Buhul ghaib

Buhul ghaib
Pertempuran



Ristih masih terus membelitkan tubuhnya ditubuh Bromo, Ia menghadapkan wajahnya tepat diwajah Bromo, sudah sekian lama kita tidak bertemu Sadewo, dan kau masih setampan dulu.." ucap Ristih penuh makna.


"jangan kau bertele-tele, katakan saja apa maumu..?!"Jawab Bromo dengan tenang, namun penuh penekanan.


"anakmu telah melukai puteraku, maka Ia harus bertanggungjawab." ucap Ristih dengan parau.


"anakku tidak mungkin melukai puteramu, jika bukan puteramu yang yerlebih dahulu memulainya.!" jawab Bromo, berusaha melindungi Asih dari iblis betina tersebut.


"Dasar iblis ******..! Lepaskan Romoku.." teriak Asih sembari mencabut pedangnya dan melayangkan kearah kepala Ristih.


Namun Ristih meliukkan kepalanya sehingga berhasil menghindari sabetan pedang Asih.


"Dasar kau anak kecil Sialan..!" Ristih memaki Asih. Ia menyerang Asih dengan tongkatnya, membuat Asih terpental jauh.


Melihat Asih terluka, Bromo murka, Ia mengeluarkan tenaga dalam dan sihirnya, lalu melukai tubuh Ristih yang membelitnya.


Bromo menciptakn suhu panas pada tubuhnya, sehingga membuat Ristih merasa terbakar. Lalu Ia melepaskan belitannya.


Chakra berlalri ingin menolong Asih, namun para prajurit Ristih mencekal Chakra, maka terjadilah pertempuran antar Chakra dan prajurit Ristih yang berjenis ular siluman.


Chakra mengayunkan pedangnya lalu menyerang balik para prajurit. Beberapa prajurit siluman itu terpotong tubuhnya, lalu menghilang.


Arini membantu melakukan perlawanan. Ia menyerang prajurit Ristih dengan gagah berani.


Asih bangkit sembari memegangi dadanya yang sakit, dari sudut bibirnya mengalir darah segar.


Dengan bantuan pedangnya, Asih mencoba menyeimbangkan tubuhnya, lalu berusaha untuk berdiri tegak.


Setelah tubuhnya kembali berdiri, Ia mengambil nafas dalam, lalu menyempurnakan pernafasannya.


Asih membantu melawan dan menyerang ular siluman yang jumlahnya sangat banyak. Asih terus melayangkan pedangnya, memotong dan mencincang tubuh lawannya.


Suara Pekik kesakitan dari setiap lawan yang terkena sabetan pedangnya menggema mengudara, lalu sesaat mereka menghilang. Kini tinggal siluman ular yang diakui adalah anak Ristih. Siluman itu memandang tajam pada Asih, senyumnya menyeringai memandang Asih.


"kemarilah kau anak manja..!! Hadapi aku, jangan bersembunyi di balik ketiak ibumu..! Ciiih..!" Asih meludah ke tanah, sembari bersiap menerima serangan.


Ristih masih bertempur dengan Bromo. Ia menggerakkan senjata tongkat andalannya. Lalu mengeluarkan cahaya berwarna merah yang sangat berbahaya. Karena cahaya itu dapat menimbulkan rasa panas dan terluka bakar jika mengalaminya.


 


Ular siluman berwajah menyeramkan itu menyerang Asih. Ia merasa tersinggung dengan ucapan yang dilontarkan oleh Asih. "aku akan merobek mulutmu yang tajam itu dengan senjata Dwi sulaku." teriak ular siluman itu.


Ia menyerang Asih dengan kesal. Ia merasa harga dirinya telah diinjak-injak oleh Asih.


Asih terus memberikan serangan balasan. Hingga akhirnya, Ia menahan senjata siluman ular, pedang Asih berada ditengah senjata dwi sula, lalu Asih memutar tubuhnya, dan menghentak senjata milik siluman ular dengan sangat keras, sehingga senjata itu terpental jauh.


Asih melompat sembari bersalto dan menyambar senjata milik siluman ular yang terjatuh.


Asih bersiap menyerang kembali. Ia menghunuskan senjata pedangnya, dwi sula dipegang ditangan kirinya. Ia menatap tajam pada siluman ular.


siluman ular menggeram karena senjatanya berhasil dirampas oleh Asih. Ia menyerang kembali, dengan gerakan memutar sembari melibaskan ekoranya kepada Asih. Namun Asih berhasil menghindari dengan cara melompat sedikit tinggi, lalu dengan cepat menggores tubuh bagian pinggang siluman ular tersebut menggunakan senjata Dwi sula milik siluman ular.


