Buhul ghaib

Buhul ghaib
Dentangan



Asih berjalan menuju kamarnya, lalu membuka pintunya dan masuk dengan segera. Ia lalu kembali mengunci pintu dengan tergesah-gesah.


Iya melongok kebawah ranjangnya, lalu melihat pemuda yang Ia sembunyikan dibawah ranjang itu sedang tertidur.


Asih mendengus kesal, lalu Ia membangunkannya.. "Heeei.. Bangunlah" titah Asih kepada pemuda yang tak lain adalah Edy.


Edy mengerjapkan kedua matanya, lalu menguap dan beringsut keluar dari kolong ranjang.


Setelah Edy duduk dilantai dan bersandar ditepian ranjang, pemuda itu mencoba mengumpulkan nyawanya yang masih setengah melayang.


Asih menyodorkan semangkuk mie instan kepadanya.


"Nih.. Makanlah" ucap Asih lirih agar tidak terdengar oleh seseorang.


Edy meraihnya, lalu menyantabnya.. "Emmm.. Enak. Kamu yang masak?" tanya Edy sembari menyeruput kuahnya.


Asih menggelengkan kepalanya "Ibu yang memasaknya" jawab Asih singkat.


"Sudah Ku tebak, mana mungkin gadis sepertimu pandai memasak, tahunya hanya berperang" ucap Edy sembari mengunyah mie instan tersebut.


Asih melayangkan cubitannya dilengan Edy, yang membuat pemuda itu meringis kesakitan.


Gadis itu mendenguskan nafasnya dengan kasar, lalu mensedekapkan kedua tangannya didepan dada.


"Kak Chakra dan Lee juga ada disini. Mereka mengejar Papamu.." ucap Asih dengan lirih.


Uhuuuuk...


Edy tersedak mendengar ucapan Asih. Lalu Asih mengambil segelas air putih dimeja nakas dan memberikannya kepada Edy.


Pemuda itu meraih gelas tersebut dan menenggaknya. Setelah merasa lega, Edy merapatkan tubuhnya pada Asih "maksudmu? Inteligent itu?" tanya Edy berbisik.


Asih menganggukan kepalanya. Lalu menatap pada Edy dan mengahadap dengan jarak yang sangat dekat.


"Papamu bersembunyi digudang" bisik Asih kepada Edy.


Seketika kedua mata Edy membola "Bagaimana kamu mengetahuinya?" tanya Edy dengan lirih.


"Aku dapat merasakannya" jawab Asih dengan cepat.


"Jika instingmu begitu kuat, apakah Kau juga dapat merasakan cintaku padamu?" tanya Edy tidak pada waktunya.


Asih lalu menekan kening Edy kebelakang dengan memanyunkan bibirnya, yang membuat pemuda itu hampir terjengkang dari duduknya, namun hal itu yang membuat Edy semakin gemas.


Disisi lain, Dina mencium aroma tubuh seseorang yang pernah Ia kenali. Dina memejamkan kedua matanya, mencoba menajamkan indra penciuman serta penglihatannya.


Kecurigaannya mengarah kepada gudang tersebut. Sementara itu Chakra dan Lee masih lahab menyantab mie instan tersebut.


Dari dalam gudang, Andre dan Dori sedang berperang melawan nyamuk dan juga rasa lapar.


Sesaat seekor tikus melompat dalam kegelapan dan mengenai wajah Dori, yang membuat pria itu tanpa sengaja terpekik..


Aaaaargh...


Teriak Dori karena terkejut, lalu meraih hewan pengerat itu dan melemparkannya dengan asal yang tanpa sengaja mengenai Andre yang sedang mengintai dari lubang kunci di handle pintu.


Hal tersebut nuga membuat Andre berteriak karena kaget dan justru hal tersebut membuat Dina, Chakra dan Lee tersentak.


Mereka menghentikan makannya, lalu beranjak dari duduknya dan mencoba memeriksa gudang yang saat ini dicurigai sebagai tempat persembunyian dua orang sedang mereka cari.


Baru saja Lee akan bergerak, Dina sudah terlebih dahulu bangkit dan membuka handel pintu.


Lalu..


Baaaaamm...


Suara dentangan pintu beradu dengan dinding gudang.


Seketika Dina terperanjat, tidak melihat siapapun didalam gudang.


Ia masuk lagi lebih dalam dan mencoba memeriksanya.


Sesaat tanpa diduga, Andre menyergap Dina dari balik pintu lalu menodongkan senjata apinya di pelipis Dina.


