Buhul ghaib

Buhul ghaib
Chakra yang Resah



Chakra mondar-mondir di dalam goa seorang diri. Ia masih bingung mengapa ibunya belum juga kembali. Hari hampir senja.


"Kemana ibu perginya? Apakah ada orang yang menculiknya?" chakra mulai gelisah.


"Asih.. Kemana juga anak itu? Sedari pagibtidak terlihat batang hidungnya." Chakra mulai khawatir tentang kedua wanita yang sangat di sayanginya itu.


Ia melangkah keluar Goa, tampak olehnya seekor kelinci yang sedang bersembunyi dibalik rerumputan. "bukankah itu kelinci milik ibu? Dasar semuanya, gak ibu gak kelincinya sudah senja gak ada yang ingat pulang." Chakra menggerutu.


Dengan berjingkit-jingkit Ia mendekati kelinci yang bersembunyi direrumputan itu. Dengan perlahan, Ia menangkapnya. "Kee..naaa.." Chakra berhasil menangkap Arini yang sedang lengah.


Arini membulatkan matanya, Ia bergerak-gerak ingin membebaskan dirinya. Namun cengkraman Chakra begitu sangat kuat.


Chakra mendekapnya, membawanya masuk kedalam goa. Ia membawa kelinci itu ke meja makan. kamu disini saja, jangan kemana-mana. Aku mau shalat maghrib dulu" titah Chakra kepada Arini.


Arini hanya diam membisu, Ia diam diatas meja, menunggu sampai Chakra selesai shalat maghrib.


Hari sudah beranjak gelap. Namun dua wanita itu tak kunjung juga pulang. Perasaan Chakra kian resah dan khawatir.


Chakra kembali duduk di kursi yang terbuat dari batuan cadas. "mengapa Ibu dan Asih belum juga kembali?" Chakra berucap lirih, sembari membelai lembut bulu Arini yang sangat lebat.


Kelinci itu hanya menatap sendu pada Chakra. Ia tidak mungkin menjawab pertanyaan Chakra, jika ibunya diculik oleh Bromo yaitu Romonya.


mungkin saja jika Arini berbicara dapat membuat Chakra ketakutan, karena kelinci seimut dirinya dapat berbicara.


---------♡♡♡♡♡♡-------


"kanda.. Ijinkan aku pulang, dinda kasihan dengan chakra. Pastinya Ia kebingungan dengan hilangnya Dinda." Dina merasa gelisah dengan kondisi Chakra, yang mana Ia baru saja mulai membaik.


Bromo seprti berpura-pura tidak mendengarkan keluh kesah Dina. Ia memejamkan matanya, sembari mendekap pinggang ramping milik Dina. Bromo membawanya keranjang istana. Kamar yang penuh kemewahan.


Ada banyak batu permata yang harganya jika berada didunia mencapai ratusan milyar, bahkan triliun. Tetapi bagi Bromo, semua permata itu dijadikannya sebagai ornamen yang menghiasi segala prabotan isi kamarnya.


"dia sudah dewasa Dinda. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu denganmu berduaan saja, tanpa ada yang mengganggu.." jawab Bromo, sembari berbisik lembut ditelinga Dina, sehingga menimbulkan sensasi hasrat yang menggelora.


"Kanda.." rintih Dina yang mulai terbakar api cinta.


Bromo membelai lembut rambut lurus indah milim Dina yang panjang sepinggang itu. Dina mulai meresapi tiap sentuhan lembut pemberian Bromo. Hingga akhirnya mereka larut dalam buaian yang memabukkan.


Bromo yang sudah diujung hasrat, tak mampu lagi membendungnya, Ia melakukan penyatuan dengan cepat. Hingga akhirnya mereka mencapai puncak surgawi secara bersamaan.


Dina membenamkan wajahnya didada bidang milik Bromo. Dina sejenak melupakan semua permasalahan hidupnya. Ia mendapatkan ketenangan bersama Bromo.


"Dinda.. Ada masanya nanti kamu akan menjadi orang yang dikenal. Orang-orang akan datang mencarimu untuk meminta pertolongan untuk pemyembuhan suatu penyakit yang diderita oleh sebagian manusia. "


"bagaimana mungkin itu bisa terjadi Kanda..?" tanya Dina penasaran.


Bromo mengecup ujung kepala Dina dengan cinta kasih. " aku akan membantumu." ucapnya sembari beranjak dari ranjangnya.


Bromo mengambil dua buah batu mustika berwarna pink dan biru. Lalu membawanya kepada Dina yang masih polos tanpa sehelai benangpun. Dina menutupi dirinya dengan selimut tebal.


