Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 217



Asih melesat menembus alam lain dengan menunggangi Bara Sembrani. Suara derap langkah kaki kuda nan gagah dengan bulu kecoklatan itu telah membuat alam alam ghaib sedikit merasa terganggu.


Asih memacu laju kudanya dengan kecepatan tinggi, Ia ingin bertemu dengan sang ibu yang kini berada diistana sang Romo.


Namun saat ditengah perjalanan ghaibnya, Ia dihadang oleh pasukan banaspati yang mana saat ini sedang menunggunya.


Berbagai jenis Banaspati dari 3 elemen yang terdiri dari Api, air, dan juga tanah sedang membuat gerbang pertahanan yang menunggu dengan penuh kemarahan karena salah satu rekan mereka yang dibinasakan Asih saat berada dikediaman Andre


Banaspati Api tampak bergulung-gulung diudara dengan bola api yang berkobar yang siap membakar mangsanya.


Sedangankan banaspati air membentuk gululangan air yang siap menggulung dan menenggelamkan korbannya.


Sama halnya dengan banaspati Tanah yang kini membentuk bola dari tanah liat dengan menyesap energi negatif dari setiap korbanya dan membuatnya akan mati dengan cepat.


Asih menarik kekang tali kudanya. Ia melihat ada ratusan pasukan bamaspati dari tiga elemen yang kini bersiap untuk membalaskan segala dendam mereka.


Asih menatap dengan tatapan menyeluruh dan oenuh siaga.


Asih mencabut pedangnya dan bersiap untuk menyerang jika mereka memulainya. Sebenarnya Ia sangat enggan meladeni para pengacau tersebut, karena ada hal yang lebih penting dibanding bermain-main dengan para makhluk yang tak berguna tersebut.


Banas pati Api mulai berputar-putar diudara dengan kobaran api yang menghantarkan hawa panas dan secara beramai-ramai menyerang Asih.


Melihat hal tersebut, Asih bersiaga dengan melompat diatas punggung Bara sembrani dan menghunuskan ujung pedangnya.


Lalu Ia merafalkan ajian waringin sungsang dengan mantra yang telah diajarkan oleh sang Romo.


Gulungan api itu terus melesat ke arahnya dan dengan cepat hendak mengahntamnya.


Asih dengan mengayunkan pedang diatas kepalanya, lalu memutar tubuhnya dengan gerakan menebaskan pedangnya dengan ajaian waringin sungsang Ia mengehempaskan seluruh banaspati api yang sedang menyerangnya.


Salah satu banaspati tertanncap diujung pedangnya dan membuat sang bamaspati mengerang dan menatap tajam padanya meminta untuk dilepaskan.


Namu Asih menjadikannya sebagai tameng untuk menangskis serangan lawan.


Banaspati yang terkena ajian waringin sungsang yang dilancarkan oleh Asih kini hancur berhamburan diudara.


Sementara itu, banaspati tanah dan juga air, ikut menyerang bersamaan untuk membalaskan dendam mereka.


Asih masih dengan pedang ditangannya dan banaspati berbentuk bola api yang kini tertancap diujung pedangnya bersiap menghadapi serangan yang dilancarkan oleh dua elemen dari banaspati tersebut.


Bola-bola tanah liat dengan wajah menyeramkan dan menjijikkan itu bergelinding menyerap energi negatif yang kini ada disekitarnya.


Menyadari akan hal itu. Asih tersenyum menyeringai dengan apa yang akan dilakukannya.


Bola-bola tanah liat dengan rupa yang mengerikan itu Ia tendang dengan tendangan layaknya bermain bola kaki, lalu Ia pantulkan ke udara, dan sambut dengan ujung pedang ya g mana masih tertancap banaspati Api.


Saat bola tanah banaspati tanah tersebut akan mendarat, Ia membakarnya dengan mennggunakan kobaran api dari banaspati Api, sehingga membuat banaspati tanah terbakar dan hangus.


Lalu Asih menciptakan sebuah api unggu dengan memggunakan banaspati api, lalu dengan api unggun tersebut, Asih memasukkan banaspati tanah kedalam kobaran api yang sangat membara.


Sementara itu, banaspati air yang tampak menggulung diudara, mulai menyerang Asih.


