
Tatapan Andre tak berkedip saat melihat pink diamond yang melingkar dileher Asih. Andre menaksir harga berlian itu yang mencapai triliunan tersebut.
Andre berjalan perlahan menghampiri Asih yang kini tengah berdiri terpojok didinding gudang.
Mata Asih memperhatikan kesekelilingnya, ada banyak bercak darah yang sudah mengering dilantai gudang, Asih memperkirakan gudang tersebut menjadi tempat penyiksaan bagi orang-orang yang membangkang atau tidak sefaham dengannya.
Edy yang saat itu sedang berdiri didepan Asih merasa sangat was-was jika sampai Andre, papanya melakukan perbuatan buruk kepada gadis itu.
Edy dapat melihat tatapan aneh dimata Papanya yang berjalan perlahan menghampiri Asih.
"Pa... Ini hanya salah faham, gadis ini tak sengaja terjebak kedalam gudang kita" ucap Edy mencobq mencegah langkah Andre agar tak lagi mendekati Asih.
Namun apapun yang Edy katakan tak membuat Andre menghentikan langkahnya. Ia menepiskan tubuh Edy yang tampak menghalangi jalannya.
"Siapa Kau? Darimana Kau mendapatkan pink diamond tersebut?" tanya Andre kepada Asih sembari berhenti tepat dengan jarak satu meter saja.
Andre berniat menyentuh batu permata yang begitu sangat memusatkan perhatiannya.
"Bukan urusanmu Aku mendapatkannya darimana" jawab Asih ketus. Saat ini Ia hanya menginginkan Bara kembali, Ia ingin segera kembali kehutan, ke kehidupannya yang tenang bersama keluarganya.
Mendengar jawaban dari Asih, membuat Andre tersenyum simpul.
Sesaat Andre menjukurkan tangannya untuk menyentuh batu permata itu, namun belum sempat tangan itu mendarat di sana, Asih dengan cepat menangkap pergelangan tangan pria itu lalu memutarnya berlainan arah, sehingga membuat pria itu meringis kesakitan.
Melihat bos mereka diperlakukan kurang ajar terhadap gadis penyusup itu, membuat para bodyguardnya merasa berang.
Para bodyguard itu mengacungkan senjata apinya kearah Asih, hal tersebut membuat Edy merasa bingung harus melindungi Asih atau Papanya.
Asih tersenyum sinis memandang semuanya. Lalu dengan cepat Ia memutar tubuh Andre menghadap para bodyguardnya sembari meletakkan pergelangan tangannya dileher Andre.
"Sekali saja kalian menggerakkan senjata itu, kupatahkan lehernya.!!" Gertak Asih sembari mengeratkan cekikan lengannya dileher Andre, sehingga membuat suara Andre seperti tertahan.
Asih membawa Andre sebagai tawanan untuk keluar dari gudang tersebut. Ia harus menemukan Bara secepatnya sebelum para pemilik sirkus membawanya keluar negeri.
Ia keluar sembari memasang wajah garang dan tatapan bengis "Dimana keberadaan Bara" tanya Asih kepada Andre sembari menekan pergelangan tangan pria itu, sehingga membuat pria itu kesulitan bernafas.
"Ba...Bara siapa yang kamu maksud?" tanya Andre tercekat, Ia mencoba menghirup udara untuk melegakan pernafasannya.
"Kuda yang Kau curi dari hutan waktu itu" ungkap Asih mencoba menjelaskan.
Seketika Andre mencoba mengingat Kuda gagah berwarna coklat tersebut dan tertawa mengejek "Aku sudah menjualnya dengan harga tinggi kepada pemilik sirkus luar negeri, dan sekarang Ia sudah akan menuju pelabuhan tempat pengiriman ke kapal" ucap Andre dengan merasa penuh kemenangan.
Asih berjalan menuju keluar pintu gudang, sembari terus membawa Andre bersamanya "Sialan Kau..!!" maki Asih dengan kesal.
Asih terus mencengkram leher Andre dan membawanya bersama, sementara itu Edy dan para bodyguard terus mengikuti langkah gadis itu dengan tetap menodongkan senjata api mereka.
"Dimana letak mobilmu?!" ucap Asih dengan geram.
"Tidak ada.!!" balas Andre yang semakin merasakan sesak di didadanya katena kesulitan menghirup oksigen.
Asih mencabut tas jorannya, dan mengeluarkan Katananya. Ia menyeringai dengan sadis " Katakan dimana mobilmu, atau Aku akan menebas lehermu hingga terpisah" ucap Asih semakin kesal.
