
Lee hampir jatuh karena kelelahan, namun dengan cepat Edy menangkapnya dan sembari bergerak memusnahkan para bodyguard yang tersisa.
Setelah berhasil memusnahkan para bodyguard itu, Edy membawa tubuh Lee diatas pundaknya.
Sebab saat ini Wei memerintahkan untuk para mutan itu menyerang Edy tanpa memberikan waktu jeda.
Dengan cepat Para mutan itu menyerang Edy dengan tubuh Lee yang berada dipundaknya.
Suara mutan yang bergerombol diudara dan dengan cepat menyerang Edy tanpa ampun. saat ini Edy harus membagi konsentrasinya dengan antara memusnahkan mutan tersebut dan juga melindungi tubuh Lee dari para mutan yang menyerangnya dari segala arah.
Beberapa mutan berhasil melukai tubuh Edy, dan itu membuat Wei tampak begitu sangat menyukai pertunjukkan yang sedang ditontonnya.
Namun Edy harus tetap berjuang untuk dapat memusnahkan para mutan yang masih dengan gencar menyerangnya.
Edy mengayunkan pedangnya dan membuat beberapa mutan itu hancur menjadi serpihan, dan saat ini masih ada ratusan mutan yang terus menyerang Edy dari berbagai arah, dengan memeprcepat gerakannya, Edy menggunakan senjata api MG-42 nya untuk memusnahkan seluruh mutan yang menyerangnya dengan secara brutal.
Saat bersmaan, tiba-tiba mutan itu musnah secara tiba-tiba dan hal itu membuat Wei tampak bingung dan beranjak bangkit dari kursi singgasananya.
Wei menggerakkan jemarinya, lalu membuat bola asap hitam dan mengandung kegelapan. Lalu dengan cepat Ia memutarkan bola kegelapan itu kepada Edy yang mana sebuah kekuatan besar menghantam Edy hingga terlempar bersama tubuh Lee yang berada dipundaknya.
Edy terjerembab dilantai dengan berjarak beberapa meter dari tubuh Lee yang masih tak sadarkan diri.
Esy memegangi dadanya yang terasa sakit dan juga sangat membuatnya terasa sesak nafas.
Edy mencoba berusaha bangkit, dan berdiri tegak dengan darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
Kini Ristih keluar dari tubuh Wei, dengan tubuhnya yang tampak besar dan melingkar di lantai dengan sisiknya berkilau.
Ristih menatap tajam pada Edy dan dengan mulutnya yang terbuka melebar serta memperlihatkan gigi taringnya yang tampak begitu tajam.
Tubuh Ristih merayap dan menghampiri Edy yang berdiri tegak dengan tubuh penuh luka.
Ristih menginginkan batu mirah delima itu, dan Ia mengangakan mulutnya untuk menelan Edy yang kini memegang senjata apinya.
Edy menembakkan senjata apinya kepada Ristih, namun sepertinya tidak berpengaruh kepada Ristih yang kini sudah siap menelan Edy dengan sekali telan saja.
Lalu dengan cepat Ristih menggerakkan kepalanya dan hendak menelan Edy..
sssssshhhsss..
Dan..
Wuuush..ssshht..
Sebuah anak panah meluncur menembus rahang Ristih yang mana anak panah itu telah bercampur ramuan pemusnah kegelapan.
Ular itu menggelepar, dan dan merayap kesana kemari karena menahan rasa sakit dari ramuan yang melekat dianak panah tersebut, dan perlahan menghilang.
Edy tersentak kaget saat melihat siapa yang datang menyelamatkannya "Sayaang.." ucapnya lirih dan dengan pandangan mata berbinar.
Tak hanya Edy yang tersentak kaget dengan kehadiran Asih, namun sama halnya dengan Wei yang kini hanya tinggal Jahadi dalam tubuhnya.
Pria itu tersenyum sekaligus memandang sinis kepada wanita yang kini berada dihadapannya.
Asih mendarat dengan sempurnah dan menatap pada pria didepannya.
Ia meraih sebuah pedang yang terselip dipinggang jasad bodyguardnya yang telah tewas di binasakan Edy.
Lalu Ia bejalan dan kini berada dihadapan Asih yang juga memegang pedangnya dan bersiap untuk menahan serangan Wei.
