
"Rio..." ucap Susi dengan perasaan yang tak mamu Ia gambarkan.
"bunda.. Tadi Rio ditolong bibi itu.. Tadi ada banyak ulaar.." celoteh Rio sembari membentuk lingkaran dengan gerakan kedua tangannya.
Susi merunduk lemah, menahan malu pada dirinya sendiri.
Ia tidak pernah menyangka, jika orang yang Ia tuding, justru menjadi penolong baginya.
"maafkan saya.. Karena telah menuduh kamu yang tidak-tidak.." ucap Susi tak mampu mengangkat kepalanya.
"tidak apa-apa.." jawab Dina lirih, mencoba tersenyum meski terasa getir.
Warga yang menyaksikan itu, berpandangn satu sama lainnya.
Mereka kini terpecah menjadi dua kubu, yaitu kubu yang meyakini ucapan pria asing, dan kubu yang mempercayai Dina.
Suara berkasak kusuk kini mewarnai suasana saat ini. mereka yang saat ini sedang tidak mempercayai Dina, diam-diam ingin mencari kebenaran apa yang diucapkan oleh pria asing tersebut. Sedangkan kubu yang mempercayai Dina, diam-diam mengakui kehebatan Dina.
Mereka mengakui jika saat ini Dina memiliki ilmu kanuragan yang tak mampu duremehkan.
Mereka mulai membubarkan diri, dan memasuki rumah, serta membereskan sisa-sisa dari kekacauan yang baru saja terjadi.
Rasa takut dan panik tentu saja masih menghantui mereka, bahkan membayangkan akan tidur malam ini dengan nyenyak saja mereka masih berfikir.
🐊🐊🐊🐊🐊🐊
Dina berjalan tertatih sembari memegangi dadanya yang masih sedikit sakit, mungkin Ia mengalami luka dalam. Dina menaiki anak tangga yang diikuti oleh Lastri.
Dina segera memasuki kamarnya, duduk bersandar ditepian ranjang. Ia memejamkan matanya, duduk bersila, memejamkan matanya, lalu kedua telapak tangannya diletakkan diatas lutut, layaknya seorang sedang melakukan yoga.
Dina berkonsetrasi dalam pemulihannya, membuang semua fikirirannya, lalu berusaha untuk mencapai kemurniannya.
Dina menarik nafasnya sangat dalam, lalu menghelanya dengan lembut. Ia mencoba mencukupi asupan oksigennya, lalu menyerap semua energi bumi.
Meditasinya kali ini untuk pemulihan tenaga dalamnya dan penyembuhan luka dalam yang dideritanya.
Setelah merasakan kondisinya mulai membaik, Ia mencoba untuk tidur, beristirahat merajut mimpi. Tubuhnya sangat lelah dan perlu istirahat.
🐊🐊🐊🐊🐊
Sesosok tubuh menembus dinding kamar Dina yang berdindingkan anyaman bambu.
Sosok itu datang menghampirinya, dalam wujud yang tampan nan rupawan.
Membelai lembut rambut Dina, mengecup ujung kepalanya dengan cinta.
Ia menatap wanitanya, wanita yang sudah mengubah hidupnya, mengisi ruang hampa dalam hatinya yang kesepian.
Ia mulai menyentuh lembut, penuh kehangatan, pada setiap lekuk tubuh indah itu. Lekuk yang tak pernah berubah, sama seperti awal saat mereka pertama bertemu.
Sosok itu terus menyusuri leher jenjang milik sang wanita, membenamkannya disana, menggigit kecil telinga itu, lalu membisikkan lembut kata ajimatnya.."Bangunlah dinda sayang, aku merindukanmu." bisikan lembut nan syahdu, membuat Dina mengakhiri mimpinya, memaksa matanya untuk melihat siapa yang telah berada disisinya.
Namun, dalam terpejampun Ia dapat mengetahui siapa sosok itu. "kanda.." ucapnya lembut, sembari tersenyum, meski dalam memejamkan mata.
"kanda.. Mengapa kau begitu sangat lama meninggalkanku..? Tidakkah kau tahu hati dan perasaanku yang begitu mendamba padamu.." Ucapnya yang tak mau jua membuka matanya.
Ia membiarkan sosok pria itu menghujaninya dengan kecupan hasrat yang menggelora...pertempuran dua insan yang menggelora dimabuk asmara.
Rasa kerinduan, ruang hampa yang selama ini begitu menyiksa keduanya, kini mereka tumpahkan dalam paduan cinta yang tak ingin mereka lewatkan.
Lenguhan dan rintihan manja memenuhi ruangan kamar tersebut.
Keduanya mencapai puncak surgawi dengan senyum kemenangan.
