
Wei mendengar berita terbakarnya pabrik serumnya membuatnya penuh amarah.
"Breeengsekk..!!" temukan dua pecundang itu..!!" maki Wei dengan kesal dan amarah penuh kekesalan.
Wei tak menyangka jika apa yang telah dibangunnya dan kemenangan sudah berada didepan mata harus hancur begitu saja oleh kedua orang tersebut.
"Cincang mereka, dan bawa kehadapanku..!!" titah Wei dengan penuh amarah.
Para bodyguard dan juga mutan tersebut menganggukkan kepalanya.
Sementara itu, Edy dan Lee menuju sepeda motor yang mereka tinggalkan diantara pepohonan dan bebatuan.
Keduanya kembali menaiki motor tersebut, menuju markas tempat keberadaan Wei.
Motor melaju kencang dan tampak diudara seperti asap hitam yang menegepul sedang menuju ke arah mereka.
"Siaaall..!! Itu mutan yang dikirim oleh Wei" maki Edy saat melihat diudara tampak seperti kepulan asap yang membumbung dan mengarah kepada mereka "Itu para mutan. Sepertinya Wei menyadari jika pabrik serumnya telah terbakar" ucap Edy dengan kesal.
Edy meraih senjata api yang berada dipinggang Lee dan mencoba menembakkan peluru ke arah gerombolan mutan tersebut.
Sementara itu, pasukan Robert juga mengejar mereka dan keduanya seperti sedang dikepung dari arah depan dan juga belakang.
"Sebaiknya kita harus membuat jebakan" ucap Edy.
"Maksudmu?" tanya Lee yang masih terus memacu laju kendaraannya.
"Buat kecepatan tinggi, dan jika jarak kita dengan mutan itu hampir dekat, maka kamu harus berbelok kesimpang jalan sebelah kiri, maka para mutan itu akan berbenturan dengan pasukan Robert" titah Edy.
Dengan cepat Lee menganggukkan kepalanya dan Ia memacu laju kendaraannya dengan sangat cepat dan tak mutan yang yang menuju ke arah mereka sudah semakin dekat.
Lee harus dapat memacu lebih cepat agar dapat mencapai simpang dikatakan oleh Esy, sementata pasukan Robert sudah menghujani mereka dengan peluru dan semakin mendekat.
Keduanya meliuk-liuk diatas jalan aspal untuk menghindari serangan peluru dari tembakan para pasukan Robert yang merasa kesal karena keduanya telah menghanguskan pabrik tersebut.
Dengan cepat Lee berbelok kesimpang sisi kiri dan akhirnya pasukan mutan dan juga pasukan Robert saling berbenturan dan saling serang, sementara Lee dan Edy melaju kencang meninggalkan tempat tersebut.
Pasukan Robert banyak yang terkena gigitan dan juga serangan dari para mutan tersebut. terdengar suara jeritan dan juga letusan senjata api yang menggema diudara.
Sementara itu, Edy dan juga Lee sudah melaju kencang menuju ke arah lokasi markas tempat persembunyian Wei untuk mencari batu mustika tersebut.
Ditengah perjalanan. Keduanya kehabisan bahan bakar, dan membuat mereka harus menghentikan sepeda motor mereka.
Jalanan sepi dan tidak ada penjual bahan bakar, sebab jauh dari keramaian dan yang ada hanya padang tandus sepanjang jalan jauh memandang.
Panas menyengat dan udara yang begitu membuat keduanya harus menahan haus yang sangat teramat.
Tidak ada tampak kendaraan yang melintas. Keduanya tampak hampir dehidrasi karena kekurangan air.
Mereka terus berjalan menyusuri jalanan yang penuh kegersangan.
Tampak fatamorgana dikejauhan dengan bayangan air didepan mereka, namun hanya semu dan membuatnya harus berhenti sejenak dibawah panas teriknya mentari.
Tampak sebuah truck melintas, dan keduanya seperti mendapatkan harapan.
Pengemudi yang seorang diri itu melihat keduanya tampak meminta bantuan.
Lalu Ia menghentikan kendaraannya dan memberikan tumpangan kepada kedua pria yang sudah tampak sangat kacau tersebut.
