
Asih tidak mengindahkan ucapan Kee, Ia terus menikmati mandinya, dan sengaja membuat pemuda kesal padanya. Tetapi Ia merasa Lee sangat lucu saat sedang marah, tidak ada sedikitpun wajah menakutkan.
"Sudahlah.. Lebih baik kamu bersihkan saja ikan itu untuk sarapan kita.." jawab Asih sembari menikmati ritual mandinya.
Lee mendengus kesal. Namyn perutnya juga lapar, karena dari semalam belum makan. Lalu Ia memungut ikan yang berukuran luamayan besar itu yang tampak menggelepar karena tidak dapat bernafas.
Lee lalu menyianginya, dan mencucinya ditepian sungai. Saat mencuci ikan, Ia melihat Asih yang masih belum juga beranjak dari dalam sungai.
"Heei.. Sudahlah yang mandi.. Seharusnya kamu sebagai gadis yang memasak ikan ini.." gerutu Lee melihat Asih yang sepertinya sangat tidak perduli dengan ucapannya.
Lee akhirnya mengalah menghadapi sang gadis, Ia mencari dedaunan berukuran lebar, lalu memetiknya dan menjadikan wadah untuk meletakkan ikan tersebut. Lalu Ia mengambil pedang milik ninja yang diambilnya waktu itu. Ia mencari ranting kayu untuk menusukkan ikan tersebut agar mudah untuk dibakar.
Setelah mendapatkan semua keperluan yang dibutuhkannya, Ia kembali ketempat semula, lalu membuat perapian dengan menggunakan pemantik api yang selalu dibawanya.
Setelah api menyala, Lee membuat penahan panggangan agar memudahkan proses pembakaran ikan tersebut.
Lee mulai membakar ikan tersebut dengan memutarkan kayu tersebut agar matang merata.
Aroma ikan bakar itu menggugah selera Asih, dan menggoda cacing diperutnya yang mulai bernyanyi meminta diberi makanan.
Asih beranjak dari dalam sungai dengan pakaian basah kuyup dan membuat pakain itu membentuk tiap lekuk tubuhnya.
Lee yang menyadari pergerakan Asih dari dalam sungai menggerutu.."Lihatlah betapa malasnya dia, setelah mencium aroma ikan bakar ini Ia baru naik untuk tinggal makan saja.." Lee mengomel sendiri.
Namun omelannya terhenti saat melihat Adih berjalan begitu anggun dengan tubuh basah menuju kaearahnya.
Degub jantungnya bergemuruh kencang."Oh Tuhan.. Cobaan apalagi ini.. Tidak bisakah Ia untuk tidak menggoyahkan imanku dengan kepolosannya itu." Lee menelan salivanya dan menatap takjub pada sang gadis, lekuk yang sempurna, dengan pinggang ramping dan pinggul yang aduhai bagaikan gitar Spanyol.
Sesaat Lee memalingkan pandangannya dan fokus kepada ikan bakarnya, Ia tidak ingin khilaf lagi terhadap sang gadis.
Asih memungut sebongkah potongan kayu kering yang tergelatak tak jauh dari tempat Lee membakar ikan. Ia meletakkan didekat perapian, lalu ikut meletakkan telapak tangannya diatas perapian mencari kehangatan dari semburat api tersebut.
Lee melirik Asih yang tampak basah kuyup tersebut. "Kamu kedinginan..?" tanya Lee dengan lembut.
"Tidak.." jawab Asih singkat, lalu membolak-balikkan telapak tangannya yang memiliki jemari lentik nan indah.
Asih menyesap aroma ikan bakar tersebut."Emm.. Aromanya sangat enak.. Sepertinya sudah matang.." celoteh Asih, lalu mengambil ikan bakar itu tanpa rasa merasa berdosa sedikitpun. Ia mencubit daging ikan bakar tersebut dan mengunyahnya.
Sementara itu, Lee terperangah melihat ulah Asih, lalu menggelengkan kepalanya. "Dasar.. Tinggal enaknya saja. " ucap Lee kesal.
Sedangkan Asih merasa acuh tak acuh mendengar ocehan Lee.
Pemuda itu beranjak dari duduknya, lalu menghampiri sang gadis yang asyik memakan daging ikan tersebut.
Lelah mengomel, Ia akhirnya mengalah dan duduk disisi kiri sang gadis, lalu ikut mencubit daging ikan gurami bakar yang dagingnya terasa sangat manis karena baru saja ditangkap.
Mereka seperti berlomba untuk menghabiskan ikan tersebut, seolah-olah satu sama lain akan saling merebut.
