
Dina merasa sangat kehilangan Asih. Belum pernah Ia berpisah dengan waktu yang begitu lama.
Arini berjalan menghampiri Dina yang sedang bersedih. bulu-bulu lembutnya Ia usapkan berulang kali di kaki Dina.
Sesaat Ia melompat kepangkuan Dina, lalu duduk dengan manisnya.
Dina membelai lembut bulu binatang menggemaskan itu, "apakah kau tau..? Rasa kehampaan yang kini aku rasakan? " tanya Dina kepada Arini yang kini mengerak-gerakkan mulutnya, Seolah-olah sedang mengunyah sesuatu. Matanya menatap sendu pada Dina.
"kepergian Asih membuat hidupku terasa kosong, jiwaku kering bagaikan bunga yang tumbuh dipadang tandus." dina mencoba mengungkapkan uneg-unegnya kepada binatang berbulu lembut tersebut.
Dina meraih tubuh Arini, mendekapnya, seolah sedang mendekap Asih. " semoga kamu baik-baik saja disana Asih.. Rabbi.. Tolong jaga dia dari segala marabahaya, dan tetapkan langkahnya selalu pada dijalan-Mu" rintih Dina dengan penuh pengharapan. Air matanya tak mampu Ia bendung. Arini mendekatkan ujung mulutnya pada pipi Dina, lalu mengecupnya lembut.
Uhuk..uhukk
Chakra terbatuk, ada sedikit darah hitam yang keluar dari dahak saat ia terbatuk.
Dina meleoaskan dekapannya pada Arini, lalu menghampiri Chakra. "apa yang kamu rasakan sayang? Bertahanlah. Sebentar lavi kamu akan sembuh.." ucap Dina meyakinkan hatinya.
Chakra memejamkan kembali matanya. Ia masih lemah. Sesaat Bromo datang, lalu menghampiri Dina yang kini masih dalam kekalutan.
Bromo menyentuh pundak Dina dengan lembut. Lalu membopongnya dan membawanya memasuki dunia lain.
Bromo membawa Dina kesebuah taman yang penuh dengan aneka bunga warna warni. Ada sebuah aliran sungai yang mengalir sangat jernih.
Sebuah mata air membentuk kolam kecil dan sebuah pancuran air yang terbuat dari bambu.
Sesaat Ia terkenang masa lalu, saat dimana Ia tanpa sengaja mengintip Bromo yang sedang mandi.
"kanda.. Mengapa kau membawaku ketempat ini..?" Dina merasa bingung dengan tindakan Bromo.
"aku tidak tahan melihatmu terus bersedih dinda. Aku ingin kau melupakan sejenak apa yang membuatmu menjadi kalut dan sedih."Bromo mencoba memberikan kedamaian disetiap ucapannya. Lalu Ia duduk disebuah batu besar, dengan memangku Dina, didekatnya ada kolam air yang terdapat sebuah pancuran.
Semenjak kepergian Asih, Dina selalu terlihat murung, hal ini membuat Bromo merasa bersalah karena memberikan ijin kepada Asih untuk pergi kekota. Namun, Takdir yang dijalani Asih tak mampu dielakkan. Langkah Asih harus tetap berjalan. Karena sudah menjadi ketetapan yang tak dapat di hindari.
Bromo mengecup lembut ujung kepala Dina. "jangan pernah bersedih lagi duhai belahan jiwaku.. Percayalah, semua akan baik-baik saja. Chakra akan segera sembuh. Dia akan menjadi pelipur lara untukmu." ucap Bromo meyakinkan hati Asih.
"tetapi Asih anak perempuan.. Dan mengapa bukan Chakra yang pergi kekota? Karena Chakra laki-laki, dan sudah hal biasa bagi laki-laki untuk merantau.." Dina memandang Bromo dengan tatapan sedih.
Bromo membelai wajah Dina dengan lembut. "karena Asih adalah anakku, dan aku telah menuai karmaku..!" ucap Bromo dengan tatapan datar.
Dina beranjak bangkit dari pangkuan Bromo.."Karma..?! Maksud Kanda apa..?" tanya Dina dengan wajah penuh penasara. Ada seribu tanya yang memenuhi relung hatinya.
"karena apa yang kuperbuat pada Dinda dahulu, menyembunyikanmu dialam ghaib, sehingga orangtuamu mencarimu dengan rasa putus asa, namun tak menemukan keberadaanmu dinda." Bromo menarik nafasnya dengan berat.
"kini aku harus merasakan bagaimana rasanya ketika anak perempuanku menjauh dari hidupku dan dirimu. Bukankah itu sebuah karma..?" Bromo memandang kepada Dina dengan tatapan pedih.
Kini Dina menyadari apa yang diucapkan oleh Bromo. Jika semua perbuatan akan berbalik kepada diri kita.
"lalu bagaimana nasib Asih dikota nanti Kanda..?" tanya Dina dengan perasaan yang sangat takut.
"sebagaimana aku memperkakukanmu, akan Ia temukan pria yang juga memperlakukannya dengan baik..percayalah." jawab Bromo dengan lembut.
Dina memeluk Bromo, lalu menenggelamkan kepalanya didada kekar Suaminya itu.
