Buhul ghaib

Buhul ghaib
Terdampar Di Pulau Lain



Edy yang merasa risih dengan celana yang dikenakannya, Lalu mengambil pedang milik Asih.


"Kamu disini saja, jangan mengintip" titah Edy kepada Asih yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan aneh.


Edy pergi kesemak yang tak jauh dari pantai tersebut. Ia membuka celana milik Asih yang dipakainya, lalu menatanya sama panjang dan meletakkannya diatas dahan pohon, lalu memotong menjadi pendek.


Setelah merasa cukup, Edy kembali memakainya, dan kini celana itu hanya selututnya saja. Meskipun terasa sedikit ketat, namun Ia terpaksa memakainya.


Untuk saja Asih memiliki pinggul yang besar, meskipun pinggangnya ramping, sehingga ukuran celana mereka tidak terlalu jauh berbeda.


Setelah selesai, Edy keluar dari semak dan melihat Asih sedang bersantai dipasir putih tersebut.


Edy datang menghampiri gadis itu, lalu ikut duduk disisinya. Keduanya menatap laut lepas yang tampak tak bertepi.


Asih melirik celana Edy yang sudah tinggal setengah saja.


"Mengapa Kau memotongnya?" tanya Asih dengan tatapan penasaran.


"Terlalu sempit diujungnya, Aku susah gerak" jawab Edy singkat.


Edy mencoba berfikir bagaimana caranya bisa keluar dari pulau ini.


Tampak indah, namun sangat mengerikan jika malam hari tanpa penerangan, dan mereka juga tidak tahu rahasia apa yang tersimpan didalam pulau tersebut.


"Bagaimana caranya Kita agar dapat keluar dari pulau ini?" tanya Edy dengan nada lirih.


Asih hanya diam, Ia menikmati indahnya pasir putih, air yang tampak biru menghijau dan tentunya dengan pemandangan alam yang memanjakan mata.


"Heii... Aku bertanya bagaimana cara Kita kembali ke kota?" Tanya Edy mencoba mengulangi lagi pertanyaannya.


"Disini indah, dan juga sangat menenangkan, Aku suka tinggal disini" Jawab Asih dengan santainya, sembari membiarkan rambutnya berkibar terkena angin pantai.


Edy mendenguskan nafasnya dengan kasar. Ia menatap Asih sembari menggelengkan kepalanya.


"Apa Kamu fikir Aku tidak tersiksa bersamamu terus dalam keadaan seperti ini?" ucap Edy dengan ketus.


Asih mengernyitkan keningnya, lalu menatap pemuda itu dengan penasaran.


"Maksud Kamu apa?" tanya Asih tak mengerti dengan ucapan Edy yang terasa mengambang.


Edy menatap Asih dengan penuh kesal.


"Kamu itu seorang gadis, sedangkan Aku seorang pemuda. Kita terus bersama tanpa ikatan pernikahan.. Aku ini pria normal.. Bagaimana Aku bisa menahan semua untuk tidak melepaskan hasratku jika terus bersamamu, itu menyiksaku.." jawab Edy kesal.


Asih semakin bingung. Ia semakin tak mengerti dengan ucapan pemuda tersebut.


"Ya lepaskan saja" jawab Asih santai, lalu memandang lautan lepas.


Edy mengacak rambutnya, dan membuatnya frustasi karena jawaban Asih yang seenaknya saja. Sedangkan Edy memastikan jika gadis itu tak mengerti dengan apa yang diucapkannya.


Pemuda itu bingung dengan cara apa Ia menjelaskan kepada gadis ini, agar Ia mengerti dengan apa yang diucapkannya.


"Pertemukan Aku dengan Ayahmu.. Maksudku Romomu" pinta Edy kepada Asih.


Asih menoleh kepadanya "untuk apa?"tanya gadis itu balik bertanya.


"Aku ingin meminta restu padanya, untuk menikahimu" jawab Edy dengan sedikit memelankan nada bicaranya.


Asih diam saja.. Ia teringat akan Lee. Pria itu juga pernah menanyakan hal yang sama padanya..lalu siapa sebenarnya dari dua pemuda itu yang benar menetap dihatinya.


"Baiklah.. Aku tidak akan memaksamu, panggil saja Ayahmu ketika Kamu sudah merasa siap" ucap Edy, lalu mencoba tidak mendesak sang gadis.


