Buhul ghaib

Buhul ghaib
Santet Banaspati



Asih berlatih berkuda dimalam hari. Meskipun Dina sudah mengomelinya, namun Ia tetap bersikeras untuk tetap berlatih.


Hingga akhirnya Ia sampai diujung desa. Ia tidak pernah sampai sejauh ini berkeluyuran.


Samar-samar Ia mendengar suara keributan. Warga berlari berhamburan seperti sedang ada bahaya yang mengintai.


Asih memakai cadarnya, lalu menarik tali kekang kudanya dan memacu dengan kencang.


Sesaat Ia menarik kekang kuda hingga menghentikan lari kuda tersebut.


Ia melihat bola Api sedang berputar-putar di atas sebuah rumah warga.


warga yang berhamburan masuk kerumahnya masing-masing, lalu mengunci pintu rumahnya rapat-rapat. Seketika suasana menjadi sunyi dan senyap.


Asih merasakan jika Banaspati sedang dikirim seseorang untuk melakukan santet terhadap korbannya. Dan Asih dapat memastikan, jika yang menjadi sasaran korbannya adalah pemilik rumah yang sedang disatroni banaspati tersebut.


Asih mengambil busur panahnya, membidik Banaspati yang sedang berputar diatas atap rumah warga itu.


Lalu Ia melepaskan anak panah tersebut.


[wuuuush...sssst]


"aaaaaarrrgh"


Anak panah mengenai Banaspati tersebut. Ia mengeluarkan suara lengkingan yang memekakkan telinga.


Banaspati dalam wujud bola api berhenti berputar. Lalu menatap penuh amarah pada Asih.


"dasar kau bocah sialan..!!" teriak sang Banaspati kepada Asih.


Asih menyimpan busur dipunggungnya, lalu mencabut pedang miliknya yang terselip dengan sarung dan berada dipinggangnya.


Ia melompat berdiri diatas kudanya. Bersiap menghadapi lawannya dengan menghunuskan pedangnya melintang didepan dada yang berada sejajar dengan pundaknya


Bola Api berputar dengan cepat, lalu menyerang Asih. Dengan cekatan Asih memutarkan tubuhnya, lalu menebaskan pedangnya pada bola api tersebut.


Para warga yang mengunci dirinya dirumah mengintip pertempuran itu dari balik dinding kayu rumah mereka.


Mereka tidak mengetahui siapa sebenarnya gadis yang menggunakan cadar hitam tersebut. Rambutnya diikat ekor kuda.


Tidak ada satupun warga yang mengenalinya. Kecuali Kasim yang rumahnya menjadi sasaran santet oleh banaspati kiriman tersebut.


Kasim pernah bertemu gadis itu di tengah hutan tempo hari. Namun Ia lupa menanyakan namanya.


Seketika tubuh Kasim merasakan panas yang sangat luar biasa. Ia mencoba bertahan dalam hawa tubuh yang seperti terbakar. Ia terus memanjatkan doa dan berdzikir untuk melawan rasa takutnya.


Kelemahan ilmu santet banaspati Ialah rasa takut.


Semakin takut korbannya, maka semakin mudah bagi banaspati menyerap energi korbannya.


Asih masih terus melakukan penyerangan balasan dari banaspati tersebut. Seketika Ia mengucapkan ta'awudz. Lalu melompat denhan meringankan tubuhnya seolah melayang diudara, lalu menebaskan pedangnya pada banspati tersebut.


Banaspati terpental jauh, lalu menghilang.


Bersamaan dengan itu, warga membuka pintunya. Lalu mereka bersorak dan bertepuk tangan ingin mengucapkan terimakasih kepada Asih. Namun Asih merasa bingung dengan semua itu.


Lamanya hidup dihutan dan goa tanpa pernah berinteraksi dengan dunia luar, membuatnya merasa gugup.


Dengan cepat Ia menarik tali kekang kudanya, lalu pergi kembali ke hutan, Membelah kegelapan malam.


 -------------


Kasim merasakan tubuhnya semakin panas. Lalu tubuhnya ambruk dilantai kayu.


[bruuuuk..]


"paaak.." teriak Lastri saat melihat suaminya ambruk dilantai.


Lastri membukanya, Ia sedang menangis terisak.


Para warga membantu mengangkat tubuh kasim. Dan meletakkannya diatas ranjang.


"sepertinya santet Banaspati itu mengenai Abah Kasim." ucap salah seorang warga yang berada disitu.


