Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 240



Edy berjalan menuju minimarket dan memgambil pemantik api, lalu berjalan ke area belakang minimarket. Ia meraih anak panahnya. Lalu merobek lengan bajunya yang terkena tembakan dan peluru bersarang dilengan itu.


Edy menyalakan pemantik api, lalu membakar ujung anak panah dan dengan menggunakan anak panah tersebut mengeluarkan peluru yang bersarang dilengannya tersebut.


Ia menggeretakkan gigi-giginya untuk menahan rasa sakit tersebut.


Tak berselang lama, peluru itu berhasil keluar dari lengannya yang tampak berotot. Lalu Ia kembali membakar ujung anak panah dan menempelkannya kembali kepada luka tersebut untuk menghentikan pendarahannya.


Setelah Itu Edy membalut lukanya dengan bekas robekan lengan bajunya, dan Ia kembali menemui para pemuda yang tampaknya sudah lebih tenang dan juga kenyang tentunya.


"Ayo, berkumpullah" titah Edy kepada Kepada seluruh penuda tawanan tersebut.


Dengan patuh, para pemuda itu berkerumun dan mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Edy sebagai penyelamat mereka.


"Dengarkan apa yang akan aku ucapkan" ambil semua pemantik api yang ada ditoko itu, dan satu orang saja yang masuk kedalam, lalu bagikan" titah Edy, dan salah seorang diantaranya masuk ke toko dan mengambil seluruh pemantik api yang ada didalam toko dan membagikannya kepada seluruh pemuda tersebut.


Setelah selesai, Edy masih berdiri tegak dihadapan seluruhnya layaknya seorang pemimpin yang meski dipatuhi setiap ucapannya.


"Dengarkan apa yang akan Aku ucapkan. Di depan kalian akan ada bahaya yang menghadang. Mereka bukan manusia, namun mereka memiliki perpaduan antara manusia dan iblis. Jika tiba-tiba kalian mendapat serangan dari mereka, maka jadikan pemantik api ini untuk memusnahkannya, atau hancurkan Ia tepat diujung kepalanya" Edy menghela nafasnya. Ia mencoba memberikan sugesti kepada para pemuda itu.


Lalu Ia menatap kepada para pemuda itu dengan tatapan penuh harapan "Kalian harus dapat melawan rasa takut kalian, dan jangan biarkan para iblis itu menaklukkan kalian" ucap Edy kembali.


"Dan siapa yang dapat menyetir diantara kalian?" tanya Edy kemudian.


Hampir semua mengacungkan tangannya, dan mereka dapat menyetir.


"Baiklah, kamu yang saya percayakan" ucap Edy kepada salah seorang pemuda bertubuh kekar.


Pemuda itu menghampiri Edy dan menerima kunci truck tersebut.


"Bawa seluruh saudaramu ini ke kantor polisi, dan meminta perlindungan disana juga mintalah agar kalian dibawa ke kedutaan negara unruk dikembalikan ke negara kalian masing-masing" titah Edy.


Lalu pemuda menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.


Setelah mendengar semua apa yang dititahkan Edy kepada mereka, akhirnya mereka berpamitan dan kembali menlajutkan perjalanan menuju kantor polisi.


Sedangkan Edy kembali melanjutkan perjalananya, melesat menyusuri jalanan berdebu.


Setelah sampai disisi jalan dimana Ia tadi bertempur dengan para Mutan dan dua pria kekar tersebut, Edy mengambil sepeda motor harley yang tergelatak dipinggir jalanan.


Esy menyalakan mesin motor tersebut dan melanjutkan perjalanannya kembali.


Hari mulai tampak gelap, dan suasana sedikit lebih nyaman dibanding saat siang hari karena udara yang tidak lagi panas menyengat.


Wei mendapat kabar jika para tawanannya kembali di gagalkan oleh Edy. Ia merasa jika Edy adalah ancaman baginya.


Pria itu sangat penuh amarah dan membuat para bodyguardnya menjadi sasaran amukan kemarahannya.


Wei berjalan menuju sebuah ruangan yang menjadi tempat rahasianya.


Ia menghampiri sebuah jasad wanita yang terbaring didalam peti es transparan.


