
Bromo Sedang berada diranjangnya. Ia menatap pada Dina yang masih belum dapat menerima kenyataan yang mana Ia harus berbesan dengan Andre.
Bukan tanpa sebab, namun semua karena Andre sang besan pernah menorehkan luka menganga dihatinya yang mana saat itu Ia adalah seorang gadis remaja polos tidak mengetahui apapun tentang apa itu sebuah pengkhianatan.
Ia menyerahkan seluruh cinta dan perasaannya kepada pria tampan itu hanya demi perasaan yang begitu menggebu, bahkan Ia harus merelakan sebuah kesucian yang harus Ia jaga sebagai seorang wanita.
Bromo menghampirinya, dan duduk disisi ranjang, lalu membelai lembut rambut sang istri.
"Apakah Kau menyesali telah menikah denganku?" tanya Bromo pada Dina yang saat ini masih terdiam dalam keheningan.
Dina menatap pada sang suami "Bukan menyesali, tetapi Aku belum bisa menerima keadaan jika Aku harus berbesan dengan pria brengsek itu" jawab Dina dengan lirih.
"Ada benci dan juga sisa cinta di matamu saat Kau menatapnya" ucap Bromo dengan tenang.
Dina menatap pada Suami silumannya, Ia tidak tahu harus mengatakan apa, namun itu bukan hal yang harus ditampiknya, sebab pria itu adalah seseorang yang pertama kalinya menyentuh hatinya, meski dengan kepalsuan.
"Maafkan Aku, Kanda" ucap Dina merasa bersalah.
Bromo menatap pada Dina "kanda tidak dapat memaksakan perasaan seseorang, jika hatimu masih terlalu kuat untuknya, Mas akan mencoba merelakan Dinda untuk kembali padanya" ucap Bromo dengan hati dan luka yang tak berdarah.
Seketika Dina memeluk Bromo dengan erat "Maafkan Dinda. Tidak ada niat untuk kembali padanya. Semua itu akan hilang bersama waktu, karena Dinda telah menemukan cinta sejati yang sebenarnya" ucap Dina kepada Suami Silumannya.
Bromo menatap istrinya "Apakah Dinda ingin kembali ke istana? Sebab Asih dan juga Edy akan pergi ke luar dari negera ini, dan Dinda akan kesepian" ucap Bromo dengan lembut.
"Tetapi Chakra?" tanya Dina dengan penasaran.
"Ia sepertinya akan menikahi gadis tomboy itu, dan biarkan Ia tinggal dirumah ini" Ucap Bromo menjelaskan.
"Apakah Dinda ikut? Tanya Bromo sekali lagi.
Dina menganggukkan kepalanya, lalu meraih jemari tangan suaminya. "Lupakan semua masa lalumu, jangan pernah melimpahkan kesalahn Andre kepada Edy. Ia tidak pernah bersalah dalam hal ini, dan Ia juga tulus mencintai Asih, dan berbeda sikap dengan ayahnya" ucap Bromo sekali lagi dengan penuh kelembutan.
Dina menganggukkan kepalanya, dan Ia merasakan jika membuang masa lalu itu adalah yang terbaik dan sangat membuat hati lebih tenang dan lega.
"Kalau begitu ayo Kita pergi" ajak Bromo dengan lembut.
"Apakah kita tidak berpamitan terlebih dahulu kepada Asih dan juga.. Dan juga suaminya" ucap Dina lirih dan sangat berat untum menyebut nama Edy, dan berharap Ia segera dapat menerima kehadiran sang menantu.
"Mereka sedang bercinta, mengapa harus mengganggunya, biarkan saja. Ayo Kita pergi" ucap Bromo yang disambut oleh genggaman tangan Dina dan melesat menghilang dengan kecepatan cahaya.
Sementara itu, Asih tersentak saat melihat bola api melesat menghampiri mereka ketika mereka baru saja keluar dari pintu rahasia penyimpanan senjata ilegal tersebut.
Asih mencabut pedangnya, lalu menghindar dan menari tubuh Edy kesisinya.
Dengan gerakan cepat, Asih menghunuskan pedangnya lalu menyerang bola api yang merupakan banaspati yang pernah Ia lumpuhkan saat di desa waktu itu.
Ia tidak menyangka jika sosok Banaspati itu mengejarnya hingga ke kota. Sepertinya makhluk iblis itu ingin juga berjalan-jalan ke kota hingga membuntutinya terus.
Edy menatap bola Api yang berputar-putar dengan cepat dan tiba-tiba merubah wujudnya menjadi sosok makhluk berwujud iblis yang dipenuhi oleh api disekujur tubuhnya.
Sosok iblis berjenis kelamin pria itu membawa sebuah palu besar yang juga penuh dengan api yang menajalar diseluruh tubuhnya.
Ruangan yang kini mereka tempati seketika terang benderang dan penuh dengan hawa panas yang membara.
