Buhul ghaib

Buhul ghaib
Serangan Para Ninja



"Bagaimana.? Apakah kita bisa ke markas sekarang..? Disana aku dan beberapa orang akan melatihmu." Tawar Lee kepada Asih.


Asih memandang langit yang sudah tampak sangat gelap. Kepekatan malam semakin lama kian merangkak, hingga mereka tak lagi dapat melihat dengan jelas objek yang didepannya.


Asih menatap pada Lee. "Apa..kamu akan melatihku..? Bukannya menghadapi Banaspati saja kamu sudah menciut..?!" Cibir Lee yang seketika membuat  kupingnya serasa panas.


"Heii.. kau meremekan kemampuanku ya.?!" Ucap Lee merasa direndahkan.


"Siapa yang bilang.. aku tidak katakan itu.." jawab Asih mengelak.


"Tadi kau mengatakan nyaliku menciut dalam menghadapi Banaspati..?" Lee mengulang ucapan Asih yang membuatnya sangat kesal.


"Itu hanya perasaanmu saja, namun memang kenyataannya.." jawab Asih, lalu beranjak bangkit dan hendak melangkah.


Lee ikut beranjak bangkit. Ia sudah tidak tahan lagi dengan segala ocehan gadis yang sudah membuatnya hampir gila.  Kata-kata Asih sudah merendahkannya sebagai seorang pria.


lalu dengan kesal menarik pergelangan tangan Asih, dan membuat gadis tak sempat menghindar.


Asih tak mampu menyeimbangkan keseimbangannya, dan membuat Lee mengambil kesempatan untuk mendekapnya kuat. 


Pemuda itu mengunci pinggang ramping sang gadis, lalu menekan kepalanya dengan  sebelah tangan satunya, dengan gerakan cepat Ia  menyesap bibir Asih dengan liar, hingga membuat gadis itu kesulitan bernafas.


Gemuruh didada Asih terdengar begitu menderu. Entah itu perasaan senang atau amarah, namun terdengar jelas degubannya didada Lee.


Diluar dugaan, dengan cepat Asih memberikan pukulan tepat ditulang rusuk Lee.


"Aaaaaaaargh.." pemuda itu mengerang kesakitan, lalu melepaskan sesapannya.


Asih yang berhasil meloloskan diri dari dekapan Lee mencoba menghindar, lalu mengacungkan tinjunya ke arah wajah Lee, sebagai bentuk ancaman jika sekali lagi pemuda berani melakukannya.


Entah merasa senang atau apa karena berhasil mengerjai gadis konyol itu, Lee hanya tersenyum geli melihat tingkah Asih yang dirasanya cukup membuat puas dengan membalaskan dendamnya atas ucapan Asih barusan.


"Coba saja kau sekali lagi berani merendahkanku, akan kubuat kau merengek memintanya padaku dengan suka rela." Ancam Lee kepada Asih dalam hatinya.


Baru saja Ia menggertu dalam hatinya, Asih menghentikan langkahnya yang sudah berjarak 5 meter darinya, lalu menoleh padanya, menatap tajam padanya dalam kegelapan malam. 


Lee kembali bergidik dengang tatapan itu, lalu berusaha tersenyum nyengir, dan mengkatupkan kedua tangannya di depan dada, pertanda Ia menyerah.


Lalu Lee mengekori Asih berjalan menembus semak belukar, mencari jalan keluar untuk sampai keperkampungan.


Lee mencoba mengejar Asih, Ia mensejajarkan langkahnya mengikuti gadis penuh misterius itu.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, Lee merasa sedikit lelah. "Heei. Perlambatlah sedikit jalanmu, aku mulai lelah. Kita harus mencari makanan untuk menambah energi kita." Lee menyarankan.


Meskipun merasa kesal atas perbuatan Lee saat tadi, namun Asih juga tidak tega melihat Pemuda yang dianggapnya lemah itu kelelahan.


"Heeh.. Dasar lemah..! Baru saja berapa jam berjalan sudah mengeluh." sindir Asih dengan cibiran.


"A..Apa..? Kau bilang aku lemah..?! Dasar Kau..!!" Lee menggeretakkan giginya, mencoba menahan emosinya.


"Oh..Tuhan.. Sungguh menyebalkan sekali dirimu..!" gerutu Lee.


"Oh..Ya.. Kalau begitu menjauh saja dariku..! Mengapa mengekori terus..!" jawab Asih dengan santai.


Huuuuuh...


Lee mendenguskan nafasnya dengan kasar. Jika saja gadis itu tak memiliki kemampuan bela diri, mungkin entah apa yang sudah dilakukannya pada sang gadis, baru dicium saja sudah mendapatkan bogem mentah, apalagi lebih, bisa remuk redam tubuh Lee dibuatnya.


