Buhul ghaib

Buhul ghaib
Perjalanan Rere dan Chakra



Rere berjalan menyusuri perkampungan. Disalah satu gudang rahasia, Ia meletakan sepeda motornya.


Chakra mengikutinya dengan langkah yang dipercepat. seekor kelinci yang berada didalam tasnya tampak tertidur oleh hembusan semilir angin..


"Hei teman kecil.. Apakah kau lapar?" sapa Chakra, sembari menatap lembut hewan imut tersebut.


hewan itu hanya meringkuk didalam tas sandang tersebut. Chakra mengusap lembut bulu halus binatang itu.


Rere memasuki gudang tersebut. Sebuah sepeda motor yang tertumpuk oleh peti es yang sudah terbengkalai.


Rere mengangkat satu persatu peti es yang menutupi sepeda motor mikiknya, dengan cara menyingkan semua peti es tersebut.


Chakra menghampirinya, lalu membantunya.


Melihat benda roda dua itu, Chakra merasa bingung, Ia mengernyitkan keninginya. Saat dalam perjalanan kekota, Ia banyak sekali melihat berbagai model dan jenis dari benda beroda dua ini.


Namun, Ia tidak pernah merasakan bagaiamana rasanyanya menaiki benda itu.


Rere, sigadis tomboy dengan rambut potong cepak, hanya bagian depan diberi pony memanjang kesamping sampai dibagian telinga.



Visual gambaran Rere.. By Dewi Sahsmita


Setelah berhasil mengeluarkan sepeda motor dari gudang, Rere mulai menghidupkan mesinnya, lalu menarik gasnya untuk memanaskan mesin tersebut.


Setelah merasa cukup, Ia memandang kepada Chakra."Heei.. Ayo naik..!" teriak Rere kepada Chakra, yang tampak bengong.


Chakra menghampirinya, lalu naik dijok boncengan yang mana tampak kaku dan tegang.


"Ini apa namanya..?" tanya Chakra kepada Rere ditengah deru suara mesin motor itu.


"Yaelah.. Ini namanya sepeda motor.. Emang kamu tinggal dihutan mana sih..? Sampai benda seperti inipun tidak tahu.." Kelakar Rere.


"Dihutan diatas bukit..!" jawab Chakra jujur dan penuh kepolosan.


Seketika Rere terperangah, Ia yang berniat berkelakar malah dibuat bengong oleh Jawaban Chakra.


Ia memalingkan wajahnya menghadap Chakra yang kini sudah berada didalam boncengannya.


Jarak mereka begitu dekat.."Kamu serius..?!" tanya Rere penasaran.


"Chakra mengangguk polos. Jika dilihat cara berpakaiannya sih memang terlihat sangat kampungan sekali.." Rere berguman dalam hatinya.


"Tetapi Ia memiliki wajah yang cukup tampan.."Rere kembali melanjutkan gumanannya." tak ingin lama-lama larut dalam alam fikirannya, Ia segera meluncurkan sepeda motornya membelah jalanan sepi tersebut.


"Pegangan yang erat, karena ini akan membuatmu merasa takut..!" cibir Rere kepada Chakra.


Sesuai perintah Rere, Ia mengeratkan pegangannya, dengan memeluk pinggang gadis tomboy itu.


Deeeeeeegh..


Jantung Rere seolah terhenti berdetak. Cara polos Chakra yang memeluk pinggangnya, membuatnya merasa tak karuan.


"Busyeeet.. Dia erat banget peluknya, buat jantungku tidak aman saja.." gerutunya dengan sangat kesal.


Untuk menghindari sport jantungnya, Ia segera melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi.


Tanpa menunggu lama, Chakra semakin erat memeluk Rere, hal itu justru membuat Rere terkekeh dalam hatinya, karena Ia merasakan begitu polosnya pemuda itu.


setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam tanpa henti, mereka sampai di apertemen milik Lee.


Karena Rere memiliki kunci ID card ganda yang sudah dimanipulasi, akhirnya Ia bisa masuk kedalam apertemen tersebut.


Sepanjang perjalanan menuju apertemen Lee, tampak sekali Chakra begitu heran memandangi gedung bertingkat itu.


Apalagi saat menaiki lift, Ia begitu amat ketakutan.


"Sial..!! Sepertinya terjadi pertempuran didalam kamar ini, mengapa begitu sangat berantakan sekali." gerutu Rere dengan kesal.


Chakra memandang ranjang empuk yang berada dikamar tersebut, serta alat-alat canggih yang terdapat didalamnya, membuatnya merasa tambah bingung.


