Buhul ghaib

Buhul ghaib
Terjebak di Pohon



Setelah terjadi pertempuran dengan Rekso, kini Asih masih terus berjalan menyusuri semak belukar dimalam hari ditengah hutan.


Lee mengikuti langkah Asih yang tampak begitu amat cepat, Ia sampai kewalahan


Hingga akhirnya mereka menemukan sebatang pohon yang lebat daunnya, dengan dahan yang sangat yang kokoh.


Asih memanjatnya dengan sangat ringan dan lincah, hanya hitungan detuk saja Ia sudah berada diatas dahan dan bersandar.


Lee masih berada dibawah, dan mengerutu "mengapa dia bisa selincah itu.? Sedah seperti kera saja." Lee merasa bingung dan juga bergidik saat membayangkan ular berkepala manusia dan bola api yang menyerangnya tadi.


Ia ingin meminta bantuan agarbAsih menolongnya sampai ke atas, namun ia merasa jaga image.


Kreeeetak...


Kreeeeesssssekk..


Lee mulai mencari-cari suara mencurigakan itu. Ia meyakini jika itu adalah suara gerakan patahan ranting kering yang terinjak. Ia ingin segera naik keatas, Namun Ia merasa kesulitan. Ia memulai memanjat. Namun baru saja beberapa depa, Ia sudah tak mampu memanjat sampai ke atas.


Suara berisik itu semakin mendekat, dan seekor hariamu siap menangkap bokong Lee yang masih tertahan di batang pohon.


Saat harimau itu akan Melompat ke atas, Asih melesatkan anak panahnya.


"Aaaaaaaaaa....." Lee tanpa sengaja berteriak keras, suaranya melengking membelah kesunyian malam. Ia tidak membayangkan jika saja kuku-kuku tajam harimau itu merobek bokongnya.


Bersamaan dengan itu, Asih yang sedari tadi memeperhatikannya, dengan diam menarik busurnya, dan dengan sebuah anak panah, Ia diam membidik hariamu tersebut.


Wuuusshhh...


Sshhhhhtt....


aaaarrrrghhhh..


Suara desingan anak panah dan mengenai tepat di kepala harimau tersebut.


Seketika Harimau itu tersungkur ditanah, dan mati dengan mengenaskan.


Asih yang merasa kesal dengan Lee, akhirnya mengulurkan tangannya, lalu membawa pria itu naik keatas dahan.


Lee masih gemetaran membayangkan setiap kejadian demi kejadian aneh yang menimpanya. Ia melirik kepada Asih, Ia merasa bingung dengan gadis itu.


siapa dia sebenarnya? Mengapa tidak ada rasa takut sedikitpun, tinggal dalam kegelapan ditengah hutan, menghadpi binatang buas, dan juga para makhluk ghaib yang sangat mengerikan dan tak pernah dijumpai oleh Lee sebelumnya.


Bukankah jika seorang gadis, biasanya akan merengek ketakutan dan bahkan akan menangis saat berada ditempat seperti ini dan mengalami peristiwa yang seperti tadi. Tetapi sepertinya Asih merasa biasa saja, dan sepertinya Ia sudah terbiasa menghadapi hal-hal seperti itu.


Bahkan sikap Asih terlihat tenang, dingin dan tanpa ekspresi.


"terimakasih.. Atas segalanya.." ucap Lee lirih. Karena Asih sudah beberapa kali menyelamatkannya malam ini.


"heeemmm" jawabnya dengan tanpa membuka mulutnya.


Asih memejamkan matanya, Ia ingin beristirahat karena sudah sangat lelah. Asih menyandarkan tubuhnya pada pohon tersebut, lalu memejamkan matanya.


Melihat Asih sudah terlelap, Lee beringsut dari tempatnya, menggeser dan merapatkan tubuhnya pada gadis itu. dimalam dingin ini, Ia merasakan hawa tubuh Asih begitu hangat, membuat Lee merasakan sensasi yang begitu menggebu.


Ia mencoba menggenggam jemari lentik tangan gadis itu. Lee yang berada disisinya merasakan debaran-debaran yang tak biasa. Ia mendekatkan wajahnya, lalu mencuri kecupan hangat pada bibir sang gadis. Lama Ia menikmatinya, hingga akhirnya tanpa sadar Asih menarik tubuh pria itu dalam mendekapnya, mencari sebuah kehangatan disana.


Lee yang terhenyak kaget, membeliakkan matanya, saat wajahnya jatuh tepat diantara dua bukit berbunga.


