
Hari sudah tampak siang, rasa lapar menggelayuti perut keduanya. Asih berniat menepikan rakitnya ditepi sungai.
"Kita mencari makanan disekitar sin. Jika memaksa sampai ke kota maka aka sore hari baru sampai, dan kita akan kelaparan dijalan" ucap Asih memberitahu Edy yang masih duduk terbengong karena kaget saat melewati arus deras sungai barusan.
Sepertinya Edy tidak pernah bermain arung jeram, sehingga Ia tampak begitu ketakutan.
Asih mengikat rakitnya di pengayuh bambu yang Ia tancapkan ditepi sungai, supaya tidak terbawa arus.
kemudian gadis itu melompat dan naik ketepian. Edy mengikutinya, meskipun Ia masih dalam kondisi yang traumatik. Begitu banyak pengalaman yang didapatnya selama dalam perjalanan. Berbagai peristiwa yang tak pernah Ia duga sebelumnya menjadikannya sepertinya harus terbiasa dengan Asih dan semua hal tersebut.
"Duduk dan tunggulah disana, Aku akan masuk kedalam hutan untuk mencari makanan" titah Asih kepadanya, sembari menunjuk sebatang pohon rambutan liar yang tumbuh didekat tepi sungai.
Edy hanya mengangguk lemah, lalu mengikuti apa yang diperintahkan oleh Asih. Baginya apapun yang dikatakan oleh gadis itu,Ia tak mampu untuk membantahnya.
Asih menyusuri hutan, mencari apa saja yang dapat dijadikan sebagai sumber makanan.
Sebatang pohon pisang tampak berbuah lebat dan juga ada tampak satu sisir yang matang.
Asih mengambil pedangnya, lalu menebas pohon pisang tersebut dan mengambil satu tandannya.
Sementara itu, Edy masih tampak kelelahan dengan perjalanannya yang sungguh melelahkan.
Sesaat seekor ular berkepala tiga tengah menghampirinya tanpa Ia sadari. Ular itu terus memantaunya dan bersiap untuk menyerang Edy yang sedang melamun.
Disatu sisi, Asih sedang berjalan sembari menenteng satu tandan pisang tersebut. Lalu berjalan dengan cepat, dan...
Aaaaaagggh...
Terdengar suara teriakan dari Edy yang sangat memilukan, membuat Asih merasa perasaannya tidak enak..
Dengan secepatnya Ia berlari dan melemparkan tandan pisang tersebut, lalu sampai ditepi sungai, dan Ia melihat jika Rekso membawa Edy sebagai tawanan lalu menghilang.
Asih mengejarnya, namun tak dapat lagi terlihat. Gadis itu terlihat panik, bagaiamanapun juga, Ia harus menyelamatkan Edy, Ia tidak ingin jika pemuda menjadi tawanan oleh Rekso, karena itu sangat berbahaya.
Asih duduk bersimpuh, dan terdiam, lalu menancapkan pedangnya ketanah. "Romo... Datanglah, bantu Aku menyelamatkan anak manusia itu" pinta Asih memohon dengan nada lirih.
Sesaat seekor buaya putih menyembul dipermukaan sungai. Lalu, naik ketepian dan merubah wujudnya menjadi manusia.
"Anakku, apa yang Kau inginkan?" tanya Bromo dengan tenang.
"Romo... Bantu Aku memasuki istana Ristih, Aku ingin menjemput pemuda itu" ucap Asih memohon.
Bromo menatap puterinya. Tidak pernah puterinya itu memohon sesuatu untuk hanya seorang manusia apalagi manusia lemah seperti Edy.
"Untuk Apa anakku?" tanya Bromo dengan begitu tenang.
"Dia pernah mempertaruhkan nyawanya untukku, maka Aku ingin membalas budinya" jawab Asih dengan sangat memohon.
Bromo tersenyum datar mendengar jawaban dari Asih.
"Benarkah? Bukan karena ada maksud lain?" tanya Bromo dengan penunuh selidik.
Sesaat pertanyaan romonya membuat Asih merasa kikuk. Ia tidak dapat menjawabnya.
Namun, Ia tak ingin terlalu lama menunggu "Romo.. Bawa Aku kesana, Aku mohon" pinta Asih menghiba.
Lalu Ia meraih jemari Puterinya, dan menatapnya dengan intens. Ada sebuah rahasia disana.
