
Kini Asih dan Wei saling bersiap untuk menyerang. Keduanya tampak tidak begitu sabar untuk memberikan serangan, dan..
Triiiing..
Suara dentingan ujung katana keduanya saling baradu.
Asih dan Wei saling serang dan berusaha untuk saling melukai dan bahkan saling membunuh.
Sementara itu, Edy dan seorang bawahan Wei saling pandang satu sama lain.
Bawahan Wei yang bertubuh kekar, segera menembakkan senjata apinya kepada Edy, namun sayangnya peluru itu telah habis.
Melihat lawannya kehabisan peluru, Edy menyelipkan senjata api yang dimilikinya kepinggangnya. Lalu keduanya saling mendekat, dan memulai pertarungan dengan menggunakan tangan kosong.
Keduanya saling serang dan menunjukkan kemampuannya.
Tendangan serta tinjuan mereka keluarkan dengan saling menyerang.
Edy berhasil memberikan hadiah tinju di wajah pria lawannya, hingga lawannya memuntahkan dara segar, dan berjalan mundur 3 langkah dengan terhuyung.
Disisi lain, Wei dan juga Asih masih dalam saling serang, dan..
Kreeeees..
Wei berhasil menggores lengan gadis yang berkulit putih halus tersebut.
Asih melirik lengannya yang mengalirkan darah, Ia menyeka darah tersebut dengan jemari telunjuknya, lalu meyesapnya.
Setelah itu Asih kembali melakukan penyerangan dan berusaha membuat perterungan seimbang.
Dan...
Kreees..
Asih berhasil menggores dada kekar kanan Wei yang memiliki dada berotot dengan ujung Katanya, lalu Ia tersenyum menyeringai.
Asih merasa pertarungan mereka seimbang satu sama.
Wei melirik lukanya, dan tak menghiraukannya. Baginya itu hanya luka kecil.
Namun diluar dugaan, ternyata pasukan Wei berjumlah 5 orang berhasil meringsek masuk dan membantu penyerangan.
Asih dan Edy saling pandang, lalu mereka bergerak mundur dan bertemu punggung. Asih dan Edy bergerak seirama dengan punggung yang masih menempel, bergerak berputar pelan untuk saling melindungi.
Sedangkan pasukan Wei sudah membentuk formasi lingkaran dan siap menyerang.
Lalu pertarungan yang tidak seimbang terjadi. Asih dan Edy harus menghadapi lawan yang berjumlah 7 orang sekaligus.
Keduanya tampak kewalahan. Asih mencabut pedang miliknya, lalu memberikan katananya kepada Edy sebagai senjata. Sedangkan Asih menggunakan pedang miliknya sendiri.
Keduanya saling melindungi satu sama lain. Lalu terjadilah pertarungan yang tidak seimbang dalam hal jumlah pasukan.
Wei keluar dari formasi, Ia hanya memandang pertarungan itu sembari mensedekapkan kedua tangannya.
Sesaat satu anak buahnya roboh terkena sabetan pedang Asih.
Wei terus memandangi batu permata milik Asih yang bergoyang kesana kemari mengikuti gerakan gadis itu.
Sesaat pandangannya beralih kewajah gadis itu. Ia tak mampu memungkiri jika gadis itu sangatlah memesona. Andai saja gadis itu dengan suka rela memberikan batu permata tersebut, maka Ia tidak akan melakukan tindakan sekasar itu, namun gadis itu sangatlah keras kepala.
Sesaat Asih dan Edy merasa kewalahan. keduanya bergerak mundur. Asih membisikkan sesuatu kepada Edy, lalu Edy mengangguk mengerti, meski saran yang diberikan Asih adalah sama halnya dengan menghantarkan nyawa.
Namun kemungkinan selamat ada sekian persen atau mati sia-sia dengan menghadapi lawan yang jumlahnya juga tidak seimbang.
Edy dan Asih berhasil keluar dari formasi, lalu berjalan mundur menyusuri lorong, dan para pasukan Wei bergerak mengikuti keduanya.
Wei juga ikut bergerak mengikuti keduanya. Ia berjalan paling depan, dan terus mendesak keduanya untuk menyerah.
Lalu hingga mereka melihat cahaya mentari menerobos masuk kedalam lorong goa.
"Kita sudah sampai. Apakah Kau bersiap untuk melompat?" tanya Asih yang melihat wajah Edy ragu dan memucat.
Namun mereka tak ada pilihan lain, karena Edy juga sepertinya sudah kelelahan, sedangkan pasukan mereka terus mendesak.
Kini keduanya sudah berada diujung pintu goa yang menghadap jurang. Namun Asih masih ingin bermain sedikit kepada para lawannya.
Ia memancing serangan kepada lawan tersebut, lalu mendorong tubuh Edy kesisi kiri, agar tidak berada tepat di pintu goa.
Dengan taktik mengubah arah, Asih berhasil menyerang lawannya dan mendorong lawannya dengan tendang telak, lalu..
Aaaaaaaakkkh..
Salah satu target jatuh kedasar jurang dan terbentur bebatuan.
Melihat kecurangan Asih, maka sisa dari pasukan Wei kemudian melakukan serangan dan berhasil melukai punggun Edy.
Wei tampil kedepan, Ia begitu sangat tak sabar, dan entah bagaiamana caranya, Ia mampu mengenai tali pengikat batu permata milik Asih menggunakan ujung Katananya, hingga terlepas dari leher gadis itu, lalu batu tersebut terjatuh dan bergelinding.