"Kamu hanya belum tahu saja jika aku memiliki sebuah senjata yang dapat melemahkanmu. Senjata itu dapat membuatmu tidak bisa tidur siang dan malam.." Ucap Lee mulai oleng dengan akalnya.


Asih memandangnya dengan mencibir. "Oh ya.. Senjata apakah itu..? Selama ini aku aku hanya melihat pistol softgan milikmu, tidak ada yang lain." ucap Asih dengan nada mengejek.


Asih menatap dengan cibiran, dan menyunggingkan senyum sinisnya. "Bilang saja kamu tidak memilikinya.." ucap Asih dengan santai.


Saat Lee ingin mendampratnya dengan omelan, Asih mencegahnya dengan meletakkan jemari telunjukknya dibibir Lee."Sssssst..diamlah.!"


lalu Asih memejamkan matanya, dan mencoba berkonsentrasi. Sesaat membuka matanya, dan menatap pada Lee, namun setelahnya Asih melihat sekitarnya, memanfaat cahaya rembulan, Ia melihat pohon prepat yang lumayan tinggi dan bisa digunakan tempat menginap malam ini.


"Naiklah kepohon itu, aku akan berburu ayam hutan untuk menu makan malam  ini" titah Asih kepada Lee.


Lee melongo, Ia merasa jika seharusnya Ia berburu untuk makan malam mereka, bukan Asih, ini sudah pelecehan namanya.


"Kali jangan membantahku..!" pinta Asih. Dan belum sempat Lee berbicara, Asih sudah berlari menghilang dengan cepat begitu saja.


"Haah.. kemana Ia menghilang.? Mengapa sikapnya begitu aneh..? Seperti seorang jelmaan jin saja dia, bisa menghilang dengan cepat." Gerutu Lee, lalu memilih untuk naik ke dahan pohon yang dikatakan Asih.


Setelah diatas dahan pohon yang lumayan tinggi, akhirnya Lee mencoba menyandarkan tubuhnya dibatang pohon, lalu mengamati pergerakan Asih. Dan bersamaan saat itu, satu titik signal masuk ke phonselnya, dan masuk sebuah pesan rahasia dari seseorang.


Lee membaca isi pesan itu dengan seksama, lalu mencoba membalasnya, dan kembali menyimpan phonselnya.


Bersamaan dengan itu, tampak beberapa kelebatan bayangan berseliweran dibawahnya tempat ia bertengger.


Lee memperkirakan jumlah bayangan itu sekitar 6 orang. 


Kelebatan bayangan itu memakai penutup wajah, dan mengenakan pakaian para Ninja.


"Pembunuh bayaran..?! Siaall.. dimana Asih? mereka pasti mengincar Asih untuk mendapatkan batu permata yang tergantung dileher gadis itu.!" Lee menerka-nerka dugaannya.


"Asih.. dimana kamu baby..? Ini sangat berbahaya, mereka pembunuh bayaran dan memiiliki kekuatan luar biasa.".Lee mengkhawatirkan Asih. Ia mencoba mengedarkan pandangan kearah sekelilingnya.


Namun belum sempat Ia menemukan bayangan Asih, Ia merasakan seseorang memanjat pohon yang menjadi tempatnya berlindung.


Dan..


Wuuuuuussssh.... Ssst..


Suara anak panah melesat dengan cepat mengenai seseorang yang sedang berusaha memanjat..


Aaaaargghh...


Suara lengkingan kesakitan seseorang yang sedang terluka, lalu..


Buuuugh...


Suara benda terjatuh diantara sesemakan, dan Lee yakin itu adalah suara orang yang ingin memanjat tadi.


Lalu terdengar dibawah suara desingan dan dentingan benda tajam yang saling beradu.


"Asih.. Itukah Ia.." Lee mengintai dari atas pohon, lalu mencoba memeriksanya dengan pandangan yang terhalang kegelapan.


Sesaat Ia mengenali tubuh ramping gadis itu yang sedang berjuang melawan ke lima rekan ninja yang sudah terkapar ditanah tersebut.


Lee berusaha turun, dan mencari keberadaaan tubuh ninja yang sudah terluka itu.


Dalam kondisi yang sangat sulit, Ia tidak sengaja menginjak tubuh seseorang, dan Ia memastikan itu adalah tubuh sang ninja.


Lee mendekati tubuh ninja yang sudah sekarat itu, mengambil pedangnya sebagai senjata untuk membantu Asih melawan ke 5 ninja yang masih tersisa.


Bersambung..