
Jhony berjalan sembari terhuyung-huyung. Ia terlihat begitu sangat lelah. Sore ini Ia berburu ular sanca untuk dijual kepada pemilik warung yang menyediakan muinuman keras berjenis tuak.
Tuak adalah minuman berakohol hasil dari sari air nira yang berasal dari pohon enau atau aren yang dipermentasi. Biasanya, orang yang meminum minuman berakohol ini selalu ditemani camilan berupa daging hewan yang digoreng bumbu, mereka menyebutnya 'tambul'.
Tambul biasanya terbuat dari berbagai jenis hewan apa saja, yang terpenting bisa dimakan.
Jhony menyeret karung goni dengan bertuliskan berat bersih 50 kg.
Didalam karung itu terdapat seekor ular sanca dengan panjang 3 meter yqng berhasil ditangkapnya.
Hari ini Ia begitu kesorean. Mendung menggantung dilangit sore. Tampak hujan akan turun.
Terdengar suara petir bersahut-sahutan dilangit.
Duuuuuuuaaaarr...
Sebuah kilatan cahaya petir menyambar sebatang pohon yang tak jauh dari tempatnya berteduh.
Tubuh Jhony mendadak menggigil ketakutan.
Seketika rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi. Perlahan semakin deras, memaksa Jhony untuk segera mencari tempat perlindungan yang lebih aman.
Jhony melihat sebuah gubuk reot tak jauh dari tempatnya berdiri.
Jhony berjalan menuju gubuk reot, dengan tertatih dan terseok, Ia menghampiri gubuk tersebut, sembari menyeret karung goni tersebut.
Kreeeeekkk...
Suara derit pintu dibuka..
Jhony membuka pintu gubuk tersebut. Suasana sangat gelap, dan mencekam. Tampak sesekali kilauan cahaya petir menyambar apa saja yang Ia inginkannya.
jhony merasakan jika saat ini indra penciumannya sedang menagkap aroma pembusukan dari suatu daging.
"hueeeeek..." suara tertahan ingin muntah dari Jhony.
Tubuh Jhony terasa menggigil, tenggorokannya terasa mengembang, saat aroma busuk yang begitu menyengat menusuk indra penciumannya.
Jhony tidak dapat melihat apa sebenarnya yang menjadi sumber aroma tersebut.
Sesaat sebuah kilatan cahaya menyambar dilangit.. Tepat pada gubuk reot tersebut. Saat kilatannya berpendar, tampak oleh Jhony seonggok daging tubuh manusia yang telah membusuk dan membiru.
Seketika jhony terperangah, matanya membulat karena ketakutan. Ia tidak menyangka jika Ia menemukan penampakan itu.
Jantungnya memburu. Ia bergegas berbalik arah, untuk segera kabur dan meninggalkan gubuk itu.
Namun siapa sangka, niatnya itu tertahan. Tiba-tiba saja kakinya kaku tak dapat digerakkan.
Jhony merasa kakinya begitu sangat kaku. Jhony merasa kakinya ada yang menahannya agar tidak beranjak dari tempat itu.
Seketika Jhony merasakan tubuhnya gemetar. Rasa takut yang teramat luar biasa membuatnya serasa hampir tak sadarkan diri.
Jhony, pemuda berusia 25 tahun itu menatap penuh kengerian, itu terlihat jelas disorot matanya.
Derasnya hujan, membuat sebagian air masuk kedalam gubuk itu.
Lantai semakin tergenang air. Aroma tak sedap yang berasal dari pembusukan daging manusia itu semakin menyengat.
Sambaran dari kilatan cahaya petir yang bersahut-sahutan, membuat suasana semakin mencekam.
Saat itu, ada sebuah benda bergerak, lalu berdiri tegak dan menghadap kepada Jhony.
Benda berbentuk tongkat dan kepala tengkorak itu tampak mengeluarkan chaya berwarna jingga dari kedua rongga matanya.
Cahaya tersebut membuat ruangan gubuk itu seketika menjadi terang.
Jhony yang menyaksikan hal itu, seketika menggigil tubuhnya, karena baru kali ini Ia mengalami hal yang sangat menakutkan dan terjadi langsung dihadapannya.
Tongkat berkepala tengkorak itu berjalan mendekati Jhony. Tongkat berkepala tengkorak itu tampak sangat begitu bersemangat untuk menghampiri Jhony.
Tongkat itu berkeliling mengitari tubuh Jhony yang berdiri terpaku.
