Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 228



Edy dan Lee mencari sebatang pohon yang rimbun dan akan dijadikan tempat mereka bermalam.


Bara sembrani berlari menuju kearah sebatang pohon yang berada dibalik bebatuan.


Lalu keduanya turun dari punggung Bara. "Pohon ini terlalu kecil, mungkin sebaiknya kita beristirahat dibalik bebatuan ini saja" ucap Edy kepada Lee.


Lalu Edy mencari tempat yang nyaman untuk dijadikan tempat untuk beristirahat.


Ia membaringkan tubuhnya diatas bebatuan, dan mulai menejamkan matanya, sedangkan Lee masih mencari bebatuan yang tampak bongkahan batu besar tak jauh dari Edy, lalu Ia juga membaringkan tubuhnya diatas bongkahan batu tersebut.


Tampak Edy sudah terlelap, sedangkan Ia masih terjaga.


Lee melirik ke arah Edy yang mulai mendengkur. Ia memandang wajah tampan itu yang tampak nafasnya naik turun karena mungkin juga kelelahan.


Lee menghela nafasnya dengan sangat berat. Ia masih mengingat jelas bagaimana saat Ia berlari saat Asih merubah wujudnya menjadi wanita setengah siluman.


Sebagai manusia normal, tentu Ia sangat kaget saat melihat Wanita yang dicintainya dalam wujud seperti itu. Namun rasa cinta itu menyadarkannya, saat sang wanita memilih untuk yang lain.


Lee perlahan merasa sangat mengantuk. Ia memejamkan matanya dan mulai terlelap.


*****


Malam begitu kelam. Kegelapan kian mencekam dan udara dingin kian merasuk ke tulang.


kelebatan bayangan bergerak cepat bagaikan cahaya.


Bara meringkik dengan sangat keras, seolah hendak memberitahu jika bahaya sedang mengintai.


Kelebatan bayangan itu terus bergerak, dan satu hunusan katana siap menghujam, dan..


Kraaaaash..


Ujung anak panah menusuk kepala mutan yang menembus hingga kebelakang saat sebelum ujung katana tersebut menghujam jantung Edy.


Seketika Mutan itu hancur menjadi serpihan-serpihan daging hangus.


Kelemahan Mutan itu terletak pada kepalanya, maka jika ingin memusnahkannya adalah menyasar bagian kepalanya..


Edy melompat lalu bersembunyi dibalik bebatuan dan Lee masih tertidur dengan pulasnya.


Sesaat tampak kelebatan bayangan itu semakin mendekat dan jumlahnya semakin banyak.


Lalu Edy mengambil busur dan anak panahnya, lalu membidik mutan tersebut yang menyasar pada kepalanya.


Maka beberapa mutan itu hancur dan menjadi serpihan.


Edy terus membidikkan anak panah dan melumpuhkan mutan--mutan lainnya.


Hingga salah satu mutan menghampiri Lee yang sedang tertidur lelap dan siap menghunuskan pedangnya, Edy segera melepaskan anak panahnya dan tampak mutan itu kembali hancur menjadi serpihan.


Lee tersentak saat Bara meringkik dan mengenduskan moncongnya ke wajah Lee.


Ia membolakan matanya saat melihat mutan sudah berdiri didepannya.


Dengan cepat Lee meraih katananya dan menghujamkan kepala mutan tersebut hingga hancur.


Lee melompat dengan tubuh yang masih sempoyongan dan nyawa yang masih belum kumpul, Ia melihat dengan pandangan samar mutan-mutan itu berkelebatan dengan cepat dan menuju ke arahnya.


Sementara itu, Ia melihat Edy sedang bertarung melawan mutan lainnya, hingga sebuah goresan ujung katana dilengannya menyadarkannya dari rasa kantuk yang masih menderanya.


Ia tersentak, dan melihat goresan itu sudah mengenai lengannya yang membuat rembesan darah mengalir dengan cepat. Lalu sebuah tendangan membuatnya tersungkur dan memaksanya untuk berkonsentrasi.


Lee mencoba mengumpulkan nyawanya yang masih belum stabil, dan dengan sempoyongan mencoba menangkis serangan lawannya.


Bara segera datang membantu dan menendang setiap mutan itu mencoba melukai Lee. Lalu pria berusaha bangkit dan membalas serangan hinhha akhirnya para mutan itu hancur dan musnah.


