
Ketiga pria itu dibawa ke kantor polisi dan yang terkena peluru miliknya sendiri mendapatkan perawatan medis.
Namun karena salah seorang diantaranya adalah adim seorang gangster yang sangat di takuti, maka dengan mudah dilepaskan begitu saja.
Sebuah mobil van hitam anti peluru berhenti didepan kantor polisi dan menjemput ketiga pria yang tampak babak belur tersebut tampak berjalan tertatih dan meringis kesakitan.
Seorang pria bertato dengan menggunakan tuxedo dan berkaca mata hitam sedang menunggu didalam mobil dan Ia menghisap Rokok electriknya yang biasa disebut Vave.
Kedua pria yang babak belur itu masuk dijok belakang, sedangkan yang mengalami lengan terpelintir dan kini sedang dalam perawatan dengan digendong kain berwarna putih untuk menahan lengannya yang terkilir itu duduk bersama pria yang sedang menunggu di jok tengah.
"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Pria bertato yang sedang duduk dijok tengah dengan tenang namun penuh penekanan.
"Seorang gadis" jawab Pria yang meringis menahan sakit dibagian lengannya.
Pria itu tertawa mencibir "Memalukan..!! Hanya seorang wanita saja kalian tidak mampu menghadapinya" ucap Pria itu dengan nada sinis.
Seketika si pria yang terkilir tangannya itu menoleh ke arah pria yang sedang mencibirnya.
"Kak, Kamu tidak tahu siapa gadis itu, Ia memiliki tenaga dan ilmu beladiri yang tangguh" ucap Pria bernama Lukas dengan kesal.
"Setangguh apa Dia, Aku sangat tertarik?!" ucap pria itu datar.
Pria bernama Robert yang memiliki jaringan bisnis gelap dalam persenjataan, obat-obatan terlarang dan nuga penjualan gadis-gadis itu tersenyum sinis dan sangat tertantang mendengar profil sang gadis.
"Cari informasi tentang gadis itu, dan seret Ia kehadapanku" titah Robert kepada seorang bodyguard yang berada duduk didepan jok kemudi.
"Baik, Bos.. Akan kami laksanakan" ucap sang Bodyguard dengan cepat, lalu mobil van berwarna hitam itu meluncur dengan cepat menuju sebuah mansion mewah yang sangat begitu luas.
Visual si Robert.. Kalau mau khayal yang lain juga boleh.
Sementara itu, Edy tampak pucat dengan perutnya yang memulas.
Lalu Asih mengahmpirinya, dan membelai perut Edy dengan lembut, dan seketika rasa mulas itu berhenti.
Edy terperangah dan menatap sang istri " Kenapa tidak dari tadi? Hampir pingsan menahannya" ucap Edy kesal.
"Kan Kamu tidak ada minta diobati" jawab Asih seenaknya.
"Heeem.." jawab Edy lalu menyeruput minuman sodanya, dan seketika Ia memuntahkannya, lalu Asih mengerutkan keningnya "Mengapa dimuntahkan?" tanya Asih bingung.
"Ini minuman bersoda, dan Aku baru saja diare, dan bisa menimbulkan diare lagi" ucap Edy dengan cepat.
Asih menganggukkan kepalanya dan menyeruput minuman cup sodanya.
"Aku ke bawah sebentar untuk mencari air mineral, kamu disini saja dahulu" titah Edy dengan cepat beranjak dari ranjangnya.
Asih menganggukkan kepalanya, lalu menuju ranjangnya dan ingin berbaring diranjang.
Sementara Edy turun kebawah dan menuju keluara hotel, ada sebuah minimarket didepan hotel dan Ia ingin membelinya.
Sesampainya di minimarket, Ia mengambil dua botol air mineral berukuran besar dan beberapa snack ringan lainnya, Ia tahu jika istrinya itu hoby makan, dan Ia mencoba membeli beberapa bungkus, lalu menuju kasir dan membayarnya.
Saat keluar dari minimarket, Ia melihat penjual bunga yang berada didepan minimarket. Edy berniat membeli sekuntum mawar merah untuk Asih, meskipun Ia tahu jika istrinya itu bar-bar, namun setidaknya Edy ingin menunjukkan sikap romantisnya.
Ia memesan satu tangkai mawar itu dan membayarnya. Namun tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat disisinya dan membawa penutup wajah yang sudah diberi obat bius dan membuat Edy tak sadarkan diri lalu membawanya kedalam mobil dan melaju pergi.
Asih tersentak dari tidurnya dan tak menemukan Edy disisinya. Seketika Asih memejamkan kedua matanya, lalu melihat apa yang terjadi pada suaminya "Siaaaall!" maki Asih lalu melompat turun dari ranjangnya.