Mereka menaiki truck dan tersandar dijok mobil dengan kelelahan.
Sopir itu memberikan satu botol air minum kepada keduanya, dan dengan cepat Lee menyambar botol air mineral tersebut lalu meneguknya dan dengan cepat, dan menyisakan setengahnya kepada Edy.
Sesaat sopir itu melirik kepada Edy yang tampak menyimpan sebuah pedang dan busur panah dipunggungnya, sedangkan Lee tanpa sengaja sang sopir melihat senjata api yang menyembul dari balik saku celananya.
Sopir itu merasa bergidik, namun Ia mencoba tenang dan tidak ingin melakukan hal yang Ia rasa akan membahayakan dirinya.
Setelah jauh mengemudi, tampak dikejauhan kepulan debu yang membumbung tinggi yang berasal dari sebuah mobil yang mengejar truck mereka.
Edy melihat hal tersebut melalui kaca spion truck. Ia menghela nafasnya, lalu mengeluarkan busurnya beserta anak panahnya.
Sang sopir terus melirik apa yang dilakukan oleh Edy. Lalu Edy mengambil bom molotov dan menarik sumbunya, lalu meletakkan diujung anak panah tersebut.
Setelah selesai, Ia menyembulkan kepalanya sedikit dari pintu truck, lalu membidik mobil yang sedang mengejar mereka dan dengan cepat melepaskan anak panahnya yang melesat kencang dan menuju tepat kedepan kaca mobil, dan...
Boooooommm..
Suara ledakan berasal dari mobil yang membuntuti mereka. Lalu tanpa diduga, dua mobil yang berada dibelakang yang merupakan rekan mereka menabrak mobil didepan yang sudah meledak dan terbakar, dan menyusul lagi satu mobil dibelakangnya dan suara ledakan beruntun menggema dan memenuhi jalanan.
Sementara itu sopir tersebut tampak bergidik ketakutan.
"Tolong terus mengemudi, aku tidak akan meluakimu, dan kami hanya ingin tumpangan saja, namun jika Kau melakukan hal lain, maka jangan salahkan aku jika membunuhmu" ancam Edy.
Lalu Sopir itu hanya dapat menganggukkan kepalanya.
Lee tampaknya kelelahan dan tertidur. Sementara Edy masih tetap berjaga, sebab bahaya akan datang kapan saja. Namun Ia masih menguasai dirinya sebab Ia memiliki sepertiga permata didadanya yang membuatnya sedikit jauh lebih bertahan dibanding Lee.
Truck counteiner terus melaju membelah jalanan bersebu nan gersang yang mana udara saat ini sangat terik dan membuat dehidrasi.
Setelah melakukan perjalanan panjang, akhirnya sopir truck menemukan sebuah minimarket, Ia menepikan trucknya dan memasuki minimarket. Ia kembali membeli minuman mineral dan juga beberapa roti.
Lalu setelahnya Ia kembali kedalam truck, lalu memberikan botol air mineral dan juga beberapa bungkus roti kepada Lee ada Edy.
Tampaknya sopir itu merasa kasihan melihat keduanya yang tampak kelaparan dan juga kehausan.
Sopir itu kembali turun dari truck, mengisi bahan bakar untuk melanjutkan perjalanan. Ia salah satu orang yang tidak terkena dampak dari wabah yang merebak dan kini sedang dalam masa kritis.
sopir itu masih fokus dengan mengisi bahan bakar tersebut, lalu Edy tampak melihat sesuatu benda melayang diudara dan seperti senjata tajam dengan sebuah pengikat dari rantai besi yang melesat dengan cepat menyasar leher sang sopir.
Edy dengan cepat membuka pintu mobil dan melesat keluar menggunakan katananya dan menangkis alat tersebut menggunakan katana dan melilitkan rantai besi tersebut ke katananya.
Sopir itu terperangah dan membolakan matanya, sebab hampir saja Ia kehilangan lehernya jika Edy tak cepat menyelematkannya.
Satu sosok pria berpakaian ninja menyeringai dihadapannya dan menarik senjatanya yang terbelit di katana milik Edy.