Buhul ghaib

Buhul ghaib
Draft



Hari beranjak senja, safak berwarna jingga menggantung dilangit senja.


Chakra sampai dipinggiran kota. Mobil pick up yang membawanya telah sampai. Sopir meminta Chakra untuk turun, karena mereka melakukan perjalanan berbeda arahnuntuk melakukan bongkar muat barang ditempat pengepul barang dagangan mereka.


"maaf, dik.. Kami hanya sampai disini saja. Kami tidak sampai ke pusat kota." ucap sopir tersebut.


lalu Chakra turun dari bak mobil dan menuju jalanan. Ia clingukan kesana kemari. Ia bingung dengan ramainya orang yang berlalu lalang.


Chakra melihat setiap apa yang dilakukan oleh orang-orang dan mengingatnya.


"perutku sangat lapar. Aku harus makan apa? Dan cari dimana?" Chakra berguman dalam hatinya. Ia melihat sebuah kerumunan disebuah gerobak dorong. "sepertinya itu tempat makanan. Soalnya tadi siang sopir itu membawaku singgah makan ditempat sepeerti itu." Chakra berguman lirih dalam hatinya.


Ia kebingungan untuk menyeberang jalan. Dimana banyak kendaraan yang bersiliweran tanpa henti. Lalu Ia melihat seorang wanita akan menyeberang. Ia mencoba mendekati orang tersebut. Lalu mengikutinya dari arah belakang.


Wanita itu merasa ketakutan karena diikuti orang berpenampilan aneh seperti Chakra. terlihat dari cara penampilannya, jika Chakra adalah orang yang berasal dari pedalaman dan terlihat sangat kampungan.


Wanita yang di ikuti oleh chakra itu merasa risih dan bergidik, lalu buru-buru menghindari Chakra.


Setelah sampai diseberang jalan. Chakra mencoba memperhatikan apa yang dilakukan oleh orang-orang tersebut. Dari mulai membeli makanan, uang yang diberikan, dan jumlah kembaliannya. Semua hal itu Ia rekam dalam memorynya.


Lalu Ia juga mencoba membeli satu porsi makanan. Ia membayar dengan selembaran uang 20 ribuan. Lalu Pedagang itu memberikan kembaliannya. Ia melihat jika kembaliannya berbeda dengan para pembeli lain. " kenapa uangnya berbeda pak..?" tanya nya penasaran.


"iya.. Sengaja saya lebihkan, saya tau kamu datang kemari merantau. Mungkin nanti uang itu kamu butuhkan diperjalanan, jadi saya beri harga lebih murah kepada kamu" ucap Pedagang itu tulus.


"wah..terima kasih pak. Suatu saat saya balas kebaikan bapak. " ucap Chakra, sembari melangkah pergi.


"hati-hati dijalan mas, disini rawan tindak kejahatan." pedagang itu mengingatkan.


Chakra menganggukkan kepalanya.


hampir memasuki waktu maghrib. Chakra duduk dtrotoar, dan membuka makanannya. "hei...teman kecil.. Ayo keluarlah.. Kita makan dulu, pasti kamu laparkan.?" Ucap Chakra sembari mengeluarkan Arini dari dalam tas sandangnya.


Binatang imut nan menggemaskan itu keluar dari tas sandang milik Chakra.


Chakra membagi makanaannya dengan hewan lucu menggemaskan itu.


Kelinci imut itu makan dengan sangat lahabnya. Ia juga merasa sangat lapar. "emm.. Air minumnya hanya sedikit, kita bagi dua saja ya.." ucap Chakra kepada Kelinci tersebut, lalu memberikannya minum dari kantong plastik transparan.


Sayup-sayup terdengar suara adzan berkumandang. Chakra mencoba mencari sumber suara tersebut. Setelah berjalan beberapa ratus meter, akhirnya Ia menemukan bangunan mesjid. Lalu Ia menghampirinya. Karena terlihatt banyak orang yang berdatangan dan akan melaksanakan shalat maghrib.


Setelah selesai dengan shalat berjamaahnya, Chakra kembali menyusuri jalanan. Ia bingung harus tidur dimana malam ini.


"aku sangat lelah, dimana aku hatus tidur..?" Chakra berguman lirih, lalo mencari tempat berteduh. Ia melihat sebuah lorong sempit, Ia memasukinya. Lorong itu begitu sunyi dan sepi. Chakra melihat ada tumpukan kardus disana. Ia sudah sangat lelah dan ingin beristirahat.


Chakra merebahkan tubuhnya, diatas tumpukan kardus itu. Menarik lembaran kardus lainnya untuk sebagai selimut penutup tubuhnya. rasa dingin menusuk tulangnya. Ia memejamkan matanya dan terlelap. Hewan mungil itu juga ikut meringkuk di dekapannya.


Saat pertengahan malam. Chakra seperti mendengar suara orang yang sangat berisik disekitar lorong. Seperti suara seorang wanita yang merintih memintah tolong.


Beberapa pria bertubuh kekar sedang menyeret tubuh seorang gadis yang cantik rupawan masuk kedalam lorong. Mereka tidak menyadari keberadaaan Chakra yang tertidur beralaskan kardus tersebut.


dalam kegelapan malam, mereka memaksa sang gadis yang berada dalam cengkraman mereka yang sudah tidak berdaya.


