Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 205



Asih melesat kembali ke kamar hotel. Ia melihat Edy masih dalam pengaruh obat bius yang disebarkan para penculiknya melalui asap yang ditiupkan.


Asih mengahmpiri ranjang dan ingin berbaring dengan segera. Namun belum saja Ia berbaring, sekelebat bayangan melintas dari kamarnya.


Dengan cepat Asih mengambil shuriken dan melemparkannya ke arah kelebatan bayangan tersebut.


Wuuuuussh.. Ssstt..


Shuriken menancap pada seseorang yang sedang mencoba menyelinap kedalam kamarnya.


"Aaaaarrgh.."


Teriakan tertahan dari seseorang yang terkena lemparan shuriken milik Asih.


Lalu Asih beranjak dari ranjangnya, dan meraih Dwi sulanya, saat indera pendengarannya menangkap suara desingan alat logam yang berputar diudara.


Dan..


traaaang...


Sebuah benda logam beradu dengan Dwi sulanya.


Benda bulat berduri dengan rantai yang menjadi penghubungnya dan dengan ujung bola berduri yang terbuat dari logam besi tersebut tersangkut di antara Dwi sulanya.


Asih berusaha menahannya dengan sikap kuda-kuda dan melilitkannya dipegangan senjatanya, lalu menariknya dengan kuat, dan tampak sosok pria bertopeng ninja sebagai pemilik senjata tersebut terpental ke lantai.


Asih menarik senjata tersebut, namun pemiliknya segera bangkit dan melemparkan bola duri sisi satunya dengan kecepatan tinggi, dan..


Wuuush.. Ssstt..


Asih melompat dengan tinggi sembari rolling menghindari lemparan bola berduri atau Khusarigama dan dengan cepat melemparkan surhiken ke arah lawannya.


Aaaarrgh..


Ninja itu terkapar dilantai dan Asih dengan cepat melemparkan senjata Khusarigama milik ninja itu kepada pemiliknya hingga membuat sang ninja tak bergerak.


Asih memejamkan matanya dan mengetahui jika para ninja itu adalah kiriman Wei yang tak senang karena kedatangan mereka ke kantor polisi untuk mengambil kembali para tawanan wanita dan juga dan juga gadis belia Ia gagalkan.


Wei tampak begitu penuh amarah dan kesal karena Asih telah menggagalkan rencananya.


Dua orang ninja tewas terkapar dan Asih mengambil alat bola berduri dari logam besi dengan rantai sebagai penghubungnya, dan menjadikannya sebagai koleksi senjata pribadinya.


Edy masih belum juga tersadar, Ia terlalu banyak menghirup asap bius tersebut.


Satu bayangan lagi melintas, dan Asih masih terus waspada menanamkan indera penglihatan dan pendengarannya.


Kehebatan seorang Ninja ialah dapat menghilang dan menyusup.


Lalu saat waktu yang tepat, Asih melemparkan nola berduri tersebut, dan..


Traaaang...


Suara benda logam beradu dengan keras. Dan seorang ninja lainnya tiba-tiba menampakkan wujudnya dengan cepat sembari menahan bola berduri yang Asih lemparkan menggunakan Katana yang sangat tajam.


Ninja itu penuh tatapan tajam, lalu dengan gerakan cepat, sang ninja melompat jumping melepaskan bola berduri dari katana nya dan menghunuskan ujung pedang tersebut kepada Asih.


Dengan cepat Asih menghindarinya dengan gerakan kesisi kiri dan berbalik melemparkan bola berduri itu kearah lawannya.


Dengan sigap sang lawan menghindar dan ujung katana bersentuhan dengan bola berduri.


Traaang..


Kembali suara dentingan benda logam beradu. Keduanya masih dalam posisi saling mempertahankan kekuatan.


Dan sang lawan kembali menahan bola berduri dipangkal pedangnya, dan membuat rantai penghubung melilit dipangkal pedang tersebut.


Dengan kesempatan ini, Asih menggunakan tenaga dalamnya untuk menarik pedang sang lawan, dan...


Wuuuss...


Pedang terlepas dari gengagaman sang ninja, dan Asih berkesempatan melompat meraih pedang lawannya, lalu menggengam kepala pedang yang memiliki ketajaman yamg sangat luar biasa.


