
Dina tersentak dari tidurnya.. Sentuhan hangat itu membuatnya terjaga. Ia merasakan kehadiran Bromo sang suami silumannya.
"Kanda.. Sejak Kapan kau hadir..?"tanya Dina dengan bergeliat meregangkan otot tubuhnya.
"Baru saja sayang.. Istirahalah.. Aku akan menjagamu.." ucap Bromo tenang, sembari membelai lembut wajah Dina.
Dina tersenyum manja, menatap sendu suaminya.
"Mengapa wajah Kanda begitu tampak muram..? Ada hal apa gerangan..?" tanya Dina dengan selidik.
Bromo menatap kekasihnya dengan pandangan yang tak biasa.
"Maukah kamu ikut dengan Kanda..? Tinggal diistanah, bersama keabadian..." tanya Bromo dengan raut wajah datar.
Deeeegh...
Jantung Dina seakan ingin lepas. Bagaimana mungkin Ia akan meninggalkan Abah dan Umi yang kini baru saja berbahagia dengan kehadirannya. Lalu sekarang Ia harus pergi lagi.
Seketika Dina terperangah, mengingat kata 'Keabadian' .
"Kanda.. Apakah maksud dari keabadian itu..? Apakah Dinda harus...." Dina menggantung ucapannya. Ia tidak menduga jika Bromo harus senekad itu.
"Kanda tidak memiliki cara lain.. Dan kanda tidak ingin melihatmu terus menerus dalam kesusahan.. Di istana kau adalah ratunya, segala sesuatunya akan dipersiapkan sesuai keinginanmu.. Apakah kau mau..?" tanya Bromo sekali lagi.
"Kanda.. Dinda sangat mencintaimu, tetapi bukan untuk hal sekonyol ini.. Bukankah itu namanya bunuh diri..? Dan bunuh diri adalah hal yang sangat dilarang.." ucap Dina mencoba mengingatkan suami silumannya.
"Bukankah saat itu Dinda juga hampir melakukannya..?" cecar Bromo.
"Ya.. Saat itu pikiranku sangat kalut, Dinda sedang berputus asa, tidak memiliki arah dan tujuan. Sehingga berfikir secara tidak waras." jawab Dina dengan tenang.
Bromo hanya diam membisu. Sebenarnya jika ingin sesuatu, maka akan mudah baginya untuk melakukan hal itu. Namun kali ini, Ia harus meminta ijin terlebih dahulu pada yang empunya raga. Karena jika saja yang pemilik raga itu tak mengijinkan, maka akan berakibat fatal.
Saat mereka sedang berbincang. Bromo merasakan ada sesuatu yang sedang merayap diatas bubungan rumah Abah Kasim. Ia merasakan rayapan itu semakin terdengar bergerisik.
"Dinda disini duku.. Kanda yang akan memeriksanya." ucap Bromo dengan berbisik.
Dina juga merasakan hal sama, jika hawa negatif sedang berada dekat disekitarnya.
Bromo dengn cepat menghilang. Lalu terperangah saat melihat Ristih telah berada diatas sana.
"Astaga..! Mengapa siluman sialan ini masih terus saja mengekoriku..?" ucap Bromo dengan nada kesal.
Ia tidak mengerti dengan sikap Ristih yang tak ada jeranya untuk menggangu hidupnya.
Bersamaan dengan hal itu.. sosok Banaspati juga muncul dari arah berlawanan.
Bromo yakin, jika Banaspati muncul karena ingin menuntut balas atas kematian salah satu keluarganya, yang terkena hantaman ajian Kiyai Liung ghaib.
Bromo memancing keduanya agar mengikuti Ia ketengah hutan, yang bertujuan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan bagi warga dan juga keluarga istrinya.
Dina merasa penasaran. Lalu Ia melihat dengan mata bathinnya, Ia tau jika Bromo sedang menuju hutan, Dina terlonjak dan meraih busurnya untuk mengikuti mereka.
"Apa sebenarnya yang diinginkan oleh setan betina itu?. Ia terus saja menggangu Kanda. Apakah di negerjnya tidak ada lagi siluman yang tampan..? Sehingga Ia harus menggangu Kanda.." Gerutu Dina dengan sangat kesal.
Dengan menggunakan ajian Bayu Bajrah, Dina terbang melayang mengejar Bromo yang kini tengah diikuti oleh Ristih dan Banaspati.
Ristih dengan sigap membelit tubuh Bromo dari belakang. Lalu mengangkat tubuh pria itu tepat menghadap wajahnya. Entah apa yang merasuki Dina saat ini. Melihat Bromo diperlakukan seperti, membuat hatinya terbakar cemburu.