Tangan itu, yang dulu pernah membelainya dengan lembut, kini mencengkramnya kuat sembari mengancamnya dengan senjata api.


Andre dan Dori keluar dari gudang sembari membawa Dina sebagi tawanan. Chakra dan Lee terperangah melihat hal tersebut.


Namun tak ada raut wajah ketakutan sedikitpun dari Dina. Ia hanya bergemuruh karena pria itu yang pernah menjadi belahan jiwanya.


Chakra tak rela melihat Ibunya dijadikan sandera oleh pria itu.


Pemuda itu mencoba meraih pedangnya yang terselip dipinggangnya dan mencoba balik mengancam Andre.


Namun aksi nekad Andre yang tak terkendali, membuat Pria itu menembakkan senjata apinya dilengan Chakra, yang membuat pedang ditangannya terlepas, dan suara dentuman senjata api terdengar membahana hingga sampai kedalam kamar Asih.


Lalu Asih dan Edy berlari menuruni anak tangga dan menuju dapur, karena asala suara tersebut berasal dari dapur.


Melihat puteranya dilukai, maka Dina mengeluarkan sifat aslinya.


Ia memutar tangan Andre, lalu meraih senjata api hingga kini berada ditangannya.


Andre kini tanpa senjata, lalu Dina melayangkan tendangannya, hingga membuat pria itu terjerambab disudut dinding.


Sedangan Dori ingin menyerang, namun Dina sudah lebih dahulu melumpuhkannya, dan Dina menembakkan betis Dori dengan senjata api milik pria itu.


Dooor...


Kemudian Dori meringis kesakitan.


Sesaat Asih dan Edy sudah berdiri diambang pintu penghubung dapur dan ruang lainnya.


Mereka hanya melongo melihat aksi Dina yang tampak sangat anggun namun mematikan.


Dina meraih pedang Chakra yang terlempar dilantai. Lalu memutar pedang itu bagaikan sebuah kincir angin.


Setelah itu Ia mengarahkan ujung pedang tersebut kepada Andre yng sedang meringkuk tak berdaya.


"Beraninya Kau melukai puteraku.. Aku yang merawatnya dari saat dalam kandungan, dan Kau meninggalkannya begitu saja" ucap Dina dengan nada penuh amarah.


Namun ucapan Dina justru membingunkan semua yang ada diruangan itu.


Andre terperangah mendengar ucapan Dina dan memcoba untuk mendengarnya kembali.


"Si..siapa kau sebenarnya?" tanya Andre mulai curiga.


"Siapa Aku? Apakah Kau perlu tahu, atau Kau sudah tahu dan berpura-pura tidak tahu?" tanya Dina dengan kesal.


Andre semakin merasa yakin, jika wanita itu adalah wanita yang pernah Ia tinggalkan saat didesa waktu itu.


"Dina..." ucap Andre dengan lirih.


Edy mengernyitkan keningnya, sebab Ia pernah mendengar Papanya menyebut nama itu saat didalam kamar dan sedang meracau.


"Apakah wanita ini yang disebut Papa waktu itu?" guman Edy menduga-duga.


"Ya.. Aku.. Apakah Kau masih mengingatnya?" tanya Dina dengan tatapan matanya yang sangat tajam.


Andre berusaha untuk beranjak bangkit, dan dengan terhuyung Ia mencoba berdiri meski ujung pedang Dina masih terus mengancamnya.


"Apakah Ia puteraku?" tanya Andre menatap wajah ayu yang kini penuh aura membunuh.


"Putera katamu?! Bahkan Kau sendiri tak mampu merasakan jika Ia adalah puteramu, dan dengan mudahnya Kau melukainyanya.." ucap Dina yang kini menekan ujung pedang itu tepat didada Andre sehingga membuat Andre tersandar didinding dan Ia merasakan ujung pedang itu telah menggores dadanya, hingga tampak darah mulai merembes keluar dari balik pakaian yang dikenakannya.


Edy dan Chakra terperangah, begitu juga Asih. Berarti benar dugaannya selama ini jika Ia dan Kakaknya memiliki ayah yang berbeda.


"Maafkan Aku, jika membunuhku membuatmu merasa puas, maka bunuhlah Aku, dan Aku siap menerimanya.


Seketika Edy berlari dan berlutut mendekap kedua kaki Dina, memohonkan ampunan pada Dina agar tak membunuh Papanya.


Lee yang kini tersentak kaget karena melihat Asih bersama pemuda itu, dan bahkan hal yang paling mengejutkan jika Pria yang mereka kejar selama ini adalah Ayah biologis dari Chakra sendiri.


X