"duduklah Dinda, tatap mataku.." perintah Bromo kepada Dina, yang dikuti kepatuhan dari Dina.


Setelah itu, Ia memejamkan kembali matanya, setelah beberapa menit, Ia membukanya, lalu menyerahkannya kepada Dina. "bawa permata ini , jika ada yang membutuhkan pertonganmu, maka celupkan Ia kedalam segelas air putih, lalu bacakan shalawat sebanyak 3 kali, lalu sebutkan hajatmu. Insya Allah akan terkabul." ungkap Bromo dengan jelas.


Dina terperangah mendengar semuanya. "apakah aku akan menjadi seorang paranormal..?" tanya Dina dengan tak sabar.


Bromo mengerjapkan matanya, sembari tersenyum simpul. "ya.." jawab Bromo singkat.


"dan wajahmu akan selalu terpancar aura menyenangkan bagi banyak orang." Bromo melanjutkan ucapannya.


"bagaimana mereka dapat mengetahui keberadaan dinda ditengah hutan?" tanya Dina penasaran.


"mereka akan datang dengan sendirinya, dan kamu harus bersiap jika ada ada kemungkinan orang yang merasa menjadi tersaingi olehmu." Titah Bromo sekali lagi.


Dina diam tak bergeming. Ia berfikir, apakah Ia sanggup memikul beban yang akan ditanggungnya nanti, setelah mengemban amanah dari Bromo.


"namun, Dinda jangan sampai congkak dan merasa sombong, karena karamah itu akan memudar." Bromo mengingatkan.


Dina terdiam mendengarnya, semakin terasa berat saja apa yang akan dijalaninya.


"kamu tidak perlu merasa terbebani Dinda sayangku, kamu hanya perlu ikhlas menerimanya. Maka semua akan baik-baik saja. Ini sudah menjadi bagian takdir yang harus kamu jalani. Maka terimalah." Bromo memberikan kekuatan bathin kepada Dina, agar bersedia menerima amanahnya.


Dina menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum ikhlas."


------♡♡♡♡♡♡-----


Chakra semakin gelisah. Sudah seminggu lamanya Ibunya tidak juga kembali, begitu juga dengan Asih.


Namun Ia merasa bingung, dengan selalu tersedianya makanan dimeja makan. Ia masih bertanya-tanya, siapa yang telah menyediakan makanan untuknya.


Selama seminggu ini, Ia selalu tercukupi untuk kebutuha makannya.


Chakra merasakan bosan terus berada digoa. Ia berjalan- jalan dihutan untuk membuang rasa bosannya. Ia berniat untuk memancing ikan, meski perasaannya terus dihantui rasa penasaran tentang keberadaan Asih dan ibunya, uang yak kunjung pulang. Ia memutuskan, jika sehari lagi Ia akan menunggu, dan ibunya juga tidak kembali, maka Ia akan turun dari bukit dan mencarinya dikaki bukit, tempat warga desa bermukim.


Saat Chakra menuruni jalanan berundak, Ia melihat seseorang sedang mandi disungai. Rambut panjang indah tergerai. Chakra merasa penasaran, Ia bersembunyi dibalik pepohonan. "mengapa Ia mirip dengan gadis yang memasak didapur waktu itu? Apakah Dia juga yang selama ini memasak untukku?" Chakra mulai berkelana dalam alam fikirannya.


"siapa dia..? Mengapa ada wanita lain hadir disini selain Asih dan ibu.?"Chakra mulai merasa was .was..


Ia kembali ke goa, membatalkan niatnya yang hendak memancing. Ia duduk atas batu di perkarangan depan goa.


Ia masih memikirkan hal-hal yang diluar nalarnya. Sesaat Ia sedang galau, seekor kelinci milik ibunya melompat-melompat dari arah undakan tanah.


~tanah berundak ialah, tanah yang berbentuk miring, bukit, lereng, atau menurun. Dan untuk melaluinya naik keatas dan kebawah, yang mana tanah itu dibuat seperti bertangga, untuk mempermudahakan mencapai ke akses yang dituju.


Kelinci itu memasuki Goa dengan lompatan yang cepat. Chakra mersa sedikit penasaran dengan kelinci itu. Diam-diam Ia mengikuti kelincinitu masuk kedalam goa.


Kelinci itu memasuki sebuah lorong goa yang selama ini tidak pernah Ia ketahui sebelumnya. Chakra semakin penasaran, Ia terus mengikuti kemana arah kelinci tersebut. Dan akhirnya, Ia berhenti disebuah ruangan yang tak pernah Ia duga selama ini.