Edy beranjak dari duduknya Ia merasa sangat penasaran dengan isi hutan tersebut. Ia mencoba ingin memeriksanya.


Saat Ia baru beberapa melangkah, Ia melihat Asih beranjak dan mengekorinya dari arah belakang.


Asih mempercepat langkahnya, dan mensejajarkan dengan pemuda itu.


Keduanya menyusuri hutan, namun ada sesuatu yang dirasa Edy sangat aneh.


Mereka melihat jalanan setapak, yang tampak sepertinya sering dilalui oleh selain mereka.


"Sepertinnya pulau ini dihuni oleh selain kita" ucap Edy mengingatkan.


Setelah mereka mengikuti jalanan setapak itu, tampak ada jejak kaki yang ukurannya sama besar dengan manusia normal. Namun jemarinya sepertinya hanya tiga buah saja.


Edy menghentikan langkah Asih, lalu bejongkok dan memeriksa jejak kaki tersebut. "Sepertinya ada dua orang yang melintasi jalan ini dan sudah biasa dilalui" Edy mencoba menganalisanya.


Edy kemudian berdiri kembali, memandang jalanan setapak yang tampak berkelok dan masuk kedalam hutan.


"Sepertinya ada bahaya didepan sana, Kita harus segera keluar dari pulau ini.." Edy kembali berguman.


Asih berjalan mendahului Edy. Ia tampak santai, sedangkan mulai waspada dan berhati-hati. Ia memastikan jika pulau ini tidaklah terjamah, melainkan ada penghuni lain selain mereka.


Saat melintasi sebuah pohon beringin besar dan juga rindang. Mereka dikejutkan dengan adanya sesaji yang dietakkan disekitar pohon tersebut. Sepertinya itu merupakan tempat pemujaan dan Sakral.


Asih melihat ada banyak makhluk ghaib disana. Mereka bergelantungan di pohon dan juga sulur-sulur pohon beringin tersebut.


Asih dan Edy mengitari pohon tersebut. Tampak disulur itu beberapa tengkorak kepala binatang digantungkan disulur-sulur pohon tersebut.


Namun yang membuat keduanya tersentak Ialah, ada beberapa tumpukan rangaka manusia disekitar akan pohon beringin. Sedangkan yang membuat keduanya terperanjat, tampak satu sosok jasad manusia yang sedikit membusuk dan sedang digantung disulur pohon beringin tersebut. sepertinya sudah beberapa hari, aroma busuk mulai tercium dan Edy merasakan perutnya sangat mual dan ingin muntah.


Namun mereka dikejutkan oleh suara derap langkah kaki yang sepertinya sebuah iringi-iringan dan berjumlah sangat banyak. Seketika Asih menarik lengan Edy dan membawanya bersembunyi dibalik semak belukar.


Tak berselang lama, tampak sebuah iring-iringan manusia bertubuh normal namun dengan jemari tangan dan kaki yang berjumlah sangat aneh.


Mereka mengucapkan mantra dan bahasa yang sama sekali tidak mereka mengerti.


Mereka tampak membawa pelepah pinang yang sudah tampak tua, dan menjadikannya alas tempat duduk mereka.


Setelah membuat lingkaran, mereka tampak membentang pelepah pinang beberapa lembar tepat dibawah jasad yang mereka gantung menggunakan sulur tersebut.


Mereka membawa sebuah wadah yang terbuat dari tanah liat dan seperti mangkuk besar melebar.


lalu mereka membakar dupa dan membacakan mantra yang tidak terdengar jelas seperti apa.


Lalu dengan melewati berbagai ritual seperti tarian-tarian aneh yang sangat membuat perut mual membayangkannya.


Setelah selesai dengan ritual-ritual aneh yang dilakukan. Sesoarang yang dianggap tetuah, melakukan sesuatu yang membuat Edy ingin muntah dan mual seketika, namun Asih membekap mulut pemuda itu agar tidak bersuara.


Dimana tetuah dari suku tersebu berbaring diatas pelepah pinang tersebut dan mulutnya menganga tepat dibawah jasad yang mulai membusuk tersebut.


Ternyata tetuah tersebut sedang menampung sari dari jasad tersebut. Atau cairan dari proses pembusukan itu.


Dimana mereka para suku tersebut mengakui jika meminum sari tubuh manusia akan mendapatkankan kekuatan magis yang luar biasa.