaha kanannya dengan cepat sembari merapatkan gerahamnya untuk menahan rasa sakit yang cukup menyiksanya.


Edy mencampakkan shuriken itu disisi kanannya dan melihat darah yang tampak merembes dengan deras karena luka itu terlalu dalam dengan robekan yang juga cukup lebar.


Edy kembali merobek lengan bajunya sisi sebelah kanan, dan kini Ia terlihat sangat compang-camping bagaikan gembel yang tak tentu arah.


Ia meraih pedang milik Rebecca, dan membakar dibagian ujungnya dengan menggunakan pemantik api, lalu setelah cukup panas, Ia menempelkannya diluka tersebut sembari merapatkan giginya. Kemudia Ia mengikat lukanya dengan robekan kain lengan bajunya.


Edy menatap kegelapan malam yang tampak sunyi, Ia meraih rokok dalam saku celananya dan menghidupkan pemantik api, lalu menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dengan tarikan yang sangat dalam.


Ia menatap langit kelam, ada sebuah bintang yang hadir malam ini dan posisinya begitu dengan bulan sabit yang tampak melengkung.


Seketika Ia merindukan sosok wajah ayu nan rupawan. sosok yang selalu membuat hidupnya begitu sangat bergai-rah.


Ia sudah beberpa hari tak bertemu dengannya, setelah perpisahan mereka dalam misi yang berbeda namun dengan tujuan yang sama.


Rasa kerinduannya begitu sangat dalam. Ia rindu akan belaian manja sang wanita yang selalu membuatnya candu.


Meskipun terkadang wanita itu bersikap konyol dan membuatnya kewalahan, namun hal itu yang kini begitu terasa sangat sepi tanpa semua tingkah lakunya.


Sejauh ini Ia mengorbankan segala hidupnya demi cinta yang begitu dalam dan juga ketulusannya.


Ia belum mendapatkan kabar apapun dari sang wanita pujaan, hidupnya begitu sepi dan hampa "Sayang.. Kamu dimana? Apakah semua perjuangan telah berhasil, atau kamu juga menemukan rintangan dan masalah?" guman Edy sembari menarik hisapan rokok terakhirnya.


Hatinya begitu kesepian, dan juga penuh kehampaan.


Ia menekan ujung rokok yang terbakar ketanah berdebu, lalu berusaha beranjak bangkit dan berjalan menuju tepian jalan.


Ia memperkirakan jika lokasi markas itu hanya tinggal satu kilometer lagi dari posisinya saat ini.


Ia mencoba berjalan tertatih dan menyusuri jalanan sunyi dan juga sepi.


Angin malam berhembus dengan sangat kencang dan membuat orang-orang akan meringkuk dalam buaian syahdu.


Namun tidak bagi Edy, tubuhnya penuh dengan cucuran keringat dan juga darah yang merembes dari luka-luka goresan kecil dan juga lecet dimana-mana.


Otot lengannya yang menyembul tampak berkilat terkena terpaan sinar rembulan yang memancar dengan malu-malu.


Suara langkah kakinya terdengar sangat dramatis dengan seretan yang dipaksakan.


Sementara itu, asap hitam mengep dan bergulung ditubuh wanita berambut pirang yang kini terbujur dengan kedua mata membola menatap kosong.


Asap itu merasuk kejantung sang wanita melalui luka robek tersebut, lalu bersemayam disana dan sesaat membuat Wanita itu kembali menggerakkan jemarinya dengan pelahan.


Ia kini dapat menggerakkan kembali seluruh tubuhnya dan merubah posisinya melompat dengan gerakan jumping dan berdiri dengan tegak.


Ia menggerakkan jemarinya, lalu mengangkat semua shuriken yang berserakan diatas tanah tandus dan berdebu serta sabit yang terlepas dari rantai besi kusarigama milik Edy.


Senjata itu melesat menghampiri Rebecca yang kini bagaikan maghnet karena mampu menarik benda logam dengan jemarinya saja.