Asih dengan cepat melayang diudara dan mengibaskan pedangnya menggunakan ajian waringin sungsangnya membelah puasaran air yang bergulung-gulung hingga memercik tak berbekas.


Sementara itu, Edy bergerak menuju ke kota. sepanjang perjalanan, Ia tak melihat warga yang beraktifitas.


Tampaknya mereka melakukan isolasi mandiri dan membatasi kegiatan diluar rumah.


Fasilitas umum ditutup dan kondisi kota bagaikan kota mati.


Yang tampak saat ini hanya para medis dan mobil ambulance yang sedang meraung-raung dengan suara sirenenya karena membawa pasien korban racun tersebut ke rumah sakit.


Edy menemukan seorang pria yang berada dipinggir jalan tergeletak dengan tubuh yang mengejang dan tampak sangat mengenaskan.


Namun Asih pernah melarangnya untuk menyentuhnya, lagipula Ia tak tahu cara menolongnya, Ia hanya dapat menghentikan ambulance yang melintas dengan memberitahu jika ada korban yang sedang membutuhkan pertolongan.


Melihat Edy berkeliaran dijalanan, Mereka meminta Edy agar segera pulang ke rumah dan isolasi mandiri.


Lalu mereka membawa pasien yang sedang mengejang itu kedalam mobil ambulance yang sudah penuh dengan beberapa pasien didilamnya.


Saat ini Edy hanya menganggukkan kepalanya mendengar anjuran petugas medis yang menggunakan alat pelindung diri lengkap bagaikan seorang astronot.


Mereka kembali membawa mobil ambulance tersebut menuju rumah sakit.


Sementara itu, Edy merasakan ada sesuatu yang melesat bagaikan bayangan melintas dari arah belakang gedung.


Edy mencoba mengejarnya. Ia menyelinap dengan cepat untuk melihat siapa yang sedang melesat tersebut.


Edy menyelinap dari satu bangunan ke bangunan lain. Lalu dengan gaya parkur, Ia naik keatas gedung agar dengan mudah mengamati siapa yang tampak mencurigakan tersebut.


Dari atas gedung, Ia melihat satu sosok berjubah hitam sedang melemparkan sesuatu yang pastinya benda kecil yang mudah pecah dan mengeluarkan gumpalan asap hitam yang kemudian menyebar dengan cepat ke udara.


Edy membolakan matanya. Ia dengan cepat memperbaiki penutup hidungnya, dan memastikan jika yang dilemparkan oleh sosok misterius itu adalah sumber bencana dari semua kekacauan ini.


Edy melihat dinding kaca didepan atap gedung yang Ia jadikan tempat mengintai tampak layar televisi yang sedang menampilkan berita tentang kekacauan diberbagai negara yang kini terdampak dari racun yang tidak terdeteksi.


"Siaaall.. Ternyata mereka telah menyebarkan racun itu dengan cepat ke seluruh negara didunia.. Semoga Asih segera menemukan penawarnya" Guman Edy lirih.


Lalu Ia segera melompati gedung-gedung untuk mengejar sang pria berjubah hitam yang kini menjadi penyebar racun tersebut.


Pria itu tampaknya mengetahui jika sedang ada yang mengikutinya, lalu Ia melesat dengan cepat dan mnghilang dari pandangan Edy.


Esy mendarat diatas lantai jalanan yang tampak sunyi, dan tak terlihat lagi dimana pria tersebut menyelinap.


Namun tiba-tiba dari arah belakang, sebuah tendangan yang sangat kuat menghantam punggunya dan membuat Edy tersungkur dijalanan ber cor.


Edy berusaha untuk bangkit, namun pria itu kembali melakukan tendangan dan membuat Edy terlempar jauh trotoar.


Esy mengerang kesakitan, lalu dengan cepat Ia melompat dan berusaha menerima serangan balasan yang mana pria berjubah hitam itu tampak mencabut pedang yang berada dipinggangnya dan membuat gerakan menyeret pedang tersebut diatas jalanan yang menimbulkan suara deritan yang membuat ngilu dan berlari kencang mengarah Edy dengan gerakan menebas.


Dan..


Traaaang..


Sebuah dentingan senjata tajam yang saling beradu dengan cepat.