
Edy segera bangkit dan duduk, Ia melihat gadis itu terkejut karena teriakannya.
"Apa yang Kau lakukan dengan senjataku? Mengapa Kau mempermainkannya seperti itu? Itu sangat berbahaya. Apakah Kau tau itu?" ucapnya panjang lebar, lalu membenahi pengaman segitiganya, dan mengancing resletingnya, memaksa masuk senjata itu kedalam sarungnya.
Edy merasa sangat kesal, karena perbuatam Asih barusan, membuat senjatanya tidak mau tidur dan semakin bangun.
"Lain kali jangan melakukan hal itu lagi. Karena jika senjata itu marah, kamu bisa terkena imbasnya" ucap Edy menjelaskan.
Asih memandangnya dengan bingung. "Sebahaya apa senjata milikmu? Dia juga tumpul, tidak setajam pedangku" jawab Asih menyela.
Edy merasa bingung untuk menjelaskannya kepada gadis tersebut. Sepolos itukah pemikirannya? Edy menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Pertemukan Aku dengan Ayahmu, setelah Aku mendapat restu menikahimu, maka Aku akan menjelaskan apa fungsi dari senjata itu, oke?" ucap Edy dengan jelas, sembari menahan gejolak hasratnya karena ulah Asih barusan.
Ia menggerutu kesa, lalu beranjak dari gubuk dan memilih untuk mandi, agar senjata itu segera melemah dan tidak meminta sesuatu yang aneh.
Dinginnya air sungai itu membuat Edy seakan membeku. seperti dugaannya, benda itu mengkerut karena kedinginan, lalu kembali tidur dengan nyaman.
Setelah menghilangkan segala hasratnya yang sempat menggebu, Edy menyudahi mandinya, lalu naik ketepian dengan pakaian yang basah.
Edy merasa sangat dingin dan menggigil. Ia duduk didipan gubuk sembari bersedekap kedua tangannya diatas dada.
Asih memandanginya, bibir pemuda itu memucat dan membiru karena tidak mampu menahan dinginnya udara pagi ini dan juga air sungai.
Asih mendekatinya, lalu memeluk tubuh sang pemuda dari arah belakang, mengalirkan kehangatan kepada pemuda itu, sehingga berkurang rasa menggiginya.
Pemuda itu terdiam, berusaha menikmati kehangatan yang ditansfer oleh sang gadis. Setelah merasa cukup, Asih melepaskannya.
"Kita bergerak sekarang. Sepertinya menjelang sore kita akan sampai ditepi kota. Sungai ini mengalir sampai kelaut, dan kita akan menepi dipelabuhan tikus saja" ucap Asih menjelaskan, lalu Ia beranjak dari duduknya, berjalan menuju tepi sungai dan melompat keatas rakit.
Edy mengekorinya, lalu ikut melompat keatas rakit. Kemudian Asih mulai mengayuh rakitnya dan menyusuri sungai yang bermuara dilaut.
Saat mentari sudah bersinar terang, Asih memandangi rumah-rumah penduduk yang betungkat-tungkat dan mereka sudah banyak yang mulai beraktifitas.
Ada terlihat beberapa Ibu-ibu yang mencuci pakaian, dan juga anak-anak yang akan berpergian sekolah.
Pemandangan itu begitu membuat perasaannya sedikit terhibur.
Sesaat ia melihat sebuah warung yang berada ditepi sungai. Warung tampaknya baru saja buka. Ia menyajikan berbagai sarapan yang pastinya bisa mengganjal perut mereka.
Asih menepikan rakitnya ditepi sungai tersebut.
Edy merasa bingung, mengapa Asih menepi. Sebab mereka tidak membawa uang untuk membayar makanan mereka nantinya.
Namun sepertinya Asih tampak santai dan tidak begitu perduli.
Mereka memasuki warung yang menyediakan sarapan tersebut.
Setelah melihat-lihat menu yang disediakan, Asih memilih Ayam gulai, makanan yang tidak pernah dirasakannya, Ia ingin mencobanya, dan satu ekor ikan nila yang dimasak asam pedas.
Setelah memesan pesanannya, Ia menyuruh Edy untuk memilih sendiri pesanannya. Lalu Edy mendekatinya, dan berbisik kepadanya "Kamu punya uang untuk membayar pesanan Kita?" ucap Edy dengan berbisik.
Lalu Asih hanya menganggukkan kepalanya dan beranjak menuju meja tamu, dan menarik satu kursi kosong dan menunggu pesanannnya datang.
Meskipun Edy merasa ragu, namun Ia juga memesannya "Dia kan siluman, mungkin dia punya sihir untuk mendatangkan uang" guman Edy, lalu memilih pesanannya.