Dengan cepat Ia menangkap semua senjata itu dan menyimpannya disetiap saku yang ada dipakaiannya.


Ia menatap dengan dingin, dan mencoba mempertimbangkan ke arah mana Ia akan menuju.


Edy masih berjalan dengan terseok dan berusaha mencapai markas tempat dimana disimpan batu mustika Blue diamond yang kini telah membawa petaka bagi hampir seluruh penduduk dunia.


Setelah jauh berjalan, Ia akhirnya melihat sebuah mansion yang Ia yakini adalah temapt Wei bersembunyi.


Tampak banyak sekali penjaga disana. Dari mulai bodyguard dan juga mutan yang bersiaga untuk mengahalangi penyusup yang akan datang.


Sebuah tembok dibangun begitu tinggi untuk menghalangi penyusup ataupun serbuan dari musuh yang bisa datang kapan saja.


Edy mengendap-ngendap di pembatas tembok. Setelah memastikan tidak ada yang melihatnya, Edy mengikat pedang milik Rebecca dirantai besinya dan memastikan sudah sangat kuat.


Ia melemparkan rantai besi yang lumayan cukup panjang untuk sampai kesebuah tiang besi dibagian penyambung tembok.


Edy menarik rantai tersebut dan sudah dapat digunakan untuk memanjat.


Dengan menggunakan keahlian memanjat tebing yang dimilikinya, Mulai memanjat tembok tersebut dan kini sudah sampai diatas tembok sembari menggulung rantai besinya.


Lalu Ia memanfaatkan kegelapan dan tidak adanya penjagaan dibagian sudut belakang bangunan.


Ia kemudian melompat memasuki pagar pembatas dan mengendap-endap menyelinap menuju pintu masuk belakang.


Tiga orang penjaga tampak mondar-mondar di depan pintu tersebut.


Edy mencari cara untuk mengalihkan perhatian ketiganya.


Edy mengambil batu kerikil, lalu menimbang-nimbangnya dalam telapaknya, dan kemudian melemparkannya ke tembok sisi samping kiri.


Peorang pejaga terpancing dan menuju ke arah tempat dimana asal suara yang mencurigakan tersebut.


Setelah melihat penjaga itu menuju sisi tembok kiri, Edy melesat kearah tembok tersebut dan membekap sang penjaga lalu menusukkan anak panah tepat dikepala penjaga itu dan membuat pria kekar tersebut tersungkur diatas tanah dan tewas.


Seorang penjaga lainnya merasa curiga karena rekannya tak juga tampak kembali setelah memeriksa area tembok sisi kiri.


Lalu Edy bersembunyi tepat disisi kiri, dan ketika melihat bayangan pria penjaga berada tepat diujung tembok, Lalu ingin berputar kesisi kiri, Edy menarikanya dengan cepat, lalu melumpuhkannya dan ternyata mereka hanya bodyguard biasa sepertinya.


Setelah itu, tinggal seorang penjaga lainnya yang masih tampak mondar-mandir didepan pintu, lalu mendengar suara mencurigakan, Ia mencoba memeriksa ke arah sisi kiri dan baru saja Ia akan berbelok ke sisi kiri tembok, sebuah rantai besi sudah menjerat lehernya dan membuatnya kesulitan bernafas lalu mencoba melayangakan sikunya kedada kiri Edy, dan membuat Edy semakin mengetatkan jeratannya, lalu pria itu melemah dan tak bergerak lagi.


Edy melepaskan jeratannya, lalu melepaskan tubuh pria dan tersungkur ditanah.


Edy memeriksa ketiga tubuh pria, melucuti pakaiannya dan mengganti pakaiannya dengan salah satu penjaga yang sudah tewas.


Setelah itu melucuti seluruh senjata milik penjaga dan menyimpannya. Kemudian Edy mengambil sebuah kartu yang memiliki barcode sebagai alat untuk membuka pintu belakang.