"aaaaaaaggggghhh" teriak siluman ilar mengerang kesakitan.


Luka sayatan yang sangat dalam menggores pinggangnya, menimbulkan luka perih, panas dan sakit yang luar biasa. Ia terkena senjatanya sendiri.


Menyadari anaknya tersungkur ditanah, Ristih menghentikan serangannya terhadap Bromo, lalu Ia melesat menghamipiri Anaknya. "Rekso..bangunlah..!!" teriak Ristih sembari mengguncang tubuh puteranya.


Dengan oenuh amarah, Ia menatap Asih penuh dendam. "awas kau anak sialan..!!" ucapnya dengan menggeram. Lalu membopong tubuh Rekso dan menghilang.


Asih mengamati setiap arah, memastikan jika siluman itu benar-benar telah pergi.


Bromo menghampiri Asih. Lalu melihat senjata yang dipegang Asih dengan teliti. "boleh Romo lihat Dwi sula yang kamu pegang itu..?" pinta Bromo dengan lembut namun penuh dengan pengharapan.


Asih mengulurkannya kepada Bromo, lalu Bromo meraihnya. Ia mengamati senjata Dwi sula yang digunakan oleh Asih untuk melukai Reksa. Brkmo mengamatinya dengan sangat hati-hati.


"ini Dwi sula milik kakek buyutmu yang hilang dicuri ratusan tahun lalu, dan tanpa sengaja kamu telah merebutnya kembali Asih." ucap Bromo berbinar.


Siapa menyangka jika Kekonyolan Asih telah membawa keberuntungan. "benarkah Romo..?" ucap Asih penasaran. Lalu Chakra juga mendekatinya.


"apa kelebihan senjata in Romo..?" tanya Asih dengan penasaran.


"senjata ini mengandung racun yang mematikan, maka berhati-hatilah dalam menggunakannya. Gunakan saat kamu dalam kondisi terdesak saja." ucap Bromo menjelaskan.


"Karena kamu yang telah mendapatkannya, maka Dwi sula ini Romo hadiakan untukmu. Maka simpanlah baik-baik." pinta Bromo dengan tegas.


Asih mengangguk mengerti. Lalu Ia menyimpannya disamping sisi pinggang kirinya.


"ayo..kita temui ibumu didalam."ucap Bromo mengajak kedua anaknya.


Dina yang sedari tadi menunggu didalam merasa ketakutan dan penuh kecemasan. Ia takut akan ada bahaya lain yang datang. Sejak beberapa hari ini Mereka selalu menghadapi masalah uang sangat menakutkan. Serangan demi serangan dari makhluk aneh membuat Dina merasa trauma.


 


Dina tersentak dari tidurnya, Ia bermimpi bertemu dengan Kasim dan Lastri kedua orangtuanya. Bromo yang melihat itu ikut duduk disisi Dina.


"ada apa Dinda..? Mengapa kau begitu terlihat gelisah.?" ucap Bromo dengan sangat hati-hati.


Ia meraih kepala Dina, membawanya dalam sandaran pundaknya.


"Dinda bermimpi bertemu dengan ayah dan ibu.. Dinda merasa kangen dengan mereka Kanda.." ucap Dina dengan lirih.


Puluhan tahun tidak bertemu dengan kedua orang tuanya membuatnya merasa sangat rindu dan ingin menemuinya.


Dalam pandangan ghaibnya, Ia melihat Kasim sang Ayah tengah mengupas coklat. Pria berwajah teduh itu terlihat sangat lelah. Dina dapat merasakan jika kedua orangtuanya masih berharap tentang dirinya.


Tampak lastri sedang mengayam tikar pandan. Keahliannya dalam menganyam, membuatnya menghasilkan pundi-pundi uang.


Bahkan Lastri menganyam keranjang untuk meletakkan hasil panen, seperti kopi, coklat, dan sebagainya.


Bahkan orang dari luar daerah banyak yang memesan kepada Lastri. Tangannya yang cekatan dan keterampilannya mampu mebuat beberapa buah dalam sehari, tergantung tingkat kerumitannya.


"kanda, sepertinya dinda harus menemui mereka." ucap Dina dengan penuh pengharapan.


"kamu tidak dapat kembali lagi kesana Dinda. Tetapi beberapa waktu lagi, mereka akan menemukanmu disini." ucap Bromo dengan lembut.


"apa maksud Kanda..?" ucap Dina dengan bingung.


"akan ada prahara di desa tempatmu dilahirkan. Dan karena prahara itu akan membawa mereka kemari. Percayalah. Mereka akan mencarimu..!" ucap Bromo mengakhiri ucapannya. Lalu memberikan kecupan lembut diujung kepala Dina.