Melihat kilauan Katana tersebut, membuat Andre menciut. Ia terpaksa mengalah dan menuruti keiinginan gadis itu "Ada digarasi" jawwb Andre sedikit bergidik melihat pedang yang dibawa gadis itu.
"Bagus..! Tunjukkan jalannya" sergah Asih sembari terus menyandera Andre.
Sesampainya dibagasi, Asih memaksa Andre untuk masuk kedalam mobil dengan terus menodongkan ujung Katananya.
"Bawakan Aku kepada Bara, jika sampai terlambat maka jangan salahkan Aku jika berbuat sadis!" Ancam Asih, lalu masuk kedalam mobil, dan meminta Andre menyetir.
Sesaat mobilpun meluncur menuju pelabuhan.
Edy tak tinggal diam, Ia juga mengambil mobilnya dan mengikuti kemana Andre membawa gadis pujaannya.
Bersamaan dengan itu, para bodyguard juga ikut mengejar mobil Andre yang kini menjadi tawanan Asih.
Tampak mobil itu saling mengejar antara Edy dan para bodyguard. Edy khawatir akan gadisnya sedangkan para bodyguard mengkhawatirkan Andre sang bos.
Ditengah perjalanan, sebuah mobil counteiner sedang berjalan membelah jalanan yang tampak sepi, mobil counteiner itu akan menuju pelabuhan untuk melakukan penyeberangan.
Saat itu Edy meyakini jika mobil itu membawa Kuda yang baru saja dijualnya.
"Itu mobil yang membawa Kudamu, Aku tidak ingin terlibat didalamnya, jika Kau menginginkannya maka ambillah sendiri" pungkas Andre kepada Gadis cantik namun berbahaya.
Andre mencoba merapatkan mobil tersebut agar Asih dapat menghampiri mobil tersebut. Asih bersiap dan menyimpan katananya didalam tas jorannya. Saat mobil itu hampir dekat dengan counteiner tersebut, Andre melambatkan laju kendaraannya lalu Asih melompat dengan ringan layaknya seekor kukang dan kini bergelantungan dibelakang counteiner.
Asih mencoba untuk membuka gembok yang menjadi safety dari mobil tersebut. Sementara itu, Andre mengikuti counteiner itu dari arah depannya.
Sementara itu, mobil Edy yang sudah berada di belakang Asih merasa sangat kasihan dwn ketakutan melihat gadis itu yang berusaha untuk membuka gembok tersebut.
Edy melemparkan pistolnya kepada Asih, agar gadis itu dapat membuka pintunya. Asih dengan sigap menangkapnya, dan menembakkan senjata api tersebut kegembok tersebut.
Suara letusan senjata api tersebut membuat sopir dan keneknya merasa curiga. Ia melihat dari kaca spionnya namun tak tanda-tanda mencurigakan, namun mereka yakin ada sesuatu yang tidak beres.
Lalu mereka menepika mobil counteinernya, dan segera memeriksanya.
Merasakan ada bahaya, Asih dengan cepat memanjat didnding conuteiner dan naik keatasnya.
Saat bersamaan, sopir dsn kenek itu memeriksa kearah belakang. Ternyata dugaan mereka bemear, gembok boks counteiner sudah terbuka dsn pintu masih tertutup.
Kedua pemuda itu meyakini jika ada seseorang yang berusaha untuk membuka gembok tersebut, dan menggunakan pembobolan melalui senjata api
"Sepertinya ada penyusup yang mengikuti kita..." ucap sopir bertubuh kekar tersebut.
"Ya... Sepertinya orang tersebut masih dalam lingkaran counteiner ini" ucap sang kenek dengan tatapan penuh kecurigaan.
Sopir itu mengangguk membenarkan ucapan keneknya.
"Mari Kita periksa bersama" jawab sopir tersebut. Lalu diikuti oleh sang kenek.
Saat ini, sang kenek melihat juntaian rambut Asih dari atas counteiner. Lalu Ia menyikut lengan sopir itu itu dengan unung sikunya.
Bersamaan dengan itu, sopir yang melihat juntaian rambut tersebut tersenyum licik, lalu memberikan kode menyergap kepada Keneknya.
Dengan cepat mereka mencoba menaiki badan counteiner dan berusaha mencapai atas counteiner.
Sesampainya diatas, Asih sudah tersenyum dengan semangat menyambut para musuhnya.