
Sesudah subuh Asih pergi meninggalkan apertemen. Ia merasa jika dirinya sudah tidak aman lagi berada diapertemen tersebut.
Sebelumnya Ia telah pergi ke toko saat malam hari setelah penyusup itu datang. Ia membeli baju syar'i untuk melindungi dirinya. Untuk mengelabui orang-orang yang mengejarnya, maka Asih memutuskan untuk menggunakan cadar.
Ia membawa tas untuk Joran sebagai wadah untuk menyimpan busur panah, anak panah, dan juga Dwi sula.
sesuai saran dari Koko Lee, Ia harus memasukkan uang hasil penjualan emas nya kedalam sebuah bank, dan Ia hanya tinggal memegang sebuah kartu saja, tanpa harus menenteng koper kemanapun.
Dengan menggunakan cara parkur, Asih melompati dari satu gedung ke gedung yang lainnya dengan sangat ringan.
Dengan mempertajam daya ingatannya, Ia mencapai toko Koko Lee dengan sangat mudah.
Asih menyelinap masuk kedala toko itu. Ia melihat Lee sedang tidur mendengkur seorang diri. Lalu Asih mendekati ranjangnya, dibawah cahaya lampu tidur meremang.
Asih mengguncang tubuh Lee yang masih saja mendengkur, meski jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi.
Lee menggosok kedua matanya yang masih tampak berat. Rasa kantuk masih menghinggapinya. Saat matanya menangkap sosok berwarna hitam berdiri disisi kananya. Sontak membuatnya terlonjak dan berteriak histeris.
"ha..hantuuuu.." teriak Lee dengan sangat kencang. Asih segera beritindak cepat, sebelum suara teriakan Lee membangunkan tetangga lainnya.
Asih membekap Mulut Lee yang terlalu berisik. Lalu Asih mengeluarkan pedangnya, dan meletakkan dileher Lee.
Seketika Lee berhenti berteriak. Ia kini menyadari siapa orang yang sedang menyanderanya.
"Ok.. Turunkan senjatamu." pinta Lee kepada Asih. Ia merasa jika Asih terlalu mengerikan, hanya kecantikannya saja yang menutupi sisi kejamnya.
Asih menurunkan pedangnya. Lalu kembali menyimpan di pinggangnya.
Lee menarik nafasnya yang tersengal. Ia masih terkejut atas perlakuan Asih padanya yang tiba-tiba saja berada didalam kamarnya.
"Ia masih bingung, bagaimana caranya Asih dapat masuk kedalam kamarnya. Sedangkan kamarnya berada dilantai tiga rukonya.
Dimana Ia mengunci rapat pintu tersebut dengan pengamanan yang sangat kuat. Tetapi mengapa Asih masih bisa masuk kedalam rukonya. Hal itu sangat membingungkannya.
"buruan Ko, jangan pakai bengong..!!" titah Asih dengan tatapan mengunci.
Lee merasa bingung dengan apa yang diucapkan oleh Asih. "buruan kemana?" tanya Lee dengan bingung.
"mengurus identitasku yang kamu katakan semalam. Aku ingin menyimpan uang itu disana." Asih mengungkapkan keinginannya.
Lee menatap bengong kepada Asih, lalu menggelengkan kepalanya. "yaelah neng.. Ini mah masih pagi, belum ada kantor yang buka. Pukul 9 nanti baru aktif." ucap Lee sembari berbaring lagi dan menarik selimutnya dan hendak tidur lagi.
Asih merasa kesal, lalu menarik paksa selimut itu, dan tanpa sengaja Ia terjatuh menimpa Lee yang masih terbaring. Matanya membulat, karena tidak menyangka akan terjadi hal yang memalukan itu.
Ia segera beranjak dari tubuh Lee, namun Lee mencengkram pinggangnya, menahan agar Asih tidak beranjak. Namun Lee mendapatkan serangan di perutnya, Asih menyikutkan sikunya.
Lee merintih kesakitan dan melepaskan cengkramannya. Asih segera beranjak bangkit. Dengan debaran-debaran dihatinya, yang tak pernah Ia rasakan selama hidupnya.
Lee yang meringis akhirnya bangkit juga. "kau ini terlalu sadis.. Tidak bisakah kau bersikap sedikit manis padaku." keluh Lee, sembari memegangi perutnya yang sakit dan menuju kamar mandi.
Saat Lee selesai mandi, Ia hanya menggunakan handuk yang melilit dipinggangnya. Ia mengambil pakaian gantinya yang berada didalam lemari pakaian.
Asih memalingkan wajahnya, membuang pandangannya kedinding kamar.
Wajah Asih seketika bersemu merah. Ia tidak menyangka jika tindakannya memasuki kamar Lee akan mengalami nasib sesial ini.
