
Setelah berhasil membinasakan Buto Ijo, Asih dan Arini mencoba merenangi sungai tersebut untuk sampai diperbatasan. Keduanya kembali menyesuri hutan dan menuju lembah Nirwana.
Hingga akhirnya mereka sampai disebuah tempat yang indah, sebuah lembah dengan beraneka warna-warni aneka bunga dan diantara bunga yang sedang bermekaran itu, Asih melihat satu bunga wijayakusuma berwarna putih yang sedang mekar diantara bunga wijayakusuma lainnya.
Namun bunga itu terdapat ditengah-tengah lembah yang mana dijaga oleh sang kumbang hitam atau dibiasa dikenal macan kumbang hitam.
Asih menarik nafasnya, Ia harus mendapatkan bunga itu sebelum layu dan membawanya kepada ibundanya.
Melihat kehadiran Asih, seketika macan kumbang yang berjumlah 3 ekor itu beranjak bangkit dan menatap penuh kewaspadaan. Ketiga penjaga itu tidak rela jika Asih mengambil bunga Nirwana yang sedang mereka jaga dan akan diambil oleh Asih.
Tatapan ketiga ekor macan kumbang itu sangat begitu mengerikan, lalu tanpa diduga, ketiganya berubah wujud menjadi siluman dengan setengah tubuh manusia dan kepala mereka dengan wujud macan kumbang.
Ketiganya memiliki cakar besi yang cukup tajam pada kedua tangannya.
Asih memandang dengan kewaspadaan, dan ini sangat perlu kehati-hatian.
Asih menghunuskan pedangnya, Ia harus cepat untuk mendapatkan bunga itu sebelum layu.
Asih melayang untuk mengambil bunga itu, namun salah satu macan kumbang menyerangnya dan menghalanginya.
Asih mencoba menangkisnya, dan terdengar suara dentingan dari pedang Asih dengan kuku cakar besi milik macan kumbang itu.
Arini yang melihatnya, lalu melayang dan membantu Asih dengan berusaha menerobos masuk kedalam pintu yang kini dijaga oleh dua macan kumbang lainnya.
Dua macan kumbang itu menyerang Arini secara bersamaan, lalu dengan cepat Arini menggunakan tongkatnya dan menahan serangan tersebut dengan mebagi perhatiannya kepada dua makhluk penyerangnya.
Sedangkan Asih masih bertarung melawan satu macan kumbang yang terus tampak agresif.
Asih memutar tubuhnya diudara dan dengan cepat Ia menghunuskan pedangnya menyasar pada kepala lawannya, namun serangannya meleset dan cakaran besi itu mengenai lengannya, lalu darah merembes dari bekas luka tersebut.
Asih kemudian mendarat dengan cepat. Waktu terus berjalan, Ia tidak ingin bunga itu mengatup kembali, Ia harus mendapatkannya.
Macan kumbang itu terus menyerang dengan cakaran besinya, luka yang ciptakan macan kumbang itu cukup dalam, namun Asih harus cepat.
Dengan gerakan melayang, Asih membuat gerakan menebas dan menciptakn angin yang cukup besar dan tanpa diduga, Ia kembali memutar tubuhnya dan menebas kepala macan kumbang dalam kecepatan yang tak terduga.
Tubuh siluman itu akhirnya ambruk dan tak bergerak lagi.
Melihat rekannya tewas, sesosok macan kumbang yang masih menyerang Arini, kini merasa sangat geram pada Asih, lalu Ia melemparkan cakar besinya kepada Asih, dan cakar itu melayang diudara mengejar Asih dan menyasar pada wajahnya.
Asih segera menghunuskan pedangnya dan menangkis cakar besi yang bergerak cepat menghajarnya.
Suara dentingan demi dentingan terus menggema saat pedang dan cakar itu beradu.
Asih melesat menghindari cakar tersebut, dan menuju kepemiliknya, lalu tanpa mebutuhkan waktu yang lama, Asih sampai tiba didepan macan kumbang dan menghunuskan pedanganya dan tetap menyasar kepala macan kumbang itu, sedangkan cakar besi yang tadi mengejar berbalik arah mengejar Asih kembali, lalu dengan cepat ingin menancapkan cakarnya yang runcing dan tentunya tajam.