Saat nersamaan, Ninja itu melemparkan shuriken dengan cepat, sehingga salah satu pisau berbentuk bintang tersebut mengenai lengan Asih dan menancap disana.


Asih meringis, lalu mencabut benda tajam tersebut dan berbalik melemparkannya kepada sang lawan yang mana lawan tersebut berhasil menghindarinya.


Lalu seeangan shuriken dilancarkan bertubi-tubi dan membuat Asih harus dengan cepat menghalaunya menggunakan pedangnya, dan suara dentingan shuriken dan juga katana beradu bagaikan melodi yang mengerikan.


Darah yang mengalir dari lengannya tak lagi Ia hiraukan, dan untuk mengakhiri pertempuran, Asih melompat tinggi diudara, dan dengan jurus menghilang, Ia mengecoh lawannya, lalu dengan kecapatan yang tak terdeteksi, Ia menghujam punggung lawannya dari arah belakang hingga menembus ke dada.


Ninja itu tewas seketika.


Setelah memastikan tak ada lagi ninja yang menyusup. Asih mengutip beberapa senjata milik lawannya, dan menyimpannya dalam tas keramatnya.


Ia menghampiri sang suami yang belum tersadar, lalu memanggul Edy bagaikan memanggul karung beras 50 kg dipundaknya, memmbawa semua persenjataan dan melesat meninggalkan hotel yang Ia merasa sudah tidak aman lagi ke sebuah bangunan yang sudah terbengkalai dan meletakkan Sang suami disebuah meja berdebu yang sudah Ia berseihkan sebelumnya.


Setelah meletakkan tubuh suaminya, Asih menuembuhkan lukanya dengan sekejap saja.


Lalu Ia berbaring diatas meja dan memeluk sang suami, lalu kemudian tertidur.


Pagk menjelang. Edy merasakan kepalanya sangat pusing, sebab bius tersebut merasuk hingga ke otaknya.


Ia menggeliatkan tubuhnya dan alangkah terkejutnya Ia saat menyadari jika saat ini Ia berada disuatu tempat yang sangat berbeda saat Ia tertidur disebuah hotel dan terbangun disebuah bangunan terbengkalai.


Edy melirik ke arah Asih yang masih tertidur lelap memeluknya.


Ia meyakini jika ini ulah istrinya yang membawanya sampai ketempat ini.


Edy tersentak saat melihat ada bercak darah dipakaian yang dikenakan oleh Asih. Ia meyakini jika istrinya malam tadi mengalami pertempuran, dan bahkan Ia tak membangukannya.


Edy beranjak bangkit dari tidurnya, memandangi bercak darah yang sepertinya baru saja mengering. Ia menatap wajah Ayu sang istri, yang tampaknya masih terlelap.


Ia mencoba menyibak rambut yang menutupi wajah ayu tersebut. Resiko memiliki istri yang tangguh yaitu semena-mena menggendongnya kemanapun.


Edy mengecup lembut ujung kepala sang istri, Ia menduga jika semalaman Asih bertempur melawan musuh dan itu membuatnya kelelahan.


Ia membiarkan sang istri menikmati tidur lelapnya. Lalu ia ingin beranjak dari atas meja dan ingin melihat lokasi yang dijadikan tempat persembunyian.


Namun siapa sangka, jika Asih justru menarik pinggang sang suami dengan menggunakan kedua kaki ramping miliknya dan memaksa Edy kembali atas meja.


Hal itu membuat Edy tersentak kaget karena sang istri yang Ia kira kelelahan justru menyerangnya dengan tindakan agresif dan membuatnya tak berdaya.


"Heeii. . Aku kira kamu tertidur" bisik Edy.


Namun bukannya menjawab, Asih membungkam mulut Edy pagutan panas dipagi hari.


Asih seoalah tak merasakan lelah sedikitpun, meskipun Ia semalaman bertarung melawan Robert dan berlanjut kiriman ninja dari Wei.


Keduanya berpacu mengarungi biduk percintaan yang memperkuat imun tubuh.


Suara deburan ombak dipinggir pantai menyadarkan Edy jika mereka berada tak jauh dari tepi laut.


Edy merasa jika hotel yang mereka tempati sudah tidak aman lagi, sehingga memmbuat Asih memilih tempat yang lebih aman untuk beristirahat, dan Ia menemukan tempat ini sebagai tempat untuk beritirahat.