Rere menyalakan layar televisi, lalu menonton sejenak berita yang kini sedang sangat heboh. Yaitu kisah pembunuhan secara berantai dan terselubung.


Chakra yang tak pernah melihat benda itu begitu sangat terperangah. Ia bingung bagaimana caranya manusia dan yang lainnya dapat berada didalam benda itu.


Chakra menghampiri televisi tersebut, benda pipih yang menempel didinding itu begitu menarik perhatiannya. Ia melihat layar depan, dan juga melihat belakang benda itu.


Rere memperhatikannya dengan seksama.


"Heeei.. Kamu sedang mencari apa..?" tanya Rere heran, lalu menghampiri Chakra.


Tiba-tiba saat itu muncul tayangan iklan Badut yang sedang menghibur anak-anak disebuah pesta meriah disalah satu rumah artis ternama.


Seketika Chakra merasa kaget, lalu refleks memeluk Rere, dan membenamkan wajahnya dipundak berkulit halus milik Rere.


Tangannya melingkar erat dipunggung Rere. Dua buah melon milik Rere terasa tertekan oleh dekapan erat Chakra yang dilakukannya secara refleks, dan Rere menyadari hal itu.


Rasa debaran menjalar dialiran darah gadis tomboy itu. Selama ini Ia tidak pernah tersentuh cinta. Karena Ia menganggapnya bulshit.


Namun, kepolosan Chakra membuatnya sedikit berbeda. Ia merasakan sesuatu yang berbeda. Ada denyut indah dihatinya.


Dengan memberanikan dirinya, Ia memegang lembut kepala Chakra. "Hei.. Apa yang kau takutkan..?" Tanya Rere lembut.


Chakra mengarahkan jari telunjuknya kearah televisi.


"itu,.. Mengapa bisa ada manusia dan makhluk jelek berada didalam benda itu..?" tanya Chakra.


"ooo..Itu namanya televisi, mereka semua berada didalam sana karena sebuah rekaman camera.


Nanti kalau ada waktu aku akan mengajarinya padamu. Sekarang pergilah mandi, aku akan membuat makanan untuk kita santap. Ujar Rere dengan setenang mungkin


Chakra melepaskan pelukannya, rasa kenyal dua buah melon itu membuatnya sedikit merasa aneh.


Ada sesuatu yang bangun diarea sensitifnya. Namun Ia tidak tahu itu apa.


Rere yang tidak sengaja meliriknya, seketika membeliakkan matanya. fantasi liarnya berkelana. Ia dapat membayangkan sesuatu yang besar disana.


Lalu Ia mencoba untuk membuang segala fikiran kotornya, karena Ia kini yakin jika Chakra benar-benar orang terpelosok. Dan sesuatu yang tak sengaja dilihatnya, juga merupakan reaksi normal bagi seorang pemuda ketika bersentuhan dengan seoarang gadis atau wanita.


"Cepatlah mandi..kamar mandi yang dibelakang dekat dapur saja." titah Rere kepada Chakra, lalu dijawab dengan anggukan.


Rere memasuki kamar Lee, mencoba mencoba mengambil pakaian Lee, karena Ia dapat melihat, jika ukuran tubuh Lee dan Chakra tidak jauh berbeda.


Saat memasuki Kamar Lee, Ia dikgetkan dengan kondisi kamar Lee yang sangat kacau balau.


Seketika Ia melihat Underware milik seorang wanita, berada didalam keranjang pakaian dikamar Lee.


"Apakah Kak Lee memasukkan seorang wanita kekamarnya..?"


"Hemmm..dasar laki-laki, kelihatannya saja kalem.. Tetapi buaya juga..!" guman Rere sembari tersenyum mencibir.


Ia mencoba mengabaikan tentang Lee, Ia mencari satu stelan pakaian Lee untuk dikenakan kepada Chakra.


Rere sudah mendapatkan apa yang Ia cari, Ia menuju kedapur, yang mana kamar mandi juga berada disana. Ia menenteng 1 stelan pakain untuk Chakra. Sebelumnya Ia tidak pernah memperdulikan seorang pria.


Namun, berbeda yang apa yang kini sedang dilakukannya untuk pemuda polos itu.


Saat Sampai didapur, ternyata Chakra yang sedang mandi tidak mengunci pintu kamar mandi. Dimana Ia telah melihat Chakra tanpa sehelai benangpun sedang menikmati ritual mandinya yanpa beban. Tontonan itu membuatnya bergidik.


Seketika Ia menggelengkan kepalanya." Bisa sport jantung aku tiap hari jika menghadapi setiap kepolosan yang dimiliki oleh pemuda itu.


Bersambung😴😴