Asih memandang perahu-perahu nelayan yang melintasi sungai. Sepertinya teritorial ini menjadi batas para nelayan yang dimulai dari gubuk kosong yang ditemukan mereka saat malam tadi.
Beberapa perahu singgah untuk sekedar minum kopi ataupun ngeteh.
Semakin lama semakin ramai dan hanya tinggal satu meja yang tersisa.
Tak berselang lama, pesanan Asih dan juga Edy sudah tiba. Seorang gadis belia yang merupakan anak pemilik warung menyajikan pesanan mereka.
Gadis itu tampak malu-malu saat menghidangkan pesanan mereka. Sepertinya Ia terpesona dengan ketampanan Edy yang berbeda dari pemuda desa yang biasa mampir ke warungnya.
Wajahnya lumayan cantik, dengan kulit bersih dan make up seadanya. Kenungkinan gadis ini yang menjadi salah satu daya tarik para pengunjung untuk terus betah singgah diwarung tersebut.
"Terimakasih, Dik.." ucap Edy, saat gadis itu menyajikan hidangan mereka.
Gadis itu mengangguk dan tersenyum manis. Edy lalu membalas senyuman gadis itu dengan ramah. Namun entah mengapa Asih merasa tak suka melihat keramahan Edy terhadap gadis itu.
Dengan cepat Asih mencubit pinggang Edy yang masih senyam-senyum dengan sang gadis.
Aaaawww...
Edy meringis kesakitan, karena cubitan yang tiba-tiba mendarat dipinggangnya.
Sesaat Edy menoleh ke arah Asih, yang mana tatapannya tampak tak suka dengan keramahannya terhadap gadis belia itu.
Seketika Edy nyengir kuda, Ia akhirnya tahu, jika Asih cemburu padanya.
Lalu gadis itu merasa tampak malu-malu dan meninggalkan keduanya, lalu melayani pembeli lainnya.
Asih melihat segelas minuman Edy berwarna hitam. Ia tidak tahu jika itu namanya kopi. Ia memandangi kopi tersebut. Bukan karena rasa atau warna dari kopinya, namun ada sesuatu yang mencurigakan didalam kopi tersebut, dan saat Edy akan mengangkat gelas kopi berukuran besar itu, tiba-tiba...
Praaaaank...
Gelas itu pecah dan airnya tertumpah dimeja, berserakan dan mengenai pakain Edy.
Seketika pengunjung lain menoleh kearah mereka, terkejut karena mendengar suara pecahan gelas itu, begitu juga dengan pemilik warung.
sang gadis belia datang membawa kain untuk mengelapnya, namun Asih mencegahnya. Ia menggeser kursinya kebelakang beberapa depa, dan juga menarik kursi Edy menghindari tumpahan kopi panas tersebut.
Lalu Asih mengambil sepotong timun yang dipotong memanjang untuk sebagai lalapan.
Lalu tanpa diduga, Asih melemparkan Sepotong timun tersebut kearah seorang pengunjung yang duduk disudut tak jauh dari tempatnya.
Pria tua dengan janggut panjang itu menangkap timun yang dilemparkan Asih kepadanya dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Pria itu memakannya, lalu tersenyum misterius.
Edy bingung dengan apa yang dilakukan Asih kepada pria tua itu "Mengapa Kau melempar kakek itu? Apa salahnya? Bahkan Kita tidak mengenalnya" cecar Edy yang merasa penasaran.
"Minuman diracuninya" jawab Asih dengan lirih. Edy membeliakkan matanya, bagaimana mungkin pria itu meracuninya, sedangkan pria itu baru saja datang.
"Kau ini mengada-mengada?" ucap Edy yang tak percaya.
Sesaat para pengunjung mulai merasa tak nyaman. Mereka mengetahui siapa pria yang duduk disudut sana, dan mereka tidak mengenal siapa Asih dan juga Edy.
"Jika Kau tak percaya, lihatlah lalat yang menyesap tumpahan minumanmu.." tunjuk Asih menggunakan ekor matanya.
Benar saja, lalat itu langsung mati, saat menyesap tumpahan kopi tersebut.
Lalu Asih melihat seekor ayam peliharaan pemilik warung yang sedang berkeliaran dihalaman, lalu Asih memanggil ayam itu dengan kekuatan bathinnya. Dan ayam itu mendekatinya.
Asih memberikan nasi putih yang disajikan, ayam itu memakannya. Lalu tiba-tiba ayam itu menggelepar, dan memuntahkan darah yang mengucur dari mulutnya.
Seketika para pembeli lainnya dan juga Edy terperangah melihatnya, lalu berusaha berlarian keluar warung, karena takut terkena imbasnya.
Namun pintu warung tertutup dan pembeli lainnya terkurung didalam.