"siapa yang tega melakukan ini pada Abah Kasim? Karena Abah orang baik, tidak memiliki musuh." jawab warga yang lainnya.


"Iya.. Siapa yang tega berbuat ini..?" ucap Retno, ibu-ibu tukang gosip didesa itu. Namun Ia tidak tega melihat kondisi Abah yang terlihat sangat mengenaskan.


Para warga merasa iba dengan kondisi abah Kasim yang sangat memprihatinkan.


Lalu seseorang melangkah masuk. Suara derap langkahnya terdengar di anak tangga yang terbuat dari kayu.


Warga menoleh, melihat siapa yang datang. Lalu mereka melihat Abah Salim yang datang.


"Assallammualaikum.." ucap Abah Salim lembut.


"waalaikum salam.." jawab warga bersamaan.


Abah Salim melangkah masuk kedalam rumah. Ia menghampiri Abah Kasim yang terbaring lemah. Ia meletakkan punggung tangannya di kening Abah Kasim. Terasa sangat panas dan suhunya semakin tinggi.


"kita harus segera membawanya berobat." ucap Abah Kasim.


Semua warga saling pandang satu sama lain. Membawa berobat ke luar desa tentu hal yang tidak mungkin dilakukan dimalam hari seperti iji. Selain akses jalan yang terjal, juga banyak bahaya lain yang mengintai, seperti serangan hewan buas dan sebagainya.


"sangat berbahaya jika kita membawanya malam ini ke puskesmas Bah. Karena jaraknya sangat jauh dari desa." jawab seorang warga.


"penyakit Abah Kasim bukan tanganan medis, tetapi Ia harus ditangani oleh orang yang memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi." jawab Abah Salim.


"tetapi kemana kita harus membawanya bah..?" sela seorang warga lainnya.


Abah Salim tampak diam sejenak. "ada seorang wanita muda yang berada di atas puncak bukit, Ia memiliki sebuah Ilmu 'Sabdo' dimana apa yang diucapkannya akan menjadi kenyataan." ucap Abah Salim. Ia menghela nafasnya dengan berat.


"mengapa Abah bisa tau..?" ucap salah seorang dari warga yang penasaran.


Abah Salim menatap para warga yang penasaran dengan ceritanya.


"Saya pernah bertemunya beberap puluh tahun yang lalu. Mungkin sekitar 20 tahun yang lalu" ucapnya.


"haaah..? 20 tahun lalu..? Seperti apa ciri-cirinya Bah..?" cecar Lastri. Entahlah Ia sepertinya merasakan getaran yang sangat dalam tentang cerita Abah Salim.


"Waktu itu saya bertemu dengan seorang wanita muda yang sangat cantik, sepertinya Ia sedang mengandung. Ia menolong saya yang sedang terluka terkena jerat perangkap binatang." Abah Salim menjeda ucapannya.


Ia menarik nafas panjang dan menghelanya. "Wanita muda itu, hanya dengan mengucapkan kata 'sembuh' lalu dengan sangat ajaib, luka saya langsung sembuh" ucap Abah Kasim. Tatapannya menerawang jauh mengenang pertemuannya dengan wanita muda tersebut.


"apa jangan-jangan itu Dina yang hilang sekitar hampir 21 tahun yang lalu..?" sela buk Retno.


Semua mata menatap pada buk Retno. Mereka mulai menerka-nerka apa yang diucapkan buk Reto.


"apakah rambutnya panjang dan lurus Bah..?" ucap Lastri dengan berambisi.


"iya.." jawab Abah Salim singkat.


"Haaah.. Apakah itu Dina..? Tapi mana mungkin Dina memiliki ilmu kanuragan..? Itu hal yang mustahil." ucap Lastri dengan nada lirih.


Buk Retno menghampiri umi Lastri, lalu memeluknya. Kehilangan puteri semata wayangnya membuat umi Lastri belum dapat move on hingga sekarng. Ia masih mengharapkan Dina kembali dengan kondisi selamat.


"yang sabar ya Umi, kalau memang Dina masih rezeki Umi, Insya Allah akan dipertemukan dengan kondisi selamat." ucap Buk Retno memberikan kekuatan.


"besok kita tandu Abah Kasim ke atas bukit. Pilihkan dua belas orang yang berbadan kuat dan sehat untuk betgantian menandu Abah Kasim." pinta Abah Salim kepada warga.


"lalu masing-masing warga menawarkan diri mereka dengan suka rela. Selain berniat untuk menolong Abah Kasim, mereka juga penasaran dengan sosok wanita yang disebutkan oleh Abah Salim.