Lalu tongkat itu berdiri tepat dihadapan Jhony. Matanya yang memancarkan cahaya jingga itu, seketika menatap Jhony dengan sarkas. Lalu cahaya itu menyerap masuk kedalam tubuh pemuda yang saat ini dilanda kengerian.
Seketika Jhony merasakan tubuhnya terasa amat panas dan sakit. Proses penyatuan tubuh itu berjalan dengan sangat cepat.
Tanpa terduga, Jhony seketika limbung dan tak sadarkan diri. Tubuhnya tersungkur kelantai tanah yang tergenang air hujan.
Sari tubuh dari jasad yang membusuk itu seketika menghampirinya melalui genangan air yang berada dilantai dan masuk kedalam pori-pori kulitnya.
Penyatuan yang sempurnah. Setelah beberapa lama, Jhony mengerjapkan kedua matanya. Tubuhnya yang basah dan berbau tak sedap, seketika bergerak perlahan, dan berusaha untuk bangkit.
Dengan sekejap mata, Ia sudah berdiri tegak, lalu berjalan menghampiri tongkat yang tergelatak dilantai tanah berair itu.
Jhony memungut karung berisi ular sanca tersebut dan membawanya pulang untuk dijual kepada penjual tuak tersebut.
Saat Jhony keluar dari gubuk tersebut, hari sudah sangat larut. Pemuda yang semula tadi mengalami kelelahan, dan membawa karung itu dengan tertatih, namun berbeda dengan saat ini. Dimana Ia dengan begitu mudahnya memanggul karung berisi ular sanca seberat 30 kg itu.
Pemuda yang kini bukan lagi dirinya, berjalan menuju warung remang-remang dipinggiran desa.
Ia menjumpai pemilik warung itu untuk menjual hasil buruannya.
Tampak warung itu sudah sangat ramai dipenuhi oleh para pemabuk dan beberapa wanita penghibur.
Alunan musik yang sangat begitu keras, membuat kesan hingar bingar kehidupan malam yang begitu kelam.
Jhony berjalan dengan santai membawanya masuk kedalam warung tersebut. Tubuhnya yang kotor dan sangat bau, membuat para pelanggan yang sedang asyik minum merasa sangat terganggu dengan kondisi Jhony yang begitu menjijikkan.
Rambut dan tubuhnya penuh lumpur, dan sangat berantakan.
"Hey Jhon.. Mengapa kau begitu sangat lama.? Para pelangganku sudah hampir selesai untuk minum, dan kau baru datang." ucapnya dengan sedikit kesal.
"Aku kemalaman dan kehujanan." jawab Jhony datar.
"Dapat buruan apa kau malam ini..?" tanya pemilik warung.
"Aku dapat Ular sanca Lae.. Sangat besar, coba kau periksa.." ucapnya dengan datar.
Togar memandang tubuh Jhony yang tampak sangat kacau.
"Mengapa kau begitu sangat kotor dan bau..?" cecar Togar, sembari menutup hidungnya, lalu memeriksa isi karung goni yang dibawa oleh Jhony.
Saat Ia membuka isi karung tersebut, tampak olehnya seekor ular yang sangat besar sedang melingkar didalam karung.
"Wah..lumayan juga tangkapan malam ini, tak sia-sia kau kemalaman." ucap Togar dengan sumringah.
"Cepat berikan bayarannya, aku ingkn segera pulang.." ujar Jhony dengan nada dingin.
Togar beranjak ke laci kasnya, lalu mengambil sejumlah uang sebesar 300 rb rupiah.
"Ini bayaranmu.. Hanya bisa kuhargai segini.." ucap Togar dengan licik.
"jangan menipuku, berikan tambahannya, atau kuhancurkan kepalamu.." ucap Jhony dengan nada santai namun penuh ancaman.
Seketika Togar merasa bergidik mendengar nada ucapan Jhony yang tak biasa. Karena selama ini, jika Ia memberikan seberapapun hasil tangkapannya, maka Jhony akan menerimanya.
Togar yang merasakan nada ucapan Jhony tidak main-main, maka Ia dengan segera mengambil tambahan uang 100 rb rupiah lagi, lalu menyerahkannya kepada Jhony.
Lalu Jhony beranjak pergi meninggalkan warung tersebut, dengan membawa uang hasil penjualan ular sanca dan tongkat tengkorak yang ditemukannya di dalam gubuk reot tersebut.
Dengan santai Ia m