
Robert tersentak dengan apa yang dilihatnya. Ia menatap Lukas yang kini tewas dengan luka yang sangat parah.
Pria itu melihat kesekelilingnya yang tampak sepi dan juga sunyi.
Ia tidak nenyadari jika para bodyguardnya sudah tewas dengan orang-orang kiriman Wei dalam bentuk mutan.
Robert menghampiri tubuh Lukas yang membiru dengan cabikan dibagian punggungnya. Pria itu bingung haruskah Ia menyentuh tubuh Lukas yang sudah terifeksi racun atau membiarkakannya.
Robert masuk kedalam kamarnya, Ia melihat gadis belia itu masih meringkuk dikamarnya yang dingin.
Robert tak menghiraukannya, dan Ia menuju meja nakas lalu meraih phonselnya.
Ia menghubungi seseorang, dan meminta bantuan.
Gadis belia itu berlari keluar saat melihat Robert sedang sibuk menelefon seseorang.
Gadis itu terus berlari dengan wajah penuh ketakutan. Ia melihat mayat bersearakan dimana-mana dengan luka membiru dan tubuh tercabik-cabik dengan sangat mengenaskan.
Gadis utu bingung dengan apa yang terjadi, namun Ia tau ini adalah jenis wabah yang sedang melanda diseluruh negara.
Saat Ia diculik dari sekolahnya, Ia sedang mengikuti ujian untuk kenaikan kelas, dan beberapa sekolah mebgadakan unian tatap muka dengan cara bergantian, dan Ia salah satu yang tidak terinfeksi.
Gadis itu terus berlari keluar dari mansion. Ia melompati mayat-mayat yang telah membiru tersebut. dengan hanya menggunakan pakaian underwarenya, Ia tak lagi menghiraukan apapun yang terjadi.
Hingga saatnya seorang mutan yang masih tersisa menghampirinya, dan mata gadis itu terbeliak saat Ia tak lagi dapat menghindari apa yang sedang berada dihadapannya.
Satu cabikan membuatnya terdiam dan tak dapat mengatakan sepatah katapun dengan tegak berdiri dan tak ada teriakan yang keluar dari mulutnya, saat mutan itu menghabisinya.
Tubuhnya yang semula berdiri tegak kini ambruk seketika, lalu mengejang sesaat dan tak lagi bergerak. Kini yang tertinggal hanyalah tubuh tanpa nyawa dan tak ada lagi kebanggaan apapun.
Robert masih menunggu bantuan, Ia masih mengetahui jika para mutan itu masih berada diluar untuk menghabisinya, namun Ia tidak tahu ada berapa jumlah yang tersisa.
Terdengar sebuah desingan baling-baling helikopter sedang mendarat diatas mansionnya, Ia bergegas keluar dari kamarnya, lalu menaiki kursi rodan dan menggunakan lift untuk sampai ke atas balkon.
Sesampainya diatas balkon, Ia disambut oleh beberapa orang yang menggunakan pakaian anti peluru dan juga persenjataan lengkap dan membawanya naik ke atas helikopter.
Saat bersamaan, satu mutan sedang berusaha untuk menyerang, namun salah perkiraan yang membuat mutan itu terpenggal kepalanya dan hancur hanya tingggal serpihan daging hitam belaka.
Robert berhasil menyelamatkan diri dan pergi bersama dengan tim penyelamatnya.
Sementara itu, Asih masih dalam perjalanan menuju gerbang istana. Ia mencoba mempercepat langkahnya, saat sebuah serangan datang menghadangnya.
Satu sosok ular berkepala tiga dengan cepat menghalangi jalannya yang mana sebentar lagi Ia akan sampai ke dekat pintu gerbang istana sang Romo.
Ular siluman yang tak lain adalah Rekso, selalu menjadi halangan terbesar dalam kehidupannya selama ini.
Ular dengan kepala tiga tersebut tak pernah henti-hentinya menjadi musuh yang selalu membuatnya sangat kesal.
Dengan sangat penuh kekesalan, Asih mencabut pedangnya yang siap menghunus dan menyerang kepada ular sialan tersebut.
"Kau lagi..kau lagi.. Aku sangat muak melihatmu terus saja menggangguku dan mencampuri urusanku" ucap Asih dengan sangat geram.
Rekso menyeringai, dan tampak Ia menjulurkan lidahnya yang dapat memanjang dengan tiga cabang diujungnya.