Suara berisik itu membuat seseorang merasakan curiga. Membuatnya penasaran untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Lastri takut jika Dina kena apa-apa.. Sebab anak perempuannya itu baru saja mengalami pertempuran melawan ular-ular siluman dan pria Asing.
Lastri takut jika Dina mengigau atau lukanya bertambah parah. Lastri beranjak keluar dari kamarnya. Lalu menuju kamar Dina.
tok..tok..tok..
Lastri mengetuk pintu kamar Dina.
"Din.. Dina.. Kamu baik-baik saja sayang." ucap Lastri dengan nada cemas.
"emm. Baik Umi..." jawab Dina dengan lirih..
"oh.. Ya sudah.. Umi kira kamu ada apa.." ucap Lastri sedikit lega.
"tidak Umi.. Tidak ada yang perlu dicemaskan.." jawab Dina dari dalam kamar.
Lastri memilih kembali kekamar, lalu tidur lagi.
sementara itu, Dina segera memunguti pakaiannya yang berserakan dilantai. "Kanda.. Tidak bisakah kau menginap semalam lagi disini..?" tanya Dina dengan penuh harap.
"Maaf, Dinda.. kanda tidak dapat berlama-lama disini. Ada hal yang harus kanda selesaikan.." ucap Bromo dengan lembut, sembari membelai lembut rambut kekasihnya.
"Tapi Dinda masih sangat merindukan dan ingin terus bersama Kanda." ucap Dina lirih.
Bromo menarik kepala Dina dalam dekapan didadanya. Ia dapat merasakan betapa sangat menderitanya kekasih hatinya itu. Namun, Bromo menyadari, jika Ia terus berlama-lama diirumah mertuanya, maka akan ada kecurigaan dan semua akan berantakan.
"ada masanya nanti Kanda akan menginap dan bermalam disini.." ucap Bromo, berusaha memberikan ketenangan dengan segala pengertian yang akan melembutkan hati Dina, istrinya.
"mau mandi bareng?" tanya Bromo mencoba menggoda istrinya.
Dina menganggukkan kepalanya, sembari tersenyum sumringah.
Dina membuka pintu kamarnya, lalu menuju kedapur, membuka pintu dapur dan menuju kesungai.
Dina menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati, karena suasana yang sangat gelap, Ia harus awas dalam menemukan anak tangga yang menjadi pijakannya.
Dina menyusuri undakan tanah yang menuju kesungai. Bromo telah berada disisinya, lalu dengan sigap menggendong Dina. "terlalu lambat sekali kamu sayang..".ucapnya sembari membopong tubuh Dina.
"Aku tidak bisa secepatmu sayang, yang bisa menghilang dalam sekejap.." jawab Dina, sembari menenggelamkan kepalanya didada Bromo.
Bromo melayang membawa Dina kedalam sungai. Lalu menenggelamkan setengah tubuhnya, dan membersihkan diri mereka.
Tanpa terasa, hari sudah menunjukkan sepertiga malam. "Dinda.. Sudah waktunya Kanda pergi.. Jaga dirimu baik-baik.. kamu akan melewati masa-masa sulit setiap harinya. Dan kamu harus kuat dan dalam menghadapinya, Kanda akan selalu mengawasimu." ucap Bromo dengan tenang.
"aku ingin seperti kondisi saat digoa Kanda, tenang, damai, tanpa gangguan apapun.." ucap Dina memeluk erat tubuh sang kekasih.
Bromo mengeratkan pelukannya. "bersabarlah.. Ini adalah jalan takdir yang harus kamu terima.." ucap sembari mengecup lembut ujung kepala Dina.
"tetapi Dinda ingin ketengan, di goa tidak ada kekacauan yang terjadi.." Rengek Dina dengan manja.
"anggap saja ini bunga-bunga kehidupan yang harus kamu jalani.." jawab Bromo singkat.
"siapa Ristih itu Kanda.? Mengapa Ia begitu membenci Dinda.?" tanya Dina penasaran dengan raut wajah yang sendu.
"tidak perlu kamu tau siapa Dia, dan jangan pernah mencari tau, karena itu tidak penting.." jawab Bromo singkat.
"masuklah.. hari hampir subuh.. Jangan biarkan Abah dan Umi mencarimu dan membuat kecurigaan." ucap Bromo dengan lembut.
Dina melepaskan pelukannya, mengecup lembut bibir kekasih hatinya " Aku merindukanmu, jamgan membuatku lama menunggu." ucapa Dina dengan sendu, lalu beranjak keluar dari sungai, menuju dapur.
Bromo memandangi kepergian Dina, istrinya. dan memastikan selamat sampai dirumah..