"Heei.. mengapa kau makan begitu sangat cepat..? Tinggalkan juga untukku." Lee menarik pergelangan tangan Asih yang dengan kuat mencengkram ranting yang menjadi penusuk ikan bakar itu. Tampak daging ikan hanya tinggal satu sisi saja, sedangkan sisi lainnya sudah habis dimakan gadis itu.
Lee dengan cepat mengambil alih ikan bakar dari tangan Asih, dan menyantapnya.
Kreeeeekk…
Seketika keduanya terdiam, mereka merasakan sesuatu sedang mengintai mereka.
Asih mengambil tas joran yang berisi pedang dan busur panah.
Lalu Ia mengambil busur, dan sebuah anak panah yang ia bidikkan kedalam semak yang Ia curigai menjadi tempat bersembunyi sipengintai.
Lee memandang sang gadis yang tampak begitu sangat bersahaja saat menggunakan busur panah tersebut.
Wuuuush….sssst..
Aaaakh…
Suara lengkingan kesakitan diiringi dengan munculnya seekor siluman ular berkepala empat. "Rekso.." guman Asih lirih, melihat siapa yang ada dihadapannya.
Disatu sisi, Lee memucat dan melemparkan ikan bakar yang dipegangnya. Ia begitu amat terkejut dengan kehadiran siluman yang kini merayap menghampiri mereka dengan lengannya yang tertancap anak panah milik Asih.
Gadis itu bersiap dan bangkit dari duduknya, lalu mencoba menghalangi Rekso yang seakan ingin menyerang mereka.
Asih mencabut pedang dari sarungnya, lalu berdiri tegak menjadi tameng untuk siap menyerang.
Lee yang tak sanggup memandang apa yang didepannya, seketika lututnya bergetar dan seolah tak mampu berpijak dibumi.
Berbeda dengan sang gadis, Ia mengayunkan pedangnya bagaikan sebuah kincir angin, lalu menghunuskan kedepan dan meletakkan jari telunjuk dan jari tengah kirinya didekat kepala pedang. Tatapannya lurus menatap siluman ular tersebut.
Rekso mencabut anak panah tersebut yang menancap dilengan kirinya, lalu melemparkannya kearah Lee yang mematung ketakutan. Dengan sigap Asih menangkis serangan tersebut..
Tiiiingg....
Suara dentingan anak panak dan ujung pedang milik Asih saat beradu.
Lee semakin ketakutan, Ia merasakan degub jantungnya begitu menderu kencang.
Asih merasakan gelagat yang tidak baik dari Rekso, sepertinya siluman itu memiliki dendam kepada Pemuda disisinya.
Lee mencoba meraih pedang yang tergeletak diatas tanah. Ia memegangnya dengan tangan gemetar. Sementara itu, Rekso mulai merayap dengan liukan tubuhnya yang tampak penuh amarah.
Grrrrrrrrrrrr...
Suara erangan yang begitu menakutkan, dan penuh kebencian.
Dengan cepat, Rekso melibaskan ekornya, menyasar pada Lee, namun Asih menyambar tubuh Lee untuk menghindari sabetan ekor Rekso.
Melihat sikap Asih yang terkesan perduli dengan pemuda itu, membuat Rekso semakin penuh amarah.
Asih meletakkan tubuh Lee sedikit menjauh dari arena pertempuran antara Ia dan siluman ular tersebut.
Asih kembali memancing Rekso untuk mengejarnya. Siluman ular itu meliukkan tubuhnya dan menyerang Asih. sebuah tongkat milik Rekso, melayang menghampiri sang gadis, namun Asih melompat tinggi diudara, dan memberikan sebuah sabetan pedang ditubuh siluman ular tersebut.
kreeeess..
Sebuah sayatan mengenai tubuh Rekso. Lalu dibalik luka itu mengeluarkan cairan kental berwarna hijau.
Grrrrrrr...
Rekso menggeram, lalu dengan cepat I menyambar tubuh Lee yang terdiam mematung dengan menggunakan ekornya dan membawa tinggi keudara.
Seketika Asih membolakan matanya, lalu memanfaatkan tubuh Rekso untuk memanjat sampai keujung dengan menggunakan keahlian parkurnya.
Lalu dengan cepat menghunuskan pedangnya ketubuh Rekso.
Kreeeeees...
Seketika ujung pedang Asih mengenai tulang rusuk Rekso dan seketika ular siluman melepaskan lilitannya ditubuh Lee dan tubuh itu melayang jatuh sehingga dengan cepat Asih melompat dan menyambar tubuh pemuda itu yang ternyata dalam kondisi lemah karena Rekso melikitnya dengan kuat..
Asih dengan langkah cepat dan kemudian berlari kencang menghindari Rekso sembari membopong tubuh pemuda itu menuju sebuah tempat yang Ia sendiri juga tidak tahu kemana langkah kakinya membawa.