
Asih tak tahu dengan perasaannya. Meskipun Edy sudah mengingatkannya tentang hal apa saja yang tidak boleh disentuh oleh pria manapun, namun Ia tak dapat membohongi perasaannya, jika kedua pemuda itu teristimewa dihidupnya.
"Siapa pemuda itu?" tanya Lee dengan tetap tak melepaskan dekapannya.
Pemuda seperti merasakan dahaga kerinduan yang teramat sangat. Ingin rasanya Ia marah, nqmun Ia tidak tahu marah karena apa.
Asih terdiam. Ia membiarkan pemuda itu yang mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
Sementara itu, Edy menuju kediamannya. Ia memarkirkan mobilnya tak jauh dari rumahnyq. Lalu Iq menyelinap masuk melalui pintu belakang. Tampak sunyi. Tak ada mamanya yang biasanya selalu mengomel jika Ia pulang larut malam. Ia merindukan Mamanya, dan juga omelannya.
Edy mengendap-endap naik kelantai atas. Ia ingin mengambil bebebrapa pakaian dan juga tabungannya. Sepertinya Ia memutuskan untuk hidup bersama gadis itu, meskipun belum memiliki ikatan apapun, bahkan yang lebih gilanya, Ia menyadari jika gadis itu Mutan, alias setangah siluman.
Kecantikan sang gadis membuatnya hilang akal, dan cinta juga membuatnya gila.
Setelah berhasil memasuki kamarnya, Ia mencari semua barang yang dicarinya, dan memasukkannya dalam sebuah tas ransel.
Setelah selesai, Ia kembali menyelinap keluar. Namun Ia merasa penasaran dengan Mamanya yang tak juga kelihatan.
Ia mencoba melihat kamar Mamanya. Pintu itu terbuka sedikit, Ia Ia mendengar suara gumanan Papanya. Namun tak ada mamanya disana.
Edy mencoba mengintai dari jarak dekat karena rasa penasaran yang sangat kuat.
Ia melihat Papanya memegang sepasang jepit rambut, yang pastinya punya seorang wanita, dan wanita itu bukanlah milik Mamanya.
"Dina.." guman Andre lirih, sembari memandangi jepit rambut tersebut. Ia seolah-olah mengajak jepit rambut itu berbicra.
"Dina? Siapa Dina? Apakah Papa berselingkuh dari mama? Namun yang namanya Pria apalagi seorang mafia, pasti memiliki wanita simpanan, namun sepertinya wanita yang dimaksud papa pastilah berbeda" guman Edy dalam hatinya.
Tak ingin ketahuan, Edy langsung menyelinap untuk keluar dari rumah. Setelah berhasil keluar, Ia menuju mobilnya terparkir.
Namun belum sampai Ia diparkir mobilnya, Ia melihat sebuah mobil boks counteiner yang tampak memasuki perkarangan rumahnya
Edy bersembunyi, lalu mencoba meihat barang apa sebenarnya yang sedang diseludupkan oleh papanya.
Ia melihat Jodi sedang keluar dari mobil boks tersebut. Sepertinya Ia tampak bangga dipercaya menjadi pemimpin dalam penyeludupan itu.
Setelah itu, mereka membuka pintu monil boks yang berada dibelakang. Maka tampak berbagai kotak kayu yang lumayan banyak, Edy tau jika itu adalah senjata api laras panjang.
Esy mendenguskan nafasnya. Sebab itulah mengapa Ia tidak ingin menjadi bagian didalamnya. Ia ingin melepaskan dirinya dari segala pekerjaan yang dilakukan oleh papanya.
Sementara itu, Asih masih membisu saat Lee menyesap bibir tipisnya. Ia tak mampu menolak hasratnya yang bergelora.
Namun Ia hanya berhasarat kepada kedua pemuda itu saja, jika ada orang asing yang mencoba menyentuhnya, maka Ia akan mengahajarnya hingga babak belur.
" Apakah Kau menyukai pemuda itu?" tanya Lee, lalu melepaskan tautan bibirnya.
Asih hanya merundukkan kepalanya, tak mampu memandang wajah pemuda itu.
Lee mengangkat dagu Asih, menatapnya nanar dan menginginkan jawaban dari gadis itu.
"Jawab Aku.. Apakah Kau menyukai pemuda itu?" tanya Lee kembali.