Mata pria itu tampak menghitam keseluruhannya, dan dari tubuhnya keluar asap hitam sebagai tanda hawa kegelapan menyelimuti tubuhnya.
Sedangkan Edy mengambil kesempatan untuk menyadarkan Lee dan mereka harus membebaskam para tawanan yang berada diruang pintu masuk belakang.
Dengan cepat Edy terus mengguncang tubuh Lee dan berusaha menyadarkannya.
Setelah usaha yang cukup keras, akhirnya Edy tersadar dan Ia masih merasakan sakit dikepalanya.
Edy langsung menyeret tubuh Lee dan menyelinap ke bagian dinding yang tak terlihat oleh Wei.
Sementara itu, dengan gerakan cepat Wei melancarkan serangannya dan Asih membalasnya dengan serangan pertahanan
Wei membuat gerakan dan serangan yang mana tentunya dibantu oleh Jahadi.
Dan Asih mencoba mengeluarkan ajian waringin sungsang yang dimilikinya dan membuat ruangan itu bergetar dengan hebat.
Wei yang terkena ajian waringin sungsang yang digunakan oleh Asih terpental dengan kuat dan membentur singgasananya.
Lalu dengan berusaha keras Ia bangkit dan mencoba melawan rasa sakitnya. Jahadi yang berada didalam tubuh Wei memaksa dirinya keluar dan tak ingin mengambil resiko dan memilih menghilang meninggalkan Wei.
Asih mengambil kesempatan dan mengarahkan anak panahnya saat Jahadi berusaha kabur, lalu melepaskan anak penah tersebut dan mengenai punggung makhluk kegelapan itu.
Dengan cepat Jahadi menghilang bersama anak panah yang menacap dipunggungnya.
Lalu Asih melesat menghampiri Wei yang kini berusaha untuk bangkit dengan tubuh sempoyongan.
Namun Asih dengan cepat melayangkan tendangannya dan membuat Wei kembali tersungkur dengan luka lebam dihampir seluruh tubuhnya.
Kini tubuh Wei hanyalah seonggok daging yang tak memiliki kekuatan kegelapan apapun, dan dengan mudahnya Asih membinasakannya dengan hanya satu tebasan saja.
Setelah Wei meregangkan nyawanya, Asih bergegas menuju pintu ruang bawah tanah dan Ia menerobos masuk kedalam ruangan tersebut, dan mencari batu permata yang disimpan oleh Wei.
Asih mengedarkan pandangannya dan mencari keberadaan batu permata itu untuk segera dimusnahkan agar tidak lagi tercipta kebancuran akibat keserakahan yang ada.
Sementara itu, Edy yang sudah berhasil menyadarkan Lee, kini membawa pria itu keruang belakang markas untuk membebaskan para tawanan, dan Lee menghubungi pihak kepolisian untuk mengirimkan bantuan kepada para tawanan.
Sementara itu, Asih mencoba mendeteksi keberadaan batu permata tersebut. Lalu tampak sebuah kepulan asap hitam yang berasal dari sebuah kotak kaca dan asap itu tampak menggumpal.
Lalu dengan cepat Asih menghampirinya dan meraih batu permata tersebut dan menaburkan ramuan dari Dina dan menghancurkan cahaya kegelapan tersebut.
Disisi lain, Lee dan Edy membebaskan para tawanan yang kini telah datang bantuan helikopter untuk membawa semua para tawanan yang tampak lemah dan kini mereka merasa sangat begitu bahagia bisa terbebas dari penjara yang sangat menakutkan.
Para tawanan digiring menaiki helikopter dan akan dikarantina sebelum dipulangkan ke negaranya masing-masing.
Sedangkan Asih sudah menghancurkan batu permata itu, sehingga tidak ada lagi cahaya kegelapan yang menyelimuti.
Asih melesat ingin keluar dari ruangan bawah tanah, dan sebelumnya sesesok wanita mencegahnya dengan pandangan dingin. Wanita itu menatap nanar dan tak berkedip, Ia tampak begitu memprihatinkan dengan kondisi yang sangat mengenaskan, Ia berdiri mematung dengan tatapan yang sulit dimengerti.