Melihat hal itu, Edy terperangah, hingga tidak menyadari lawannya mengambil kesempatan dari kelengahannya itu, dan..
Buuuuughh..
Sebuah tendangan telak mengenai Edy yang posisinya berada didepan pintu goa, lalu...
Aaaakhhh...
Edy terjatuh dari tebing goa dan melayang. Melihat pemuda itu terjatuh, tanpa berfikir panjang, Asih menjatuhkan dirinya dan entah dengan kekuatan apa Ia menangkap tubuh pemuda itu, lalu keduanya jatuh kedalam sungai berair deras, dan..
Byuuuuuuurr...
Keduanya terjebur kedasar sungai, dan hanyut terbawa arus sungai yang deras.
Sementara itu, Wei memungut batu permata yang terlepas dari leher sang gadis. Ia tersenyum girang karena berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.
Ia melongok kedasar sungai, Ia menyanyangkan tindakan sang gadis, karena terlalu naif dan tidak dapat diajak kerja sama.
Wei lalu memerintahkan kepada bawahannya agar segera bergerak untuk keluar dari goa tersebut dan menghubungi markas, untuk mengirimkan helikopter dan menjemput mereka.
Sesampainya diruang utama, Ia melihat ketiga bawahannya yang masih berada untuk berjaga, berhasil mengumpulkan beberapa batu permata untuk dibawa pulang.
Cari benda berharga yang dapat kalian bawa pulang" Titah Wei kepada bawahannya.
Ia memandang batu permata tersebut yang berhasil Ia ambil dari leher sang gadis.
Ia merasakan mendapatkan kemenagan yang hakiki, karena Ia dapat menaksir harga batu ditangannya dengan harga triliunan dipasar gelap.
Seorang penawar akan melakukan pelelangan dipasar gelap, dimana batu permata itu akan dijadikan sebagai salah satu ajang untuk memgikuti suatu pelelangan barang berharga dengan tingkat kekunoan dan usianya, serta keantikannya.
Karena batu permata itu ditaksir memiliki umur ratusan tahjn, bahkan ribuan tahun.
Sementara itu, Asih dan Edy hanyut terbawa arus sungai yang deras.
Keduanya terdampar ditepi sungai, dan tersangkut dibebatuan.
Edy mengerjapkan matanya, saat Ia merasakan seekor ikan sedang mencoba menggigit lengannya yang tak mungkin dapat ditembus oleh ikan tersebut.
Sesaat Ia mulai mengumpulkan tenaganya, terbatuk dan mengeluarkan banyak air.
Ia beranjak untuk bangkit dan duduk didasar sungai yang dangkal.
Ia memegangi kepalanya yang sakit, lalu mencoba mengumpulkan kesadarannya, mengatur nafasnya yang terasa berat.
Sesaat Edy terpernjat, ketika ujung matanya melihat ujung ekor hewan predator berwarnah putih, tak jauh dari tempatnya duduk.
Jantungnya hampir copot ketika mengetahui Ia sedang terdampar bersama hewan predator.
Namun Ia teringat akan Asih. Ia mencoba memeriksa ekor buaya tersebut dibalik bebatuan besar, dan benar saja, jika pemilik ekor itu adalah Asih.
Edy melihat gadis itu masih tak sadarkan diri.
Ia memeriksa dentak jantungnya, mencoba menempelkan telinganya didada sang gadis, meski sedikit terhalang oleh dua buah bukit kembar milik gadis itu, namun Ia dapat mendengar jika gadis berwujud setengah buaya itu masih hidup.
Ia memandangi sang gadis, ada keraguan, cinta, dilema dan juga takut.
Ada keinginan untuk meninggalkannya seorang diri, namun Ia tak tega.
Dengan segenap perasaannya, Ia mencoba mengangkat Asih yang dirasakan Edy 2 kali lipat beratnya karena ekor Asih yang sangat besar.
Lalu dengan langkah terseok-seok, Ia berhasil membawa Asih ketepian, dan berteduh dibawah pohon rindang.
Edy meletakkan tubuh gadis itu diatas rerumputan, lalu melakukan pertolongan pertama dengan menekan-nekan dada sang gadis agar mengekuarkan air yang tersumbat diparu-parunya.
Merasa tak berhasil, Edy mengangkat dagu gadis itu sedikit menengadah, lalu melakukan nafas buatan.
Sesaat Asih terbatuk, lalu memuntahkan air dari mulutnya, namun matanya masih terpejam.
Edy duduk bersandar disebatang pohon yang menjadi tempat mereka berteduh.
Lalu Ia mengangkat kepala Asih, dan meletakkannya dipangkuannya.
Ia tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Ia masih belum dapat percaya dengan apa yang dilihatnya.
Ia memandangi wajah sang gadis yang terpendar cahaya mentari senja yang hampir meredup. Gadis itu masih tak sadarkan diri.
Dadanya naik turun mengikuti irama nafasnya. Sesaat Edy melirik kedua kaki Asih yang kini menjadi kecil dan berekor.
Sesaat Ia menyaksikan bagaimana tiba-tiba kaki berubah menjadi normal seperti kaki manusia dan ekornya mendadak menghilang.
Bersamaan dengan hal itu, Asih mulai tersadar, dan mengerjapkan matanya. Ia membuka kedua matanya, bulu mata lentik itu memandang wajah pemuda yang kini berada tepat diatasnya. Ia baru meyadari jika Ia tertidur diatas pangkuan sang pemuda.