"mau mandi bareng lagi..? Bukankah dinda dulu pernah mencuri pandang dari balik semak itu..?" sindir Bromo kepada Dina.
Wajah Dina seketika berubah menjadi merah. Ia sangat malu saat Bromo mengungkit masa itu.
"bagaimana kalau sekarang kamu melakukannya dengan sengaja..?" ucap Bromo, sembari menatap nakal.
Bromo merengkuh tubuh Dina dalam pelukannya, lalu membawa Dina pada percintaan yang manis.
Dina terbuai api asmara yang kian membakarnya. Sebuah kenangan masa lalu sengaja Bromo ciptakan untuk membuat Dina melupakan sejenak tentang Asih.
Saat mereka sedang memadu kasih, tiba-tiba saja sesosok ular muncul dari balik batu besar. Seketika Bromo menghentikan cumbuannya. Lalu berbalik dan mengambil pedang dari sarungnya.
"haaaah..kau..?!" Bromo tampak kesal dengan kehadiran Ristih. Dina buru-buru membenahi pakaiannya yang berantakan.
"menjauhlah Dinda, pergi dari kolam ini. Kanda akan membuat ular siluman ini jera.
Ristih meliukkan tubuhnya dengan gemulai. Sebuah tongkat bermata biru dan bercahaya menyilaukan pandangan mata Dina.
Ristih menghampiri Bromo dengan penuh hasrat. Mengapa kau begitu terlihat menggoda Sadewo..? Tidakkah kau mau memberikan sedikit kehangatan untukku. Mengapa kau biarkan aku menunggu terlalu lama.." ucap Ristih dengan tatapan pilu. Rasa cintanya yang tak pernah berbalas, membuatnya tak berhenti mengejar cinta Bromo.
"pergilah.. Aku tidak ingin melakukan kekerasan padamu.." ucap Bromo memperingatkan Ristih.
Ristih tersenyum nakal. "jika kau tidak ingin berlaku keras padaku, maka perlakukan aku dengan lembut. Aku akan mematuhi semua perintahmu.. Jadikan aku pendampingmu.." pinta Ristih dengan memohon.
Bromo menatap tajam pada Ristih. Tayapannya mampu menembus jantung Ristih. " aku tidak pernah bisa membagi cinta untuk wanita lain. Karena cintaku hanya kuberikan untuk satu wanita. Yaitu Dina.." jawab Bromo dengan tegas dan menghujam jantung Ristih.
Rasa perih membuatnya sangat berang.." ciiih.. Apa yang kau harapkan dari anak manusia itu..? Tanya Ristih dengan sombong.
"aku mencintanya tanpa sebab.. Dan jangan pernah engkau pertanyakan lagi.." jawab Bromo berusaha tenang.
"jika aku melenyapkannya, maka kau akan melupakannya.!" bersamaan dengan itu, Ristih mengayunkan tongkatnya, sebuah cahaya biru berputar diudara, lalu dengan cepat menuju kearah Dina. Sekelebat cahaya ungu melindungi Dina dari serangan Ristih. Lalu terdengar sebuah dentuman yang sangat keras.
duuuuuuaaaar...duum..
Percikan cahaya dari benturan itu menimbulkan alam sekitar terlihat terhalang pandangan.
Seketika sekelebat bayangan membawa Dina pergi dari tempat itu.
Bromo yang menyadari jika Arini datang membantu, mengambil kesempatan untuk menarik tongkat milik Ristih yang saat itu sedang lengah.
Bromo berhasil menarik tongkat itu, lalu mengambil permata berwarna biru yang berada diujung tongkat milik Ristih.
Ristih menyerang Bromo, menciba merebut kembali tongkat itu. Dengan cekatan, Bromo berhasil melepaskan permata berwarna biru, dan melekatkan pada dada kekarnya.
Seketika permata itu masuk kedalam tubuh Bromo, lalu menyatu dengan cepat. Permata biru itu adalah warisan leluhur milik keluarga Bromo yang juga ikut dicuri bersama Dwi Sula.
seketika dari tubuh Bromo mengeluarkan cahaya biru yang menyilaukan mat. Alam berubah terang bersamaan dengan menyatunya permata itu kedalam tubuh Bromo.
Ristih menghalangi pandangannya dengan menyilangkan pergelangan tangan di matanya.
Cahaya biru itu menerpa tubuh Ristih, hingga terpental jauh. tubuhnya terasa sakit. Ia memegangi dadanya yang terasa nyeri.
Dari sudut bibirnya, keluar sebuah cairan berwarna hijau. "kejaaam kau Sadewo..! Aku akan tetap mengejarmu, sebelum aku mendapatkanmu, aku tidak akan pernah berhenti untuk mencari kelemahanmu." ucap Ristih, lalu memilih untuk pergi, membawa luka hatinya.
Setelah cahaya biru itu menyerap seluruh energi yang ada disekitarnya, perlahan cahaya itu memudat dan masuk kedalam tubuh Bromo.
Bromo tersentak, lalu mencoba menstabilkan tenaganya. Ia melihat Ristih tak lagi berada disekitarnya. Lalu Bromo memejamkam matanya, mencoba melihat keberadaan Dina. Setelah mengetahui Dina berada di goa, Ia pergi untuk menyusul Dina, melanjutkan percintaannya tertunda..