Saat itu Ia melihat Bromo hanya diam membisu. Ristih menarik tubuh Bromo begitu dekat dengan wajahnya, tampak jelas sekali jika Iblis betina itu ingin mengecup bibi prianya.
Merasa Bromo yang yang sepertinya diam saja menerima perlakuan dari Ristih, Ia menggerutu sangat kesal.
"Dasar lelaki..!! Siapapun dan dimanapun semuanya sama saja, Buaya..!!" Gumannya dengan kesal.
Tanpa berfikir panjang lagi, Dina mengarahkan busur panahnya, membidik tubuh siluman ular yang siap akan menyesap bibir kekasihnya.
Anak panah melesat menuju sasarannya, dan...
Aaaarggghhh...
Ristis melengking kesakitan, lalu melepaskan belitannya. Tampak anak panah itu menancap tepat dipinggulnya.
Ristih segera menoleh kerarah orang yang memiliki panah tersebut.
Dengan tatapan sangar, Ia segera merayap mendekati Dina. Dengan segala kemarahan dan kekesalannya, Ia ingin segera melahab Dina secara utuh.
Namun Bromo segera menghadangnya. Naas, Banaspati menyerang Bromo, sehingga Rustuh dengan mudah menyerang Dina.
Dengan ajian Bayu Bajrah yang dimilikinya, Dina melesat menghindari serangan yang dilancarkan oleh Ristih. Kini Ia sudah berada diatas tubuh besar Ristih, dengan perasaan kesal dan bercampur cemburu, Dina kembali membidikkan anak panahnya diitubuh Ristih.
Dan...
Aaaarggh..
Kembali Ristih meraung kesakitan. Ia sangat marah pada Dina yang masih bertengger di tubuh besarnya.
Tubuh Ristih meliuk-liuk diudara dengan peeasaan marah. Kepalanya gencar menyerang Dina, namun tak juga dapat mencapainya.
Lalu Dina teringat suatu pesan, dimana kelemahan seekor ular adalah di ekornya.
Maka dengan cepat Dina menuju ekor Ristih, Ia mengeluarkan sebilah pedang, berniat hendak memotong ekor tersebut. Namun belum sempat Ia lakukan, Ekor itu melibasnya dengan cepat.
Wuuuushhh..ssst..
Aaaargh..
Dina meringis kesakitan. Ia memegangi lengannya yang membiru karena terkena sabetan ekir Ristih.
Seketika pandangannya menjadi kabur, sepertinya ekor ristih mengandung racun. Ia begitu sangat lemah, tidak mampu menahan serangan itu.
Dan..
Tubuhnya jatuh melayang dari udara dengan ketinggian 100 meter..
Bromo yang masih bertarung melawan Banaspati, segera menghilang, dan menyambut tubuh kekasihnya. Membawanya pergi jauh.
Ristih merasa sangat geram. Ia mencabut anak panah yang masih menancap dipinggul dan bagian tubuh lainnya.
Ristih mengerang kesakitan."Dasar kau sialan anak manusia..!! Lihat saja nanti.. Aku akan memusnahkanmu.." umpat Ristih dengan geram.
Sementara itu, Banaspati yang kehilangan jejak Bromo merasa sangat kesal, Ia belum sempat menuntaskan balasan bagi keluarganya.
Ia pergi dengan perasaan sangat kesal. Lalu membakar sebatang pohon sebagai pelampiasan kemarahannya.
Disisi lain.. Ristih yang juga terluka parah karena tertancap anak panah memilih untuk kembali keistananya.
Ia begitu sangat kesal. Lalu Ia sampai diistana kemegahannya. Para pelayan memyambutnya dengan heran. Mereka membawakan berbagai ramuan untuk menawarkan luka pada tubuh Ratu mereka.
Ristih mengerang kesakitan. saat itu, Reksa datang menghampirinya dengan wajah yang penuh penasaran.
"Ibu mengapa bisa luka separah ini..? Katakan padaku siapa pelakunya.?" ucap Reksa dengan percaya dirinya.
"Halllah.. Melawan anaknya saja kamu tidak mampu, konon mau melawan orangtuanya.." jawab Ristih kesal yang semakin membuat nyeri pada lukanya.
"Maksud Ibu, Dina..? Ibunya Asih..?" tanya Reksa penuh dengan penasaran.
"Asih...dimana kamu sayang..? Sudah lama sekali kita tidak bertemu.." guman Reksa dengan senyum seringainya.
~bagi penggemar Asih, kita akan masukkan di bab yang akan datang selanjutnya..Dia akan hadir kembali setelah lama diumpetin..~