Asih bergerak lebih cepat menebas kepala Macan kumbang yang membuat kepala makhluk itu terbelah dua dan asap keperakan keluar dari tubuh makhluk yang dibinasakannya, sedangkan cakar yang tadi mengejarnya menacap pada satu macan kumbang yang sedang bertempur melawan Arini.
Asih segera melompat memasuki pintu dan ingin segera mengambil bunga wijaya kusuma tersebut.
Lalu Macan kumbang itu menyerang, dan Arini bergabung untuk membantu.
Dengan cepat Asih membalas serangan dari macan kumbang itu, dan menghunuskan pedangnya.
Sabetan pedang Asih terus menggema diudara. Ia ingin segera mengakhir permainan ini, karena waktu yang tidak banyak lagi
Asih melayangkan tendangannya dan membuat macan kumbang itu menangkap kaki Asih dan menancapkan cakar besinya pada pangkal kaki Asih.
Macan itu menekan cakar tersebut dengan sangat kuat dipangkal Kaki Asih sehingga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa dan cakar itu menembus daging pangkal kaki Asih.
Asih meringis kesakitan sembari menggeretakkan giginya dan dengan cepat Asih menghunuskan pedangnya dan menikam leher dari sang macan kumbang.
Makhluk itu mencabut cakarnya dan sengaja memberikan robekan yang lumaya lebar, dan Asih membalasnya dengan menebaskan pedangnya pada leher makhluk itu yang kini menggelepar dan hilang dengan serpihan cahaya perak.
Asih meringis kesakitan karena luka yang dialaminya cukup parah, lalu Ia mencoba menarik nafasnya, dan mengobati lukanya hingga mengatup kembali.
Asih gak ingin membuang waktunya, lalu dengan cepat melesat memetik bunga wijaya kusuma itu dan mendapatkan satu yang berwarna putih.
Asih kemudian melesat kembali bersama Arini dan melewati jalur yang sama untuk sampai kembali ke istana sang ayahanda.
Dengan segala perjuangannya, akhirnya Asih berhasil membawa bunga itu kepada ibundanya sebelum bunga itu layu.
Lalu Asih memberikannya kepada Dina, meskipun Ia harus melewati berbagai rintangan yang sangat sulit.
Dina menerimanya, lalu Ia mulai membuat ramuan dan menggunakan bunga wijaya kusuma itu sebagai bahan utamanya.
Dengan segala ketulusan Asih, dan perjuangannya, akhirnya Dina menciptakan ramuan yang dibutuhkan oleh Asih untuk menyelamatkan para penduduk bumi.
Dengan cepat Dina memberikan ramuan tersebut kepada Asih "Bawalah.. Hari ini malaikat akan menurunkan hujan yang mereta keseluruh dunia, maka taburkanlah ramuan ini keseluruh semesta, dan air hujan yang bercampur dengan ramuan ini akan menghilang semua virus dan wabah yang melanda.
Setelah itu, pergilah untuk membantu suami yang sedang berjuang dalam menyelamatkan penduduk bumi dari kejamnya Wei. Hancurkan batu permata itu dengan sisa ramuan ini" ucap Dina yang menyerahkannm satu botol kecil ramuan berwarna biru untuk menghilangkan pengaruh kegelapan dari batu permata tersebut.
Asih menganggukkan kepalanya, dan berpamitan untuk segera menjalankan misinya.
Dina mengerjapkan kedua matanya dan memberi restunya kepada Asih.
Lalu Asih melesat dan berada diatas awan yang ternyata benar sedang dalam kondisi menghitam dan akan turun hujan.
Lalu Asih berdiri diatas awan yang menghitam.
Asih memutar tubuhnya dan menaburkan ramuan tersebut dengan merata, lalu tampaknya hujan akan turun dengan segera dan air hujan yang turun dengan deras dan bercampur dengan ramuan itu akhirnya menyirami seluruh penduduk negeri.
Air hujan itu membasahi bumi dengan begitu sangat deras. Lalu dengan cepat hawa dari ramuan tersebut membuat para pasien yang sedang mengalami infeksi dari wabah tersebut perlaham merasakan perubahan, dan perlahan mereka membaik dan yang terkena air hujan itu akan sembuh dengan cepat.
Para mutan yang sedang memyebarkan racun wabah tersebut, kembali menjadi manusia normal saat terkena air hujan yang kini bercampur dengan ramuan buatan Dina.
Perlahan penduduk bumi menjadi kembali sehat dan menemukan hidup mereka.