Asih memisikkan kata "Jangan pernah takut menghadapinya, karena Ia dapat menghisap energi negatif yang ada pada diri Kita, yaitu rasa takut" ucap Asih kepada Edy.
Edy menganggukkan kepalanya dan berusaha untuk tidak takut terhadap sosok itu.
Keduannya menghindar dengan cepat dan melompat kearah yang berbeda.
Asih menyerang sosok itu dengan pedangnya. Meskipun pedangnya tidak seberat Palu besi milik Banaspati, namun kekuatannya tidak dapat diragukan lagi.
Berbeda dengan Edy, pria itu menyelinap keluar, entah yang sedang dilakunnya.
Asih dan Banaspati terlibat pertempuran yang saling serang satu sama lain.
Kobaran api yang keluar dari sosok tersebut membuat beberapa properti terbakar dan menimbulkan kebakaran yang membuat asap mengepul dan membuat sesak nafas saja.
Banaspati kembali mengayunkan palu besi dengan kobaran apinya, saa Asih melompat dan menghindarinya, rambut panjangnya mengenai kobaran api tersebut dan membuat beberapa helai rambutnya terbakar.
Lalu Asih mencoba mengibaskannya dan membuat api itu padam.
Asih memberikan serangan balasan, Asih menapaki dinding ruangan, lalu membuat gerakan melengkung hingga 180° dan mengayukan pedangnya yang menyasar pada wajah Banaspati.
Karena tak sempat menghindar, Pedang itu menancap tepat di bola mata Banaspati dan Asih memutar pedangnya hingga membuat boal mata iblis tersebut bagaikan dikorek dan terlepas.
Lalu terdengar suara iblis itu mengerang dengan lengkingan kesakitan yang memekakkan telinga.
Lalu Sang Banaspati mencoba menyerang Asih dengan mengayunkan palu besinya kearah tubuh Asih dan itu membuat Asih segera mencabut pedangnya, dan melompat menghindar, lalu mendarat dilantai dengan gerakan kuda-kudanya.
Banaspati itu semakin kesal dan penuh amarah. Ia melemparka palu besi itu kearah Asih dengan gerakan cepat dan tiba-tiba.
Asih segera melompat keatas dan palu itu melewati ujung kakinya dengan kobaran api yang membara.
Suara dentuman yang sangat kuat membuat ruangan itu bergetar dan meruntuhkan sebagian platfom ruangan.
Asih merasakan ujung kakikanya terkena sambaran api yang berasal dari palu milik makhluk iblis tersebut.
Asih merasakan jika Edy tak berada diruangan ini lagi. Namun Ia tak sempat memikirnya, sebab sosok iblis terus menyerang.
Namun belum sempat Asih berfikir buruk tentang tentang suaminya, Asih merasakan seseorang mencabut anak panah beserta busur yang Ia simpan dibelakang punggungnya.
Seseorang tersebut tak lain adalah Edy.
Ternyata Edy mencari bom molotov yang pernah Ia lihat disimpan oleh sang Papa disebuah ruangan lain. Ia meletakkan bom tersebut diujung anak panah milik Asih, lalu mengarahkannya kepada Banaspati tersebut dan membidik, lalu..
Wuuuuuuussshhh...ssstt..
Edy melepaskan anak panah tersebut dan tepat mengenai kepala sang banaspati dan dengan cepat Edy menarik Asih keluar dari ruangan itu yang mana suara ledakan dahsyat mengahncurkan sosok itu dan seketika ruangan itu meledak dengan suara ledakan yang sangat dahsyat.
Asih dengan secepat kilat berbalik menarim Edy dan melesat keluar dari rumah milik papa mertuanya yang hancur berantakan.
Lalu keduanya berlari menuju kediaman rumah Dina yang tak jauh dari lokasi tersebut.
Melihat kebakaran hebat tersebut, warga yang rumahnya berada disekitar lokasi segera menelefon pemadam kebakaran karena takut merembet ke tempat lainnya.
Sedangkan Edy dan Asih sudah berada dirumah Dina yang mana tidak terlihat satu orangpun didalamnya.
Asih menuju sofa, Ia memeriksa ujung jemarinyanya yang melepuh terkena kobaran api dari palu besi yang dilemparkan oleh Banaspati tersebut.
~Maaf buat para reader yang sudah lama menunggu up novel buhul ghaib. Author hanya sebel karena ada beberapa reader yang kasih rate buruk (Bintang 1) hingga membuat novel ini mengalami penurunan level. Jika tidak menyukai sebuah karya seseorang tolong skip dan jangan tinggalkan rate buruk yang membuat satu karya itu hancur~
~Kami para Author harus berfikir keras dalam mencari alur cerita agar bisa dinikmati para reader, namun jangan jatuhkan semangat kami karena rate buruk yang membuat sebuah karya hancur levelnya. Dan setelah vakum beberapa waktu, akhirnya level naik kembali bulan ini, dan author janji untuk menyelesaikannya hingga tamat, terimakasih atas dukungannya🙏🙏❤❤~