
Aroma daging panggang sudah membuat sekelompok orang tersebut merasa sangat lapar dan perut keroncongan.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya daging itu matang juga. Lalu mereka meminta sang Bos untuk menikmatinya terlebih dahulu.
Salah seorang mereka mengerat daging paha rusa tersebut dan diberikan kepada Bos mereka.
Lalu sisanya mereka memakannya bersama-sama hingga tanpa sisa.
Setelah makan dan minum cukup kenyang, mala mereka memutuskan untuk segera mengikuti jejak tapak kaki kuda tersebut .
Mereka terus mengikutinya, meskipun kelelahan mulai tampak menyerang mereka.
Hari semakin petang, lalu mereka memutuskan untuk beristirah dan membuat api unggun. Dalam sekejab langit berubah gelap. Sepertinya hujan akan turun dan petir tampak gemuruh yang Akan menyambut kehadiran para sekelompok orang tersebut
"Kita beristirahat sejenak... Sepertinya hujan akan turun" titah dari Bos mereka. kesembilan anak buahnya itu hanya bisa mematuhinya saja.
Lalu mereka mencari tempat untuk beristirahat, berteduh dibawah pohon yang berdaun rindang. Diantara kesembilan orang anak buahnya, dua diantaranya tampak begitu memucat.
Wajah mereka sepucat kapas dan sepertinya begitu sangat kelelahan. Ingin mengeluh namun rasanya percuma, karena mereka akan semakin mendapat perlakuan buruk.
sementara itu, gemuruh mulai terdengar dan kilatan cahaya petir sesekali tampak menyambar apa saja, memamerkan kekuatannya.
Duuuuuaaaaar....
Suara sambaran petir yang menyambar pephonan menimbulkan kengerian yang sangat mencekam, sekelompok orang tersebut tampak tersentak karena kuatnya suara ledakan tersebut.
Seketika hujan deras turun mengguyur mereka tanpa ampun. Tubuh mereka menggigil kedinginan.
"Jauhkan golok dan logam yang ada pada kalian, itu akan mengundang petir" titah sang Bos kepada kesembilan anak buahnya.
Lalu mereka melemparkan benda logam apa saja yang melekat pada diri mereka kesenbarang tempat.
Disisi lain, dua orang yang sedang berkuda menghentikan perjalanan mereka dan mencari tempat untuk berteduh.
Gadis cantik yang tak lain adalah Asih, melompat dati punggung kuda, dan menarik tali kekang kuda tersebut, dan menuntuntunnya menuju sebatang pohon beringin.
Lalu seorang pemuda juga ikut melompat dan mengikuti sang gadis tersebut berteduh dibawah pohon beringin dengan sulur-sulurnya yang menjuntai kebwah.
Kedua duduk diatas akar pohon yang tampak menyembul keluar dan menatap langit kelam yang tampak begitu menakutkan.
Asih meletakkan tas jorannya dibalik batang pohon yang sedikit menjauh darinya. Lalu Ia bersandar dibatang pohon yang berukuran raksasa itu.
Nafas gadis itu naik turun. Hawa dingin dari hujan tersebut tak mempengaruhi suhu tubuhnya, berbeda dengan pemuda yang berada disiinya, tampak menggigil kedinginan, Asih hanya meliriknya saja.
Asih menselunjurkan kedua kakinya kedepan. Ia mensedakapkan kedua tangannya diatas perutnya, lalu memejamkan keduanya matanya, mencoba mengusir rasa rindu kepada keluarganya.
Pemuda disisinya hanya mampu memandangi keanggunan wajah sang gadis yang begitu tampak eksotik dengan buliran air hujan yang menetes dikulit wajahnya.
"Mengapa Ia tidak seperti merasa kedinginan atau lelah? Aku yang pria saja sudah menggigil, tetapi Dia sungguh luar biasa" guman pemuda itu yang tak lain adalah Edy.
Batu berlian yang tergantung dileher Asih tampak berkilauan terkena percikan air hujan. Edy mencoba menyentuhnya, mengamati batu permata tersebut, namun sepertinya batu permata itu tak bereaksi sama sekali.
Ia ingin meletakkannya kembali, namun sepertinya Asih yang sudah terlelap dengan tidurnya sedang mengigau, Ia menangkap pergelangan tangan pemuda itu, lalu menariknya.
Seketika Pemuda itu terjerembab jatuh dalam pekukannya.
Seketika mata pemuda itu terbeliak, Ia merasakan suhu tubuh Asih sangat panas, berbeda dengan suhu tubuh manusia lainnya. Seketika rasa menggigil ditubuhnya menghilang, saat kukit mereka bersentuhan.
Dua buah benda kenyal milik sang gadis berada tepat ditelinga kanannya, Ia mreasakan mendapat sebuah bantal tempat untuk tidur.
Namun hal tersebut, membuatnya merasa tak tahan, Ia harus segera menyingkir sebelum Ia berbuat lebih jauh. Belum sempat Ia beranjak, Asih sudah melemparkannya kesisi kanan, Edy terjerembab diantara akar pohon yang menyembul.