"aku menunggumu dibawah." ucap Asih dengan kikuk.
"tidak perlu, aku sudah selesai. Kita kebawah barengan. Sekalian keluar mencari sarapan. Karena kau telah mengganggu tidurku, maka kau harus mentraktirku." Lee menekan Asih pada kalimatnya.
Asih hanya terdiam. Ternyata tindakannya sangat ceroboh kali ini. Maklum, kelamaan tinggal dihutan, jadi tidak memiliki tetangga, makanya tidak faham dengan apa yang dilakukannya.
Lee menuju lanyai satu rukonya, Ia menemukan kunci pintu ruko dalam kondisi baik-baik saja. " darimana Ia masuk..? Kunci pintu ruko masih aman, tidak ada kerusakan sama sekali." Lee masih bingung memikirkan bagaimana caranya Asih masuk kekamarnya."masa iya sih dia memanjat..?" Lee menggelengkan kepalanya yamg masih diselimuti oleh kebingungan.
Lee mengeluarkan membuka pintu rukonya, lalu Asih mengekorinya dari belakang, setelah Itu Ia menutupnya kembali.
"kamu tunggu disini bentar, aku mau ke garasi dulu." titah Lee kepada Asih.
Asih hanya mematuhinya saja. peristiwa barusan telah membuatnya sedikit canggung. Ia tidak menyangka akan mengalaminya.
Debaran-debaran dihatinya masih belum dapat hilang sampai saat ini.
Visual koko Lee ya.. Author comot saja foto-foto cowok ganteng. 😊😊😊
Selang beberapa menit, Lee datang membawa mobilnya. Ia mengklakson Asih yang masih termenung. "buruan.. Saya lapar mau sarapan." teriak Lee dari dalam mobil.
Asih berjalan menghampiri Lee, lalu memasuki mobil. Sesampainya didalam mobil, Asih hanya membisu, mungkin Ia sedang kikuk karena kekonyolannya tadi.
Lee mencari tempat sarapan yang sudah buka. Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah warung kaki lima yang sudah buka lapaknya.
Lee menepikan mobilnya. Lalu mereka turun dari mobil dan memesan dua porsi nasi uduk. Sembari menunggu pesanan, Lee menatap Asih. " apa yang membuatmu sepagi ini menemuiku.?" tanya Lee penuh selidik.
Asih mengatur nafasnya, mencoba setenang mungkin. "tadi malam ada penyusup yang mencoba ingin mencuri sesuatu dariku, maka aku harus menyimpan uang ini dalam bank sesuai saranmu. Dan aku juga berniat untuk pindah apertemen, sepertinya sudah tidak aman lagi." Asih sedikit gusar.
Apakah Lee orang yang dapat dipercayanya.? Entahlah.. Ia hanya melihat sebuah ketulusan dimatanya. Untuk saat ini, Ia hanya bisa mengandalkan Lee.
"Ko.. Apakah kamu tau, dikota ini dimana ada pacuan Kuda..?" tanya Asih kepada Lee.
Pesanan mereka sudah datang, Lee menyantabnya dengan lahab. "buat apa kamu ke pacuan kuda? Mau mengendarai kuda ditengah kota? Atau buat delman?" celetuk Lee seenaknya dengan suara sengau karena ada makanan didalam mulutnya.
Asih membulatkan matanya. "aku ada keperluan yang penting, apakah Koko tau dimana pacuan Kuda.?" jawab Asih kesal.
"eh.. Piao Liang, jadi cewek tu jangan jutek-jutek amatlah, aku sudah membantumu sejauh ini, maka bersikap manislah padaku." Lee menekan ucapannya.
Asih langsung tersenyum terpaksa. Membuat Lee terkekeh. Ia hanya mengerjai Asih saja. Dan ternyata itu berhasil.
"ada.. Tetapi memakan waktu yang cukup lama. Karena terlalu jauh. Sekitar 5 jam perjalanan dari sini." ucap Lee menjelaskan.
"namun jika lewat jalur air akan lebih cepat, hanya membutuhkan waktu 3 jam perjalanan."Lee melanjutkan ucapannya.
Asih mencernah ucapan Lee. "apakah kantor yang kamu katakan sudah buka?" tanya Asih.
"sabar, masih pukul 8 pagi. Butuh waktu 1 jam lagi. Nanti kita pergi dukcapil, aku memiliki kenalan disana, yang dapat dengan cepat mengurus identitasmu. Yang penting sediakan saja uang untuk melancarkan urusannya."Lee menjelaskan.
"lagi-lagi uang.. Dan kehidupan kota semuanya serba uang" Asih berguman lirih dalam hatinya.