Sesaat Asih melompat, lalu menebaskan ujung lidah ular tersebut dengan tebasan yang sangat cepat, hingga membuat ujung lidah itu terputus dan menggelepar.
Rekso tersentak dan merasakan sangat kesakitan. Ia mengentakkan ujung ekornya yang membuat Asih terpental karena tidak sempat untuk menghindar.
Kini keduanya bertarung dengan wujud yang seimbang.
Rekso menggeram dan meliukkan tubuhnya yang sebesar pohon kelapa dan Ia membawa sebuah tongkat dengan kepala tongkat berukir tiga kepala ular.
Rekso memutarkan tongkatnya, lalu dengan cepat tongkat tersebut mengeluarkan sebuah asap hitam yang bergulung diudara dan tiba-tiba langit menjadi gelap, lalu asap hitam itu berputar-putar dengan sangat cepat, dan halilintar menyambar dari tongkat milik Rekso, lalu Rekso mengarahkannya kepada Asih.
Asih dengan cepat melompat dan menggunakan pedangnya menahan kilatan halilintar tersebut, lalu sebuah pendaran cahaya berwarna jingga membelah halilintar tersebut, sehingga menimbulkan suara gelegar yang menggema.
Asih dan juga Rekso sama terpental jauh dari pertarungan mereka. Cairan hitam keluar dari sudut mulut Rekso, dan Ia menyekanya sembari menyeringai.
Asih tak ingin berlama-lama meladeni ular siluman tersebut yang selalu menghambat jalannya.
Asih berusaha bangkit, lalu memutar pedangnya diatas kepala dan dengan cepat pendaran cahaya berwarna jingga menyambar kepada Rekso sehingga menyilaukan pandangannya.
Saat pendaran cahaya itu menghilang, Ia tak lagi menemukan Asih berada ditempatnya.
Asih melesat membelah kegelapan alam semesta, lalu sampai digerbang pintu istana.
Sulira yang melihat kehadirannya segera memerintahakan untuk membuka pintu.
Lalu pintu gerbang dibuka dan Asih segera menerobos masuk kedalam istana lalu menuju singgasana yang tampak kosong.
Tak ada Romonya disinggasana, Ia mengedarkan pandangannya melihat para pengawal dan dayang yang berbaris berjejer melihat kepadanya.
"Romo.. Romo.. Aku datang" ucap Asih dengan suara menggema.
Bromo yang saat itu sedang berada disebuah kolam air bersama Dina dengan bercanda ria, segera terdiam sejenak.
Asih terus memanggil sang Romonya "Romo.. Romo.. Aku butuh bantuanmu" ucap Asih dengan lirih dan penuh permohonan.
"Dinda.. Ayo kembali.. Asih menemui kita di istana" ucap Broko kepada Dina.
Dina terperangah "Asih berkunjung?" tanya Dina dengan penasaran.
"Ya.. Ayolah.. sepertinya ada yang sangat penting" jawab Bromo dengan cepat.
Lalu Dina menganggukkan kepalanya, dan Bromo mengulurkan tangannya kepada sang istri.
Lalu Dina meraihnya, dan mereka melesat menuju istana.
Sesampainya diistana, Dina dan juga Bromo telah berganti dengan pakaian kerajaan yang penuh kegermelapan.
"Puteriku.. Selamat datang di istanaku yang oenuh dengan kemakmuran dan kebesaran" sambut Bromo kepada Asih.
"Romo.." ucap Asih lalu mendekap sang Romonya.
Bromo membalas dekapan sang puterinya "Ada.apa puteriku, tampaknya kau begitu sangat kacau" tanya Bromo dengan tenang.
"Romo.. Aku butuh Ibu untuk membuat penawar racum Ristih dan juga Jahadi yang telah membuat seluruh penduduk bumi mengalami keracunan dan juga wabah mematikan" ucap.Asih yang kemudian melepaskan dekapannya.dari Bromo dan menghamburkan dirinya kepada Dina, Ibunya.
Lalu Dina membelai rambut puterinya dengan lembut.
"Tenanglah.. Ibu akan membantumu, namun ibu membutuhkan satu bunga Nirwana yaitu bunga wijayakusuma yang harus kamu ambil di lembah Nirwana untuk membuat ramuan tersebut, maka kamu harus dapat mengambilnya. Bunga itu dijaga ketat oleh para siluman si kumbang atau harimau hitam, Apakah kamu sanggup?" tanya Dina memberi tahu.
Asih dengan cepat menganggukkakan kepalanya dan bersedia melakukan miis tersebut.