Bromo tersenyum datar, Namun Ia segera meminta Asih memejamkan matanya, dan ketika Bromo memintanya untuk membuka mata, mereka telah sampai di sebuah istana yang tampak begitu megah.
Namun istana itu tidaklah sebanding dengan yang dimiliki oleh Romonya.
"Apakah Kita telah sampai Romo?" tanya Asih penasaran.
Bromo menganggukkan kepalanya. Lalu menghilang. Asih memegang pedangnya, dan berjalan mengendap-endap untuk masuk kedalam istana.
Sepertinya bromo membawanya melalui jalur belakang, sehingga membuat Asih harus memasuki lorong gelap dan sempit.
Suasana begitu pengap. Sepertinya Asih mengarah kesebuah ruang rahasia tempat penjara bawah tanah.
Asih menuruni anak tangga dan tampak seperti suluh bambu sebagai penerangan.
Asih melihat banyaknya jeruji besi yang berisi berbagai makhluk ghaib dengan segala bentuk. Sepertinya mereka para tawanan yang memiliki kesalahan dan dikenai sanksi.
Dari mereka banyak yang dirantai dan juga kerja paksa dengan membawa rantai besi dan sebuah bola besi yang diikatkan dipergelangan kaki mereka.
Mereka tampaknya seperti sedang mempersiapkan sebuah persembahan yang sebentar lagi akan dimulai.
Sebuah ruangan yang tampak luas. Ditengah ruangan itu tampak sebuah anak tangga membentuk limas persegi lima yang seperti mirip dengan mimbar, lengkap dengan dua buah tiang gantungan dan tepat sejajar didepannya, ada sebuah alat pemenggal kepala yang nantinya akan dijadikan sebagai tempat pemujaan dan juga persembahan.
Diatas mimbar itu, ada sebuah kursi kebesaran yang tampaknya untuk seorang pemegang kekuasaan diistana ini, dan siapa lagi jika bukan Ristih.
Asih bersembunyi dibalik langit-lagit goa yang membentuk seperti lantai menggantung diatas salah satu dinding goa. Dari atas sana, tampak dengan sangat jelas apa yang sedang dilakukan para makhluk tersebut.
Tak berselang lama, tampak iringan para makhluk ghaib dari berbagai bentuk binantang dan rupa yang sangat mengerikan sedang menuju ruang persembahan.
Ada tampak ribuan makhluk ghaib itu mengelilingi limas tersebut. Lalu seorang Ratu mereka yang tak lain adalah Ristih sedang merayap naik ke mimbar dan duduk disinggasananya dengan memakai topeng hitam dan sebuah tongkat dengan batu permata berwarna biru.
Ia menyeru kepada seluruh makhluk ghaib yang berkerumun, jika hari ini ada darah persembahan untuk mempertahankan kecantikan sang Ratu. Yaitu darah perjaka murni.
Lalu terdengar suara riuh dari para makhluk menjijikkan itu. Mereka tak sabar untuk untuk segera ikut menikmati sisa-sisa darah persembahan itu.
Secara bersamaan, tampak beberapa makhluk dengan berbagai rupa, membawa dua orang pemuda yang dijunjung diatas kepala mereka dengan diikat tali berbetuk salib.
Lalu Asih mencoba memperhatikan kedua pemuda yang menjadi korban penculikan tersebut.
Asih membeliakkan matanya, tampak Edy sedang berusaha untuk membebaskan diri dengan menggeliatkan tubuhnya. Namun apalah tenaganya yang hanya seujung kuku dari mahluk ghaib tersebuy.
Kedua pemuda tersebut hanya dikenakan penutup senjata mereka dari kulit binatang yang hanya depannya saja, namun bokong mereka terbuka begitu saja.
Kedua pemuda itu dibawa ke atas altar. Sesampainya disana, kedua pemuda itu tampak diikat ketiang gantungan.
Asih dapat dengan jelas melihat tubuh Edy yang bertelan*jang dada dan hanya memakai penutup senjata seadahnya.
Tubuh pemuda itu tampak kekar dan six pack. Namun Asih mengakui jika pemuda itu benar tampan.
Sedangkan pemuda disebelahnya, tak jauh berbeda dari Edy, memiliki tubuh yang sama kekarnya.
kini kedua pemuda akan bersiap menjadi korban persembahan untuk keagungan dan kecantikan Ristih.