Pemuda itu mengerang kesakitan, memegenag lengannya. "Huuuuh... Baru saja aku merasakan nyaman, kini harus ditendang tanpa aba-aba" gerutu Edy sembari berusaha untuk bangkit.
Ia kini duduk tepat disisi kanan Asih, Ia tahu jika gadis itu lelap pasti akan merosot kesamping.
Dan....
Sssssstttthhhss..
Seketika seekor ular sanca sebesar kaki manusia dewasa dengan perkiraan panjang 5 meter, siap melahap kepalanya.
Namun tanpa diduga, Asih menarik kepala Edy kesisinya, lalu berguling kesisi kiri. Saat Ia berada diatas tubuh pemuda itu, Ia melompat dengan gerakan ringan dan menangkap kepala ular tersebut lalu menariknya turun.
Melihat aksi heroik sang gadis, Edy terlonjak dan segera bangkit, lalu menjauh dari tempat itu.
Tubuh ular itu meliuk-liuk karena lehernya dicengkram kuat oleh Asih.
Gadis itu menarik tubuh ular tersebut kebalik pohon, dan...
Kreeeerrs....
Terdengar suara sabetan dari benda tajam, lalu tubuh ular itu tampak menggelepar, dan kemudian melemah dan tak bergerak lagi.
Edy membolakan matanya, Ia sudah menerka jika Asih telah membegal kepala ular tersebut.
Belum sempat rasa terkejutnya, gadis itu menggodanya dengn melemparkan kepala ular yang sudah tetpenggal itu kekaki pemuda tersebut.
Dan benar saja...
Aaaaargh...
Pemuda itu menggelinjang antara kaget dan juga geli melihat kepala ular tersebut.
Entah mengapa, Asih terkekeh melihat ulah Edy yang terlihatnya sangat konyol. Tawa yang selama ini tak pernah meluncur dihidupnya. Seketika Edy terhenyak mendengar suara gadis itu tertawa.
Wajahnya tampak begitu sangat cantik. Wajah yang selama ini selalu bertampang serius.
Setelah puas mentertawakan pemuda itu, Ia kembali menyeret tubuh ular yang sudah tak lagi bernyawa dan tak berkepala itu.
Ia menyerahkannya kepada Edy "Nah... Bersihkan, untuk makan malam kita!" titah Asih seenaknya. Lalu melemparkan tubuh ular itu begitu saja disisi kaki pemuda itu yang kembali terkejut.
"Haaah.?! Apa?" teriak Edy tak percaya. "Aku tidak mau. Apakah tidak ada makanan lain dihutan ini selain daging ular?" rengek Edy yang merasa jijik dan geli harus membayangkan memakan daging ular tersebut, jangankan memakannya, membayangkannya saja Ia sudah mual.
Asih menatapnya dengan sorot mata tajam, membuat pemuda itu bergidik ngeri, seketika aura kejam terpancar diwajah sang gadis.
Tanpa berkata-kata. Asih meraih tubuh ular itu, lalu mengulitinya dengan sangat cepat, membuat Edy terperangah dengan kecekatan sang gadis.
Dalam sekejap, ular itu sudah dikulitinya, menyisakan daging berwarna merah muda.
Tanpa disadari Edy, kali ini Asih berniat untuk mengerjai pemuda itu lagi. Seperti sikap konyol Edy membuatnya merasa senang untuk selalu mengerjainya.
Ia mebedah perut ular tersebut. Lalu mengambil kantung tipis berisikan cairan berwarna hijau. Dengan gerakan menggoda, Ia menghampiri pemuda tersebut, menatapnya dengan senyum yang tak biasa.
Tingkah Asih yang tak biasa membuat pemuda itu sedikit waspada. Namun Asih lebih licik darinya. Setelah jarak mereka cukup dekat, Adih menggodanya dengan menekan pusat pemuda itu, sehingga pemuda itu tersentak dan membuka mulutnya.
Kesempatan itu dimanfaatkan Asih memasukkan kantung cairan hijau milik ular sanca kedalam mulut Edy, dan menutup mulut pemuda itu, hingga benda itu meluncur bebas kedalam tubuhnya.
Rasa amis masih tersisa dimulutnya membuat rasa mual yang teramat sangat.
"Heei... Apa yang sudah masukkan kedalam tubuhku? Apakah Kau berniat membunuhku!" teriak Edy yang tampak kesal.
Asih tampak mentertawakannya. Edy yang merasa kesal karena merasa dikerjai sang gadis, mencoba ingin membalasnya. Ia mengambil tanah merah yang basah bagaikan bubur, lalu berniat mengejar sang gadis.
Asih yang menyadari jika Edy ingin membalasnya, mencoba berlari menghindarinya, namun naas, kakinya tersangkut akar pohon beringin.
Pemuda itu dengan cepat menangkapnya. "Kena Kau..!" lalu mengoleskan tanah merah yang seperti bubur itu kepipi kanan sang gadis.
Sepertinya