
"Bara... Hentikan!!" titah Asih kepada kuda tersebut. Namun sepertinya Bara menuli dan tidak menggubris ucapan dari Asih, Ia terus berlari dan menerobos semak hutan.
Adih berusaha mengendalikan kuda tersebut, namun sepertinya Bara tidak mendengarkannya.
Sesaat Asih akan mencoba menghentikan tali kekangnya, dari kejauhan Asih melihat seorang pemuda yang sedang berjalan mundur dan dalam ketakutan karena dua ekor harimau sedang mendekatinya dengan tatapan lapar.
Asih membeliakkan matanya dan menggerutu "Siaaalll... Dasar bodoh! Siapa yang menyuruhnya mengikutiku!" Asih mengomel dengan geram.
Seekor Harimau yang terlihat sudah sangat lapar lalu berusaha melompat untuk menerkam sang pemuda.
Bersmaan dengan itu, Bara menambah laju larinya dan....
Wuuuuuushhh... Buuuugh...
Dua kaki depan Bara menerjang harimau yang mencoba menerkam Pemuda yang tak lain adalah Edy.
Harimau itu terpental jauh kebelakang, dan menimpa harimau satunya.
Bara mengehentikan laju larinya dan meringkik, lalu memutar tubuhnya, dan menghampiri Edy.
Lalu Asih mengulurkan tangannya, agar Edy segera naik kepunggung kuda tersebut.
Edy menyambutnya, dan melompat naik kepunggung Bara dan duduk tepat dibelakang Asih.
"Dasar bodoh!!" umpat Asih dengan geram, lalu menarik tali kekang kuda tersebut dan melanjutkan perjalanan mereka menembus hutan belantara yang penuh ditumbuhi dengan pepohonan rimbun.
*******
Mentari semakin meninggi dan sejajar dengan bayangan manusia. Segerombolan orang yang berjumlah 10 orang sedang melakukan pencarian jejak Edy yang tadi sedang mereka ikuti.
Namun mereka kehilangan jejak pemuda itu begitu saja. "Siaaall...!! Kemana anak itu menghilangnya" umpat seorang pria tampan paruh baya. Ia tampak kelelahan.
"Sepertinya ada banyak jejak tapak kuda, Bos. Bukankah ini tapak kuda gadis tersebut...?" ujar seorang bodyguard kepada majikannya sembari berjongkok dan memegang bekas tapak kuda itu dengan ujung jarinya.
Seketika salah seorang lainnya terperangah melihat tapak lainnya. "Heeei.. Lihatlah..! Ini seperti tapak harimau!" ujarnya dengan ketakutan. Pandangan matanya mengedar keseluruh penjuru.
Seketika sekelompok orang tersebut berjaga-jaga dan awas menghadapi serangan yang tak terduga dan bisa terjadi kapan saja.
Sesaat terdengar suara gemerisik ranting patah. Dengan serempak para rombongan tersebut tersentak dan berjaga-jaga melindungi Bos mereka.
Dan....
Grrrrrrrrrrrhhhg...
Buuuuuuugh...
Suara geraman disertai terkaman dari seekor hewan lapar berbentuk kucing liar tersebut terhadap seorang bodyguard yang berada di dibelakang semak.
Aaaaaaargh...
Teriak pria berbadan kekar itu saat harimau berukuran besar tersebut menyeretnya kedalam semak belukar.
Belum sempat para rekan lainnya untuk menolongnya, pria itu sudah ditarik harimau yang sedari kemarin menahan lapar.
Para rekan-rekannya mencoba menyelamatkannya dengan menghujani harimau itu menggunakan senjata api, namun mereka kalah cepat.
Seketika kengerian tercipta didalam benak mereka, dimana mereka telah memasuki kawasan yang belum pernah mereka jejaki.
Salah seorang dari mereka mengikuti jejak harimau itu. Ia begitu amat terperanjat, karena kedua Harimau tersebut merobek-robek sahabat mereka. Matanya tak mampu berkedip melihat apa yang kini menjadi tontonannya.
Pria sampai tersentak saat seorang rekannya menepuk lembut pundaknya. Nafasnya memburu dan seperti tak mampu bergerak.
Namun Pria tampan berhati serakah itu seakan tidak memperdulikan apapun saran dari para bawahannya. Ia memiliki misi untuk sesuatu yang sangat menguntungkan.
"Pencarian ini harus tetap berlanjut, karena ada keuntungan besar didepannya. Kalian semua akan mendapatkan keuntungan yang sama" ucap Pria itu memberikan iming-iming dan janji manis sebagai penyemangat kepada bawahannya yang tersisa.