Asih berlari menuruni anak tangga tanpa menggunakan lift menuju ke depan minimarket.
Ia melihat penjual bunga yang didepan minimarket masih tampak menggigil karena melihat kejadian yang baru saja terjadi.
Asih melihat dua botol air mineral dan juga sekuntum mawar merah yang terjatuh begitu saja dipelataran minimarket.
Asih mengambil mawar merah itu, dan menyelipkan dipinggangnya.
Sementara itu, tubuh Edy diseret ke sebuah ruangan yang sangat luas namun tampak sangat rahasia.
Mereka membuka penutup wajah yang ditutupkan kepada Edy dan memperlihatkannya kepada Seorang pria yang sedang duduk disebuah kursi kebesarannya.
Dengan hanya menggunakan celana jeans tanpa pakain, Ia beranjak bangkit dari kursinya.
"Mengapa pria ini yang kalian bawa? Bukankah Lukas mengatakan jika pelakunya seorang wanita?" Tanya Robert dengan penasaran.
"Menurut rekaman cctv, wanita itu berjalan bersama pria ini menuju hotel, kemungkinan ini adalah teman kencannya" jawab seorang pria berkaos hitam dan bertubuh kekar.
Pria itu tersenyum sinis dan menatap dengan seksama.
"Siram dengan air agar Ia sadar" Titah Robert dengan cepat.
Lalu seorang bodyguard mengganggukkan kepalanya dan mengambil seember air dan menyiramkannya kepada Edy yang masih dalam pengaruh obat bius.
Byuuuuuur..
Suara siraman air itu saat mengguyur Edy yang tergeletak dilantai ruangan.
Edy tersentak dan terbatuk saat merasakan ada air yang masuk kedalam lubang hidungnya.
Edy merasakan sekujur tubuhnya basah dan Ia mencoba mengerjapkan kedua matanya lalu menatap kepada kesekeliling ruangan dan mendapatkan dirinya diruangan yang asing.
Edy memegang kepalanya yang terasa pusing akibat pengaruh obat bius tersebut.
Ia beranjak bangkit dan duduk dilantai dengan melihat ada banyak pria bertubuh kekar sedang mengelilinginya, dan hal itu membuatnya bingung, namun Ia berusaha tetap tenang dan Ia langsung mengerti kondisi saat ini sebab Ia juga mantan anak Mafia.
Robert berjalan menghampirinya, lalu menendangnya hingga terlempar beberapa meter dari tempatnya semula.
Edy meringis menahan sakit dan memegangi perutnya.
Robert menghampirinya dan menodongkan senjata apinya ke kening Edy.
"Hubungi teman perempuanmu, dan katakan padanya untuk datang kemari jika tidak ingin melihatmu terkapar mati mengenaskan ditempat ini" ucap Robert dengan nada ancaman.
Edy mengerutkan keninngnya "Apa kesalahannya? Mengapa Kau mengknginkannya? Sedangkan kami baru saja tiba di negara ini" cecar Edy kepada pria itu.
Robert tersenyum dengan sinis, lalu memperlihatkan layar monitor yang memperlihatkan kejadian di gerai makan cepat saji yang saat tadi mereka masuki.
Edy terperangah melihatnya. Ia tidak menduga jika saat Ia buang air tadi Asih sudah membuat ke onaran dalam sekejap saja.
"Tetapi yang memulainya orangmu?" jawab Edy mencoba membela diri.
Robert tersenyum dengan sinis.
"Adikku hanya ingin bersenang-senang dengannya, dan Ia membuat mereka babak belur" ucap Robert kesal.
"Dan itu sepadan bukan?" jawab Edy mencibir.
Robert mencengkram dagu Edy dengan kuat "Ini negara bebas, dan kami bebas melakukan apapun, termasuk terhadap teman wanitamu" ucap Robert kesal.
Edy menatap tajam "Jika Kau bebas melakukan apapun, maka Kami juga bebas menolak apapun yang kami tidak sukai" jawab Edy dengan penuh penekanan.
"Disini Aku yang berkuasa, dan tidak ada yang bisa membantah!! Cepat hubungi teman wanitamu, atau Kau mati mengenaskan ditempat ini" ucap Robert dengan kasar melepaskan cengkramannya.
"Tidak akan pernah, meskipun Kau membunuhku, Aku tidak akan pernah melibatkannya" jawab Edy dengan penekanan.
Robert menatap sarkas "Heeh.. Seperti apa Ia hingga Kau begitu melindunginya? Aku semakin penasaran dengan sosoknya" ucap Robert sembari menghisap rokok elektriknya.
"Kau juga akan babak belur dibuatnya" jawab Edy.
Seketika Robert tertawa dengan sangat kencang dan tawa penuh ejekan.