Buhul ghaib

Buhul ghaib
Tamu



Edy masih memikirkan akan pertanyaan Asih yang dinilainya sangat konyol tersebut.


"Itu mirip belalai gajah karena Ia lagi tidur, kalau lagi bangun bentuknya berbeda lagi" jawab Edy sedikit berdebar menjelaskan antomi tubuh yang ditanyakan oleh Asih.


Asih melongo dengan jawaban yang diberikan oleh Edy, bahkan semakin bingung.


"Apakah Ia juga bisa hidup?" tanya Asih semakin nyeleneh.


"Ya.. " jawab Edy singkat, sembari mengkunyah singkong rebus tersebut.


"Seperti apa bentuknya jika hidup?" tanya Asih kembali yang semakin membuat Edy frustasi untuk menjawabnya.


"Seperti tongkat." jawab Edy dengan kesal.


Asih hanya manggut-manggut mencoba memahami apa yang diucapkan oleh pemuda itu, meski Ia tidak memahaminya.


******


Dua orang pria kekar berjalan dengan tertatih. Mereka belum dapat melakukan perjalanan yang melelahkan, namun memaksakan diri.


Tongkat kayu yang dijadikan sebagai penopang tubuhnya tqk mampu lagi menahan berat tubuhnya yang semakin kelelahan.


Jalanan menanjak semakin membuat keduanya tampak begitu menguras tenaga. Keduanya tak sanggup lagi meneruskan perjalanan kepuncak bukit, mereka memilih menyerah dan menunggu ditempat itu saja.


Buuuugh... Baammmm..


Tubuh kekar Jack jatuh tersungkur ditanah rerumputan, Ia begitu tetamat kelelahan.


Lalu..


Buuugh.. Baaaam...


Kini tubuh Black juga tak mampu bertahan. Tybuh kekar mereka seakan tak berdaya menerima pukulan tenaga dalam dari wanita cantik saat ditepi sungai waktu itu.


Pria yang menjadi Bos dalam kelompok itu menghentikan langkahnya, lalu berbalik memeriksa kedua bawahannya yang sekarat.


"Pindahkan mereka ketempat aman" titah pria itu kepada Sani, Jodi dan juga Dori.


Ketiganya lalu bergerak memindahkan kedua rekannya dibawah pohon rindang, dan sedikit terlindung dari pandangan manusia.


Pria yang menjadi Bos tersebut lalu menghampiri, dan memberikan sepucuk senjata api kepada masing-masing dari mereka lengkap dengan persediaan pelurunya.


"Gunakan senjata ini nika dalam kondisi terdesak saja. Jika kalian sudah merasa pulih, silahkan menejemput keatas, atau tetap bertahan disini" titah pria itu kepada kedua bawahannya yang tampak tak berdaya.


Keduanya menganggukkan kepalanya dengan lemah, mencoba mematuhi apa yang dititahkan si Bos kepada mereka.


Lalu Pria itu memutar tubuhnya, dan mengajak kepada Dori, Jodi dan juga Sani untuk mengikutinya ke puncak bukit.


Mereka mempercepat langkah mereka agar tidak sampai petang didalam perjalanan.


Kini mereka hanya berempat, dan harus saling melindungi satu sama lain, karena sebagian rekan mereka sudah lebih dahulu tewas, dan kini Jack serta Black dalam kondisi yang mengenaskan.


Jika dipaksakan untuk dapat mengikuti mereka, tentu akan berdampak lebih parah dan memperlambat perjalanan mereka.


*****


Hari sudah tampak remang-remang, safak berwarna jingga menggantung dilangit senja.


Asih berjalan mencari Bara dan Kuda milik Chakra disekitaran hutan. Kedua hewan gagah itu sedang merumput dan sudah waktu untuk kembali.


Mengendus aroma tubuh Asih, kedua hewan itu berlari menghampiri Asih dan mengekorinya dari belakang menuju goa.


Asih memerintahkan agar kedua hewan itu bersiaga disekitar goa, lalu keduanya mengangguk mengerti.


Asih kembali masuk kedalam goa, sementara pemuda itu duduk termangu mengamati setiap ornamen yang ada disekitaran goa.


Keduanya saling bertatapan dan masih enggan untuk berbicara. Namun Edy masih penasaran, mengapa kedua orangtua Asih tak terlihat semenjak kepulangan mereka kedalam goa.