Suara lirih gadis itu terdengar memilukan saat melintasi Chakra yang sedang tertidur.


Chakra terbangun, lalu mencoba menajamkan pendengarannya. Suara wanita itu semakin terdengar miris meminta pertolongan.


Chakra menyusuri lorong gelap yang sangat minim pencahayaan.


Chakra memakai tas selempang yang terbuat dari kulit rusa tersebut. Lalu memakainya.


Ia mengendap-mengendap memeriksa apa yang sedang terjadi.


Sebuah lorong buntu dengan tumpukan barang-barang rongsokan berada disana. Chakra bersembunyi dibalik tumpukan-tumpukan rongsokan besi tua tersebut.


"katakan..!! Dimana kau menyembunyikan barang itu..******.!!" maki seorang pria berbadan kekar sembari mengangkat dagu sang gadis itu dengan kasar. Gadis itu tampak diikat kedua tangannya mengarah kebelakang.


gadis itu diam dan mengeraskan rahangnya. Lalau menatap dengan tatapan sinis kepada pria itu.


"ternyata mulutmu tidak mau juga berbicara ya? Apakah kau ingin merasakan bagaimana rasanya disiksa baru kau akan berbicara?" hardik pria itu. Namun gadis itu tetap diam tak bergeming.


Lalu pria itu kehabisan kesabaran, Ia menjambak rambut sang gadis, dan mengenadahkan wajah gadis itu keatas.


"aku memberikanmu sedikit pelajaran jika kau tetap juga diam." ancam pria itu.


Pria itu menjulurkan tangannya kebelakang. "bawakan pisau untukku, aku ingin melihat sampai dimana Ia dapat menutup mulutnya." ucapnya lagi dengan nada menyeramkan.


Seorang rekannya memberikan sebilah pisau sangkur. Lalu pria itu mengarahkan kepada pakaian yang dikenakan si gadis, dengan tanpa perasaan, Ia merobek pakaian gadis itu lalu melucutinya dan melemparkannya begitu saja.


mata pria itu menatap liar. Woow..ternyata kau memiliki tubuh yang sempurnah. Bagaimana jika kami merasakannya bersama-sama.? Menyenangkan bukan..?!" ucapnya dengan nada kasar.


Chakra yang tidak pernah melihat pemandangan seperti itu, tentu merasa bingung. Malam ini kedua matanya ternoda oleh perbuatan pria itu.


"dasar kau, breengsek.. Lepaskan aku.!!!" ucap gadis itu membuka suaranya.


Keempat pria itu terkekeh. "akhirnya kau bersuara juga, maka cepat katakan.! Dimana kau menyembunyikan barang itu..?" ancam pria itu sembari mencengkram dengan keras bagian tubuh berharga milik sang gadis, membuat gadis meringis kesakitan.


Merasa iba, Chakra, mengambil sebatang besi tua, lalu berjalan menghampiri ke ke empat pria yang sedang menyiksa gadis malang itu. Dengan cekatan, Ia menghajar ketiga yang tidak menyadari kehadirannya.


seketika Pria yang menyiksa sang gadis menoleh ke arah Chakra. Ia menggeram karena ada orang lain ikut campur dalam urusannya. Apalagi Chakra sudah lancang merobohkan kedua rekannya.


Pria itu menyerang Chakra dengan pisau sangkur ditangannya. Ia menyerang Chakra dengan perasaan penuh emosi. Dengan cepat Chakra menghindarinya, menggunakan tongkat besi ditangannya, membuat Chakra dengan mudah melumpuhkan pria kekar itu.


Dengan instingnya, Ia melepaskan gadis tawanan tersebut, gadis tanpa menggunakan pakaian bagian atas, lalu Chakra membuka pakaiannya, dan memberikan pada sigadis. Mereka berlari menghindari lorong.


Chakra tidak menyadari, jika saat tertidur tadi, Arini keluar dari tasnya, dan tertinggal diatas kardus.


gadis itu berlari membawa Chakra menuju mobilnya yang terparkir dijalanan saat sebelum mobilnya dipepet dan Ia diseret kedalam lorong gelap tersebut.


Gadis itu menyetir mobilnya dan tanpa sadar membawa Chakra bersamanya.


Arini merasakan dingin yang menusuk tulangnya. Ia mengerjapkan matanya. Mencari-cari keberadaan Chakra yang sudah tidak lagi berada disisinya.


Ia celingukan kesana kemari, namun tak menemukan Chakra berada disisinya.


Sesaat Ia melihat tiga orang pria berbadan kekar berlari melintasinya. "brengseek..kejar pemuda dan pria itu.. Jangan sampai lolos.. Cincang mereka hidup-hidup..!!" titah pria berbadan kekar itu.


Arini mencoba mencerna ucapan pria itu. Ia memiliki firasat yang tidak baik. Ia memastikan jika yang mereka maksud adalah Chakra. Ia berlari mengejar dan mengikuti ketiga pria tersebut..


Bersambung... Author mau memasak dulu..