Wanita yang terbujur kaku itu adalah jasad Rebecca yang waktu itu tewas saat tertembak oleh penembak jitu atau snipernya.


Wei mengambil batu permata tersebut, lalu meletakkannya di dada kiri Jasad Rebecca dan tepatnya dibagian jantung yang sudah tidak lagi berdetak tersebut.


Lalu Wei menggerakkan kedua tangannya membentuk bola asap dan menekan batu permata itu hingga memendarkan cahaya kegelapan dan membuat tubuh Rebecca menyerapnya.


Perlahan jantung itu berdetak, lalu kedua matanya terbuka dengan manik yang berwarna hitam gelap dan tampak begitu sangat menyeramkan.


Wei tersenyum penuh seringai, lalu mengambil kembali batu permata tersebut dan meletakkannya dalam sebuah kotak kaca yang dialiri sinar laser, dan sinar itu dapat memotong apa saja yang dikenainya.


Wei berjalan menghampiri jasad Rebecca yang kini telah hidup kembali.


Tubuh Rebecca bangkit dari peti es tersebut dan duduk dengan tatapan kosong.


Wei membangkitkannya dengan kekuatan kegelapan, lalu tubuh itu bergerak dan beranjak dari pembaringannya dan berdiri tegak dihadapan pria yang telah menghidupkannya kembali.


Wei tertawa dengan sangat keras. Ia begitu bangga dengan apa yang diciptakannya saat ini.


"Ikuti perintahku.. Musnakah siapa saja yang mencoba mengahalangi jalanku" Bisik Wei ditelinga Rebecca. Ia memperlihatkan foto Edy dan Lee kepada wanita didepannya.


"Apakah Kau mengerti apa yang menjadi tugasmu?" tanya Wei dengan tegas.


Rebecca menganggukkan kepalanya dengan sangat kaku.


Tatapan tampak kosong dan tak ada perasaan apapun, hanya misi balas dendam yang ada dimatanya, dipenuhi dengan kebencian dan juga ambisi.


"Kalau begitu segera temukan mereka dan habisi dengan segera..!" titah Wei kepada Wanita buatannya itu.


Wanita yang kini menjadi mayat hidup itu menganggukkan kepalanya dengan kaku, lalu melesat dengan cepat menuju sasarannya


Yang ada didalam tujuan wanita itu kini hanyalah sifat membunuhnya, dan apa yang telah dimasukkan oleh Wei sebagai sugesti kepadanya menjadi inti hidupnya.


Rebecca sang mayat hidup melesat membelah kegelapan malam. Ia mencari dua sosok yang kini diperintahkan kepadanya untuk membunuhnya.


Wajah cantik dan rambut pirang yang dulu begitu indah, kini hanya tampak pucat dan juga kaku.


Wanita itu kini menjadi tampak dingin tanpa sepatah katapun, dan Ia memiliki kekuatan yang sangat kuat dan tak terkalahkan.


Disisi lain, Lee terus memacu Bara sembarani dengan kecepatan tinggi. Ditengah perjalanan, Ia bertemu dengan truck counteiner yang berhenti ditengah jalan dan dengan puluhan pemuda yang tampak sedang bertarung melawan para mutan yang ingin membawa mereka kembali ke markas Wei.


Namun para pemuda itu mencoba melawan rasa takut mereka dengan kembali memabalas serangan para mutan dengan memnggunakan pemantik api yang di bekali oleh Edy saat perpisahan tadi.


Sebagian dari mereka ada yang terkena serangan para mutan dengan luka membiru dan akhirnya tewas..


namun tak jarang dari mereka yang juga berhasil mengalahkan para mutan tersebut.


Lee menghentikan langkah Bara dan menarik tali kekangnya, lalu melompat dari punggung Bara dan membantu para pemuda itu untuk mengatasi serangan para mutan tersebut.


Dengan cepat, Ia mengayunkan katananya dan menghabisi para mutan tersebut.


Para pemuda yang masih selamat mengucapkan terimakasih kepada Lee, lalu mereka menceritakan kejadian yang menimpa mereka.


Lalu Lee memberikan arah kemana mereka harus pergi menuju kantor polisi, dan Lee melanjutkan perjalanannya.