Asih hanya terdiam, lalu menganggukkan kepalanya lemah. Seketika Lee meninju dinding rumah itu dengan keras.hatinya begitu sangat sakit melihat jawaban Asih.
"Siaal.. Mengapa? Lalu bagaimana denganku?" tanya Lee dengan sedikit geram.
Seketika Lee terperangah melihat jawaban gadis itu. "Hei.. Kau jangan serakah... Wanita tidak boleh memiliki lebih dari satu pria, namun jika pria itu baru boleh memiliki lebih dari satu wanita, itu hal yang harus kamu fahami" Lee mengomel.
"Kau harus menentukan pilihanmu.. Aku atau Dia.." ucap Lee dengan gemas bercampur kesal.
Asih menggelengkan kepalanya. Membiat Lee semakin kacau.
"Apa Maksudmu? Kau inginkan Aku dan Dia?" cecar Lee dengan kesal.
"Ya.." jawab Asih lemah..
"Oh my God..!!" Lee mengacak rambutnya kasar, merasa frustasi menghadapi gadis ini. Namun untuk meninggalkan dan melupakannya Ia tak sanggup. Gadis itu sudah membuatnya gila dan mabuk kepayang.
Saat Lee ingin mencecar gadis itu dengan pertanyaan lain, Tiba-tiba saja suara dering panggilan masuk kedalam phonselnya.
Satu panggilan dari atasnnya.. "Keduanya terlibat percakapan rahasia, lalu setelahnya, Lee memutuskan percakapannya.
"Aku akan kembali lagi waktu, jangan berbuat macam-macam dengan pemuda itu, dan jangan mau jika Ia menyentuhmu" ucap Lee menasehati.
Asih hanya menganggukkan kepalanya, sebab Edy juga mengatakan hal yang sama terhadapnya.
Lee berpamitan, lalu sebelumnya Ia kembali menyesap bibir gadis itu, lalu beranjak pergi. Asih hanya menatap kepergian Lee dengan nanar.
Ia tidak tahu hatinya akan berlabuh kemana, namun Ia menyukai kedua pemuda itu. Haruskah Ia membagi hati dan cintanya untuk kedua pria itu, dimana 50% untuk Edy dan 50% lagi buat Lee.
Namanya juga buaya, ya biasalah ya kan reader.. Yang ini buayanya cewek, jadi harap maklumi saja..
Setelah Edy menunggu lama, akhirnya para pekerja itu sudah selesai mengangkut semua kotak-kotak kayu berisi senjata api kedalam gudang penyimpanan, Edy mengendap keluar, dan menuju tempat Ia memarkir mobilnya dan menjauhi rumahnya.
"Siapa wanita yang dipanggil Dina oleh Papa? Tampaknya Ia begitu sangat special buat Papa, tidak pernah Aku melihatnya seperti itu, bahkan kepada Mama saja Papa terlihat acuh tak acuh.." Edy berguman sembari menyetir mobilnya.
Hingga tanpa sengaja Ia hampir saja menabrak seseorang yang sedang menyeberangi jalan, dan mobilnya menimbulkan suara decitan yang nyaring.
Ciiiiiittt...
Edy mengerem mobilnya dengan sangat cepat, jika tidak, maka dipastikan seseorang tersebut akan tertabrak oleh mobil yang dikendarainya.
Esy segera turun dari mobilnya dan bergegas memeriksa siapa yang telah ditabraknya itu.
Ia melihat seorang wanita muda bertubuh ramping sedang tersungkur didepan badan mobilnya.
Edy segera membantunya "Maaf, Mbak gak sengaja" ucapnya dengan permintaan maaf dan rasa bersalah.
Wanita berambut lurus sepinggang itu memalingkan wajahnya kepada Edy lalu tersenyum "Iya, tidak apa-apa, saya yang tidak hati-hati" balas wanita itu.
Edy terperangah ketika melihat wajah wanita itu.
"Bussyeeet.. Cantik bener si mbaknya" guman Edy dalam hati, namun Ia terdiam sejenak, Ia seperti melihat diri seseorang dalam wanita itu.
"Kenapa hampir mirip dengan Asih?" guman Edy dalam hatinya, namun Ia menepis dugaannya.
Setelah wanita itu berhasil berdiri,Ia segera berpamitan dan kembali menyeberangi jalan.
Edy memandangi punggung wanita itu, bahkan lekuk tubuh wanita itu hampir 98% mirip dengan gadis yang dicintainya.