"Hari semakin siang, kita cari hewan buruan untuk makan siang kita" titah pria itu kepada para bawahannya.
Ke sembilan bawahan yang tersisa saling pandang, dan saling memerintah siapa yang bertugas hari ini untuk berburu.
Lalu seorang pria bertubuh lebih kekar dari yang lainnya menunjuk salah satu dari mereka. "Badu, kamu yang bergilir hari ini mencari hewan buruan..!!" titahnya kepada Badu yang memiliki tubuh lebih kecil dibanding yang lainnya.
Dengan perasaan yang sedikit kesal, Ia terpaksa mengikuti perintah rekannya itu.
Ia membawa senjata apinya, menyusuri hutan untuk berburu hewan liar "Tunggu... Aku ikut" seorang rekannya yang bernama Dodi berlari mengejarnya untuk menemaninya berburu.
Kedua bodyguard itu berjalan beriringan untuk mencari hewan buruan dan saling melindungi jika ada bahaya yang tiba-tiba mengintai secara mendadak.
Sementara itu, Pria yang menjadi Bos diantara rombongan itu memerintahkan untuk mengumlulkan kayu bakar dan membuat perapian.
Sedangkan dua orang diantaranya mendapat perintah mencari sumber air untuk minum mereka.
Dengan langkah yang tampak was-was keduanya menyusuri jurang untuk mencari sumber mata air.
Keduanya sampai didasar jurang. Mereka melihat sebuah rawa yang banyak ditumbuhi oleh tumbuhan enceng godok. Dengan berbekal golok, mereka menebang bilah-bilah batang bambu yang didapatkan mereka saat menuruni lereng jurang.
Dengan menggunakan bilah bambu tersebut, mereka menuruni rawa, dan memasukkan air tersebut kedalam bilah bambu itu.
Tanpa mereka sadari, seekor hewan berbentuk pipih merambat halus dikaki salah seorang dari mereka, dan naik dengan begitu licinnya, lalu berhasil masuk kedalam lubang jalur belakangnya dan menetap disana.
Setelah keduanya berhasil mengisi seluruh tabung bambu tersebut, maka keduanya berjalan menapaki tebing jurang untuk sampai keatas.
Disisi lain, Badu dan Dodi mendapatkan sasaran hewan buruan seekor rusa jantan yang sedang merumput, lalu keduanya membidik dengan menggunakan senjata apinya, dan...
Doooor... Dooor...
Suara tembakan secara bersamaan dengan meluncurnya peluru yang menghujani perut rusa tersebut dan membuat rusa jantan itu menggelepar terjerembab ditanah yang ditumbuhi rerumputan.
Keduanya tersenyum puas, melihat hewan buruannya menggelepar. Bagi mereka ini pengalaman pertama yang sangat menyenangkan.
Lalu Didi dan Badu menghampiri hewan tersebut, dan dan menyeretnya untuk dibawa ke camp mereka.
Sesampainya di camp, pria yang merupakan Bos mereka memerintahkan kepada keduanya untuk melemparkan hewan tersebut kedasar jurang, agar kedua rekan yang bertugas mengambil air itu membersihkan hewan tersebut.
Kedua pria yang sedang berusaha menapaki tebing itu saling pandang melihat hewan buruan itu dilemparkan kearah mereka, dan dari atas sana tampak sebuah perintah agar mereka membersihkan hewan tersebut.
Dengan kesal dan lelah akhirnyanya mereka terpaksa menguliti hewan buruan tersebut, lalu mencucinya di rawa tersebut.
Satu hewan pipih kembali menempel di salah satu kaki rekan mereka, dan merambat halus menuju lubang jalur belakang.
sementara itu, aroma darah segar yang keluar dari hewan rusa yang sudah dikuliti dan dibersihkan itu tampak mengundang hewan yang bersemayam didalam rawa tersebut.
Keduanya beranjak meninggalkan rawa itu, dan bergegas menapaki tebing jurang dengan rasa lelah yang teramat sangat.
Sesampainya diatas tebing, keduanya tampak begitu sangat kelelahan dengan wajah pucat dan nafas tersengal.
Keduanya menyerahkan hewan buruan yang sudah dibersihkan dan tabung-tabung bambu yang berisi air untuk mereka minum.
Lalu dua orang yang bertugas memanggang daging rusa itu meraih daging tersebut untuk segera dipanggang diatas bara api yang sudah dibuat sejak tadi.