"Sedang berkunjung kerumah nenek dikaki bukit" jawab Asih singkat, lalu duduk dikursi yang terbuat dari pahatan batu goa, lalumenghadap meja bundar yang juga terbuat dari pahatan batu goa.


Asih mencomot ubi jalar rebus yang dibaru saja dimasaknya tadi.


"Emmm... Sayang sekali, padahal aku ingin bertemu keduanya, Aku melamarmu dihadapan mereka" ungkap Edy dengan nada serius.


Asih hanya mengernyitkan keningnya, merasa bingung dengan apa yang diucapkan oleh pemuda itu.


Hari sudah melewati waktu maghrib. Sementara itu, diluar sana sekelompok orang yang berjumlah 4 orang sudah hampir sampai mencapai puncak bukit.


Sesaat mereka melihat 2 ekor kuda yang sedang berjaga-jaga disekitar batu yang tampak tinggi menjulang.


"Lihat... Itu kuda milik gadis yang sedang kita cari dan juga kuda milik gadis cantik yang melintas waktu itu" teriak Dori dengan penuh semangat.


Seketika mereka menatap dengan rona wajah penuh kegembiraan.


Namun berbeda dari yang lainnya, Pria yang menjadi pemimpin mereka tampak diam. Ia memperhatikan kesekelilingnya.


"Tidak ada rumah penduduk disekitar sini. Lalu dimana mereka tinggal?" ujar Pria itu dengan penuh penasaran.


Seketika ke 3 bawahannya terdiam dan mulai waspada. Mereka akhirnya menyadari jika tak ada tanda kehidupan disekitar sini, dimana tidak ada satupun rumah penduduk.


"Dimana mereka tinggal jika tidak ada rumah disekitar sini?" tanya Sani dengan penuh penasaran.


Lalu mereka kembali melangkah dan berjalan perlahan dengan sangat hati-hati.


Sesaat mereka melihat pintu goa. Lalu tampak cahaya yang berasal dari suluh bambu tersebut.


Keempat pria itu saling bertatapan dan saling mengerti satu sama lain tindakan apa yang harus diambil.


Kepala Sang Pimpinan menggelengkan ke arah sisi kanan tepat kepintu goa dengan cepat.


Lalu Sani menganggukkan kepalanya dan mencoba untuk memeriksa kedalam.


Baru saja Ia menginjakkan kakinya didepan pintu goa, Ia terdiam terpaku, mulutnya terperangah melihat isi dalam goa tersebut.


Kakinya gemetaran dan tak mampu mengucapkan satu katapun.


Seketika Ia kembali keluar dari ambang pintu goa. Ia menatap sang Pimpinan mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Matanya terbeliak dan mulutnya ternganga seolah baru saja menyaksikan sesuatu yang tampak begitu membuatnya syok.


Pria yang menjadi pemimpin itu tampak kebingungan dengan sikap yang dialami bawahannya itu.


"Apa yang sedang Kau lihat didalam sana? Mengapa Kau tampak begitu pucat?" tanya sang Big Bos dengan nada penasaran.


Sani terlihat sangat gemetaran, lidahnya seolah keluh tak mampu untuk berbicara dan suaranya seakan tercekat ditenggorokan.


Sedangkan tatapan mata Sani terlihat nanar dan tubuhnya tampak begitu bergetar.


Dori menepuk pundak Sani dengan kasar, mencoba menyadarkan rekannya yang terlihat sangat syok tersebut.


"Heeei.. Apa yang Kau lihat didalam sana? Mengapa Kamu begitu terlihat sangat gemetaran?" sapa Dori yang juga merasa bingung dengan sikap aneh rekannya tersebut.


Sani hanya mengarahkan jemari telunjuknya kearah pintu goa. Ia ingin jika mereka juga melihat apa yang tadi dilihatnya.


Sekefika ketiganya merasa penasaran, lalu mencoba memeriksa apa yang yang ingin dikataka oleh Sani.


Secara bersamaan, ketiganya mencoba memeriksa kedalam goa.


Dan benar saja, ketika ketuganya masih berada diambang pintu, mereka tampak syok dan diam terpaku dalam kebisuan.


Mereka merasa seperti sedang bermimpi dengan segala apa yang disaksikan oleh mereka.


Seketia ketiganya merasa terhipnotis dengan segala yang dilihat oleh mereka.


Mulut mereka ternganga dengan semua yang disajikan didepan mata mereka.