Ia mersakan jika Asih menggeliatkan tubuhnya, namun matanya terpejam. "ibu..." igaunya..


Lee tersadar, ternyata gadis itu sedang bermimpi dan merindukan ibunya. Jangan-jangan dia mengira aku ibunya." gerutu Lee dalam hatinya.


🐊🐊🐊🐊🐊🐊


Mentari diufuk timur, memancarkan sinarnya dengan terang. Pendarannya memberikan kehangatan bagi setiap makhluk dipagi ini.


Asih mengerjapkan matanya, Ia merasakan dadanya sesak. Saat Ia mencoba mengeceknya, Ia melihat jika kepala Lee sedang menempel di antara dua bukit berbunga miliknya.


Ia melihat Lee tidur mendengkur halus, bahkan ilernya juga menetesi dibenda berharga miliknya.


Asih menatap dingin, lalu membersihkan bekas air liur Lee yang menempel disana.


Ia masih bingung, bagaimana bisa Lee sampai tertidur di dadanya.


Setelah berulang kali menggelengkan kepalanya, Lee, akhirnya mulai sadar.


Asih dengan cepat menuruni pohon san sampai ke bawah.


Seketika Lee melongok kebawa, Ia baru menyadari jika pohon yang mereka panjat ternyata cukup tinggi Ia bingung harus bagaimana caranya turun.


Melihat Asih akan beranjak pergi, Lee semakin tergagap.


"hei.. Tunggu aku, jangan pergi begitu saja. Bagainana jika ada binatang buas lainnya yang menerkamku." rengek Lee dengan tatapan menghiba.


Asih menghentikan langkahnya, mensedekapkan kedua tangannya. Lalu memandang Lee dengan tatapan dingin.


"kalau begitu cepatlah turun, mengapa kakak masih tetap berada disana.?!" ucap Asih kesal.


"aku tidak tau bagaimana caranya turun..." jawab Lee sembari mengangkat kedua bahunya.


Asih semakin jengkel, lalu Ia mengambil satu biji buah mangrove yang banyak bertebaran disana.



buah Kedabu/zapin/perepat, semua tergantung daerah dalam penyebutannya.


Setelah memetik buah mangrove tersebut, Asih menimang-nimangnya. "aku akan mengajari kakak bagaimana caranya turun dari sana. "ucap Asih sembari terus menimang buah bulat hijau tersebut.


"bagaimana caranya.? Tanya Lee penasaran.


"begini.."


Wuuuuuusshh..


Taaaak...


"aaaaaaaaaaa.." teriak Lee yang terkejut dan melayang terjatuh karena Asih melemparnya dengan buah mangrove tersebut yang tepat mengenai kepalanya.


Saat akan mendarat ditanah, Asih menangkapnya, karena Ia juga tidak ingin pemuda itu patah pinggang dan semakin merepotkannya.


Lee tercengang karena Asih begitu kuat menopang tubuhnya. Dimana bobot Lee tentu lebih berat dari gadis itu.


Ketika mata mereka beradu, Asih lalu menjatuhkan tubih Lee begitu saja.


"aaaaww.. Kau sangat kasar sekali." omel Lee, sembari memegangi bokongnya yang terasa sakit.


Ia bangkit dengan sedikit merasa nyeri, lalu mengikuti Asih berjalan menyibak rerumputan liar yang tumbuh meninggi setinggi orang dewasa.


Asih mendengar suara burung ruak-ruak yang bersahutan lalu Ia berfkkir untuk memasang perangkap.


Lee memperhatikan semua apa yang sedang dilakukan oleh Asih. Tampak sekali jika Asih sudah begitu lihai dalam mengerjakan.


Setelah memasang perangkap, Asih menirukan suara burung hutan tersebut sebagai pemikat. Lalu beberapa ekor burung medekat, dan masuk kedalam perangkap tersebut.


5 ekor burung ruak-ruak berhasil ditangkapnya, dan disembelihnya.


Ia membersihkannya dengan cara mengulitinya.


Lalu mencucinya menggunakan air laut.


Asih menatap Lee, lalu menenteng kelima ekor daging burung yang sudah siap akan dibakar. Ia meminta aga pria itu mengeluarkan pemantik api dan membuat perapian.


"iya..iya.." sahut Lee mengerti arti dari tatapan gadis yang penuh dengan kemisteriusan.


Lee mengumpulkan bwberapa ranting kering, lalu membuat perapian.


Bersambung...🐛🐛🐛🐊🐊🐊