Lee tersengal dan mencoba untuk berbaring diatas tanah tandus tersebut.


Edy menghampirinya, lalu meraih tubuh Lee dan kembali membawanya ke atas bongkahan batu besar.


"Mengapa mereka dapat menemukan kita?" tanya Lee penasaran.


"Karena sepertiga batu mirah delima itu ada didalam tubuhku, maka mereka bisa melacak dan mendeteksi keberadaan kita. Energi yang berasal dari batu mustika itu membuat mereka dengan mudah menemukan kita" ucap Edy sembari memeriksa beberapa luka ditubuh Lee.


Ia merogoh kantong sakunya, ada sebuah ramuan dalam sebuah botol kecil pemberian Asih yang berguna untuk mengobati luka dan menyembuhkannya.


Edy lalu mengoleskan ramuan tersebut pada luka Lee dan dalam sekejab saja luka itu sembuh dan tak meninggalkan bekas.


Lalu Edy menyimpan sisa ramuan tersebut.


"Mengapa Pasukan Wei bisa berubah menjadi makhluk seperti itu?"


"Wei menciptakannya dari batu mustika blue diamond yang kini telah disusupi kekuatan kegelapan, maka dari itu kita harus dapat merebutnya kembali, sebelum Wei menciptakan lebih banyak lagi mutan" jawab Edy dengan tenang.


Lee menatap nanar lurus kedepan.


Lee masih penasaran mengapa Asih belum juga datang, dan apakah Ia mengalami hambatan saat akan mendapatkan ramuan yang kini sedang dicarinya.


"Apakah Kau tulus mencintainya?" tanya Lee kepada Edy.


Pria itu menoleh kepada Lee, lalu menyunggingkan senyum tipis. Ia menghela nafasnya dengan berat.


"Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat itu aku melihatnya ditepi hutan dengan mengendarai Bara Sembrani. Aku hanya melihatnya sekilas, namun keanggunannya mampu mengalihkan duniaku" jawab Edy mengingat kisah pertemuannya dengan Asih.


"Lalu mengapa Asih sampai ke kota dan mencari Bara? Apakah kau menculik Kudanya?" tanya Lee dengan penasaran.


Edy menatap langit kelam, dengan sejumlah jawaban yang tersimpan didalam benaknya.


"Orang-orangku yang menculiknya, maka dari itu Ia menyusul kuda miliknya.." Edy menjelaskan.


"Namun karena nal itu juga, akhirnya kami bertemu kembali, dan aku mengikutinya kembali ke hutan" Edy kembali melanjutkan ucapannya.


Lee mengerutkan keningnya "Maksudmu? Kau pernah sampai ke rumahnya, dihutan?" tanya Lee dengan cepat.


"Ya.. Tapi bukan rumah, melainkan sebuah goa sebagai tempat tinggal Ia dan keluarganya.." jawab Edy.


Lee membolakan matanya "Maksudmu? Asih manusia Goa?" tanya Lee penasaran.


"Ya.. Anak goa yang hidup dialam liar" jawab Edy menjelaskan.


"Apa reaksimu saat melihatnya dalam rupa seperti itu? Maksudku apakah kau melihatnya seacara sengaja atau sebalik?" cecar Lee.


"Aku melihatnya tanpa sengaja" jawab Edy " saat itu aku terkejut, dan hal itu adalah wajar. Aku mencoba kabur, namun aku kembali lagi, sebab rasa cintaku lebih kuat dibanding rasa takutku" jawab Edy.


Lee terdiam. Sebab Ia waktu itu memilih lari dan gak kembali, sehingga membuat Asih merasa kecewa kepadanya.


Namun semua sesalan yang kini Ia hadapi tidak lagi dapat merubah apapun, Asih telah menikah dengan Edy, dan itu tidak dapat lagi diubah.


"Apakah Kau masih mencintainya?" tanya Esy penuh selidik.


"Ya.. Hingga sekarang dan juga nanti.. Namun Aku bukan pecundang yang merebut milik orang lain yang sudah memilki ikatan. Biarlah rasa ini tersimpan didalam hatiku, hingga suatu saat nanti aku menyadari, jika cinta itu tak selamanya untuk saling memilki" jawab Lee dengan sejujurnya, meskipun jauh dilubuk hatinya Ia belum rela untuk melepaskan, namun mencoba merelakan.


.